Share

Bab 2

Penulis: Tedy
Olivia meringkuk di atas ranjang. Dia berbaring menyamping sambil memeluk tubuhnya sendiri erat-erat. Cahaya dari layar ponsel menyala redup di tengah kegelapan, memantulkan wajahnya yang pucat pasi.

Dia teringat hari ketika Melda ditemukan kembali.

Rumah mereka penuh hiasan dan lampu. Senyum di wajah kedua orang tuanya begitu cerah dan penuh kehati-hatian, sesuatu yang belum pernah Olivia lihat sebelumnya. Mereka mengelilingi gadis yang tampak pemalu itu, menanyakan ini dan itu dengan penuh perhatian, memberikan kamar terbaik untuknya, juga tutur kata paling lembut untuknya.

Sementara Olivia hanya berdiri di sudut ruang tamu, menyaksikan rumah yang telah dia tinggali belasan tahun berubah menjadi tempat milik orang lain dalam semalam.

Sejak hari itu, tatapan kedua orang tuanya jarang sekali jatuh tertuju padanya.

Hanya Juan yang tetap berada di sisinya.

Juan yang sejak kecil tumbuh bersamanya, memanjat pohon yang sama, menerbangkan layang-layang yang sama, masih memperlakukannya seperti dulu.

Pria itulah yang menggenggam tangannya sambil berkata, "Olivia, jangan takut. Kau masih punya aku."

Olivia menggenggamnya erat bak menemukan tali penyelamat.

Hari ketika keluarganya bangkrut.

Keadaan kacau balau. Para penagih utang datang mengepung rumah. Kedua orang tuanya panik dan kewalahan.

Olivia bersembunyi di kamar, mendengar pertengkaran lirih dari luar. Sampai akhirnya ibunya masuk dengan mata memerah dan suara serak. "Olivia, keluarga kita benar-benar sudah nggak punya jalan lagi. Utang-utang ini, ayah sama Ibu minta maaf padamu. Melda, Melda masih kecil."

Sore itu, Juan datang menemukannya. Pria itu tidak bertanya apa pun. Dia hanya menarik Olivia berdiri lalu memeluknya erat, sangat erat.

Kemudian dia berkata, "Olivia, menikahlah denganku."

Selama tiga tahun terakhir, Juan memperlakukannya dengan nyaris sempurna.

Olivia pernah dipenuhi rasa syukur dan cinta, mengira semua penderitaannya akhirnya berakhir. Dia pikir mereka benar-benar bisa saling menopang dan berjalan bersama sampai tua.

Sampai tiga bulan lalu. Ketika tanpa sengaja dia menemukan akun anonim itu.

Melihat tulisan "hari pertama bertemu kembali setelah lama berpisah".

Dia bisa merasakan gejolak perasaan yang dipendam, kerinduan, nostalgia, juga kebencian di setiap kalimat Juan.

Membenci Melda karena dulu pergi begitu saja tanpa ragu, meninggalkan segalanya, termasuk dirinya.

Membenci karena cintanya diabaikan.

Sementara Olivia, dari awal sampai akhir, hanyalah alat pelampiasan untuk membalas dendam.

Ding dong ... ding dong ....

Olivia tersentak kaget. Dia menggertakkan gigi, menopang tubuh pada sisi tempat tidur, lalu merangkak ke pintu.

Di balik lubang intip, lorong apartemen tampak remang-remang. Juan sedang menggendong seseorang.

Melda memejamkan mata, pipinya memerah karena mabuk, rambut panjangnya berantakan. Tubuhnya dibungkus mantel Juan dan dia tertidur tanpa kewaspadaan sedikit pun.

Juan mengangkat kepala. Keningnya sedikit berkerut saat dia memberi isyarat dengan gerakan bibir. "Buka pintunya. Dia tidur, pelan-pelan."

Baru saja pintu terbuka sedikit, Juan langsung menyelinap masuk. Pintu kamar utama dibuka perlahan, lalu ditutup pelan kembali.

Dari dalam terdengar suara lembut nyaris seperti bisikan untuk menenangkan seseorang, disusul suara pelan selimut yang dirapikan.

Beberapa lama kemudian, Juan akhirnya keluar sambil menutup rapat pintu kamar.

Dia berjalan ke ruang tamu. "Kau belum tidur?" tanyanya dengan suara rendah. "Melda kebanyakan minum dan kurang enak badan. Di luar juga susah cari taksi, jadi aku bawa dia ke sini dulu. Malam ini biar dia tidur di sini." Juan berhenti sejenak, entah menjelaskan atau memberi instruksi. "Kau tidur di kamar tamu saja malam ini."

