Share

Bab 5

Author: Shelby
Althea menahan diri sambil berpegangan pada dinding untuk berdiri. Dengan kasar, dia menyeka sisa air mata di wajahnya. Dia tidak ingin Virgoun melihat dirinya dalam keadaan sehancur ini.

Detik berikutnya, pintu kamar terbuka.

Virgoun berdiri di ambang pintu menatapnya dengan kening berkerut. "Kenapa kamu ada di sini?"

Althea menarik napas dalam-dalam, berusaha membuat suaranya terdengar tenang. "Kita belum bercerai. Ini masih rumahku. Kenapa aku nggak boleh ada di sini?"

"Kamu seharusnya dirawat di rumah sakit."

Nada bicara Virgoun menyiratkan teguran. "Kamu nggak boleh berkeliaran sembarangan. Setelah urusanku selesai, aku akan ke sana menemuimu."

Kata menemui itu terdengar begitu menyindir di telinganya.

Saat itu, Shifa menyembul dari belakang Virgoun, lalu memeluk lengannya dengan akrab. Dia mengenakan gaun tidur hitam dari renda yang sangat minim. Kainnya nyaris tak menutupi apa pun.

Sebagian besar kulit putih di dadanya terekspos, dan di sana tampak jelas beberapa bekas kemerahan yang menyilaukan di bawah cahaya lampu. Althea tidak menjawab ucapan Virgoun. Pandangannya terpaku mati pada bekas-bekas merah itu.

Shifa mengikuti arah tatapannya, lalu berpura-pura terkejut dan buru-buru menutupinya dengan lengan, suaranya manja dan dibuat-buat. "Aduh, Kakak Ipar jangan salah paham ya. Ini cuma gigitan nyamuk. Nggak ada hubungannya sama Kakak."

Nyamuk?

Althea memejamkan mata sejenak. Dia tidak ingin memikirkan nyamuk macam apa yang bisa meninggalkan jejak selebar dan semengundang itu.

Dia kembali menatap Virgoun dan berkata, "Bukannya kamu bilang malam ini akan kembali ke rumah sakit?"

Virgoun mengangkat tangan dan menyentuh hidungnya, lalu mengalihkan pandangan. "Sudah terlalu malam setelah menemani Shifa berbelanja. Aku antar dia pulang dulu supaya bisa istirahat. Awalnya aku berniat menenangkannya sampai tertidur, lalu pergi ke rumah sakit menemanimu."

Shifa segera mengerucutkan bibir, menatap Althea dengan ekspresi tidak setuju. "Kakak Ipar, Kakak 'kan sudah bilang akan ke sana. Kamu tinggal menunggu saja dengan patuh. Kenapa harus keluyuran ke mana-mana. Kakak jadi khawatir, tahu."

Virgoun juga menatap Althea, dengan ketidaksetujuan yang sama di matanya.

Althea tidak menjawab mereka. Jemarinya yang mencengkeram ujung pakaian bergetar pelan. Meski sudah bersiap pergi, tetap ada beberapa hal yang ingin dia dengar jawabannya langsung dari mulut Virgoun. Dia berusaha sekuat tenaga menjaga nada suaranya tetap tenang.

"Kamu bilang ingin menekuni jalan agama, katanya kamar nggak boleh ada aroma perempuan. Aku menghormatimu. Karena itu selama lima tahun menikah, kita selalu tidur terpisah."

Tatapan Althea lurus menatap Virgoun. Dia mengamati setiap perubahan kecil di wajahnya. "Lalu dia gimana? Kenapa dia boleh keluar masuk kamarmu sesuka hati?"

Mustahil mengatakan dia tidak cemburu. Selama bertahun-tahun, dia bahkan tak pernah bisa mendekat. Sementara Shifa bisa mengenakan piama tidur yang begitu seksi dan terbuka, bersandar terang-terangan di bahu Virgoun, bahkan tidur di ranjangnya.

Mendengar hal itu, Shifa terkekeh manja. Tatapan matanya penuh kemenangan tanpa sedikit pun disembunyikan. "Aku ini adiknya. Kamu nggak mengerti hubungan kakak-adik seperti kami. Aku tentu berbeda sama perempuan lain."

Hubungan kakak-adik?

Althea melihat cara Virgoun memandang Shifa dengan sikap memanjakan dan melindungi. Lalu, dia membandingkannya dengan semua aturan yang sengaja diciptakan Virgoun terhadapnya selama lima tahun terakhir.

Di dada yang seharusnya sudah mati rasa, tiba-tiba muncul rasa nyeri yang tajam. "Virgoun, aku bertanya padamu. Kenapa?"

Nada Althea jarang terdengar sekeras ini. Dia menatap Virgoun tanpa menghindar. Virgoun sama sekali tidak menyadari kejanggalan dirinya. Nada bicaranya tetap dingin seperti biasa.

"Althea, tengah malam begini kamu berdiri di depan pintu kamarku hanya untuk menanyakan hal-hal nggak penting seperti ini. Sebenarnya apa maumu?"

