مشاركة

Bab 5

مؤلف: Tedy
Tanggal dua puluh lima bulan terakhir, tinggal satu minggu lagi menuju tahun baru.

Olivia meringkuk di atas ranjang. Efek obat pereda nyerinya baru saja habis, sementara rasa nyeri tumpul mulai kembali menjalar dari dalam lambungnya.

Bel pintu berbunyi.

Olivia membuka pintu.

"Ibu."

Ibunya memandangnya dari atas ke bawah, lalu mengernyit seperti biasa. "Masih siang begini, kenapa wajahmu sudah sepucat itu? Kurang tidur?"

"Mm." Olivia menyingkir memberi jalan untuk masuk.

"Hari ini Ibu datang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan." Ibunya berdeham pelan lalu menatap wajah Olivia. "Begini, setelah tahun baru nanti, keponakan laki-laki Bibi Anggi baru pulang dari luar negeri. Anak itu baik dan pekerjaannya juga bagus. Ibu pikir kalian bisa dipertemukan."

Olivia tertegun sejenak, seolah tidak langsung memahami maksudnya.

"Dipertemukan. Dijodohkan." Ulang ibunya. "Kau juga tahu, dulu Melda sama Juan berpisah karena masalah keluarga dan Melda juga harus pergi ke luar negeri. Semua terjadi karena keadaan. Sekarang Melda sudah kembali, katanya kali ini dia nggak mau pergi lagi."

Ibunya berhenti sebentar sambil mengamati ekspresi Olivia. Melihat putrinya hanya duduk pucat tanpa reaksi besar, dia melanjutkan, "Menurut Ibu, pernikahanmu dengan Juan dulu juga terlalu terburu-buru. Karena Melda masih punya perasaan, Juan juga bukan nggak punya rasa padanya. Kalau kau benar-benar mengerti keadaan, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan. Kalaupun kalian bercerai, hubunganmu sama Juan dan keluarga kita tetap nggak berubah. Kita tetap keluarga. Nanti Ibu carikan pria yang lebih baik buatmu, Ibu nggak bakal membuatmu rugi."

Setelah selesai berbicara, dia menatap Olivia seolah menunggu penolakan, tangisan, atau setidaknya keluhan penuh luka seperti yang sudah diperkirakan.

Namun, Olivia hanya duduk diam. Dia mendongak dan menatap ibunya. "Baik. Aku bersedia memberikan tempatku buat Melda."

Kini justru ibunya yang terpaku.

Pada saat itu, pintu terbuka. Juan dan Melda masuk bersama.

Ibunya segera berkata, "Juan, Melda, kalian datang tepat sekali. Tadi Ibu baru saja bicara dengan Olivia. Setelah tahun baru nanti, Ibu sudah mengatur perjodohan buatnya. Kondisi pihak pria sangat bagus, Olivia juga sudah setuju. Ibu pikir, lebih baik urusan kalian dibicarakan baik-baik sesama orang dewasa ...."

"Omong kosong!" potong Juan tiba-tiba dengan suara keras penuh amarah. Dia berjalan cepat ke hadapan Olivia, menatapnya dengan tidak percaya. Di matanya bergolak kemarahan sekaligus keterkejutan.

"Olivia, jadi kau sebegitu murah hatinya? Semudah itu menyerahkanku pada orang lain?"

"Kak Juan, jangan marah." Melda berbicara pelan sambil mencoba menarik lengan Juan.

Namun, Juan langsung menepis tangannya. Tatapannya tetap terkunci pada wajah Olivia, seolah ingin menggali sesuatu dari raut wajahnya yang tenang tanpa ekspresi.

"Ibu, jangan mengatur sembarangan." Dia menoleh pada ibu dan berkata dengan nada tegas, "Aku sama Olivia sudah menikah. Masa lalu ya masa lalu. Aku sama Melda memang sudah saling melewatkan. Sekarang aku cuma menganggapnya sebagai adik."

Kalimat terakhir itu, dia ucapkan dengan susah payah.

Senyum di wajah ibu langsung menghilang sepenuhnya. Dia memandang Juan, lalu menoleh pada Melda yang wajahnya seketika memucat sambil menggigit bibir, sebelum akhirnya memandang Olivia lagi.

"Urusanku sama Olivia bakal kami selesaikan sendiri." Juan jelas sedang mengusir mereka. "Ibu, sudah malam. Aku antar Ibu sama Melda pulang."

Setelah pintu tertutup, Juan berjalan mendekati Olivia.

