مشاركة

Bab 4

مؤلف: Tedy
Keesokan harinya, Olivia keluar dari bank sambil menyeret tubuhnya yang terasa begitu lelah dan berat.

Di layar ponselnya tertera notifikasi transfer berhasil.

Dia bersandar pada mesin ATM yang dingin lalu mengembuskan napas panjang.

Lunas sudah.

Utang terakhir yang ditinggalkan keluarganya saat bangkrut akhirnya benar-benar berhasil dia bayar sebelum kematiannya.

Tiba-tiba pandangannya menggelap. Lobi bank terasa berputar, sementara suara riuh orang-orang di sekitarnya perlahan menjauh.

Dia ingin berpegangan pada sesuatu, tetapi lengannya terasa lemas dan tidak bisa terangkat.

Saat Olivia membuka mata lagi, penglihatannya kabur cukup lama sebelum akhirnya kembali fokus.

"Kau sudah sadar?" Suara wanita paruh baya yang penuh perhatian terdengar dari samping.

Olivia menoleh dengan susah payah dan melihat seorang bibi berwajah ramah duduk di sisi ranjang.

Wanita itu mendekat sedikit. "Kau tadi pingsan di bank. Aku lihat kontak daruratmu itu suami, jadi aku bantu telepon. Sudah berkali-kali ditelepon, tapi nggak diangkat. Aku juga menelepon ayah sama ibumu, tapi juga nggak diangkat. Jadi mau nggak mau aku yang menjagamu di sini."

Olivia menerima ponselnya lalu membuka riwayat panggilan. Di belakang nama suami, ayah, dan ibu, berjajar tulisan merah tidak terjawab. Ujung jarinya terasa dingin.

Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Di layar muncul tulisan, suami.

"Aduh, cepat angkat! Pasti suamimu menelepon balik!" desak bibi itu dengan antusias.

"Halo?" Suara Juan terdengar dari seberang telepon. "Olivia? Tadi kau menelepon? Ponselku mode senyap, jadi nggak dengar. Ada apa?"

Olivia membuka mulut, tetapi tenggorokannya seperti tersumbat sesuatu. Tidak satu kata pun keluar.

Bibi di sampingnya tidak tahan lagi lalu buru-buru berkata ke arah telepon, "Halo? Kau suaminya? Istrimu tadi pingsan, sekarang ada di IGD RSUD!"

Di ujung sana hening beberapa detik. Lalu suara Juan terdengar lagi, kali ini penuh keterkejutan dan sedikit kepanikan yang sulit disembunyikan. "Rumah sakit? Pingsan? Dia ... dia kenapa?"

Sekitar dua puluh menit kemudian, Juan datang tergesa-gesa ke IGD.

Ada lapisan tipis keringat di dahinya, napasnya sedikit memburu. Tatapannya menyapu Olivia yang tampak baik-baik saja di tempat duduknya, lalu dahinya langsung berkerut erat.

"Kau ini sebenarnya kenapa?" katanya sambil mendekat, "ibu tadi bilang kau pasti pura-pura sakit lagi supaya aku menemanimu. Olivia, kenapa kau masih pakai cara seperti ini?"

"Kau tahu hari ini hari apa? Susah payah aku baru dapat tiket pertunjukan musikal yang dari dulu ingin ditonton Melda! Ini pertunjukan terakhir yang ingin dia tonton bersama keluarga sebelum kembali ke luar negeri! Gara-gara kau, semuanya jadi berantakan!"

"Keluarga?" Akhirnya Olivia berbicara. Suaranya begitu ringan seperti helaian bulu. "Dalam keluarga kalian, aku nggak termasuk?"

Juan terpaku sesaat. Melihat tatapan kosong Olivia, entah kenapa dadanya tiba-tiba diselimuti rasa gelisah dan bersalah.

Juan menghindari pandangannya, lalu nada suaranya sedikit melunak. "Bukan begitu maksudku, Olivia. Kalau kau mau menonton musikal, nanti kita bisa pergi kapan saja. Tapi tiket kali ini benar-benar susah didapat. Aku cuma berhasil dapat empat lembar, dan Melda juga sebentar lagi bakal pergi."

