مشاركة

Bab 3

مؤلف: Tedy
Selama seminggu berikutnya, Juan jarang pulang ke rumah.

Namun, setiap malam pukul tujuh lewat tiga puluh menit, notifikasi pengantar makanan selalu muncul tepat waktu di layar ponsel Olivia.

Lalu disusul pesan darinya. [Makan buburnya selagi hangat. Makan teratur, jangan sampai aku khawatir.]

Olivia teringat masa lalu. Sesibuk apa pun Juan, pria itu selalu berusaha pulang. Dia rela menghabiskan satu atau dua jam di dapur demi merebus semangkuk sup kesukaan Olivia perlahan-lahan.

Juan pernah berkata bahwa makanan pesan antar tidak bersih, tidak sebaik masakan sendiri.

Namun, bubur yang dikirimkan itu tidak pernah lagi disentuh Olivia.

Setiap kali, Olivia hanya membuka akun anonim itu dengan tenang.

Benar saja, setiap hari selalu ada unggahan baru.

[Hari ke-65 sejak bertemu kembali. Aku mengajaknya ke almamater kami. Berjalan di jalan rindang yang dulu sering kami lewati, rasanya seolah nggak ada yang berubah.]

[Hari ke-67 sejak bertemu kembali. Dia masuk angin. Aku membelikannya obat dan merebus teh jahe untuknya. Dia masih saja nggak bisa menjaga diri.]

[Hari ke-70 sejak bertemu kembali. Menemaninya melihat rumah. Dia ingin punya tempat tinggal sendiri di dalam negeri.]

Minggu kedua, Olivia pergi sendirian ke rumah sakit untuk pemeriksaan ulang.

Proses kemoterapi terasa panjang dan menyiksa.

Mual hebat datang menyusul. Dia muntah begitu parah di toilet rumah sakit hingga rasanya seluruh cairan empedu dalam tubuh ikut keluar.

Melihat wajahnya yang sayu di cermin dan rambut yang menipis sampai kulit kepalanya mulai terlihat, Olivia membuka keran lalu berkali-kali membasuh wajahnya dengan air dingin.

Baru saja sampai di dekat tangga, ponselnya berdering. Di layar tertera kata nama "Ayah".

Olivia sedikit tertegun. Ayahnya jarang sekali menelepon lebih dulu.

Dia mengangkat telepon, tetapi sebelum sempat berbicara, suara penuh amarah langsung terdengar dari seberang sana. "Olivia! Kau pergi ke mana hari ini? Kau tahu nggak kalau hari ini ulang tahun ibumu? Satu keluarga menunggumu makan sampai sekarang! Ibumu sibuk memasak seharian, masa kau bisa lupa?"

Jari Olivia yang menggenggam ponsel langsung menegang. Kukunya menekan kuat ke telapak tangan.

Bulan ini dia benar-benar tersiksa oleh kemoterapi berulang dan rasa sakit yang makin parah, sampai pikirannya kacau. Dia benar-benar lupa.

"Maaf, Ayah." Suaranya pelan, lemah, dan tidak mampu menyembunyikan keletihan. "Aku ...."

"Jangan cari alasan!" potong ayahnya tajam, "sekarang juga datang ke sini! Makanannya sudah hampir dingin!"

Telepon langsung ditutup begitu saja.

Olivia mendengarkan nada sambung terputus itu sambil berdiri lama di lorong rumah sakit yang ramai lalu-lalang orang.

Perutnya kembali bergolak hebat. Rasa mual yang tadi susah payah dia tahan kembali naik.

Dia menopang tubuh pada dinding dingin dan menarik napas dalam beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menekan rasa pusingnya.

Di tengah perjalanan, Olivia meminta sopir berhenti di depan sebuah toko syal mewah.

Dia masuk ke dalam dan menggunakan sisa saldo di ponselnya untuk membeli syal model terbaru yang direkomendasikan pegawai toko.

