Share

Bab 6

Author: Shelby
Telur setengah matang yang sudah digigit dua kali, sosis yang tinggal separuh, serta pinggiran roti tawar yang tersisa didorong ke depan Althea.

"Kak Althea, kalau begitu makan punyaku saja." Shifa berkedip polos, memasang wajah seolah baik hati dan murah hati. Sepiring makanan yang berantakan itu masuk ke pandangan, bercampur bau minyak yang menyengat.

Perut Althea memang sudah tidak nyaman karena obat-obatan. Saat ini, rasa mual langsung bergejolak hebat. Dia tak kuasa menahan diri dan hendak muntah.

Wajah Shifa seketika berubah. Matanya langsung memerah, suaranya bergetar seolah hendak menangis. "Kakak ipar ini maksudnya jijik sama aku? Aku tahu, kamu sebenarnya nggak pernah memaafkanku ...."

Raut wajah Virgoun menggelap. Dia menatap wajah Althea yang pucat, tetapi di matanya tak ada sedikit pun kepedulian, hanya rasa tersinggung karena merasa dilecehkan.

"Althea." Dia memanggil namanya lengkap, nadanya penuh amarah. "Shifa berniat baik. Kenapa kamu harus bersikap menjijikkan seperti ini?"

Shifa kembali berpura-pura baik dan mendorong piring itu lebih dekat lagi.

"Kak Althea, makanlah sedikit. Hari ini nggak ada pembantu. Kalau kamu nggak makan, nanti kamu nggak dapat apa-apa."

Althea menahan gejolak di perutnya, lalu menolak dengan suara pelan. "Nggak perlu. Badanku nggak enak, aku nggak bisa makan."

Suasana seketika membeku.

Virgoun menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba berbalik dan meraih jaket yang tergantung di sandaran kursi. Nada suaranya terdengar dingin. "Manja."

Dia melangkah ke pintu, lalu berhenti sejenak dan menoleh ke Shifa. Suaranya melunak. "Tetaplah di rumah. Nanti agak siang aku suruh orang menjemputmu."

"Iya, Kak. Dadah!" Shifa melambaikan tangan dengan senyum manis. Pintu tertutup dengan suara keras.

Althea bersiap bangkit untuk pergi.

Namun baru saja dia berbalik, senyum manis di wajah Shifa lenyap seketika, berganti dengan niat jahat yang tak tersamar. Shifa mendadak berdiri, mencengkeram rambut Althea, lalu dengan kasar menghantamkan wajahnya ke piring berisi sisa makanan yang menjijikkan itu.

"Ugh!"

Althea sama sekali tidak siap. Seluruh wajahnya terbenam ke dalam makanan berminyak itu.

Cairan telur dan saus menempel di wajahnya, hidung dan mulutnya dipenuhi bau menyengat yang membuat mual.

Shifa mencengkeram rambutnya dan memaksa Althea mengangkat kepala. Melihat keadaannya yang kacau balau, Shifa tersenyum puas dan berkata dengan manja, "Aku kasih tahu ya, ini rumahku. Kamu mau pura-pura kasihan lalu merebut kakakku? Jangan mimpi. Nggak mungkin."

Shifa terus menarik rambut Althea, menekan wajahnya berulang kali ke dalam sisa makanan kotor itu, lalu mengangkatnya lagi dengan kasar, membiarkannya berjuang di ambang kehabisan napas.

"Uh ... le ... pas ... kan ...."

Althea melawan sekuat tenaga. Kukunya menggores lengan Shifa, meninggalkan beberapa garis berdarah.

Shifa meringis kesakitan. Tatapan matanya semakin buas. Baru ketika wajah Althea mulai membiru dan napasnya melemah, Shifa tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dan membiarkannya terkulai lemas di lantai.

Shifa menepuk-nepuk tangannya dengan santai, senyumnya kembali manis.

"Kakak akan selalu jadi milikku. Kamu sebaiknya tahu diri. Jangan pernah berpikir bisa menggantikanku."

Setelah itu, dia berbalik hendak pergi.

Di benak Althea terlintas satu pikiran. Dia tidak bisa terus menahan diri. Dia akan segera pergi. Kenapa dia masih harus menanggung penghinaan seperti ini. Dia tiba-tiba bangkit dari lantai dan berlari sekuat tenaga.

Althea meraih bahu Shifa dan menamparnya dengan keras.

Plak!

Shifa menutup pipinya, matanya membelalak, lalu menjerit, "Kamu berani memukulku?!"

Tatapannya menyapu sekeliling, lalu tangannya meraih sebuah vas bunga porselen hijau. Itu adalah hadiah satu-satunya yang pernah dibeli Virgoun untuk Althea saat dia menemaninya ke balai lelang.

Waktu itu Althea memeluk vas itu dengan gembira sampai tidak bisa tidur semalaman, mengira gunung es itu akhirnya menunjukkan sedikit perasaan untuknya.

Kini vas itu diangkat tinggi-tinggi oleh Shifa, lalu dihantamkan dengan keras ke kepala Althea.

Prang!

