Share

Bab 73

Penulis: Cathy
Sudut pandang Abigail:

Aku tidak sadar kapan kami kembali ke tempat tidur. Kami berdua sudah tanpa busana dan tenggelam dalam kehangatan tubuh satu sama lain. Setiap sentuhan dari Ryan membuat seluruh tubuhku merinding.

Kerinduan kami terhadap satu sama lain terlihat jelas dalam setiap gerakan. Aku bahkan tidak sadar aku mengerang saat tangannya menjelajahi tubuhku. Caranya memuja tubuhku membuatku kehilangan kendali. Aku merasa aku sedang mencari sesuatu yang hanya pernah bisa diberikan Ryan.

R
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 154

    "Terima kasih ... terima kasih, Sayang," kata Ryan sebelum mengecup bibirku.Aku dengan senang hati membalas ciumannya.Dia tampak ingin melangkah lebih jauh, tetapi aku menghentikannya. Masih ada banyak hal yang harus kami lakukan hari ini. Kami tidak bisa melakukan apa yang sedang dipikirkannya. Kami juga tidak bisa melupakan Orson yang sedang menunggu kami."Ryan, tunggu sebentar ...," kataku sambil menjauh."Kenapa?" tanyanya. Aku bisa melihat dengan jelas hasrat di matanya. Tebakanku benar, dia ingin meniduriku lagi."Kita nggak bisa lakukan apa yang sedang kamu pikirkan. Bukannya kita masih harus ke Tagland? Orson lagi nunggu kita. Kita nggak bisa lama-lama di sini," jawabku.Aku melihat ekspresinya langsung berubah murung. Dia tampak seperti anak kecil yang baru saja kehilangan permen. Aku tak kuasa tertawa."Memalukan sekali kalau sampai ketahuan putramu. Ini pertama kalinya seluruh keluarga kita menghabiskan waktu bersama lagi, jadi bersikaplah yang baik," kataku lagi sebelum

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 153

    Sudut pandang Abigail:Seperti yang kuduga, aku benar-benar menyukai seluruh rumah ini. Memangnya aku siapa sampai berhak menolaknya? Aku tak bisa berhenti mengagumi setiap detail dan desainnya. Ryan pasti telah menghabiskan banyak uang untuk membangunnya."Ini kamar kita?" tanyaku pada Ryan dengan terkejut. Kamar itu begitu besar hingga kami mungkin bisa bermain petak umpet di dalamnya. Kurasa ukurannya bahkan lebih besar daripada rumah kami di pedesaan dulu."Iya. Lebih baik kamarnya besar supaya kita nyaman," jawabnya dengan bangga sebelum membuka pintu lain yang tertutup.Aku melihat ke dalam dan menyadari ruangan itu penuh dengan berbagai barang."Ini ruang ganti kita, Sayang. Sudah ada banyak barang di sini. Aku sudah beli semua yang menurutku bakal kamu butuhkan. Tapi kalau masih kurang, aku bisa temani kamu beli lebih banyak lagi," katanya.Aku mengikutinya masuk dan mataku langsung membelalak.Tempat itu begitu besar hingga rasanya seperti berada di dalam sebuah butik. Apakah

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 152

    "Tunggu sebentar. Kenapa harus kamar kita dulu? Kita bisa lihat taman atau halaman dulu," jawabku.Ryan tertawa."Lebih baik mulai dari kamar dulu. Setelah itu, kita bisa lihat bagian rumah yang lain," katanya sambil tersenyum nakal. Aku menatapnya lalu menggelengkan kepala. Dia memang luar biasa."Nggak. Aku ingin melihat seluruh rumah sebelum melihat kamar itu," jawabku. Dia menggaruk kepalanya seolah baru saja kalah taruhan.Mungkin Ryan tidak mengatakannya, tetapi aku tahu apa yang sedang ada di pikirannya.Dapurnya sangat besar, seperti yang sudah kuduga. Rasanya seperti dapur kelas dunia. Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak uang yang telah Ryan habiskan untuk membangun rumah ini. Semuanya sudah lengkap. Kami hanya perlu pindah dan langsung tinggal di sini.Namun, aku masih meragukan bahwa dia belum pernah membawa wanita lain ke tempat ini. Dia seorang playboy dan bisa saja rumah ini pernah dijadikannya semacam hotel cinta. Aku benar-benar tidak menginginkan itu. Kalau meman