Lampu utama ruang tamu tidak dinyalakan. Cahaya remang membuat sisa amarah dan kegelisahan di wajahnya terlihat samar.

"Olivia." Suaranya terdengar serak. "Akhir-akhir ini aku memang salah. Setelah tahun baru, setelah Melda pergi." Juan seperti baru mengambil keputusan besar. Nada suaranya berubah serius. "Aku janji padamu, mulai sekarang aku nggak bakal punya pikiran lain tentang dia lagi. Kita jalani hidup dengan baik, seperti dulu."

Olivia menatapnya diam-diam. Tiba-tiba rasa sakit hebat seperti dipelintir kembali menyerang lambungnya tanpa peringatan, mengaduk isi perutnya dengan brutal.

Dia mendadak menarik tangannya kembali, menutup mulut, lalu batuk keras.

"Olivia?" Juan terkejut dan langsung berdiri.

Olivia membungkuk sambil batuk hebat sampai tubuhnya gemetar. Rasa amis manis langsung menyeruak ke tenggorokannya. Kali ini, dia benar-benar tidak mampu menahannya lagi.

Puh!

Seteguk besar darah merah gelap muncrat ke atas karpet berwarna terang, menyebar menjadi noda merah mencolok yang begitu menyayat hati.

Ekspresi di wajah Juan membeku total. Dari keterkejutan, berubah menjadi syok, lalu panik penuh ketidakpercayaan.

Juan berdiri kaku di tempat. Memandang bercak darah di wajah Olivia yang pucat. Memandang tubuh wanita itu yang meringkuk kesakitan, serta memandang genangan merah menyilaukan di atas karpet di hadapannya.

"O... Olivia?" Suaranya berubah gemetar. "Kau kenapa? Kau ... kau muntah darah?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 22

    Juan berdiri di sisi belakang gereja, di bawah sebuah pohon ek besar. Punggungnya bersandar pada batang pohon yang kasar, seolah hanya dengan begitu tubuhnya yang hampir roboh masih bisa bertahan.Di tangannya tergenggam sebuah kartu undangan pernikahan yang sudah kusut tidak berbentuk.Nama kedua mempelai yang tercetak di atasnya menusuk matanya.Olivia Nismara, Kenzo Gumelar.Benar-benar dia.Selama beberapa tahun terakhir, dia mencari keberadaan Olivia seperti orang gila.Namun, Olivia pergi dengan sangat bersih. Semua kontak diganti, bahkan teman-teman dan rekan kuliahnya di dalam negeri pun hampir tidak mengetahui keberadaannya secara pasti. Mereka hanya samar-samar mendengar bahwa Olivia pergi ke luar negeri dan hidup dengan baik.Dia seolah menghilang dari dunia, atau sengaja menghapus seluruh jejak keberadaannya dari hidup Juan.Juan pernah mencoba bangkit, mencoba mencurahkan seluruh energinya pada pekerjaan, berusaha menggunakan kesibukan untuk mematikan rasa.Namun, setiap m

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 21

    Universitas yang dipilih Olivia memiliki budaya akademik yang disiplin sekaligus bebas, bidang studi yang dia pilih kebetulan menjadi titik pertemuan antara minat serta kemampuannya.Pembimbingnya adalah seorang profesor wanita yang cukup berpengaruh di bidang tersebut, berpandangan tajam, tetapi juga sangat sabar. Dia segera menyadari potensi Olivia."Olivia, kau adalah peneliti berbakat sejak lahir." Seusai sebuah kelas diskusi, sang pembimbing sengaja menahannya untuk berbicara secara pribadi. Tatapannya menunjukkan kekaguman yang tidak disembunyikan. "Cara berpikirmu sangat unik, nggak gegabah, dan mampu benar-benar mendalami sesuatu. Kalau terus menggali bidang ini lebih dalam, kau bakal mendapatkan hasil yang sangat baik."Pengakuan seperti itu menjadi dorongan yang sangat besar bagi Olivia.Olivia mencurahkan seluruh energinya pada belajar dan penelitian. Kehidupannya yang hanya berkisar antara perpustakaan, laboratorium, dan asrama terasa sederhana, tetapi memberinya kepuasan y