Mungkin ini akan menjadi hadiah ulang tahun terakhir yang bisa dia berikan untuk ibunya.

Pintu rumah segera terbuka.

Ibunya berdiri di ambang pintu dengan senyum cerah di wajahnya. Namun, begitu melihat Olivia, senyum itu cepat memudar, digantikan ketidaksenangan dan rasa jijik yang sama sekali tidak disembunyikan.

Tatapan wanita itu menyapu wajah Olivia yang pucat dan kurus, serta mata redup tanpa cahaya.

"Kenapa kau jadi seperti hantu begini?" Suara ibunya tajam penuh ketidaksabaran. "Muram sama nggak bersemangat, lihat saja sudah bikin orang kesal! Coba lihat Melda, cerah sama menyenangkan. Sekali lihat saja sudah bikin hati senang!"

Dada Olivia terasa sesak dan nyeri.

Dia menundukkan mata, tidak membantah, hanya berkata pelan, "Ibu, selamat ulang tahun."

Lalu menyerahkan kotak syal yang dibungkus indah.

Ibunya melirik sekilas tanpa menerimanya, lalu menyingkir ke samping memberi jalan. "Masuklah. Tinggal menunggumu saja."

Olivia masuk ke dalam.

Meja makan sudah dipenuhi berbagai hidangan mewah, udang rebus, kepiting kukus, teripang tumis daun bawang, juga sup ikan.

Juan langsung berdiri. Dia menarik kursi di sampingnya. "Maaf, Olivia," Juan mendekat dan menjelaskan dengan suara rendah, "Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Aku juga baru tahu hari ini ulang tahun ibu setelah Melda mengatakannya. Tadinya mau kasih tahu kau, tapi karena sibuk jadi lupa. Aku juga baru dipanggil Melda datang ke sini."

Olivia mengangguk tenang. "Mm. Nggak apa-apa."

Juan justru sedikit tertegun melihat reaksinya yang terlalu tenang.

Saat itu, Melda mengambil sepotong kepiting lalu menaruhnya ke mangkuk ibunya. "Ibu, Ibu sudah capek-capek masak. Cepat coba kepiting buatan Ibu! Masakan Ibu makin enak!"

"Kau ini memang paling pintar mengambil hati!" Ibu tertawa lebar sambil mengambilkan udang untuk Melda. "Kalau suka, makan yang banyak!"

Suasana meja makan kembali ramai. Ayah menyeruput minuman, ibu dan Melda bercakap-cakap sambil tertawa. Juan sesekali ikut berbicara, tetapi pandangannya selalu tanpa sadar tertuju pada Melda.

Olivia duduk diam. Mangkuk kecil di depannya kosong.

Dia hanya mengambil brokoli bawang putih yang paling dekat dengannya, lalu memakannya sedikit demi sedikit bersama nasi putih.

"Olivia, kenapa kau nggak makan lauk?" Ibu memperhatikan itu dan kembali mengernyit tidak senang. "Apa sekarang setelah hidup sendiri, masakan buatanku sudah nggak pantas di matamu?"

Suasana meja makan mendadak hening sesaat.

Juan memandang sekeliling, lalu terdiam. "Ibu, Olivia alergi makanan laut. Di meja ini banyak yang nggak bisa dia makan."

Ibu terpaku sejenak. Tatapannya menyapu udang, kepiting, dan teripang di meja, lalu berpindah ke sepiring kecil sayuran di depan Olivia. Raut wajahnya sempat terlihat canggung, tetapi segera tergantikan rasa kesal yang lebih besar.

"Kau saja yang ribet!" gerutunya, "ini nggak bisa makan, itu juga nggak bisa makan. Pantas saja kurus seperti orang sakit."

Setelah berkata begitu, dia tidak lagi memandang Olivia. Dia kembali tersenyum hangat sambil mengambilkan makanan untuk Melda. "Melda, teripangnya meresap sekali bumbunya, coba ini! Udangnya juga bakal Ibu kupaskan buatmu."

