Share

Bab 12

Author: Wei Yun
last update Huling Na-update: 2025-10-14 09:36:24

Kebahagiaan Wen Mei begitu jelas terpancar. "Jadi ternyata Bai Xiang yang menyelamatkan Bibi! Ini benar-benar takdir!" serunya, memegangi tangan bibinya dengan erat. Suasana ruangan yang sempat tegang kini mencair oleh kehangatan pertemuan tak terduga ini.

Namun, tiba-tiba, Nyonya Besar Han mengerang lemah. Ekspresinya yang sempat bersemangat berubah menjadi meringis. "Aduh ... kakiku," keluhnya, tetapi matanya tidak menatap Han Feng, anaknya sendiri. Melainkan, ia memandang Bai Xiang dengan wajah memelas. "Nak, bisakah kau tolong pijit kakiku?"

Bai Xiang, yang memahami sandiwara kecil ini, hanya bisa tersenyum lembut. Ia segera berlutut dan mulai memijat dengan penuh perhatian. Wen Mei ikut duduk di tepi ranjang, bergabung dalam percakapan ringan mereka.

Han Feng berdiri seperti patung di sudut ruangan. Dadanya sesak oleh rasa kesal yang tak terucap. Ibu ... mengapa harus berpura-pura di depannya? pikirnya geram. Namun, di balik itu, rasa sayang yang dalam pada ibunya mengalahkan se
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 142

    Lembah kabut yang menyelimuti Paviliun Teratai Hitam seolah menjadi tirai alami yang sengaja diciptakan oleh semesta untuk menyembunyikan noda paling kelam di jantung Kekaisaran. Di dalam bangunan yang tersembunyi jauh dari pengawasan istana maupun telinga-telinga prajurit patroli itu, udara terasa begitu kental. Wangi dupa gaharu yang memabukkan memenuhi setiap sudut ruangan, bercampur dengan aroma gairah yang panas, keringat yang menyengat, dan hawa ambisi yang membakar.​Di balik tirai sutra merah darah yang menjuntai rendah dari langit-langit, suara derit ranjang kayu cendana bersahutan dengan napas yang memburu secara tidak beraturan. Selir Agung Wu Fei Xia, tengah berada dalam puncak pergulatan asmara yang liar dan penuh dosa. Menteri Militer Cao Bing, dengan tubuh kekar yang dipenuhi bekas luka parut akibat puluhan peperangan, menghujamkan gairahnya tanpa ampun, seolah-olah sedang menaklukkan wilayah musuh.​"Nghhh ... Cao Bing ... ahh! Lebih keras ... kumohon," Fei Xia menge

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 141

    Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela kecil berjeruji kayu di Biara Jingxin. Wen Mei mengerang, kelopak matanya terasa berat saat ia mencoba membukanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menusuk di tengkuknya, sisa dari pukulan keras pengawal ibunya. ​Ia meraba permukaan tempat tidur yang kasar. Ini bukan ranjang sutranya di Paviliun Giok. Ia segera terduduk, menatap sekeliling ruangan yang hanya berisi sebuah meja kayu kecil, satu lampion minyak, dan dinding batu yang dingin. ​"Di mana aku?" bisiknya dengan suara serak. ​Ingatan itu menghantamnya seperti ombak yang dahsyat. Bayangan Yu Liang yang berdarah, wajah angkuh ibunya, dan jeritannya yang terputus. "Yu Liang ...," rintihnya. Air mata mulai mengalir deras, "Yu Liang, maafkan aku ... Yu Liang!" ​Pintu kayu berderit terbuka. Seorang wanita paruh baya berpakaian biksuni abu-abu masuk membawa nampan berisi bubur encer dan teh pahit. Ia menatap Wen Mei dengan tatapan iba namun tegas. ​"Amitabha ... K

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 140

    Gema langkah kaki Bai Xiang di lorong penjara militer yang dingin. Suara itu memantul di dinding-dinding batu yang lembap.​Begitu sampai di depan sel yang lembap dan berbau anyir darah, mata Bai Xiang membelalak lebar.Pemandangan di hadapannya seolah menghentikan aliran darah di tubuhnya. Tali-tali tambang yang kasar, yang selama berjam-jam telah mengikat pergelangan tangan Han Feng pada balok kayu, baru saja dilepaskan oleh para algojo. Tindakan itu dilakukan segera setelah dekret lisan dari Kaisar sampai ke telinga kepala penjara. Tubuh Han Feng yang dulu bagaikan karang yang tak tergoyahkan, kini jatuh terkulai ke lantai batu yang dingin.​Bruk!!​Suara benturan tubuh itu menghantam ulu hati Bai Xiang dengan telak. Seketika, dinding ingatannya yang selama ini tertutup kabur seolah runtuh total. Bayangan masa lalu membanjiri benaknya secara bertubi-tubi tanpa bisa dicegah. Ia teringat sebuah sore yang indah di kediaman mereka yang dulu, jauh sebelum badai fitnah ini meluluhlantakk

