Share

Bab 2

Penulis: Jazzy
Ayahku segera membalas.

[ Aku akan segera utus orang untuk jemput kamu. Jangan lupa tangani semua urusanmu dengan baik. Jangan sampai ada masalah di masa depan. ]

Aku tahu jelas urusan apa yang dimaksud keluargaku. Itu tidak lain adalah pernikahanku dengan Wilson, serta perusahaan yang bisa sesukses sekarang berkat aku.

Bahkan tanpa ada yang mengingatkanku, aku juga akan menangani kedua hal itu sampai tuntas.

Aku menatap ponselku dan membalas dengan "oke". Kemudian, aku mengambil surat kesepakatan cerai yang terselip dalam sebuah dokumen dan bersiap untuk meminta Wilson menandatanganinya.

Namun, ketika membuka pintu kamar dan melihat pemandangan di ruang tamu, aku seketika membeku.

Kurang dari sepuluh menit yang lalu, Wilson baru saja berjanji kepadaku. Dia mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan selingkuhannya menimbulkan masalah di depanku, juga akan memberiku perayaan ulang tahun yang layak.

Sekarang, dia malah duduk di sofa ruang tamu sambil memeluk Molly yang telah kembali entah sejak kapan. Mereka saling menatap dan berbicara dengan penuh kasih sayang.

Melihatnya seperti ini, pikiranku tanpa sadar kembali ke masa lalu kami.

Dalam ingatanku yang memudar, Wilson pernah memperlakukanku dengan jauh lebih lembut dan penuh pengertian daripada sekarang. Dia akan khawatir sepanjang malam hanya karena aku batuk, juga rela melintasi setengah kota hanya untuk membelikanku dessert yang kusuka.

Meskipun orang tuaku mengancam pendidikan dan masa depannya, bahkan mematahkan kakinya demi mencegah kami bersama, Wilson juga tidak pernah mengeluh. Dia sangat memanjakanku.

Dibandingkan dengan sekarang ....

Aku harus berjuang mati-matian untuk menekan rasa pahit dan keinginan untuk menuntut jawaban darinya. Namun, ketika aku berdiri di depan kedua orang itu dan mendengar apa yang dikatakan mereka, aku tetap kehilangan kendali.

"Wilson ... aku tahu Kakak akan marah kalau aku mengatakannya. Tapi, aku merasa kamu seharusnya tahu." Molly bersandar di pelukan Wilson dan melanjutkan, "Aku hamil! Kamu akan segera jadi ayah!"

Wilson langsung berseru dengan gembira, "Baguslah! Ayo, aku akan bawa kamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan sekarang juga!"

Seusai berbicara, Wilson menggendong Molly dan membawanya keluar. Tidak satu pun dari mereka yang memperhatikanku.

Aku menarik napas dalam-dalam dan mengadang di depan Wilson. "Wilson, kamu baru saja berjanji bahwa kamu nggak akan biarkan siapa pun membuat masalah di depanku lagi."

"Ini benar-benar hal di luar dugaan," jawab Wilson dengan datar, tanpa menunjukkan sedikit pun penyesalan. "Molly lagi hamil dan ini adalah hal penting. Mana mungkin aku nggak peduli sama dia? Ulang tahunmu kan datang setiap tahun. Meski melewatinya tahun ini, kamu bisa merayakannya tahun depan. Itu juga bukan masalah besar, berhentilah membuat keributan, oke?"

Aku menatapnya lekat-lekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Wilson yang menggendong Molly berdiri di depanku dan menantangku sejenak. Akhirnya, dia mengerutkan kening dengan tidak sabar dan berbicara dengan kesal, "Ya sudah. Kalau kamu mau rayakan hari ini, ya hari ini. Cepat ikut masuk ke mobil! Habis bawa Molly melakukan pemeriksaan kehamilan, kita akan rayakan ulang tahunmu."

Sikapnya yang penuh belas kasihan dan mengalah terasa sangat ironis bagiku.

Dulu, aku juga pernah hamil. Itu di tahun kedua setelah aku memutuskan hubungan dengan keluargaku dan datang ke kota asing ini bersama Wilson. Wilson sangat gembira saat mengetahui aku hamil. Saking gembiranya, dia tidak tidur selama dua hari.

Meskipun perusahaannya baru berdiri dan dia sangat sibuk dengan pekerjaan setiap hari, Wilson tetap meluangkan waktu untuk menemaniku. Dia akan memasak tiga kali sehari untukku, tak pernah lalai dalam melakukan pijat dan stimulasi dini, serta memberikan semua uangnya kepadaku. Saat itu, kami berdua sangat menantikan kedatangan anak kami.