"Empat lembar." Olivia mengulang pelan, lalu tersenyum tipis. "Ayah, ibu, Melda, dan kau. Pas sekali."

Senyuman itu justru membuat Juan makin tidak tenang. Dia menggenggam tangan Olivia yang dingin. "Olivia, jangan begini. Setelah Melda pergi, aku bakal mengajakmu menonton juga, ya?"

"Aku nggak apa-apa," Olivia menarik tangannya kembali lalu memotong ucapannya, "cuma gula darah rendah. Penyakit lama. Pergilah, jangan sampai terlambat menonton."

Juan menatap wajahnya yang tenang, lalu melirik jam. Dia ragu beberapa detik. "Kau benaran nggak apa-apa? Bisa pulang sendiri?"

"Ya." Olivia mengangguk. "Nanti aku naik taksi sendiri."

Juan tampak bergulat dengan pikirannya selama beberapa saat. Namun, pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi terburu-buru dari IGD, bahkan tanpa menoleh lagi.

Bibi yang sedari tadi melihat semua itu sampai tercengang. Dia membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya menghela napas sambil menuangkan segelas air hangat untuk Olivia.

Musikal. Sepertinya Olivia belum pernah sekali pun menontonnya.

Tiba-tiba dia ingin tahu, seperti apa pertunjukan yang begitu dipentingkan Juan, begitu dinantikan Melda, dan membuat keluarga mereka tampak begitu sempurna itu.

Di depan gedung teater, lampu-lampu bersinar terang dan orang-orang berlalu-lalang. Olivia berjalan ke loket tiket. "Permisi, apa masih ada tiket 'Pusaran Waktu'? Posisi mana pun nggak masalah. Aku bisa bayar lebih."

Petugas loket memandangnya aneh. "Pusaran Waktu? Pertunjukan ini sebenarnya nggak terlalu ramai penonton. Tiketnya masih banyak, nggak perlu tambah uang. Mau yang harga berapa?"

Olivia terdiam.

Saat dia memasuki teater yang remang-remang, pertunjukan sudah dimulai.

Permainan cahaya di panggung sangat indah, suara nyanyian para pemain terdengar merdu, tetapi Olivia tidak mampu mendengarkan apa pun. Tatapannya terkunci kuat pada barisan paling depan di tengah.

Di sana duduk empat orang berdampingan.

Ayahnya sedikit mendongak menatap panggung. Ibunya menoleh ke arah Melda sambil berbisik pelan dengan senyum penuh kasih di wajahnya.

Melda menatap pertunjukan dengan penuh perhatian, sesekali mengeluarkan decakan kagum kecil. Juan duduk di paling pinggir. Cahaya panggung membuat garis wajah sampingnya terlihat lembut. Tatapannya terkadang tertuju ke panggung, terkadang tanpa sadar beralih pada Melda.

Sementara dirinya duduk di sudut yang jauh. Seperti pencuri yang diam-diam mengintip kebahagiaan milik orang lain.

Olivia sendiri tidak tahu bagaimana dia mampu bertahan sampai pertunjukan selesai. Begitu lampu menyala, dia buru-buru menundukkan kepala lalu mengikuti arus orang keluar. Dia hanya ingin menghindari mereka.

Dalam kepanikan, dia masuk ke toilet dan bersembunyi di salah satu bilik. Dia bersandar pada sekat dingin sambil berusaha menenangkan detak jantung dan napasnya yang hampir tidak terkendali.

Tepat saat itu, suara yang sangat familiar terdengar dari luar.

"Ibu, uang bulanan bulan ini." Itu suara Melda, manja dan lembut.

"Aduh, lihat deh, Ibu sampai lupa!" Suara ibunya terdengar penuh kasih sayang. "Tadi pagi kakakmu baru transfer uang. Katanya utang terakhir sudah lunas. Ibu langsung transfer ke kau, ya. Di luar negeri jangan pelit sama diri sendiri, kalau mau beli apa pun ya beli saja."

"Makasih, Ibu! Tapi kalau Kak Olivia tahu uang hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun buat bayar utang itu sebenarnya nggak sebanyak itu, dan sebagian besar malah dipakai buat biaya hidupku, dia bakal marah nggak, ya?" Ada sedikit kegelisahan samar dalam suara Melda.

