Saat kata "baik" hampir terucap dari bibirnya, tiba-tiba di benaknya terlintas wajah lain.Pucat. Tenang.Rasa gelora yang samar tadi seketika digantikan kegelisahan yang tidak jelas asalnya. Juan mengernyit, lalu mundur setengah langkah, menjauhkan jarak yang terasa terlalu dekat di antara mereka. Suaranya berubah tegas dan terkendali. "Melda, jangan bercanda."Harapan di wajah Melda hilang dalam sekejap, berganti keterkejutan dan luka. "Kak Juan ....""Masalah kita sudah lama berlalu," potong Juan. Suaranya tidak keras, tetapi jelas menegaskan sikapnya, "aku sudah bilang, sekarang aku hanya menganggapmu sebagai adik.""Adik?" Suara Melda tiba-tiba meninggi, dipenuhi ketidakpercayaan dan kepedihan. "Cuma sebagai adik? Kalau begitu, kenapa sejak kita bertemu lagi kau mencatat setiap hari tentang kita, menuliskannya seperti kisah pertemuan kembali setelah lama berpisah, lalu mengunggahnya di akun anonim itu? Kau tahu nggak, setiap kali aku membacanya, hatiku terasa begitu sakit, tapi ju
더 보기