Share

Bab 4

Author: Shelby
Virgoun menyuapinya obat, berjaga sepanjang malam, dan setiap kali Althea terbangun karena mimpi buruk, dia akan menggenggam tangannya untuk menenangkan. Bagian putih matanya dipenuhi urat merah. Sudah berhari-hari dia tidak benar-benar memejamkan mata.

Banyak dokter yang diam-diam menghela napas kagum. Virgoun benar-benar merawat istrinya dengan sepenuh hati. Hubungan mereka terlihat sangat baik.

Saat kabar datang bahwa kondisi Althea akhirnya stabil dan perlahan membaik, mata Virgoun bahkan memerah. Dia menggenggam tangan dokter dan berulang kali mengucapkan terima kasih.

Althea menyaksikan semua itu dalam diam.

Dulu dia pernah mengira, seorang pria yang rela bermata merah karena bergadang dan mau merendahkan diri demi dirinya, barangkali itulah wujud cinta yang paling menyentuh. Namun, kini dia baru mengerti. Seorang pria yang merawatmu tanpa tidur dan tanpa lelah juga bisa saja melakukannya hanya untuk satu alasan lain.

Melindungi wanita lain dan menebus rasa bersalah yang dia anggap sebagai utang.

Hari pertama Althea dipindahkan dari ICU ke ruang rawat biasa, Shifa datang. Dia mengenakan gaun yang rapi dan mewah. Penampilannya tetap seperti nona besar keluarga terpandang, segar dan sama sekali tidak terlihat mengalami apa pun.

Dia bahkan tidak melirik Althea yang terbaring di ranjang. Dengan sikap ragu, Shifa mencubit ujung bajunya sendiri lalu mendekat ke sisi Virgoun. Setelah lama terdiam, barulah dia berbicara dengan suara rendah, "Kak, aku nggak mau minta maaf. Aku nggak merasa salah."

Virgoun meliriknya sekilas, tetapi tidak berkata apa-apa.

Udara di ruangan itu terasa membeku selama lebih dari sepuluh menit dan mencekam. Akhirnya, Shifa menoleh ke arah Virgoun dengan enggan, suaranya dipenuhi rasa tidak adil. "Kak, maaf. Aku nggak akan melakukan hal seperti itu lagi pada istrimu."

"Aku hanya ... aku hanya nggak suka dia merebutmu dariku, itu sebabnya aku marah. Aku janji nggak akan mengulanginya."

Sejak awal hingga akhir, orang yang diajak bicara Shifa hanyalah Virgoun. Raut dingin di wajah Virgoun yang tegang terlihat mereda seketika setelah mendengar kata-kata itu. Dia mengangkat tangan dan mengusap rambut Shifa dengan lembut, nada bicaranya pun melunak, "Bagus kalau kamu tahu salah."

Barulah setelah itu dia menoleh ke arah Althea dan menyampaikan keputusan dengan tenang, "Shifa sudah mengakui kesalahannya dan sudah lama merenung di rumah. Kali ini, maafkan saja dia."

Althea menatap orang di hadapannya dengan perasaan asing.

Pria ini membaca kitab, berbicara tentang cinta universal, dan membahas welas asih. Namun di dalam cinta universalnya, tidak ada Althea sama sekali. Welas asihnya juga hanya tertuju pada Shifa. Bahkan untuk sebuah permintaan maaf saja dia tidak mendapatkannya secara langsung.

Pernyataan yang sudah ditentukan jawabannya itu sama sekali tidak memberi kesempatan pada Althea untuk menyatakan sikapnya. Semua luka yang ditanggungnya dianggap seolah tak terlihat. Semua perasaannya sama sekali tidak dipedulikan.

Althea memejamkan mata. Wajahnya tampak lelah saat berkata, "Aku capek. Kalian pergi saja."

Di wajah Virgoun muncul sedikit keraguan. Dengan suara rendah dia berkata, "Aku sudah bilang akan merawatmu di sini ...."

Belum sempat kalimat itu selesai, Shifa langsung menarik lengannya dan suaranya berubah ceria. "Makasih, Kak Althea. Kak, butik favoritku ada di dekat sini. Temani aku coba, ya."

Althea memalingkan wajah, tak lagi ingin melihat mereka.

Sejak awal dia sudah tahu pilihan apa yang akan diambil Virgoun. Hanya saja sekarang, hatinya sudah benar-benar mati rasa, sampai-sampai tak mampu lagi menimbulkan sedikit pun gejolak.

Benar saja, setelah terdiam sejenak, Virgoun berkata padanya, "Kamu istirahat yang baik. Aku temani Shifa sebentar. Nanti malam aku kembali menjengukmu."

Althea tidak menjawab. Dia mendengar langkah kaki yang menjauh. Dari sudut pandangnya, Shifa menggamit lengan Virgoun dengan mesra, bahkan menyandarkan kepala di bahunya.

