مشاركة

Ketika Hujan Tak Lagi Reda
Ketika Hujan Tak Lagi Reda
مؤلف: Tedy

Bab 1

مؤلف: Tedy
"Sebulan, kurasa bahkan nggak bakal bertahan sampai lewat tahun baru."

Dokter melepaskan hasil rontgen dari layar, lalu menatap Olivia yang duduk di hadapannya. "Nona Olivia, kondisimu memburuk lebih cepat dari perkiraan kami. Sebaiknya anggota keluarga datang ke sini. Ada beberapa hal yang perlu didiskusikan bersama. Pengobatan lanjutan dan perawatan ke depannya nggak mungkin kau tangani sendirian."

Olivia mengangkat pandangan.

"Aku nggak punya keluarga," ujarnya.

Dokter terdiam sesaat. "Tapi di data medis tertulis suamimu, Juan ...."

"Itu dulu," potong Olivia, "sekarang aku sendirian."

Dokter terpaku beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi diurungkan. Dia kembali mengetik di komputer.

"Dosis obat pereda nyerinya aku tingkatkan dua kali lipat. Kalau sakitnya nggak tertahankan, langsung minum, jangan ditahan." Sang dokter menyerahkan resep obat. "Suplemen nutrisi diminum dua kali sehari, pagi dan malam. Minggu depan wajib kontrol lagi, kami perlu menyesuaikan pengobatan."

"Baik."

Olivia mengangguk, lalu keluar.

Dia menunduk melihat ponselnya.

Layar menyala. Kolom notifikasi bersih kosong, hanya ada satu pemberitahuan cuaca.

Tidak ada panggilan tidak terjawab. Tidak ada pesan baru.

Olivia naik bus dan menyandarkan tubuh di kursi, lalu memejamkan mata.

Saat bus melewati pusat perbelanjaan kota, di balik kabut hujan samar-samar terlihat papan neon merah dari restoran hotpot terkenal.

Di balik dinding kaca besar, suasana tampak terang dan ramai.

Tubuh Olivia mendadak kaku.

Dia sangat mengenal empat orang yang duduk di meja dekat jendela itu.

Juan mengenakan kemeja abu-abu yang pagi tadi baru saja Olivia setrika untuknya. Pria itu sedang menoleh ke samping sambil mengatakan sesuatu, senyum lembut penuh kasih terpancar di wajahnya.

Di sampingnya, duduk Melda yang baru kembali dari luar negeri setelah tiga tahun.

Di seberang mereka ada kedua orang tua Olivia.

Ayahnya sedang mengambilkan makanan untuk Melda dengan gerakan yang begitu alami dan terbiasa, sementara ibunya tersenyum sambil mengatakan sesuatu, matanya melengkung indah seperti bulan sabit.

Senyum tulus tanpa beban itu sudah tiga tahun tidak pernah Olivia lihat.

Keempatnya duduk mengelilingi panci hotpot yang mengepul hangat. Kuah merah pedas di dalamnya terus membentuk gelembung-gelembung kecil. Mangkuk kecil di depan Melda bahkan sudah menumpuk penuh makanan.

Bus melambat perlahan dan berhenti di persimpangan. Lampu merah menyala.

Olivia mengeluarkan ponsel. Di daftar kontak, nama Juan berada paling atas.

Nada sambung terdengar dari telepon. Tut ... tut ... tut ....

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Di dalam restoran, layar ponsel Juan yang tergeletak di meja menyala.

Dia melirik sekilas.

Lalu membalik ponselnya menghadap ke bawah dengan santai.

Setelah itu, dia kembali menoleh ke Melda, menerima minuman yang disodorkan wanita itu, lalu mengatakan sesuatu yang membuat Melda tertawa makin riang.

Olivia memutus sambungan. Menelepon lagi.

Jarinya terus mengulang gerakan yang sama seperti mesin, tutup telepon, panggil lagi, tutup telepon, panggil lagi.

Lampu merah masih tersisa tiga puluh detik.

Di dalam restoran, ayahnya sedang mengangkat ponsel untuk berfoto.