Pandangan matanya menghindar. Rasa bersalah tampak jelas, tetapi dia berbelit-belit dan menolak mengakui pikiran kotor yang ada di dalam hatinya.

Sebaliknya, tatapan Shifa malah tampak terang-terangan dan penuh pamer.

Althea tiba-tiba merasa sangat lelah, sampai-sampai dia bahkan tak lagi punya tenaga untuk mempertanyakan apa pun.

"Sudahlah." Suaranya sangat pelan.

Lalu, dia mengembuskan napas panjang dan berkata dengan sungguh-sungguh kepada Virgoun, "Ke depannya, aku nggak akan mengganggu kalian lagi."

Karena jika pria itu memang memiliki perasaan dan wanita itu juga saling menginginkan, lebih baik dia merelakan semuanya dan benar-benar keluar dari dunia mereka. Althea berbalik pergi. Setetes air mata tetap meluncur dari sudut matanya. Namun, di dalam hatinya malah terasa ringan.

Keesokan paginya, Althea terbangun karena lapar. Selama beberapa hari ini dia hampir tidak makan apa-apa. Perutnya kosong sampai terasa perih. Saat turun ke lantai bawah, dia mencium aroma makanan yang menggugah selera.

Ketika sampai di ambang ruang makan, dia melihat Shifa duduk di meja makan dengan sarapan yang sangat melimpah terhidang di depannya.

Shifa menghela napas puas. "Kak, masakanmu masih seenak dulu. Sudah lama sekali aku nggak makan masakan yang kamu buat."

Langkah Althea terhenti. Dia terdiam dan terpaku.

Dia menatap Virgoun yang mengenakan celemek dan berdiri di depan meja dapur. Di wajahnya ada kelembutan yang jarang terlihat, kehangatan yang sarat dengan nuansa kehidupan sehari-hari.

Lima tahun menikah, ternyata dia sama sekali tidak tahu bahwa Virgoun bisa memasak.

Virgoun meletakkan segelas jus buah segar di samping Shifa. Althea tidak pernah mendengar nada bicaranya yang selembut ini sebelumnya.

"Nanti aku buatkan setiap hari."

Baru ketika Althea mendekat, Virgoun mengangkat kepalanya.

Begitu melihatnya, kelembutan di wajahnya langsung menghilang, kembali menjadi dingin seperti biasanya. "Kamu sudah bangun?"

Nada bicaranya datar. "Hari ini aku akan antar Shifa menghadiri jamuan. Kondisimu belum pulih, jadi istirahat saja di rumah. Nggak perlu ikut."

Althea mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa. Dia berjalan ke sisi lain meja makan dan bersiap untuk duduk. Sekilas rasa canggung melintas di wajah Virgoun. Dia melirik Althea lalu berkata dengan nada kaku.

"Aku nggak menyangka kamu bangun sepagi ini, jadi nggak siapkan sarapan untukmu. Kamu urus sendiri saja."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 17

    Dia berdiri lama di depan toko bunga yang tertutup rapat, hingga matahari terbenam menarik bayangannya menjadi sangat panjang. Akhirnya, sampai hari toko bunga itu kembali buka, lonceng angin pun kembali berbunyi.Namun, Virgoun tidak berani masuk. Dia bersembunyi di bayangan gang seberang jalan, seperti seorang pengintip yang tak berani tersentuh cahaya.Dia melihat Althea dan Wesley turun dari sebuah mobil. Keduanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana tetapi nyaman.Althea sedang mendongak, mengatakan sesuatu kepada Wesley. Matanya melengkung seperti bulan sabit. Senyumannya begitu cerah sampai menyilaukan.Itu adalah senyuman yang belum pernah Virgoun lihat sebelumnya, senyuman tanpa bayangan kelam sedikit pun.Angin mengacak rambutnya. Dia mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi Wesley secara alami mengulurkan tangan lebih dulu. Dia menyelipkan sehelai rambut halus ke belakang telinga, lalu mengambil topi jerami bertepi lebar dari tangannya.Gerakannya begitu terbiasa dan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 16

    Wesley entah sejak kapan sudah berdiri, berjalan ke sisi Althea, lalu mengulurkan tangan untuk menghalangi tangan Virgoun yang hendak mendekat lagi. Dia melindungi Althea di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya dingin, jelas menunjukkan kepemilikan."Istrimu?" Virgoun seolah-olah tidak memahami kata itu. Pandangannya berpindah ke wajah Wesley, lalu perlahan turun ke tangan Althea yang mengenakan cincin berlian. Pupil matanya mendadak menyempit.Saat Wesley hendak berbicara, Althea justru menepuk ringan lengannya, memberi isyarat agar dia mundur.Dia maju setengah langkah ke depan, menjaga jarak aman dengan Virgoun. Tatapannya tenang dan suaranya dingin. Setiap kata menghantam tepat ke jantung Virgoun."Pak Virgoun, silakan pergi. Hari ini aku anggap kita nggak pernah bertemu. Ke depannya, aku juga berharap kita nggak akan pernah bertemu lagi.""Kalau memang kamu masih ada sedikit rasa suka atau penyesalan terhadapku, seperti yang kamu katakan di berita atau seperti yang baru