Virgoun tidak mendorongnya pergi. Dia malah mengusap rambut Shifa dengan lembut. Berbeda dengan ketegangan dan beban berat saat bersama Althea, punggung Virgoun yang pergi malah memancarkan rasa lega, seperti seseorang yang baru saja dibebaskan.

Berbagai kenangan menyerbu ingatannya.

Di awal pernikahan, Virgoun berdalih menjaga disiplin spiritual dan memintanya selalu menjaga jarak satu meter. Seiring waktu, jarak itu dipersingkat menjadi dua langkah. Namun, dia tidak pernah mengizinkan sentuhan sedekat yang didapatkan Shifa sedikit pun.

Dulu Althea mengira itu adalah sikap dingin dan pengendalian diri. Kini dia sadar, itu hanyalah hak istimewa yang tidak pernah dia miliki. Dia menarik sudut bibirnya, tetapi mendapati dirinya bahkan tak sanggup membentuk senyum mengejek.

Dadanya terasa sesak dan menyakitkan.

Althea menunggu di rumah sakit hingga malam benar-benar larut. Sampai sebagian besar lampu lorong dipadamkan, Virgoun tetap tidak kembali.

Althea tahu, dia tidak akan datang lagi.

Tidak apa-apa.

Dengan tenang, Althea mengurus sendiri kepulangan dari rumah sakit, lalu kembali ke tempat yang disebut sebagai rumah itu. Dia mengubah jadwal tiket pesawatnya menjadi tiga hari kemudian. Kali ini dia akan membereskan seluruh barang, lalu pergi dari sini untuk selamanya.

Rumah itu gelap dan sunyi. Hanya dari celah pintu kamar di lantai dua yang memancar seberkas cahaya lampu kuning yang hangat. Dia melangkah naik tanpa suara. Namun ketika mendekati pintu kamar, suara dari dalam membuat langkahnya terhenti.

Suara Shifa terdengar lembut dan manja, "Kak, aku sudah lama sekali nggak tidur bareng kamu."

"Sejak kamu punya istri, kamu jadi dingin sekali sama aku. Andai saja kakak ipar bisa menghilang."

Lalu, terdengar helaan napas Virgoun yang tak berdaya. "Kamu ini bicara apaan. Kakak tetap harus berkeluarga."

"Aku nggak peduli." Nada bicara Shifa semakin dimanja-manjakan.

Althea menutup mulutnya dengan erat. Kukunya menghunjam dalam ke telapak tangan, baru dengan susah payah dia menahan kesedihan yang hampir menerobos keluar dari dadanya.

Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang dingin. Dia bersandar pada daun pintu. Tubuhnya perlahan melorot ke bawah, lalu terjatuh duduk di lantai dengan lemas, seolah seluruh tenaganya terkuras habis.

Namun, suara kecil itu tetap terdengar dan akhirnya mengagetkan orang di dalam.

"Siapa di luar?!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 17

    Dia berdiri lama di depan toko bunga yang tertutup rapat, hingga matahari terbenam menarik bayangannya menjadi sangat panjang. Akhirnya, sampai hari toko bunga itu kembali buka, lonceng angin pun kembali berbunyi.Namun, Virgoun tidak berani masuk. Dia bersembunyi di bayangan gang seberang jalan, seperti seorang pengintip yang tak berani tersentuh cahaya.Dia melihat Althea dan Wesley turun dari sebuah mobil. Keduanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana tetapi nyaman.Althea sedang mendongak, mengatakan sesuatu kepada Wesley. Matanya melengkung seperti bulan sabit. Senyumannya begitu cerah sampai menyilaukan.Itu adalah senyuman yang belum pernah Virgoun lihat sebelumnya, senyuman tanpa bayangan kelam sedikit pun.Angin mengacak rambutnya. Dia mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi Wesley secara alami mengulurkan tangan lebih dulu. Dia menyelipkan sehelai rambut halus ke belakang telinga, lalu mengambil topi jerami bertepi lebar dari tangannya.Gerakannya begitu terbiasa dan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 16

    Wesley entah sejak kapan sudah berdiri, berjalan ke sisi Althea, lalu mengulurkan tangan untuk menghalangi tangan Virgoun yang hendak mendekat lagi. Dia melindungi Althea di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya dingin, jelas menunjukkan kepemilikan."Istrimu?" Virgoun seolah-olah tidak memahami kata itu. Pandangannya berpindah ke wajah Wesley, lalu perlahan turun ke tangan Althea yang mengenakan cincin berlian. Pupil matanya mendadak menyempit.Saat Wesley hendak berbicara, Althea justru menepuk ringan lengannya, memberi isyarat agar dia mundur.Dia maju setengah langkah ke depan, menjaga jarak aman dengan Virgoun. Tatapannya tenang dan suaranya dingin. Setiap kata menghantam tepat ke jantung Virgoun."Pak Virgoun, silakan pergi. Hari ini aku anggap kita nggak pernah bertemu. Ke depannya, aku juga berharap kita nggak akan pernah bertemu lagi.""Kalau memang kamu masih ada sedikit rasa suka atau penyesalan terhadapku, seperti yang kamu katakan di berita atau seperti yang baru