Di dalam bilik toilet, Olivia membeku.

Suara ibunya terdengar santai dan tidak peduli. "Marah apa? Dia itu kakakmu. Menjagamu sama membantumu memang sudah seharusnya, 'kan? Olivia anaknya pengertian, dia pasti bisa memahami."

Keran air dibuka. Suara gemericik air menutupi percakapan berikutnya.

Olivia berdiri di ruang sempit itu sambil gemetar hebat.

Dia sendiri tidak tahu sudah berapa lama berdiri kaku di sana. Sampai kedua kakinya mati rasa, barulah dia mendorong pintu bilik secara mekanis lalu berjalan keluar dengan langkah goyah.

Ketika hampir sampai di pintu keluar gedung teater, tatapannya tanpa sengaja menangkap pemandangan di depan. Melda sedang menggandeng lengan ibunya dengan manja. Sementara tangan satunya lagi memegang tali seekor anjing berbulu putih bersih yang didandani dengan rapi.

Syal yang seharusnya melingkari leher ibunya, hadiah terakhir yang memuat sedikit ketulusan Olivia, malah dilipat asal, kedua ujungnya diikat seadanya, lalu dijadikan tali kalung untuk anjing itu.

Saat anjing kecil itu melompat-lompat riang, syal tersebut terseret di atas lantai mengilap.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 22

    Juan berdiri di sisi belakang gereja, di bawah sebuah pohon ek besar. Punggungnya bersandar pada batang pohon yang kasar, seolah hanya dengan begitu tubuhnya yang hampir roboh masih bisa bertahan.Di tangannya tergenggam sebuah kartu undangan pernikahan yang sudah kusut tidak berbentuk.Nama kedua mempelai yang tercetak di atasnya menusuk matanya.Olivia Nismara, Kenzo Gumelar.Benar-benar dia.Selama beberapa tahun terakhir, dia mencari keberadaan Olivia seperti orang gila.Namun, Olivia pergi dengan sangat bersih. Semua kontak diganti, bahkan teman-teman dan rekan kuliahnya di dalam negeri pun hampir tidak mengetahui keberadaannya secara pasti. Mereka hanya samar-samar mendengar bahwa Olivia pergi ke luar negeri dan hidup dengan baik.Dia seolah menghilang dari dunia, atau sengaja menghapus seluruh jejak keberadaannya dari hidup Juan.Juan pernah mencoba bangkit, mencoba mencurahkan seluruh energinya pada pekerjaan, berusaha menggunakan kesibukan untuk mematikan rasa.Namun, setiap m

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 21

    Universitas yang dipilih Olivia memiliki budaya akademik yang disiplin sekaligus bebas, bidang studi yang dia pilih kebetulan menjadi titik pertemuan antara minat serta kemampuannya.Pembimbingnya adalah seorang profesor wanita yang cukup berpengaruh di bidang tersebut, berpandangan tajam, tetapi juga sangat sabar. Dia segera menyadari potensi Olivia."Olivia, kau adalah peneliti berbakat sejak lahir." Seusai sebuah kelas diskusi, sang pembimbing sengaja menahannya untuk berbicara secara pribadi. Tatapannya menunjukkan kekaguman yang tidak disembunyikan. "Cara berpikirmu sangat unik, nggak gegabah, dan mampu benar-benar mendalami sesuatu. Kalau terus menggali bidang ini lebih dalam, kau bakal mendapatkan hasil yang sangat baik."Pengakuan seperti itu menjadi dorongan yang sangat besar bagi Olivia.Olivia mencurahkan seluruh energinya pada belajar dan penelitian. Kehidupannya yang hanya berkisar antara perpustakaan, laboratorium, dan asrama terasa sederhana, tetapi memberinya kepuasan y