Juan menatap mangkuk nasi Olivia yang nyaris tidak tersentuh, lalu menatap wajah sampingnya yang makin kurus. Hatinya mulai merasa tidak enak.

Dia mengambil sepotong daging kecap yang letaknya agak jauh, lalu menaruhnya ke mangkuk Olivia. "Makan ini dulu. Nanti setelah pulang, aku masakkan yang enak lagi untukmu. Aku buatkan bubur kesukaanmu."

Olivia menatap potongan daging mengilap di dalam mangkuknya. Perutnya kembali bergolak hebat.

Ini pesta ulang tahun keluarga yang sudah dia nantikan dan harapkan selama bertahun-tahun.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 22

    Juan berdiri di sisi belakang gereja, di bawah sebuah pohon ek besar. Punggungnya bersandar pada batang pohon yang kasar, seolah hanya dengan begitu tubuhnya yang hampir roboh masih bisa bertahan.Di tangannya tergenggam sebuah kartu undangan pernikahan yang sudah kusut tidak berbentuk.Nama kedua mempelai yang tercetak di atasnya menusuk matanya.Olivia Nismara, Kenzo Gumelar.Benar-benar dia.Selama beberapa tahun terakhir, dia mencari keberadaan Olivia seperti orang gila.Namun, Olivia pergi dengan sangat bersih. Semua kontak diganti, bahkan teman-teman dan rekan kuliahnya di dalam negeri pun hampir tidak mengetahui keberadaannya secara pasti. Mereka hanya samar-samar mendengar bahwa Olivia pergi ke luar negeri dan hidup dengan baik.Dia seolah menghilang dari dunia, atau sengaja menghapus seluruh jejak keberadaannya dari hidup Juan.Juan pernah mencoba bangkit, mencoba mencurahkan seluruh energinya pada pekerjaan, berusaha menggunakan kesibukan untuk mematikan rasa.Namun, setiap m

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 21

    Universitas yang dipilih Olivia memiliki budaya akademik yang disiplin sekaligus bebas, bidang studi yang dia pilih kebetulan menjadi titik pertemuan antara minat serta kemampuannya.Pembimbingnya adalah seorang profesor wanita yang cukup berpengaruh di bidang tersebut, berpandangan tajam, tetapi juga sangat sabar. Dia segera menyadari potensi Olivia."Olivia, kau adalah peneliti berbakat sejak lahir." Seusai sebuah kelas diskusi, sang pembimbing sengaja menahannya untuk berbicara secara pribadi. Tatapannya menunjukkan kekaguman yang tidak disembunyikan. "Cara berpikirmu sangat unik, nggak gegabah, dan mampu benar-benar mendalami sesuatu. Kalau terus menggali bidang ini lebih dalam, kau bakal mendapatkan hasil yang sangat baik."Pengakuan seperti itu menjadi dorongan yang sangat besar bagi Olivia.Olivia mencurahkan seluruh energinya pada belajar dan penelitian. Kehidupannya yang hanya berkisar antara perpustakaan, laboratorium, dan asrama terasa sederhana, tetapi memberinya kepuasan y

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 20

    Di tengah riuh suara jangkrik musim panas, bel tanda berakhirnya ujian terakhir pun berbunyi. Ujian masuk universitas Ariel, bersama pekerjaan les privat Olivia yang telah berlangsung hampir setahun, akhirnya resmi berakhir.Nilai ujian memang belum diumumkan, tetapi ekspresi lega dan kepercayaan diri samar di wajah Ariel saat keluar dari ruang ujian sudah cukup membuat Olivia tahu bahwa hasilnya tidak akan buruk.Kedua orang tua Ariel sangat gembira. Rasa terima kasih mereka kepada Olivia begitu besar hingga tidak bisa disembunyikan. Selain melunasi seluruh biaya mengajarnya, mereka juga memberinya amplop merah tebal sebagai hadiah ucapan terima kasih.Olivia melihat tabungan di rekening banknya. Bagi dirinya, itu sudah termasuk jumlah uang yang fantastis, tetapi hatinya justru terasa sangat tenang.Dia menghitung dan merencanakannya dengan saksama. Sekitar sepertiga dari uang itu dia transfer secara anonim ke rekening ibunya.Jumlah tersebut cukup untuk menutup bagian paling mendesak