Empat orang itu merapat bersama. Juan di kiri, Melda di kanan, kedua orang tua mereka di belakang. Melda membentuk pose V sambil tersenyum manis ke arah kamera.

Klik.

Olivia menurunkan ponselnya.

Seharusnya dia sudah menyadari semuanya sejak lama.

Sejak tiga bulan lalu, ketika dia menemukan akun anonim Juan. Sejak pria itu menulis, hari pertama bertemu kembali setelah lama berpisah. Sejak setiap hari Juan mulai mencatat hal-hal kecil tentang dirinya bersama wanita lain.

Lampu hijau menyala.

Bus kembali berjalan perlahan.

Olivia menyandarkan kepala ke jendela. Kaca terasa dingin menusuk.

Dia mengangkat tangan, lalu menutupi wajahnya dengan telapak tangan.

Dia teringat tiga tahun lalu, di hari keluarganya bangkrut.

Waktu itu juga sore hujan seperti ini. Orang tuanya menyelipkan buku tabungan terakhir kepada Melda sambil berkata, "Melda, bawa ini. Pergilah kuliah di luar negeri dengan tenang, jangan khawatir soal keluarga."

Melda menangis sambil memeluk ibunya. "Ibu, aku pasti bakal merindukan kalian."

Ayahnya menepuk pundaknya lembut. "Anak bodoh, jaga dirimu baik-baik."

Sementara Olivia hanya berdiri di ambang pintu dengan ransel lusuh di punggungnya. Di dalam tas itu cuma ada beberapa setel pakaian ganti. Tidak seorang pun memandangnya. Tidak seorang pun mengatakan sepatah kata pun padanya.

Kemudian, hujan turun makin deras. Dia berjalan keluar dari rumah yang telah ditinggalinya selama dua puluh tahun itu seorang diri. Tanpa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup.

Saat Juan menemukannya dengan mobil, dia sedang meringkuk di halte bus sambil menggigil kedinginan.

Pria itu turun tergesa-gesa, menyampirkan jaket ke tubuhnya, lalu berkata, "Olivia, pulanglah bersamaku."

Suara pengumuman di bus menarik Olivia kembali dari ingatan.

Dia membuka mata. Bus sudah kosong, hanya sopir yang menoleh menatapnya.

"Nona, sudah sampai."

Olivia mengambil kantong obatnya, lalu turun dari bus.

Rumah dalam keadaan gelap, tetapi lampu sensor di area pintu masuk otomatis menyala. Dia mengganti sepatu dan meletakkan kantong obat di atas lemari sepatu. Pandangannya jatuh pada dinding di samping.

Foto pernikahan mereka masih tergantung di sana.

Di foto itu, Juan merangkul bahunya dengan senyum tipis dan tatapan lembut.

Olivia menatap foto tersebut cukup lama sebelum akhirnya mengalihkan pandangan.

Lampu dapur masih menyala.

Dia berjalan mendekat. Benar saja, lampu penghangat penanak nasi masih menyala. Saat tutupnya dibuka, di dalamnya ada bubur putih hangat yang dimasak dengan sempurna, butiran nasinya lembut dan halus.

Di sampingnya tertempel secarik catatan, [Akhir-akhir ini kau sering bilang lambungmu nggak nyaman. Makan sedikit tapi sering. Bubur bagus buat lambung. Jangan lupa dimakan sebelum dingin. Aku pulang agak malam.]

Olivia mengambil semangkuk bubur lalu duduk di meja makan.

Uap hangat mengepul perlahan, aroma nasi yang ringan terasa menenangkan.

Tepat saat itu, ponselnya bergetar.

[Sudah makan buburnya? Aku masih menemani klien, mungkin pulang larut. Lambungmu bermasalah, jangan makan makanan dingin. Aku sudah potongkan apel di kulkas, nanti dimakan setelah nggak terlalu dingin.]

Olivia menatap pesan itu cukup lama, lalu mematikan layar ponselnya.

Saat buburnya tinggal setengah, tiba-tiba perutnya terasa mual luar biasa.

