مشاركة

Bab 7

مؤلف: Tedy
Malam tahun baru.

Olivia dirawat di kamar VIP seorang diri. Dari kejauhan di luar jendela, gemerlap lampu kota menyatu menjadi lautan cahaya. Sesekali terdengar suara petasan yang samar-samar dan sayup.

Televisi menyala dengan volume pelan. Di layar, acara perayaan Tahun Baru sedang berlangsung dengan meriah.

Layar ponselnya tiba-tiba menyala, tampak begitu menyilaukan di sisi ranjang yang remang-remang.

Itu panggilan video dari Juan.

Olivia menatap foto profil yang terus berkedip itu cukup lama.

Pada akhirnya, dia tetap mengangkat tangannya yang gemetar dengan susah payah dan menekan tombol jawab.

Layar menyala. Wajah Juan muncul di sana.

"Olivia!" Suara pria itu terdengar penuh tawa. "Sudah makan makanan malam tahun baru? Lagi nonton acara tahun baru juga?"

Olivia tidak mengarahkan kamera ke dirinya. Dia hanya menyandarkan ponsel di atas bantal, membiarkan kamera menghadap salah satu sudut langit-langit kamar.

"Sudah makan sedikit," jawabnya pelan, nyaris tenggelam oleh suara televisi, "lagi menonton."

"Kenapa nggak mau memperlihatkan wajahmu?" tanya Juan dengan nada akrab seperti biasa, "kau kurusan lagi, ya? Sudah kubilang makan yang benar."

"Nggak," jawab Olivia pelan, tetap tidak menggerakkan kameranya.

Pada saat itu, dari sisi lain layar terdengar suara ibu yang dipenuhi tawa, sepertinya berada tidak jauh dari Juan. "Juan, lagi panggilan video sama Olivia, ya? Suruh dia memperlihatkan wajahnya, sekalian kasih ucapan tahun baru ke kami!"

Tawa renyah Melda juga samar-samar terdengar.

Hati Olivia menegang sesaat.

"Ibu ingin melihatmu." Juan memutar kamera ke arah sana.

Di sudut layar, Olivia melihat ibunya dan Melda duduk di sofa. Di depan mereka ada piring buah dan camilan, sementara televisi menyala di hadapan mereka.

Melda mengenakan sweater merah yang membuat kulitnya tampak makin putih. Senyumnya manis dan cerah. Ibunya juga mengenakan pakaian baru, wajahnya dipenuhi senyum bahagia.

"Olivia, cepat! Ucapkan selamat tahun baru buat Ibu!" seru ibunya sambil tersenyum ke arah kamera.

Jari Olivia sedikit menekuk. Namun, dia tetap tidak menggerakkan ponselnya.

Tubuhnya kini kurus dan pucat. Rambutnya makin menipis, bahkan topi yang dikenakannya sudah tidak mampu menyembunyikan wajah sakitnya.

Dia tidak ingin siapa pun melihatnya. Terlebih lagi di momen keluarga bahagia seperti ini. Dia tidak ingin menjadi keberadaan yang merusak suasana.

"Aku agak nggak enak badan, malas bergerak," katanya pelan mencari alasan.

Di sisi sana mendadak hening sesaat.

Lalu suara ibunya terdengar lagi. Senyumnya memudar, digantikan nada tidak senang dan keluhan yang jelas terdengar. "Kau masih marah karena kami pergi liburan tanpa mengajakmu, ya? Olivia, kau itu kakak. Kenapa selalu mau bersaing dan membandingkan diri dengan adikmu? Sudah sebesar ini masih juga nggak dewasa."

"Ibu, jangan bicara begitu tentang Olivia." Suara Juan menyela. Dia memutar kamera kembali menghadap dirinya. "Olivia memang lagi nggak enak badan, Ibu juga tahu itu."

Juan tersenyum menenangkan ke arah layar, lalu berdiri dan berjalan menuju balkon atau dekat jendela. Suara di belakangnya menjadi lebih tenang, hanya terdengar samar angin malam dan ledakan kembang api dari kejauhan.

"Olivia, lihat kembang apinya."

Juan mengarahkan kamera ke luar.

Di layar, langit malam dipenuhi ledakan kembang api berwarna-warni yang bermekaran indah. Cahaya terang sesaat menerangi seluruh langit sebelum cepat memudar menjadi asap tipis.

Sangat indah.

Olivia memandangi cahaya-cahaya gemerlap yang hanya bertahan sesaat itu, tetapi penglihatannya makin kabur.