Namun, perusahaan saingan Wilson malah menculikku untuk balas dendam. Wilson akhirnya dirawat di ICU, sedangkan aku juga kehilangan bayiku. Gara-gara hal itu, aku bahkan menjadi mandul.

Saat itu, kami yang tak memiliki kekuasaan atau pengaruh hanya bisa saling memeluk untuk menghibur satu sama lain. Kami bersumpah untuk membalas dendam atas anak kami suatu hari nanti.

Namun, ketika kami akhirnya cukup kaya dan berkuasa untuk membalas dendam atas anak kami, Wilson malah berdiri di hadapanku bersama selingkuhannya. Dia memaafkan orang yang telah membunuh anak kami, juga menyuruhku untuk lebih pengertian dan tidak menimbulkan masalah.

Sekarang, waktu yang berlalu baru sekitar tiga tahun. Namun, dia malah menyuruhku menemani selingkuhannya yang sedang hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Ini tidak ada bedanya dengan menorehkan luka baru ke luka yang paling tidak ingin kusentuh.

Aku menatap Wilson dan ingin bertanya kenapa. Kenapa hubungan kami menjadi seperti ini?

Namun, sebelum aku sempat berbicara, terdengar suara manis Molly berkata, "Wilson, aku merasa sedikit nggak enak badan. Kita segera pergi ke rumah sakit, ya?"

Wilson mengangguk dengan tergesa-gesa. Dia takut terlambat selangkah saja akan membahayakan Molly dan anaknya.

Aku tersenyum getir dan menelan kembali semua kata-kataku. Semua sudah terlanjur terjadi. Yang selebihnya tidak lagi berarti.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Kandas, Sudah Saatnya Aku Pergi   Bab 8

    Setelah hari itu, Wilson masih tidak menyerah. Dia masih bersikeras ingin bertemu denganku dan meminta maaf kepadaku. Namun, setelah orang tua dan kakakku mengetahui tentang insiden hari itu, dia tidak lagi menemukan kesempatan untuk mendekatiku dan selalu diusir oleh satpam dari jauh.Hal ini membuat Sean sangat kesal."Yasmin, mereka bahkan nggak beri aku kesempatan untuk balaskan dendammu."Aku mendorong kepalanya yang bersandar di bahuku dan terkekeh. "Memangnya apa yang mau kamu lakukan kalau kamu punya kesempatan?"Sean langsung bersemangat dan menjawab, "Aku akan melemparnya ke laut untuk dijadikan santapan ikan! Aku akan pastikan dia nggak pernah punya kesempatan untuk dekati istriku lagi!"Aku memutar bola mataku. "Kalau begitu, kamu tinggal tunggu dijebloskan ke penjara dan lihat aku nikah sama orang lain."Sean langsung terdiam dan tidak berani mengungkit hal itu lagi.Namun, tidak bisa menyentuh Wilson bukan berarti tidak bisa menyentuh perusahaannya. Melalui serangkaian ti

  • Ketika Cinta Kandas, Sudah Saatnya Aku Pergi   Bab 7

    Wilson tahu aku tidak akan bertemu dengannya jika menggunakan alasan urusan pribadi. Dia pun dengan cerdik mengubah namanya dan menggunakan dalih kerja sama bisnis untuk mengatur pertemuan denganku. Jadi, ketika melihat Wilson di ruang penerimaan tamu perusahaan, aku sangat terkejut.Namun, Wilson tiba-tiba berlutut di depanku di hadapan semua orang."Yasmin, aku benar-benar sudah sadari kesalahanku. Maafkanlah aku. Kita kembali seperti dulu, ya?"Aku tersenyum dingin dan membanting pintu hingga tertutup."Wilson, kamu sudah selingkuh berkali-kali. Atas dasar apa aku harus maafkan kamu?""Aku nggak akan begitu lagi!" Wilson merangkak mendekatiku dan berseru, "Yasmin, aku sudah putuskan hubungan dengan mereka semua! Aku bahkan buat Molly menggugurkan kandungannya! Mulai sekarang, aku cuma akan setia sama kamu! Aku akan mencintaimu selamanya! Yasmin, kumohon, maafkan aku. Kembali ke sisiku, ya?"Bibirku berkedut dan aku menendangnya ke samping."Kamu lagi mimpi? Pergi dari sini sekarang