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 15

    "Althea, kurasa kamu seharusnya bisa merasakan isi hatiku." Dia membuka mulut perlahan. Suaranya tidak keras, tetapi penuh ketulusan."Sebenarnya dulu ketika aku baru menerima bantuan dari ibumu, aku benar-benar seorang remaja bermasalah. Orang tuaku sudah lama meninggal, nggak ada yang mengurusku. Aku seperti hidup di tepi jurang.""Supaya nggak ditindas, aku hanya bisa bertarung mati-matian dengan orang lain. Aku merasa masa depan sepenuhnya gelap, sama sekali nggak berminat belajar, dan nggak melihat harapan apa pun."Dia berhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek diri sendiri. "Surat-surat yang rutin dikirim ibumu, juga uang kiriman yang bagi diriku saat itu bisa dibilang jumlah yang besar, sedikit demi sedikit menarikku keluar dari kekacauan.""Di dalam surat-surat itu, beliau menyemangatiku, mengatakan bahwa masa depan memiliki banyak kemungkinan, mengajariku membedakan benar dan salah. Bahkan, beliau juga sering bercerita tentangmu."Althea sedikit te

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 14

    Tatapan Wesley beralih dari layar dan kembali ke wajah Althea, lalu dia bertanya pelan, "Kamu ingin kembali?"Althea menggeleng pelan. Suaranya agak serak saat menyahut, "Belum siap."Namun, Wesley memperhatikan ujung jari tangannya yang sedikit mengencang, menekan ke telapak tangan.Dia berdiri, melangkah ke hadapannya, lalu setengah berlutut hingga pandangan mereka sejajar. Tangannya terulur secara alami. Ujung jarinya dengan lembut menyeka sedikit kelembapan yang entah sejak kapan merembes di sudut matanya. Tatapannya begitu lembut, seolah-olah mampu menampung seluruh luka yang dia rasakan."Nggak apa-apa. Kapan pun kamu siap, itu nggak masalah." Suaranya rendah dan tenang, membawa kekuatan yang menenangkan. "Selama kamu mau, aku bisa menemanimu kembali kapan saja atau kita bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan."Althea menatap bayangannya yang jelas terpantul di mata Wesley, lalu mengangguk pelan. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Di sana, Virgoun sedang m

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 13

    Di layar, Virgoun tampak letih dan kusut, menghadap kamera sambil menceritakan betapa pentingnya sang istri baginya, memohon kepada publik agar memberinya petunjuk. Kata-katanya tulus dan penuh perasaan.Althea duduk di sofa empuk, matanya terpaku pada wajah yang terasa familier sekaligus asing di layar. Untuk waktu yang lama, dia tidak berkata apa pun. Ucapan-ucapan penuh kasih itu, saat masuk ke telinganya, hanya terasa sangat menyindir, membuat perutnya mual.Saat itu, sebuah selimut yang lebih tebal dan hangat perlahan diletakkan di pundaknya. Dia menoleh dan bertemu dengan sepasang mata Wesley yang tenang dan lembut.Dia tersenyum tipis ke arahnya, lalu duduk di kursi sofa tunggal di sampingnya. Sikapnya santai, tidak banyak bicara, hanya menemani dengan diam.Pikiran Althea tanpa sadar melayang kembali ke satu bulan sebelumnya. Saat itu, dia berjuang melarikan diri dari vila. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya penuh luka dan noda. Dia mencegat mobil di jalan raya.Sebuah sedan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 12

    "Shifa! Dasar perempuan murahan nggak tahu malu!" Karina gemetar hebat karena marah, menunjuknya sambil memaki dengan suara tajam."Kamu ini janda! Berani-beraninya merayu kakakmu sendiri! Masih ada yang mau sama perempuan sepertimu saja sudah syukur, masih berani mengincar Virgoun!""Aku bilang padamu, besok juga aku akan carikan orang untuk kamu nikahi, supaya kamu nggak lagi mencelakai keluarga kita!"Shifa ditampar sampai linglung. Air matanya langsung bercucuran deras. Dia menoleh dan meminta pertolongan pada Virgoun dengan suara bergetar karena tangis. "Kak ... Kakak ...."Namun, Virgoun memejamkan mata, bersandar di sofa, seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi.Melihat Virgoun yang dingin dan Karina yang murka, Shifa tiba-tiba menangis keras. "Aku baru saja cerai, nggak ada yang membantuku. Aku hanya ingin bisa berdiri kokoh di Grup Kinandar, apa salahnya? Sekarang bahkan Kakak pun nggak mendukungku. Lebih baik aku mati saja!""Nggak ada yang peduli padaku, ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status