Tatapan Olivia berpindah dari wajah Juan ke pintu kamar utama yang tertutup rapat, lalu kembali lagi kepadanya.

Seolah baru teringat sesuatu, Juan melangkah mendekat dua langkah. "Oh iya, tadi siang kau menelepon berkali-kali. Ada apa?"

Dia memperhatikan wajah Olivia yang pucat dan keringat dingin di pelipisnya. Keningnya kembali mengernyit. "Kenapa wajahmu pucat sekali? Lambungmu kambuh lagi?"

Olivia menggeleng. Bibirnya bergerak pelan, tetapi tidak ada suara keluar.

"Kalau nggak apa-apa syukurlah." Juan tampak sedikit lega, nada suaranya melunak. "Melda kali ini nggak bakal lama di sini. Habis tahun baru dia pergi lagi. Jadi selama sebulan ini aku ingin lebih banyak menemaninya."

Rasa nyeri di perut Olivia makin menusuk, seperti hendak menguras seluruh tenaganya.

Dia membuka mulut pelan, suaranya begitu lemah. "Juan ... bulan ini ... kondisi tubuhku juga kurang baik."

Dia mendongak, menatap Juan. Mungkin, pria itu akan seperti dulu, langsung khawatir, langsung menemaninya ke rumah sakit.

Namun, kerutan di dahi Juan justru makin dalam. Dia menatap Olivia dengan nada mencela dan kebingungan. "Olivia, Melda jarang sekali pulang. Dari kecil kau memang selalu suka bersaing dengannya. Kenapa setelah dewasa masih begitu juga?"

Juan menghela napas. "Jangan membuat masalah lagi, ya? Hari-hari kita ke depan masih panjang. Nanti, kapan pun kau mau, aku temani. Cuma satu bulan ini saja. Mengalah sedikit untuknya, ya?"

Rasa sakit di lambung dan dingin di dadanya bercampur menjadi mati rasa.

Olivia menarik sudut bibirnya pelan. "Aku mengerti."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 22

    Juan berdiri di sisi belakang gereja, di bawah sebuah pohon ek besar. Punggungnya bersandar pada batang pohon yang kasar, seolah hanya dengan begitu tubuhnya yang hampir roboh masih bisa bertahan.Di tangannya tergenggam sebuah kartu undangan pernikahan yang sudah kusut tidak berbentuk.Nama kedua mempelai yang tercetak di atasnya menusuk matanya.Olivia Nismara, Kenzo Gumelar.Benar-benar dia.Selama beberapa tahun terakhir, dia mencari keberadaan Olivia seperti orang gila.Namun, Olivia pergi dengan sangat bersih. Semua kontak diganti, bahkan teman-teman dan rekan kuliahnya di dalam negeri pun hampir tidak mengetahui keberadaannya secara pasti. Mereka hanya samar-samar mendengar bahwa Olivia pergi ke luar negeri dan hidup dengan baik.Dia seolah menghilang dari dunia, atau sengaja menghapus seluruh jejak keberadaannya dari hidup Juan.Juan pernah mencoba bangkit, mencoba mencurahkan seluruh energinya pada pekerjaan, berusaha menggunakan kesibukan untuk mematikan rasa.Namun, setiap m

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 21

    Universitas yang dipilih Olivia memiliki budaya akademik yang disiplin sekaligus bebas, bidang studi yang dia pilih kebetulan menjadi titik pertemuan antara minat serta kemampuannya.Pembimbingnya adalah seorang profesor wanita yang cukup berpengaruh di bidang tersebut, berpandangan tajam, tetapi juga sangat sabar. Dia segera menyadari potensi Olivia."Olivia, kau adalah peneliti berbakat sejak lahir." Seusai sebuah kelas diskusi, sang pembimbing sengaja menahannya untuk berbicara secara pribadi. Tatapannya menunjukkan kekaguman yang tidak disembunyikan. "Cara berpikirmu sangat unik, nggak gegabah, dan mampu benar-benar mendalami sesuatu. Kalau terus menggali bidang ini lebih dalam, kau bakal mendapatkan hasil yang sangat baik."Pengakuan seperti itu menjadi dorongan yang sangat besar bagi Olivia.Olivia mencurahkan seluruh energinya pada belajar dan penelitian. Kehidupannya yang hanya berkisar antara perpustakaan, laboratorium, dan asrama terasa sederhana, tetapi memberinya kepuasan y