Vas itu pecah di pelipisnya. Pecahan porselen beterbangan ke segala arah. Darah hangat langsung mengalir deras menutupi pandangannya dan menetes ke lantai.

Rasa sakit yang luar biasa menerjang seperti gelombang. Althea tak sanggup lagi bertahan dan tubuhnya jatuh lemas ke lantai.

Di detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar memudar, dia melihat Shifa berjongkok di sampingnya. Ujung sepatu hak tinggi yang ramping menggilas punggung tangannya yang terluka tanpa ampun. Rasa sakit menusuk membuat Althea mengeluarkan erangan lirih.

"Cari mati!"

Suara Shifa terdengar seolah datang dari kejauhan.

Shifa mengangkat ponselnya dan menelepon. Panggilan itu hampir seketika tersambung. Dengan suara ketakutan dan penuh isak, Shifa berkata, "Kak, aku takut ... Kak Althea ... dia memukulku ...."

Althea ingin membuka mulut, tetapi tak satu pun suara keluar. Dia tergeletak di genangan darah, dan kegelapan pun menelan kesadarannya sepenuhnya.

Saat Althea terbangun, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang kamar utama. Luka di dahinya telah dibalut perban. Sesekali nyeri tumpul berdenyut dari sana.

Virgoun duduk di sisi ranjang. Dia masih mengenakan setelan resmi yang dipakainya sepulang dari jamuan. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang jarang terlihat.

Althea menoleh ke arah jendela. Di luar sudah gelap gulita.

"Kamu sudah sadar?"

Begitu melihatnya membuka mata, Virgoun segera mencondongkan tubuh. "Gimana, masih sakit?"

Althea tidak menjawab. Dia hanya menatap pria itu dengan tenang. Tatapan itu membuat Virgoun sedikit gelisah. Dia menghela napas.

"Althea, aku tahu kamu marah sama Shifa. Tapi dia baru saja bercerai, pikirannya sensitif dan rapuh. Kamu nggak seharusnya memukulnya. Dia juga nggak sengaja memukul kepalamu. Aku sudah menegurnya. Anggap saja masalah ini selesai."

Althea menghela napas dalam hati.

'Menegur? Pasti hanya seperti menceramahi anak kecil sedikit, bukan?'

Dari nada bicaranya, jelas Virgoun sudah melihat rekaman kamera ruang tamu. Namun, dia tetap memilih melindungi Shifa.

Althea tetap diam. Dia tidak tahu harus berkata apa, atau lebih tepatnya, apa pun yang dia katakan tidak akan mengubah apa pun. Yang dia inginkan hanyalah melewati dua hari terakhir di tempat ini dengan tenang.

Sayangnya, Shifa tampaknya tidak berniat membiarkannya begitu saja. Tanpa mengetuk pintu, Shifa langsung masuk dan bergegas ke sisi ranjang, lalu memeluk lengan Althea. Althea refleks mendorongnya, tetapi tubuhnya lemah tak bertenaga.

"Kakak Ipar, terima kasih sudah mengabulkan permintaanku!"

Shifa mendongak. Matanya berkaca-kaca, wajahnya penuh rasa terima kasih.

Althea tertegun dengan kebingungan.

Permintaan apa yang dia kabulkan?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 17

    Dia berdiri lama di depan toko bunga yang tertutup rapat, hingga matahari terbenam menarik bayangannya menjadi sangat panjang. Akhirnya, sampai hari toko bunga itu kembali buka, lonceng angin pun kembali berbunyi.Namun, Virgoun tidak berani masuk. Dia bersembunyi di bayangan gang seberang jalan, seperti seorang pengintip yang tak berani tersentuh cahaya.Dia melihat Althea dan Wesley turun dari sebuah mobil. Keduanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana tetapi nyaman.Althea sedang mendongak, mengatakan sesuatu kepada Wesley. Matanya melengkung seperti bulan sabit. Senyumannya begitu cerah sampai menyilaukan.Itu adalah senyuman yang belum pernah Virgoun lihat sebelumnya, senyuman tanpa bayangan kelam sedikit pun.Angin mengacak rambutnya. Dia mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi Wesley secara alami mengulurkan tangan lebih dulu. Dia menyelipkan sehelai rambut halus ke belakang telinga, lalu mengambil topi jerami bertepi lebar dari tangannya.Gerakannya begitu terbiasa dan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 16

    Wesley entah sejak kapan sudah berdiri, berjalan ke sisi Althea, lalu mengulurkan tangan untuk menghalangi tangan Virgoun yang hendak mendekat lagi. Dia melindungi Althea di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya dingin, jelas menunjukkan kepemilikan."Istrimu?" Virgoun seolah-olah tidak memahami kata itu. Pandangannya berpindah ke wajah Wesley, lalu perlahan turun ke tangan Althea yang mengenakan cincin berlian. Pupil matanya mendadak menyempit.Saat Wesley hendak berbicara, Althea justru menepuk ringan lengannya, memberi isyarat agar dia mundur.Dia maju setengah langkah ke depan, menjaga jarak aman dengan Virgoun. Tatapannya tenang dan suaranya dingin. Setiap kata menghantam tepat ke jantung Virgoun."Pak Virgoun, silakan pergi. Hari ini aku anggap kita nggak pernah bertemu. Ke depannya, aku juga berharap kita nggak akan pernah bertemu lagi.""Kalau memang kamu masih ada sedikit rasa suka atau penyesalan terhadapku, seperti yang kamu katakan di berita atau seperti yang baru