Dia bergegas berdiri dan berlari ke kamar mandi.

Dia berpegangan pada sisi toilet, membungkuk dan muntah hebat sampai tubuhnya gemetar.

Setelah beberapa saat, rasa mual itu perlahan mereda.

Dia menyiram toilet, lalu berjalan ke wastafel dan membuka keran.

Air dingin membasuh wajahnya. Sangat dingin.

Olivia mengangkat kepala dan menatap cermin.

Wajah di dalam cermin tampak pucat pasi. Bibirnya tidak memiliki sedikit pun warna merah. Rambut acak-acakan menempel di pelipis dan pipi. Matanya merah bengkak dengan lingkar hitam pekat di bawahnya.

Olivia memandangi dirinya sendiri seperti itu untuk waktu yang lama.

Lalu tiba-tiba dia tertawa pelan.

Untung saja, tinggal satu bulan lagi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 22

    Juan berdiri di sisi belakang gereja, di bawah sebuah pohon ek besar. Punggungnya bersandar pada batang pohon yang kasar, seolah hanya dengan begitu tubuhnya yang hampir roboh masih bisa bertahan.Di tangannya tergenggam sebuah kartu undangan pernikahan yang sudah kusut tidak berbentuk.Nama kedua mempelai yang tercetak di atasnya menusuk matanya.Olivia Nismara, Kenzo Gumelar.Benar-benar dia.Selama beberapa tahun terakhir, dia mencari keberadaan Olivia seperti orang gila.Namun, Olivia pergi dengan sangat bersih. Semua kontak diganti, bahkan teman-teman dan rekan kuliahnya di dalam negeri pun hampir tidak mengetahui keberadaannya secara pasti. Mereka hanya samar-samar mendengar bahwa Olivia pergi ke luar negeri dan hidup dengan baik.Dia seolah menghilang dari dunia, atau sengaja menghapus seluruh jejak keberadaannya dari hidup Juan.Juan pernah mencoba bangkit, mencoba mencurahkan seluruh energinya pada pekerjaan, berusaha menggunakan kesibukan untuk mematikan rasa.Namun, setiap m

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 21

    Universitas yang dipilih Olivia memiliki budaya akademik yang disiplin sekaligus bebas, bidang studi yang dia pilih kebetulan menjadi titik pertemuan antara minat serta kemampuannya.Pembimbingnya adalah seorang profesor wanita yang cukup berpengaruh di bidang tersebut, berpandangan tajam, tetapi juga sangat sabar. Dia segera menyadari potensi Olivia."Olivia, kau adalah peneliti berbakat sejak lahir." Seusai sebuah kelas diskusi, sang pembimbing sengaja menahannya untuk berbicara secara pribadi. Tatapannya menunjukkan kekaguman yang tidak disembunyikan. "Cara berpikirmu sangat unik, nggak gegabah, dan mampu benar-benar mendalami sesuatu. Kalau terus menggali bidang ini lebih dalam, kau bakal mendapatkan hasil yang sangat baik."Pengakuan seperti itu menjadi dorongan yang sangat besar bagi Olivia.Olivia mencurahkan seluruh energinya pada belajar dan penelitian. Kehidupannya yang hanya berkisar antara perpustakaan, laboratorium, dan asrama terasa sederhana, tetapi memberinya kepuasan y

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 20

    Di tengah riuh suara jangkrik musim panas, bel tanda berakhirnya ujian terakhir pun berbunyi. Ujian masuk universitas Ariel, bersama pekerjaan les privat Olivia yang telah berlangsung hampir setahun, akhirnya resmi berakhir.Nilai ujian memang belum diumumkan, tetapi ekspresi lega dan kepercayaan diri samar di wajah Ariel saat keluar dari ruang ujian sudah cukup membuat Olivia tahu bahwa hasilnya tidak akan buruk.Kedua orang tua Ariel sangat gembira. Rasa terima kasih mereka kepada Olivia begitu besar hingga tidak bisa disembunyikan. Selain melunasi seluruh biaya mengajarnya, mereka juga memberinya amplop merah tebal sebagai hadiah ucapan terima kasih.Olivia melihat tabungan di rekening banknya. Bagi dirinya, itu sudah termasuk jumlah uang yang fantastis, tetapi hatinya justru terasa sangat tenang.Dia menghitung dan merencanakannya dengan saksama. Sekitar sepertiga dari uang itu dia transfer secara anonim ke rekening ibunya.Jumlah tersebut cukup untuk menutup bagian paling mendesak

