Share

Bab 101

Author: Wei Yun
last update publish date: 2025-12-09 18:26:13

​Kehangatan dari selimut wol tebal dan api unggun telah lama memudar, digantikan oleh kehangatan tubuh Han Feng yang kini menjadi satu-satunya tempat Li Hua bersandar. Angin musim dingin yang berhembus kencang tak lagi terasa menusuk. Sejak fajar menyingsing, kereta kuda kembali bergerak, dan Li Hua kembali menemukan tempat ternyamannya, di pangkuan suaminya.

​Menjelang sore, suara roda kereta yang beradu dengan jalanan berbatu halus, serta gemuruh ramai di kejauhan, menandakan bahwa mereka tel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Suhartini Nurdin
3 bab yg membosankan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 204

    Lima tahun telah berlalu sejak api peperangan melawan pemberontak dan pasukan Kasgan di perbatasan padam. Kini, kediaman Keluarga Han di pinggiran ibukota dipenuhi oleh riuh rendah suara tawa anak-anak yang memenuhi halaman luas yang asri.​Di bawah pohon plum yang sedang berbunga, Bai Xiang berdiri dengan anggun. Matanya yang dulu sedingin es kini memancarkan kehangatan seorang ibu saat menatap ketiga buah hatinya yang sedang asyik bermain.​Putri sulungnya, Han Ling yang kini berusia lima tahun, memiliki paras yang sangat mirip dengan Han Feng, rahang yang tegas namun elegan dan mata yang tajam. Namun, sifatnya adalah cerminan murni dari Bai Xiang. Di sampingnya, si tengah Han Mei lebih muda satu tahun, adalah perpaduan sempurna; ia memiliki kecerdasan Han Feng namun kelembutan wajah ibunya. Sedangkan si bungsu Han Jian, tiga tahun, adalah replika kecil dari ayahnya. Mulai dari cara berjalannya yang angkuh hingga sifatnya yang nakal dan tak bisa diam, ia adalah "Han Feng kecil" yan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 203

    Pesta pernikahan Zhu Yu Liang dan Wen Mei berlangsung semarak di aula utama Istana Mingyue. Gelak tawa para pejabat dan denting cawan perunggu yang beradu menciptakan simfoni kemenangan yang membahana. Han Feng, yang tengah mendampingi Kaisar, tampak sibuk meladeni ucapan selamat, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Bai Xiang di barisan meja terhormat. ​Sejak upacara bermula, Han Feng menyadari ada yang berbeda dari istrinya. Wajah Bai Xiang yang biasanya segar kini pucat, dan ia berulang kali memijat pelipisnya. Han Feng mengira itu hanyalah kelelahan pasca-tempur melawan pemberontak dan pasukan Kasgan. Saat Han Feng hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba tubuh Bai Xiang limbung. Cawan di tangannya jatuh berdenting, dan sebelum tubuhnya menyentuh lantai, Han Feng melesat, menangkap istrinya dalam dekapan yang sigap. ​"Xiang! Xiang!" seru Han Feng, suaranya yang menggelegar seketika menghentikan keriuhan di aula. ​Pesta yang tadinya penuh tawa berubah menjadi kepanikan keci

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 202

    Debu peperangan yang menyelimuti perbatasan perlahan luruh, digantikan oleh panji-panji Naga Perak yang berkibar gagah di bawah langit biru menuju Ibukota Mingyue. Barisan pasukan Longyan berbaris panjang, langkah kaki mereka yang serempak menciptakan irama kemenangan yang menggetarkan jalanan utama kota. Rakyat berdiri di sisi jalan, bersorak-sorai melepaskan bunga-bunga sebagai tanda syukur atas perdamaian yang berhasil direbut kembali dari ambisi Kasgan dan para pemberontak. ​Di barisan depan, Han Feng dan Bai Xiang berkuda berdampingan, diikuti oleh Zhu Yu Liang yang terus berada di sisi kereta kuda Wen Mei. Sesampainya di depan gerbang istana yang megah, Kaisar sudah menunggu di atas podium tinggi, didampingi oleh para pejabat istana yang kini telah bersih dari pengaruh Cao Bing. ​"Hamba, Han Feng, Panglima Tertinggi Pasukan Longyan, melaporkan bahwa ancaman dari barat telah dipadamkan, dan para pengkhianat telah menerima pengadilannya!" Han Feng turun dari kuda dan berlutut