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 19

    Juan tidak menyerah.Setelah kebingungan awalnya mereda, muncul tekad yang makin obsesif dalam dirinya. Dia harus mendapatkan kembali Olivia!Tuhan telah memberi mereka kesempatan untuk memulai ulang, dia tidak boleh kehilangan Olivia lagi!Juan menggunakan seluruh koneksi dan relasinya, mencari kabar tentang Olivia seperti orang gila.Akhirnya, dia mengetahui bahwa Olivia bekerja sebagai guru les untuk seorang siswa SMA bernama Ariel dan kini tinggal di rumah Keluarga Tama.Ini benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya.Benih kegelisahan tumbuh liar di hati Juan.Dia makin yakin bahwa Olivia juga terlahir kembali.Kali ini, dia tidak bisa lagi pasif seperti dulu. Juan harus mengambil langkah terlebih dahulu, memberitahu Olivia bahwa semuanya masih bisa berubah, bahwa perasaannya kini sudah berbeda.Sore itu, Juan sudah menunggu di jalan yang menjadi akses utama menuju kawasan perumahan elite dekat kota universitas.Juan tahu Olivia ada kelas hari ini dan setelahnya akan kembali ke

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 18

    Pintu mobil tertutup. Olivia menyandarkan tubuh pada jok belakang yang empuk lalu mengembuskan napas pelan.Pakaian yang basah kuyup menempel di kulitnya, membawa rasa dingin yang tidak nyaman.Namun, hatinya justru terasa sangat tenang.Dia memejamkan mata. Dalam benaknya kembali terbayang tatapan Juan saat tadi berlari menerjang hujan dan memeluknya. Mata Juan saat itu penuh dengan kegembiraan, keterharuan, serta rasa takut kehilangan yang begitu dalam.Tatapan seperti itu bukanlah sesuatu yang mungkin dimiliki Juan saat ini.Pada saat itulah Olivia mengerti.Juan juga terlahir kembali.Empat bulan lalu, ketika dia tersadar dari siksaan kanker stadium akhir dan dinginnya ambang kematian, Olivia mendapati dirinya terbaring di ranjang asrama kampus empat tahun silam. Matahari bersinar cerah di luar jendela, sementara teman-teman sekamarnya ramai mengobrol soal makan siang dan jadwal kuliah sore. Awalnya, Olivia mengira dirinya sedang bermimpi. Sebuah halusinasi sebelum mati akibat rasa

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 17

    Juan kehilangan kesadaran di tengah rasa sesak yang begitu hebat.Botol obat tidur yang telah kosong di samping guci abu Olivia, surat wasiat yang dipenuhi penyesalan dan keputusasaan di atas meja, serta tatapan penuh penderitaan yang dia arahkan pada foto pernikahan mereka sebelum menutup mata untuk terakhir kali.Juan pikir akhirnya dirinya bisa menemui Olivia. Walau hanya untuk berlutut di hadapannya dan mengucapkan satu kalimat terlambat, maaf.Namun, kegelapan abadi yang dia bayangkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, setelah sensasi seperti ditarik paksa, Juan mendadak membuka mata dan terengah-engah.Dia mendapati dirinya duduk di kursi pengemudi. Di luar jendela mobil, hujan turun begitu deras. Penyeka kaca mobil bergerak liar ke kiri dan kanan, tetapi jalan di depan tetap sulit terlihat.Pemandangan jalan yang familier melesat mundur di balik tirai hujan.Ini ... di mana?Juan menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam setir dengan bingung. Tangan itu masih muda. Pakaia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status