Suara acara tahun baru di televisi, suara Juan di ujung telepon yang terus bercerita tentang perjalanan mereka, tentang kondisi Bobo yang sempat mengkhawatirkan lalu membaik lagi, tentang jajanan enak di kota sebelah yang nanti ingin dibelikan untuknya.

Semua suara perlahan terasa makin jauh.

"Olivia? Kau masih dengar?" Juan sepertinya menyadari dia terlalu lama diam.

"Mm," jawab Olivia sangat pelan, napasnya tipis nyaris tidak terdengar.

Di televisi, suasana Tahun Baru mencapai puncaknya. Pembawa acara dan seluruh penonton mulai menghitung mundur bersama-sama dengan suara keras.

"Sepuluh!"

"Sembilan!"

"Delapan!"

Dari arah kota di kejauhan, suara petasan mulai bersahut-sahutan menyambut datangnya tahun baru.

"Tujuh!"

"Enam!"

"Lima!"

Suara Juan bertumpuk dengan hitungan mundur di televisi. Dia meninggikan suaranya, penuh senyum dan harapan. "Olivia! Selamat Tahun Baru! Kita sebentar lagi bakal ...."

"Empat!"

"Tiga!"

"Dua!"

Di detik terakhir, alat monitor di kamar rawat tiba-tiba mengeluarkan bunyi nyaring.

Tiiit ....

Tangan Olivia yang sedari tadi terangkat lemah untuk menutupi kamera akhirnya kehilangan seluruh tenaga. Lengannya jatuh perlahan ke atas seprai putih.

Ponsel itu terlepas dari sela-sela jarinya yang tidak lagi bertenaga, lalu jatuh di samping bantal yang lembut.

Sementara di sisi lain panggilan, Juan masih berseru penuh semangat, "Selamat tahun baru! Tunggu aku pulang, Olivia."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 22

    Juan berdiri di sisi belakang gereja, di bawah sebuah pohon ek besar. Punggungnya bersandar pada batang pohon yang kasar, seolah hanya dengan begitu tubuhnya yang hampir roboh masih bisa bertahan.Di tangannya tergenggam sebuah kartu undangan pernikahan yang sudah kusut tidak berbentuk.Nama kedua mempelai yang tercetak di atasnya menusuk matanya.Olivia Nismara, Kenzo Gumelar.Benar-benar dia.Selama beberapa tahun terakhir, dia mencari keberadaan Olivia seperti orang gila.Namun, Olivia pergi dengan sangat bersih. Semua kontak diganti, bahkan teman-teman dan rekan kuliahnya di dalam negeri pun hampir tidak mengetahui keberadaannya secara pasti. Mereka hanya samar-samar mendengar bahwa Olivia pergi ke luar negeri dan hidup dengan baik.Dia seolah menghilang dari dunia, atau sengaja menghapus seluruh jejak keberadaannya dari hidup Juan.Juan pernah mencoba bangkit, mencoba mencurahkan seluruh energinya pada pekerjaan, berusaha menggunakan kesibukan untuk mematikan rasa.Namun, setiap m

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 21

    Universitas yang dipilih Olivia memiliki budaya akademik yang disiplin sekaligus bebas, bidang studi yang dia pilih kebetulan menjadi titik pertemuan antara minat serta kemampuannya.Pembimbingnya adalah seorang profesor wanita yang cukup berpengaruh di bidang tersebut, berpandangan tajam, tetapi juga sangat sabar. Dia segera menyadari potensi Olivia."Olivia, kau adalah peneliti berbakat sejak lahir." Seusai sebuah kelas diskusi, sang pembimbing sengaja menahannya untuk berbicara secara pribadi. Tatapannya menunjukkan kekaguman yang tidak disembunyikan. "Cara berpikirmu sangat unik, nggak gegabah, dan mampu benar-benar mendalami sesuatu. Kalau terus menggali bidang ini lebih dalam, kau bakal mendapatkan hasil yang sangat baik."Pengakuan seperti itu menjadi dorongan yang sangat besar bagi Olivia.Olivia mencurahkan seluruh energinya pada belajar dan penelitian. Kehidupannya yang hanya berkisar antara perpustakaan, laboratorium, dan asrama terasa sederhana, tetapi memberinya kepuasan y