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 201

    Angin di dataran gersang perbatasan berdesing kencang, membawa aroma belerang dan debu sisa ledakan dari medan pertempuran yang masih membara di kejauhan. Di atas sebuah tebing batu yang menjorok tinggi, menghadap langsung ke arah perkemahan Kasgan yang kini porak-poranda, dua sosok berdiri berhadapan. Jin Peng, sang iblis yang telah kehilangan kejayaannya, tampak goyah. Jubah abu-abunya compang-camping, tercemar darah dari luka perutnya yang terus merembes. ​Di hadapannya, Bai Xiang berdiri tegak dengan rambut putih yang berkibar liar. Ia menggenggam pedang, yang berkilau dingin tertimpa cahaya matahari senja. ​"Masih saja mengejarku hingga ke ujung bumi ini, Xiang?" Jin Peng terbatuk, tawanya terdengar seperti gesekan batu nisan di tengah padang sunyi. "Kau benar-benar murid yang patuh. Bahkan setelah aku menghancurkan keluargamu, kau masih ingin memberikan penghormatan terakhir dengan membunuhku di tanah terkutuk ini?" ​Bai Xiang tidak langsung menjawab. Ia mengangkat pedangnya,

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 200

    Debu peperangan masih membubung tinggi di sisi barat medan tempur. Cao Bing, pria yang dulu berjalan di aula istana dengan dagu terangkat, kini merangkak di atas tanah yang becek oleh darah. Ia mencoba melarikan diri ke arah kuda-kuda Kasgan yang tertambat di balik gundukan pasir, wajahnya yang angkuh kini kusam oleh debu dan ketakutan yang murni.​Namun, langkah pengecut itu terhenti secara paksa. Sebuah tombak panjang dengan mata perak yang berkilat tajam menghujam bumi tepat satu inci di depan kakinya. Getarannya begitu hebat hingga membelah tanah.​"Mau lari ke mana, Pengkhianat?"​Suara itu berat dan sarat akan kebencian. Zhu Yu Liang melangkah keluar dari kabut debu yang pekat. Zirah beratnya telah kehilangan kilau emasnya, tertutup oleh lumuran darah musuh yang mulai mengering. Namun, di balik kotornya medan perang, tatapannya tetap setajam elang, dingin dan menusuk. Ia mencabut tombaknya dari tanah dengan satu sentakan kuat, memutar senjata itu dengan kemahiran yang menakutka

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 199

    Lembah perbatasan yang dulunya merupakan hamparan hijau kini telah berubah menjadi pemakaman terbuka yang menyesakkan. Di tengah hiruk-pikuk teriakan maut dan ringkikan kuda yang meregang nyawa, sebuah ruang kosong tercipta secara alami di pusat palagan. Di sana, dua kutub kekuasaan akhirnya berhadapan: Han Feng dan Azhren, berdiri di atas tumpukan zirah dan patahan tombak yang berserakan.​Han Feng mengencangkan genggaman pada hulu pedang pusakanya. Napasnya teratur, namun matanya mengunci setiap gerak-gerik lawan. Di sekeliling mereka, kavaleri Kasgan dan Pasukan Longyan masih bertumbukan layaknya ombak raksasa yang menghantam karang, namun bagi sang Jenderal, dunia seolah menyempit hanya pada mata elang Azhren yang berkilat haus darah.​"Kau datang juga, Jenderal tua!" Azhren berteriak, suaranya membelah kebisingan logam yang beradu. Ia memacu kudanya dalam jarak pendek, pedang lengkung khas barat miliknya terangkat tinggi.​"Aku datang untuk menepati janjiku, Azhren!" balas Han F

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 98

    Kemudian, ia menarik tangannya. ​"Sekarang," Han Feng kembali memanaskan belatinya. Suaranya berubah kembali menjadi tebal dan serak. "Aku akan mengambil lintah yang menempel di dadamu." ​Li Hua mengangguk lemah, matanya masih terpejam menahan rasa perih. ​Han Feng tidak munafik. Ia tidak bisa men

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 96

    ​"Rasakan sendiri kalau kau tidak percaya," ucap Han Feng tenang namun mematikan. "Di sana ... di belakang lehermu. Lalu di punggungmu, di dadamu, perut ... dan di paha dalammu." ​Li Hua membeku. Wajahnya yang tadi pucat kini merah padam. Ia memberanikan diri menyentuh leher belakangnya dengan tan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 95

    Angin malam mendesis, menyapu dedaunan dengan suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan hantu-hantu hutan yang kelaparan. Namun, di dalam kotak kayu sempit bernama kereta kuda itu, sebuah kehidupan lain sedang berdenyut.​Han Feng tidak memedulikan suara-suara malam di luar. Dengan gerakan yan

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 94

    Sementara itu, Han Feng sudah berhasil menemukan kelinci hutan. Ia mengendap di antara pepohonan, tombak di tangannya sudah siap.​"Tunggu sebentar lagi," gumam Han Feng, matanya fokus pada kelinci itu. ​Ia sudah membidik dengan tombaknya, siap melemparkannya. Namun, saat ia siap melemparkan tombak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status