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 15

    "Althea, kurasa kamu seharusnya bisa merasakan isi hatiku." Dia membuka mulut perlahan. Suaranya tidak keras, tetapi penuh ketulusan."Sebenarnya dulu ketika aku baru menerima bantuan dari ibumu, aku benar-benar seorang remaja bermasalah. Orang tuaku sudah lama meninggal, nggak ada yang mengurusku. Aku seperti hidup di tepi jurang.""Supaya nggak ditindas, aku hanya bisa bertarung mati-matian dengan orang lain. Aku merasa masa depan sepenuhnya gelap, sama sekali nggak berminat belajar, dan nggak melihat harapan apa pun."Dia berhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek diri sendiri. "Surat-surat yang rutin dikirim ibumu, juga uang kiriman yang bagi diriku saat itu bisa dibilang jumlah yang besar, sedikit demi sedikit menarikku keluar dari kekacauan.""Di dalam surat-surat itu, beliau menyemangatiku, mengatakan bahwa masa depan memiliki banyak kemungkinan, mengajariku membedakan benar dan salah. Bahkan, beliau juga sering bercerita tentangmu."Althea sedikit te

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 14

    Tatapan Wesley beralih dari layar dan kembali ke wajah Althea, lalu dia bertanya pelan, "Kamu ingin kembali?"Althea menggeleng pelan. Suaranya agak serak saat menyahut, "Belum siap."Namun, Wesley memperhatikan ujung jari tangannya yang sedikit mengencang, menekan ke telapak tangan.Dia berdiri, melangkah ke hadapannya, lalu setengah berlutut hingga pandangan mereka sejajar. Tangannya terulur secara alami. Ujung jarinya dengan lembut menyeka sedikit kelembapan yang entah sejak kapan merembes di sudut matanya. Tatapannya begitu lembut, seolah-olah mampu menampung seluruh luka yang dia rasakan."Nggak apa-apa. Kapan pun kamu siap, itu nggak masalah." Suaranya rendah dan tenang, membawa kekuatan yang menenangkan. "Selama kamu mau, aku bisa menemanimu kembali kapan saja atau kita bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan."Althea menatap bayangannya yang jelas terpantul di mata Wesley, lalu mengangguk pelan. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Di sana, Virgoun sedang m

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 13

    Di layar, Virgoun tampak letih dan kusut, menghadap kamera sambil menceritakan betapa pentingnya sang istri baginya, memohon kepada publik agar memberinya petunjuk. Kata-katanya tulus dan penuh perasaan.Althea duduk di sofa empuk, matanya terpaku pada wajah yang terasa familier sekaligus asing di layar. Untuk waktu yang lama, dia tidak berkata apa pun. Ucapan-ucapan penuh kasih itu, saat masuk ke telinganya, hanya terasa sangat menyindir, membuat perutnya mual.Saat itu, sebuah selimut yang lebih tebal dan hangat perlahan diletakkan di pundaknya. Dia menoleh dan bertemu dengan sepasang mata Wesley yang tenang dan lembut.Dia tersenyum tipis ke arahnya, lalu duduk di kursi sofa tunggal di sampingnya. Sikapnya santai, tidak banyak bicara, hanya menemani dengan diam.Pikiran Althea tanpa sadar melayang kembali ke satu bulan sebelumnya. Saat itu, dia berjuang melarikan diri dari vila. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya penuh luka dan noda. Dia mencegat mobil di jalan raya.Sebuah sedan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 12

    "Shifa! Dasar perempuan murahan nggak tahu malu!" Karina gemetar hebat karena marah, menunjuknya sambil memaki dengan suara tajam."Kamu ini janda! Berani-beraninya merayu kakakmu sendiri! Masih ada yang mau sama perempuan sepertimu saja sudah syukur, masih berani mengincar Virgoun!""Aku bilang padamu, besok juga aku akan carikan orang untuk kamu nikahi, supaya kamu nggak lagi mencelakai keluarga kita!"Shifa ditampar sampai linglung. Air matanya langsung bercucuran deras. Dia menoleh dan meminta pertolongan pada Virgoun dengan suara bergetar karena tangis. "Kak ... Kakak ...."Namun, Virgoun memejamkan mata, bersandar di sofa, seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi.Melihat Virgoun yang dingin dan Karina yang murka, Shifa tiba-tiba menangis keras. "Aku baru saja cerai, nggak ada yang membantuku. Aku hanya ingin bisa berdiri kokoh di Grup Kinandar, apa salahnya? Sekarang bahkan Kakak pun nggak mendukungku. Lebih baik aku mati saja!""Nggak ada yang peduli padaku, ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status