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 15

    "Althea, kurasa kamu seharusnya bisa merasakan isi hatiku." Dia membuka mulut perlahan. Suaranya tidak keras, tetapi penuh ketulusan."Sebenarnya dulu ketika aku baru menerima bantuan dari ibumu, aku benar-benar seorang remaja bermasalah. Orang tuaku sudah lama meninggal, nggak ada yang mengurusku. Aku seperti hidup di tepi jurang.""Supaya nggak ditindas, aku hanya bisa bertarung mati-matian dengan orang lain. Aku merasa masa depan sepenuhnya gelap, sama sekali nggak berminat belajar, dan nggak melihat harapan apa pun."Dia berhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek diri sendiri. "Surat-surat yang rutin dikirim ibumu, juga uang kiriman yang bagi diriku saat itu bisa dibilang jumlah yang besar, sedikit demi sedikit menarikku keluar dari kekacauan.""Di dalam surat-surat itu, beliau menyemangatiku, mengatakan bahwa masa depan memiliki banyak kemungkinan, mengajariku membedakan benar dan salah. Bahkan, beliau juga sering bercerita tentangmu."Althea sedikit te

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 14

    Tatapan Wesley beralih dari layar dan kembali ke wajah Althea, lalu dia bertanya pelan, "Kamu ingin kembali?"Althea menggeleng pelan. Suaranya agak serak saat menyahut, "Belum siap."Namun, Wesley memperhatikan ujung jari tangannya yang sedikit mengencang, menekan ke telapak tangan.Dia berdiri, melangkah ke hadapannya, lalu setengah berlutut hingga pandangan mereka sejajar. Tangannya terulur secara alami. Ujung jarinya dengan lembut menyeka sedikit kelembapan yang entah sejak kapan merembes di sudut matanya. Tatapannya begitu lembut, seolah-olah mampu menampung seluruh luka yang dia rasakan."Nggak apa-apa. Kapan pun kamu siap, itu nggak masalah." Suaranya rendah dan tenang, membawa kekuatan yang menenangkan. "Selama kamu mau, aku bisa menemanimu kembali kapan saja atau kita bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan."Althea menatap bayangannya yang jelas terpantul di mata Wesley, lalu mengangguk pelan. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Di sana, Virgoun sedang m

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 13

    Di layar, Virgoun tampak letih dan kusut, menghadap kamera sambil menceritakan betapa pentingnya sang istri baginya, memohon kepada publik agar memberinya petunjuk. Kata-katanya tulus dan penuh perasaan.Althea duduk di sofa empuk, matanya terpaku pada wajah yang terasa familier sekaligus asing di layar. Untuk waktu yang lama, dia tidak berkata apa pun. Ucapan-ucapan penuh kasih itu, saat masuk ke telinganya, hanya terasa sangat menyindir, membuat perutnya mual.Saat itu, sebuah selimut yang lebih tebal dan hangat perlahan diletakkan di pundaknya. Dia menoleh dan bertemu dengan sepasang mata Wesley yang tenang dan lembut.Dia tersenyum tipis ke arahnya, lalu duduk di kursi sofa tunggal di sampingnya. Sikapnya santai, tidak banyak bicara, hanya menemani dengan diam.Pikiran Althea tanpa sadar melayang kembali ke satu bulan sebelumnya. Saat itu, dia berjuang melarikan diri dari vila. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya penuh luka dan noda. Dia mencegat mobil di jalan raya.Sebuah sedan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 12

    "Shifa! Dasar perempuan murahan nggak tahu malu!" Karina gemetar hebat karena marah, menunjuknya sambil memaki dengan suara tajam."Kamu ini janda! Berani-beraninya merayu kakakmu sendiri! Masih ada yang mau sama perempuan sepertimu saja sudah syukur, masih berani mengincar Virgoun!""Aku bilang padamu, besok juga aku akan carikan orang untuk kamu nikahi, supaya kamu nggak lagi mencelakai keluarga kita!"Shifa ditampar sampai linglung. Air matanya langsung bercucuran deras. Dia menoleh dan meminta pertolongan pada Virgoun dengan suara bergetar karena tangis. "Kak ... Kakak ...."Namun, Virgoun memejamkan mata, bersandar di sofa, seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi.Melihat Virgoun yang dingin dan Karina yang murka, Shifa tiba-tiba menangis keras. "Aku baru saja cerai, nggak ada yang membantuku. Aku hanya ingin bisa berdiri kokoh di Grup Kinandar, apa salahnya? Sekarang bahkan Kakak pun nggak mendukungku. Lebih baik aku mati saja!""Nggak ada yang peduli padaku, ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status