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 139

    Langkah kaki Permaisuri Yuan Hua yang dibalut sepatu sutra berhias emas berdentam keras di atas lantai kayu, terdengar seperti lonceng kematian yang menggema ke seluruh koridor menuju paviliun Giok. Di dalam kamar utama, Zhu Yu Liang terbaring tak berdaya di atas ranjang Wen Mei. Kesadarannya timbul tenggelam akibat luka-luka parah yang dideritanya. Namun, rasa sakit yang menusuk-nusuk di sekujur tubuhnya memaksa matanya terbuka sedikit, tepat saat daun pintu kamar didobrak paksa hingga menghantam dinding.​"Seret tikus kotor ini keluar dari sini sekarang juga!" perintah Permaisuri dengan suara melengking. Tatapannya tertuju pada sosok Yu Liang dengan kejijikan yang tak ditutup-tutupi.​Dua pengawal bertubuh besar dan tegap maju tanpa keraguan sedikit pun. Tanpa belas kasihan, mereka menarik kerah baju Yu Liang yang dipenuhi oleh darah kering dan segar, lalu menyeretnya turun secara kasar dari ranjang sutra milik Wen Mei. Yu Liang mengerang kesakitan yang luar biasa; tubuhnya yang d

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 138

    Langkah kaki Wen Mei terasa berat, napasnya tersengal seiring dengan beban tubuh Zhu Yu Liang yang bertumpu pada bahunya. Darah yang terus merembes dari luka-luka di tubuh sang Panglima kini telah mewarnai jubah sutra birunya menjadi kemerahan yang pekat. Di sisi lain, Bai Xiang menyangga tubuh Yu Liang dengan kekuatan yang luar biasa tenang, seolah berat laki-laki itu tidak berarti baginya. ​Setibanya di gerbang Paviliun Giok, para dayang yang sudah menunggu gempar. Mereka menjerit kecil melihat kondisi Panglima Mingyue yang mengenaskan. ​"Tuan Putri! Apa yang terjadi?" seru seorang dayang senior, hendak mendekat dengan panik. ​"Berhenti di sana!" perintah Wen Mei dengan suara yang gemetar namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan. "Jangan ada satu pun dari kalian yang berani masuk ke dalam paviliun tanpa izinku. Cukup siapkan air hangat dalam baskom besar dan kain bersih. Letakkan di depan pintu dan segera pergi!" ​"Tapi, Tuan Putri, luka itu—" ​"Lakukan saja!" bentak Wen

  • Balas Dendam Putri Terbuang: Jenderal, Mengakulah!   Bab 137

    Lantai kereta yang bersimbah darah itu menjadi saksi bisu transformasi yang mengerikan sekaligus menakjubkan. Sosok yang semula adalah Li Hua, kini perlahan bangkit. Rambutnya yang seputih salju jatuh menjuntai, menutupi wajahnya yang pucat pasi. Matanya yang kini berwarna perak jernih menatap sekeliling dengan dingin, namun ada kecerdasan tajam yang berkilat di sana.​Ia menemukan secarik kertas yang digenggamnya erat. Dengan jemari yang gemetar namun pasti, ia membacanya dalam diam.​Jika kau membaca ini, berarti aku, Li Hua, telah pergi dan kau telah kembali. Aku adalah masa lalumu dan kau adalah aku yang sesungguhnya, Bai Xiang. Suamimu, Han Feng, sedang sekarat di penjara militer atas fitnah keji. Kita harus sampai ke ibukota. Selamatkan dia, selamatkan harga diri kita.​Bai Xiang meremas kertas itu hingga hancur. Ingatan masa lalu menghujam kepalanya seperti ribuan jarum, namun ia tidak punya waktu untuk mengaduh. Di luar, suara denting logam dan rintihan kesakitan memanggil ins

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status