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 19

    Juan tidak menyerah.Setelah kebingungan awalnya mereda, muncul tekad yang makin obsesif dalam dirinya. Dia harus mendapatkan kembali Olivia!Tuhan telah memberi mereka kesempatan untuk memulai ulang, dia tidak boleh kehilangan Olivia lagi!Juan menggunakan seluruh koneksi dan relasinya, mencari kabar tentang Olivia seperti orang gila.Akhirnya, dia mengetahui bahwa Olivia bekerja sebagai guru les untuk seorang siswa SMA bernama Ariel dan kini tinggal di rumah Keluarga Tama.Ini benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya.Benih kegelisahan tumbuh liar di hati Juan.Dia makin yakin bahwa Olivia juga terlahir kembali.Kali ini, dia tidak bisa lagi pasif seperti dulu. Juan harus mengambil langkah terlebih dahulu, memberitahu Olivia bahwa semuanya masih bisa berubah, bahwa perasaannya kini sudah berbeda.Sore itu, Juan sudah menunggu di jalan yang menjadi akses utama menuju kawasan perumahan elite dekat kota universitas.Juan tahu Olivia ada kelas hari ini dan setelahnya akan kembali ke

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 18

    Pintu mobil tertutup. Olivia menyandarkan tubuh pada jok belakang yang empuk lalu mengembuskan napas pelan.Pakaian yang basah kuyup menempel di kulitnya, membawa rasa dingin yang tidak nyaman.Namun, hatinya justru terasa sangat tenang.Dia memejamkan mata. Dalam benaknya kembali terbayang tatapan Juan saat tadi berlari menerjang hujan dan memeluknya. Mata Juan saat itu penuh dengan kegembiraan, keterharuan, serta rasa takut kehilangan yang begitu dalam.Tatapan seperti itu bukanlah sesuatu yang mungkin dimiliki Juan saat ini.Pada saat itulah Olivia mengerti.Juan juga terlahir kembali.Empat bulan lalu, ketika dia tersadar dari siksaan kanker stadium akhir dan dinginnya ambang kematian, Olivia mendapati dirinya terbaring di ranjang asrama kampus empat tahun silam. Matahari bersinar cerah di luar jendela, sementara teman-teman sekamarnya ramai mengobrol soal makan siang dan jadwal kuliah sore. Awalnya, Olivia mengira dirinya sedang bermimpi. Sebuah halusinasi sebelum mati akibat rasa

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 17

    Juan kehilangan kesadaran di tengah rasa sesak yang begitu hebat.Botol obat tidur yang telah kosong di samping guci abu Olivia, surat wasiat yang dipenuhi penyesalan dan keputusasaan di atas meja, serta tatapan penuh penderitaan yang dia arahkan pada foto pernikahan mereka sebelum menutup mata untuk terakhir kali.Juan pikir akhirnya dirinya bisa menemui Olivia. Walau hanya untuk berlutut di hadapannya dan mengucapkan satu kalimat terlambat, maaf.Namun, kegelapan abadi yang dia bayangkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, setelah sensasi seperti ditarik paksa, Juan mendadak membuka mata dan terengah-engah.Dia mendapati dirinya duduk di kursi pengemudi. Di luar jendela mobil, hujan turun begitu deras. Penyeka kaca mobil bergerak liar ke kiri dan kanan, tetapi jalan di depan tetap sulit terlihat.Pemandangan jalan yang familier melesat mundur di balik tirai hujan.Ini ... di mana?Juan menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam setir dengan bingung. Tangan itu masih muda. Pakaia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status