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 20

    Di tengah riuh suara jangkrik musim panas, bel tanda berakhirnya ujian terakhir pun berbunyi. Ujian masuk universitas Ariel, bersama pekerjaan les privat Olivia yang telah berlangsung hampir setahun, akhirnya resmi berakhir.Nilai ujian memang belum diumumkan, tetapi ekspresi lega dan kepercayaan diri samar di wajah Ariel saat keluar dari ruang ujian sudah cukup membuat Olivia tahu bahwa hasilnya tidak akan buruk.Kedua orang tua Ariel sangat gembira. Rasa terima kasih mereka kepada Olivia begitu besar hingga tidak bisa disembunyikan. Selain melunasi seluruh biaya mengajarnya, mereka juga memberinya amplop merah tebal sebagai hadiah ucapan terima kasih.Olivia melihat tabungan di rekening banknya. Bagi dirinya, itu sudah termasuk jumlah uang yang fantastis, tetapi hatinya justru terasa sangat tenang.Dia menghitung dan merencanakannya dengan saksama. Sekitar sepertiga dari uang itu dia transfer secara anonim ke rekening ibunya.Jumlah tersebut cukup untuk menutup bagian paling mendesak

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 19

    Juan tidak menyerah.Setelah kebingungan awalnya mereda, muncul tekad yang makin obsesif dalam dirinya. Dia harus mendapatkan kembali Olivia!Tuhan telah memberi mereka kesempatan untuk memulai ulang, dia tidak boleh kehilangan Olivia lagi!Juan menggunakan seluruh koneksi dan relasinya, mencari kabar tentang Olivia seperti orang gila.Akhirnya, dia mengetahui bahwa Olivia bekerja sebagai guru les untuk seorang siswa SMA bernama Ariel dan kini tinggal di rumah Keluarga Tama.Ini benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya.Benih kegelisahan tumbuh liar di hati Juan.Dia makin yakin bahwa Olivia juga terlahir kembali.Kali ini, dia tidak bisa lagi pasif seperti dulu. Juan harus mengambil langkah terlebih dahulu, memberitahu Olivia bahwa semuanya masih bisa berubah, bahwa perasaannya kini sudah berbeda.Sore itu, Juan sudah menunggu di jalan yang menjadi akses utama menuju kawasan perumahan elite dekat kota universitas.Juan tahu Olivia ada kelas hari ini dan setelahnya akan kembali ke

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 18

    Pintu mobil tertutup. Olivia menyandarkan tubuh pada jok belakang yang empuk lalu mengembuskan napas pelan.Pakaian yang basah kuyup menempel di kulitnya, membawa rasa dingin yang tidak nyaman.Namun, hatinya justru terasa sangat tenang.Dia memejamkan mata. Dalam benaknya kembali terbayang tatapan Juan saat tadi berlari menerjang hujan dan memeluknya. Mata Juan saat itu penuh dengan kegembiraan, keterharuan, serta rasa takut kehilangan yang begitu dalam.Tatapan seperti itu bukanlah sesuatu yang mungkin dimiliki Juan saat ini.Pada saat itulah Olivia mengerti.Juan juga terlahir kembali.Empat bulan lalu, ketika dia tersadar dari siksaan kanker stadium akhir dan dinginnya ambang kematian, Olivia mendapati dirinya terbaring di ranjang asrama kampus empat tahun silam. Matahari bersinar cerah di luar jendela, sementara teman-teman sekamarnya ramai mengobrol soal makan siang dan jadwal kuliah sore. Awalnya, Olivia mengira dirinya sedang bermimpi. Sebuah halusinasi sebelum mati akibat rasa

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 17

    Juan kehilangan kesadaran di tengah rasa sesak yang begitu hebat.Botol obat tidur yang telah kosong di samping guci abu Olivia, surat wasiat yang dipenuhi penyesalan dan keputusasaan di atas meja, serta tatapan penuh penderitaan yang dia arahkan pada foto pernikahan mereka sebelum menutup mata untuk terakhir kali.Juan pikir akhirnya dirinya bisa menemui Olivia. Walau hanya untuk berlutut di hadapannya dan mengucapkan satu kalimat terlambat, maaf.Namun, kegelapan abadi yang dia bayangkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, setelah sensasi seperti ditarik paksa, Juan mendadak membuka mata dan terengah-engah.Dia mendapati dirinya duduk di kursi pengemudi. Di luar jendela mobil, hujan turun begitu deras. Penyeka kaca mobil bergerak liar ke kiri dan kanan, tetapi jalan di depan tetap sulit terlihat.Pemandangan jalan yang familier melesat mundur di balik tirai hujan.Ini ... di mana?Juan menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam setir dengan bingung. Tangan itu masih muda. Pakaia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status