  • Ketika Cinta Kandas, Sudah Saatnya Aku Pergi   Bab 6

    Aku kembali ke rumah setelah sepuluh tahun, tetapi dekorasinya masih sama persis seperti dulu. Mulai dari halaman hingga segala sesuatu di dalam rumah dan bahkan para pembantu, semuanya masih sama seperti saat aku pergi."Ini semua perintah Ayah dan Ibu." Kakakku berbisik, "Dulu, mereka bilang mau putuskan hubungan denganmu. Tapi ... mereka sebenarnya nggak tega."Aku mengangguk dengan berlinang air mata, lalu menyahut dengan suara tercekat, "Aku tahu. Aku tahu semuanya. Maaf, aku yang terlalu keras kepala waktu itu. Ini semua salahku."Orang tuaku memang memutuskan hubungan denganku secara terbuka. Namun, kenyataannya, mereka tidak pernah benar-benar mengabaikanku. Jika mereka tidak peduli padaku, aku dan Wilson tidak akan memiliki perusahaan yang begitu sukses. Ketika diculik, aku juga tidak akan ditemukan secepat itu.Hanya saja, aku yang meninggalkan mereka dan pergi bersama Wilson dulu sangat menyakiti mereka.Demi seorang pria yang tiba-tiba muncul, anak yang telah mereka sayang

  • Ketika Cinta Kandas, Sudah Saatnya Aku Pergi   Bab 5

    "Pak Wilson, mitra bisnis yang baru saja kita hubungi tiba-tiba mau batalkan kerja sama! Beberapa investor juga mau tarik kembali dana mereka! Orang-orang dari kantor pajak dapat laporan entah dari mana dan sudah datang ke perusahaan!""Pak Wilson! Arus kas perusahaan sudah benar-benar putus! Pajak kita juga bermasalah! Kalau ini berlanjut, perusahaan kita akan bangkrut dalam waktu kurang dari tiga hari!"Ketika perusahaan berada di ujung tanduk, benak Wilson dipenuhi dengan kata-kata Yasmin "kamu bukan cuma lupa diri, tapi juga pintar berangan-angan" yang dingin dan tanpa emosi.Pada saat itu, perhatiannya terfokus pada anak Molly yang belum lahir. Setelah mendengar ucapan Yasmin, dia mengira Yasmin hanya sedang merajuk.Sebelumnya, Yasmin juga sering merajuk dan akan kembali seperti biasa setelah dihibur. Sekarang, Wilson baru menyadari bahwa itu jelas adalah peringatan dari Yasmin.Dia telah lupa diri, juga melanggar janji untuk mencintai Yasmin dan hanya bersikap baik terhadap Yasm

  • Ketika Cinta Kandas, Sudah Saatnya Aku Pergi   Bab 4

    Setelah membawa Molly melakukan pemeriksaan kehamilan, Wilson panik sejenak ketika tidak melihat Yasmin. Namun, dia dengan cepat menyadari bahwa Yasmin hanya sedang merajuk dan segera tenang. Dulu, Yasmin juga pernah pergi selama beberapa hari karena merajuk, lalu selalu kembali sendiri. Namun, kali ini berbeda.Seminggu kemudian, Wilson menerima akta cerai dari Kantor Catatan Sipil. Bersamaan dengan akta cerai itu, datang juga kabar mengenai semua mitra perusahaannya yang mendadak ingin mengakhiri kerja sama mereka. Selain itu, ada juga kabar yang paling dia takuti, yaitu kembalinya Yasmin ke keluarganya.Jelas-jelas, setiap patah kata itu merupakan kosakata yang paling mendasar. Namun, setelah digabungkan, Wilson merasa dirinya seolah-olah tidak mengerti artinya lagi. Dia hanya merasa pusing.Akta cerai ... perceraian .... Dia jelas-jelas tidak pernah menandatangani surat kesepakatan cerai, bagaimana mungkin dia dan Yasmin sudah bercerai?Selain itu, perusahaan .... Setelah kerja sa

  • Ketika Cinta Kandas, Sudah Saatnya Aku Pergi   Bab 3

    Aku menarik napas dalam-dalam dan meletakkan surat cerai di depannya. Di bawah tatapan bingung Wilson, aku berkata dengan tenang, "Tandatangani dulu dokumen ini."Wilson menandatanganinya tanpa curiga. Kemudian, aku dengan hati-hati menyimpan surat kesepakatan cerai itu dan terlebih dahulu keluar untuk mengambil mobil.Wilson duduk di kursi belakang sambil memeluk Molly. Mereka terus mengoceh sepanjang perjalanan.Molly tersenyum manis dan bertanya, "Wilson, menurutmu kita akan punya anak laki-laki atau perempuan? Kita mau kasih dia nama apa?""Aku suka anak laki-laki maupun perempuan," jawab Wilson dengan sangat lembut."Mana bisa begitu." Molly menyahut dengan tampang cemberut, "Sekarang, semua orang pengen punya anak laki-laki dan perempuan! Kalau anak kita cuma satu, aku pasti akan lahirkan satu lagi buat kamu kelak!""Iya, iya, kamu putuskan saja," kata Wilson dengan nada penuh kasih sayang.Molly menatapku dengan menantang melalui kaca spion dan melanjutkan, "Wilson, setelah peme

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status