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 20

    Di tengah riuh suara jangkrik musim panas, bel tanda berakhirnya ujian terakhir pun berbunyi. Ujian masuk universitas Ariel, bersama pekerjaan les privat Olivia yang telah berlangsung hampir setahun, akhirnya resmi berakhir.Nilai ujian memang belum diumumkan, tetapi ekspresi lega dan kepercayaan diri samar di wajah Ariel saat keluar dari ruang ujian sudah cukup membuat Olivia tahu bahwa hasilnya tidak akan buruk.Kedua orang tua Ariel sangat gembira. Rasa terima kasih mereka kepada Olivia begitu besar hingga tidak bisa disembunyikan. Selain melunasi seluruh biaya mengajarnya, mereka juga memberinya amplop merah tebal sebagai hadiah ucapan terima kasih.Olivia melihat tabungan di rekening banknya. Bagi dirinya, itu sudah termasuk jumlah uang yang fantastis, tetapi hatinya justru terasa sangat tenang.Dia menghitung dan merencanakannya dengan saksama. Sekitar sepertiga dari uang itu dia transfer secara anonim ke rekening ibunya.Jumlah tersebut cukup untuk menutup bagian paling mendesak

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 19

    Juan tidak menyerah.Setelah kebingungan awalnya mereda, muncul tekad yang makin obsesif dalam dirinya. Dia harus mendapatkan kembali Olivia!Tuhan telah memberi mereka kesempatan untuk memulai ulang, dia tidak boleh kehilangan Olivia lagi!Juan menggunakan seluruh koneksi dan relasinya, mencari kabar tentang Olivia seperti orang gila.Akhirnya, dia mengetahui bahwa Olivia bekerja sebagai guru les untuk seorang siswa SMA bernama Ariel dan kini tinggal di rumah Keluarga Tama.Ini benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya.Benih kegelisahan tumbuh liar di hati Juan.Dia makin yakin bahwa Olivia juga terlahir kembali.Kali ini, dia tidak bisa lagi pasif seperti dulu. Juan harus mengambil langkah terlebih dahulu, memberitahu Olivia bahwa semuanya masih bisa berubah, bahwa perasaannya kini sudah berbeda.Sore itu, Juan sudah menunggu di jalan yang menjadi akses utama menuju kawasan perumahan elite dekat kota universitas.Juan tahu Olivia ada kelas hari ini dan setelahnya akan kembali ke

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 18

    Pintu mobil tertutup. Olivia menyandarkan tubuh pada jok belakang yang empuk lalu mengembuskan napas pelan.Pakaian yang basah kuyup menempel di kulitnya, membawa rasa dingin yang tidak nyaman.Namun, hatinya justru terasa sangat tenang.Dia memejamkan mata. Dalam benaknya kembali terbayang tatapan Juan saat tadi berlari menerjang hujan dan memeluknya. Mata Juan saat itu penuh dengan kegembiraan, keterharuan, serta rasa takut kehilangan yang begitu dalam.Tatapan seperti itu bukanlah sesuatu yang mungkin dimiliki Juan saat ini.Pada saat itulah Olivia mengerti.Juan juga terlahir kembali.Empat bulan lalu, ketika dia tersadar dari siksaan kanker stadium akhir dan dinginnya ambang kematian, Olivia mendapati dirinya terbaring di ranjang asrama kampus empat tahun silam. Matahari bersinar cerah di luar jendela, sementara teman-teman sekamarnya ramai mengobrol soal makan siang dan jadwal kuliah sore. Awalnya, Olivia mengira dirinya sedang bermimpi. Sebuah halusinasi sebelum mati akibat rasa

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 17

    Juan kehilangan kesadaran di tengah rasa sesak yang begitu hebat.Botol obat tidur yang telah kosong di samping guci abu Olivia, surat wasiat yang dipenuhi penyesalan dan keputusasaan di atas meja, serta tatapan penuh penderitaan yang dia arahkan pada foto pernikahan mereka sebelum menutup mata untuk terakhir kali.Juan pikir akhirnya dirinya bisa menemui Olivia. Walau hanya untuk berlutut di hadapannya dan mengucapkan satu kalimat terlambat, maaf.Namun, kegelapan abadi yang dia bayangkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, setelah sensasi seperti ditarik paksa, Juan mendadak membuka mata dan terengah-engah.Dia mendapati dirinya duduk di kursi pengemudi. Di luar jendela mobil, hujan turun begitu deras. Penyeka kaca mobil bergerak liar ke kiri dan kanan, tetapi jalan di depan tetap sulit terlihat.Pemandangan jalan yang familier melesat mundur di balik tirai hujan.Ini ... di mana?Juan menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam setir dengan bingung. Tangan itu masih muda. Pakaia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status