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 151

    Sudut Pandang Abigail:Aku tak bisa menahan air mata saat mendengar kata-kata itu dari pria yang dulu pernah mengkhianatiku.Apakah dia benar-benar mencintaiku? Apakah dia benar-benar menyesali semuanya dan tidak akan mengulangi kesalahannya lagi? Aku tidak tahu lagi. Namun yang aku tahu, aku bahagia mendengar semua yang dia katakan. Aku bahagia setiap kali dia mengatakan bahwa dia mencintaiku."Ryan, aku nggak tahu. Aku takut," jawabku sambil meneteskan air mata.Dia menggelengkan kepala dan menggenggam kedua tanganku."Abigail, tolong, percayalah padaku. Aku janji kamu nggak akan pernah mengalami lagi apa yang pernah kulakukan sebelumnya. Aku akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku akan melindungimu dengan segala yang kumiliki," jawabnya. Aku tak bisa menahan diri untuk memeluknya."Aku nggak tahu. Aku masih cinta kamu. Meskipun kamu telah melakukan kesalahan padaku, aku tetap nggak bisa lupain kamu. Aku memaksa diriku untuk melupakanmu, tapi aku nggak bisa. Kamu masih satu-satun

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 150

    Kami menikmati sarapan dengan penuh kebahagiaan. Dari kami bertiga, Orson tampaknya yang paling bahagia.Mungkin dia tidak pernah mengatakannya secara langsung, tetapi dia selalu memimpikan sebuah keluarga yang utuh dan bahagia. Aku akan berusaha memberikannya keluarga seperti itu.Kami memang membutuhkan satu kesempatan lagi. Kalau ternyata semuanya tidak berhasil, kurasa aku masih memiliki air mata yang cukup untuk menanggungnya.Aku akan mencoba memperbaiki hubunganku dengan Ryan demi Orson."Sayang, makan yang banyak. Kamu terlalu kurus." Kudengar Ryan berkata sambil menambahkan makanan ke piringku."Ryan, sudah cukup. Aku memang nggak makan banyak, apalagi di pagi hari seperti ini. Nanti siang aku bakal makan lagi," jawabku.Dia menggeleng. "Alasan seperti itu nggak bakal mempan buatku. Kamu kurus karena nggak pernah menyempatkan diri buat makan."Aku menggeleng lagi. "Aku nggak kurus, oke? Aku cuma langsing. Lagian, aku harus jaga bentuk tubuhku karena masih ada produk yang harus

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 149

    Sudut Pandang Abigail:Keesokan pagi, aku terbangun dan mendapati Ryan sudah tidak berada di sampingku.Saat melihat jam di meja samping tempat tidur, aku menyadari bahwa sekarang sudah pukul 8 pagi. Rasanya aku masih butuh lebih banyak tidur.Sebenarnya jam berapa kami tertidur semalam? Aku tidak memperhatikannya. Yang kutahu hanya Ryan tidak mau meninggalkanku sampai dia melihatku benar-benar tertidur.Aku segera bangun. Aku ingin melihat apakah Orson sudah pulang. Mungkin Ryan sudah berangkat bekerja. Aku memutuskan untuk membiarkan semuanya mengalir begitu saja. Aku tidak bisa lagi melarikan diri darinya.Aku masih mencintainya. Aku hanya perlu mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang mungkin terjadi di masa depan.Setelah mandi, tubuhku terasa sedikit lebih segar. Aku mengenakan pakaian yang nyaman, lalu keluar dari kamar.Aku terkejut ketika mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera dari dapur. Aku segera berjalan ke sana dan langsung bertemu dengan tatapan Ryan.Dia t

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 49

    Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 50

    Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 16

    Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 9

    "Astaga! Leah, kamu ngapain? Lepasin dia sekarang juga!"Suara Arthur yang menggelegar memotong kekacauan itu. Leah yang berada di atas tubuhku mendadak ditarik menjauh. Aku langsung bangkit duduk, terengah-engah, dan melihat Arthur berdiri menatap kami, wajahnya penuh amarah."Apa yang terjadi? Ken

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status