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 20

    Di tengah riuh suara jangkrik musim panas, bel tanda berakhirnya ujian terakhir pun berbunyi. Ujian masuk universitas Ariel, bersama pekerjaan les privat Olivia yang telah berlangsung hampir setahun, akhirnya resmi berakhir.Nilai ujian memang belum diumumkan, tetapi ekspresi lega dan kepercayaan diri samar di wajah Ariel saat keluar dari ruang ujian sudah cukup membuat Olivia tahu bahwa hasilnya tidak akan buruk.Kedua orang tua Ariel sangat gembira. Rasa terima kasih mereka kepada Olivia begitu besar hingga tidak bisa disembunyikan. Selain melunasi seluruh biaya mengajarnya, mereka juga memberinya amplop merah tebal sebagai hadiah ucapan terima kasih.Olivia melihat tabungan di rekening banknya. Bagi dirinya, itu sudah termasuk jumlah uang yang fantastis, tetapi hatinya justru terasa sangat tenang.Dia menghitung dan merencanakannya dengan saksama. Sekitar sepertiga dari uang itu dia transfer secara anonim ke rekening ibunya.Jumlah tersebut cukup untuk menutup bagian paling mendesak

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 19

    Juan tidak menyerah.Setelah kebingungan awalnya mereda, muncul tekad yang makin obsesif dalam dirinya. Dia harus mendapatkan kembali Olivia!Tuhan telah memberi mereka kesempatan untuk memulai ulang, dia tidak boleh kehilangan Olivia lagi!Juan menggunakan seluruh koneksi dan relasinya, mencari kabar tentang Olivia seperti orang gila.Akhirnya, dia mengetahui bahwa Olivia bekerja sebagai guru les untuk seorang siswa SMA bernama Ariel dan kini tinggal di rumah Keluarga Tama.Ini benar-benar berbeda dari kehidupan sebelumnya.Benih kegelisahan tumbuh liar di hati Juan.Dia makin yakin bahwa Olivia juga terlahir kembali.Kali ini, dia tidak bisa lagi pasif seperti dulu. Juan harus mengambil langkah terlebih dahulu, memberitahu Olivia bahwa semuanya masih bisa berubah, bahwa perasaannya kini sudah berbeda.Sore itu, Juan sudah menunggu di jalan yang menjadi akses utama menuju kawasan perumahan elite dekat kota universitas.Juan tahu Olivia ada kelas hari ini dan setelahnya akan kembali ke

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 18

    Pintu mobil tertutup. Olivia menyandarkan tubuh pada jok belakang yang empuk lalu mengembuskan napas pelan.Pakaian yang basah kuyup menempel di kulitnya, membawa rasa dingin yang tidak nyaman.Namun, hatinya justru terasa sangat tenang.Dia memejamkan mata. Dalam benaknya kembali terbayang tatapan Juan saat tadi berlari menerjang hujan dan memeluknya. Mata Juan saat itu penuh dengan kegembiraan, keterharuan, serta rasa takut kehilangan yang begitu dalam.Tatapan seperti itu bukanlah sesuatu yang mungkin dimiliki Juan saat ini.Pada saat itulah Olivia mengerti.Juan juga terlahir kembali.Empat bulan lalu, ketika dia tersadar dari siksaan kanker stadium akhir dan dinginnya ambang kematian, Olivia mendapati dirinya terbaring di ranjang asrama kampus empat tahun silam. Matahari bersinar cerah di luar jendela, sementara teman-teman sekamarnya ramai mengobrol soal makan siang dan jadwal kuliah sore. Awalnya, Olivia mengira dirinya sedang bermimpi. Sebuah halusinasi sebelum mati akibat rasa

  • Ketika Hujan Tak Lagi Reda   Bab 17

    Juan kehilangan kesadaran di tengah rasa sesak yang begitu hebat.Botol obat tidur yang telah kosong di samping guci abu Olivia, surat wasiat yang dipenuhi penyesalan dan keputusasaan di atas meja, serta tatapan penuh penderitaan yang dia arahkan pada foto pernikahan mereka sebelum menutup mata untuk terakhir kali.Juan pikir akhirnya dirinya bisa menemui Olivia. Walau hanya untuk berlutut di hadapannya dan mengucapkan satu kalimat terlambat, maaf.Namun, kegelapan abadi yang dia bayangkan tidak kunjung datang.Sebaliknya, setelah sensasi seperti ditarik paksa, Juan mendadak membuka mata dan terengah-engah.Dia mendapati dirinya duduk di kursi pengemudi. Di luar jendela mobil, hujan turun begitu deras. Penyeka kaca mobil bergerak liar ke kiri dan kanan, tetapi jalan di depan tetap sulit terlihat.Pemandangan jalan yang familier melesat mundur di balik tirai hujan.Ini ... di mana?Juan menunduk menatap kedua tangannya yang menggenggam setir dengan bingung. Tangan itu masih muda. Pakaia

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status