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 20

    Di tengah riuh suara jangkrik musim panas, bel tanda berakhirnya ujian terakhir pun berbunyi. Ujian masuk universitas Ariel, bersama pekerjaan les privat Olivia yang telah berlangsung hampir setahun, akhirnya resmi berakhir.Nilai ujian memang belum diumumkan, tetapi ekspresi lega dan kepercayaan diri samar di wajah Ariel saat keluar dari ruang ujian sudah cukup membuat Olivia tahu bahwa hasilnya tidak akan buruk.Kedua orang tua Ariel sangat gembira. Rasa terima kasih mereka kepada Olivia begitu besar hingga tidak bisa disembunyikan. Selain melunasi seluruh biaya mengajarnya, mereka juga memberinya amplop merah tebal sebagai hadiah ucapan terima kasih.Olivia melihat tabungan di rekening banknya. Bagi dirinya, itu sudah termasuk jumlah uang yang fantastis, tetapi hatinya justru terasa sangat tenang.Dia menghitung dan merencanakannya dengan saksama. Sekitar sepertiga dari uang itu dia transfer secara anonim ke rekening ibunya.Jumlah tersebut cukup untuk menutup bagian paling mendesak

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 19

    Juan tidak menyerah.Setelah kebingungan awalnya mereda, muncul tekad yang makin obsesif dalam dirinya. Dia harus mendapatkan kembali Olivia!Tuhan telah memberi mereka kesempatan untuk memulai ulang, dia tidak boleh kehilangan Olivia lagi!Juan menggunakan seluruh koneksi dan relasinya, mencari kabar tentang Olivia seperti orang gila.Akhirnya, dia mengetahui bahwa Olivia bekerja sebagai guru les untuk seorang siswa SMA bernama Ariel dan kini tinggal di rumah Keluarga Tama.Ini benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya.Benih kegelisahan tumbuh liar di hati Juan.Dia makin yakin bahwa Olivia juga terlahir kembali.Kali ini, dia tidak bisa lagi pasif seperti dulu. Juan harus mengambil langkah terlebih dahulu, memberitahu Olivia bahwa semuanya masih bisa berubah, bahwa perasaannya kini sudah berbeda.Sore itu, Juan sudah menunggu di jalan yang menjadi akses utama menuju kawasan perumahan elite dekat kota universitas.Juan tahu Olivia ada kelas hari ini dan setelahnya akan kembali ke

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 18

    Pintu mobil tertutup. Olivia menyandarkan tubuh pada jok belakang yang empuk lalu mengembuskan napas pelan.Pakaian yang basah kuyup menempel di kulitnya, membawa rasa dingin yang tidak nyaman.Namun, hatinya justru terasa sangat tenang.Dia memejamkan mata. Dalam benaknya kembali terbayang tatapan Juan saat tadi berlari menerjang hujan dan memeluknya. Mata Juan saat itu penuh dengan kegembiraan, keterharuan, serta rasa takut kehilangan yang begitu dalam.Tatapan seperti itu bukanlah sesuatu yang mungkin dimiliki Juan saat ini.Pada saat itulah Olivia mengerti.Juan juga terlahir kembali.Empat bulan lalu, ketika dia tersadar dari siksaan kanker stadium akhir dan dinginnya ambang kematian, Olivia mendapati dirinya terbaring di ranjang asrama kampus empat tahun silam. Matahari bersinar cerah di luar jendela, sementara teman-teman sekamarnya ramai mengobrol soal makan siang dan jadwal kuliah sore. Awalnya, Olivia mengira dirinya sedang bermimpi. Sebuah halusinasi sebelum mati akibat rasa

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 17

    Juan kehilangan kesadaran di tengah rasa sesak yang begitu hebat.Botol obat tidur yang telah kosong di samping guci abu Olivia, surat wasiat yang dipenuhi penyesalan dan keputusasaan di atas meja, serta tatapan penuh penderitaan yang dia arahkan pada foto pernikahan mereka sebelum menutup mata untuk terakhir kali.Juan pikir akhirnya dirinya bisa menemui Olivia. Walau hanya untuk berlutut di hadapannya dan mengucapkan satu kalimat terlambat, maaf.Namun, kegelapan abadi yang dia bayangkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, setelah sensasi seperti ditarik paksa, Juan mendadak membuka mata dan terengah-engah.Dia mendapati dirinya duduk di kursi pengemudi. Di luar jendela mobil, hujan turun begitu deras. Penyeka kaca mobil bergerak liar ke kiri dan kanan, tetapi jalan di depan tetap sulit terlihat.Pemandangan jalan yang familier melesat mundur di balik tirai hujan.Ini ... di mana?Juan menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam setir dengan bingung. Tangan itu masih muda. Pakaia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status