共有

5. Ritual di Paddock

作者: kopilatte
last update 公開日: 2026-07-16 13:07:40

Vroommm! Vroooommm!

Raungan mesin dari puluhan motor sport bermesin besar membelah kegelapan malam, mengguncang aspal sirkuit pinggiran kota yang remang-remang. Bau hangus ban yang bergesekan dengan lintasan dan aroma tajam bahan bakar avgas memenuhi udara. Tempat ini sangat bising, liar, dan berbahaya—sangat bukan tempat untuk seorang gadis seperti Nala.

Nala berdiri di sudut paddock tim Axel, meremas ujung sweter rajutnya dengan sangat kencang. Setiap kali deru motor melintas di depan matanya dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, tubuhnya refleks berjengit. Jantungnya bertalu-talu kelewat batas.

"Nala, kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali," tanya Reno, mekanik sekaligus sahabat Axel, yang sedang mengecek tekanan ban motor Axel.

Nala hanya menggeleng kaku, giginya berantuk menahan dingin yang mendadak menyerang seluruh tubuhnya. "A-aku tidak apa-apa, Reno. Hanya belum terbiasa dengan suaranya."

Axel yang sejak tadi duduk diam di atas pembatas ban sambil mengenakan wearpack balapnya langsung menoleh. Dia memperhatikan jemari Nala yang gemetar hebat. Rahangnya mengeras, lalu dia bangkit berdiri dan berjalan mendekati Nala.

"Pulang bersama sopir Papaku sekarang," perintah Axel ketus, menatap Nala dengan mata elangnya. "Tempat ini terlalu bising untukmu."

"Tidak! Aku tidak mau pulang!" seru Nala, menahan lengan Axel. Begitu kalimat itu keluar, setetes air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh melewati pipinya. "Kenapa kau harus ikut balapan gila ini, Xel? Ini tidak aman. Kau dengar sendiri suara motor mereka? Mereka berkendara seperti orang kesurupan!"

Tangisan Nala pecah. Air matanya mengalir semakin deras, menyalurkan rasa cemas yang sudah menggunung sejak makan malam kemarin. Ketakutan terbesar dalam hidupnya adalah melihat Axel tidak kembali dari lintasan maut itu.

Melihat air mata Nala, pertahanan dingin di wajah Axel runtuh seketika. Sifat ketusnya menguap di udara malam. Dia mengabaikan panggilan panitia lewat pengeras suara yang meminta para pembalap segera bersiap di garis start.

Axel melangkah maju, lalu merengkuh tubuh Nala ke dalam pelukan eratnya. Dia mendekap kepala Nala ke dadanya, membiarkan air mata gadis itu membasahi baju balapnya yang keras.

"Hei... lihat aku," bisik Axel lembut, mengelus rambut belakang Nala dengan telapak tangannya yang besar.

Nala mendongak dengan mata sembab dan hidung memerah. "Axel, kumohon jangan ikut..."

Axel tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menundukkan kepalanya, lalu menempelkan bibirnya di kening Nala. Kecupan itu lama, dalam, dan penuh kehangatan yang kontras dengan dinginnya malam di sirkuit. Aroma mint dan parfum maskulin Axel seketika menenangkan saraf-saraf Nala yang menegang.

Setelah melepaskan ciumannya, Axel menangkup kedua pipi Nala, memaksa gadis itu mengunci pandangan pada matanya.

"Dengar aku, Nala Anindita," ucap Axel dengan nada rendah namun penuh penekanan mutlak. "Aku sudah berjanji pada ibumu, pada ayahmu, dan yang paling penting... aku berjanji padamu. Aku akan kembali ke paddock ini tanpa lecet sedikit pun."

"Tapi mereka liar—"

"Tidak ada yang bisa menyentuhku di lintasan. Aku pembalap terbaikmu, bukan?" Axel mengusap sisa air mata di pipi Nala dengan ibu jarinya, seulas senyum tipis yang menenangkan terukir di bibirnya. "Tunggu di sini. Berdoa untukku. Aku akan pulang dengan selamat... demi kau."

Kalimat terakhir Axel seperti sebuah mantra yang mengunci mulut Nala. Gadis itu akhirnya mengangguk pelan, melepaskan cengkeramannya pada baju balap Axel dengan berat hati.

Axel berbalik, memakai helm hitam legamnya, lalu menaiki motor sport hitamnya yang bernomor start 23. Mesin motornya menderu garang saat Axel perlahan mengendarainya keluar dari paddock menuju garis grid.

Nala berjalan mendekati pagar pembatas lintasan, bergabung dengan Reno yang sudah bersiap dengan papan pencatat waktu. Di ujung sana, Axel sudah berada di posisinya. Dia tampak seperti malaikat maut hitam yang siap membelah angin.

Petugas sirkuit mulai menyalakan lampu indikator di atas lintasan.

Merah.

Suara raungan puluhan motor serentak meninggi, memekakkan telinga, menciptakan atmosfer yang luar biasa tegang. Nala menaruh kedua tangannya di dada, meredam debaran jantungnya sendiri.

Kuning.

Nala memejamkan mata sejenak, merapalkan doa keselamatan untuk sahabatnya. Namun, tepat saat dia membuka mata kembali, sebuah sensasi aneh menjalar di tengkuknya. Hawa dingin yang mencengkeram secara mendadak membuat bulu kuduknya merinding. Dada Nala mendadak terasa sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya menghilang. Ini bukan sekadar rasa cemas biasa yang sering dia rasakan. Ini adalah sebuah firasat buruk yang sangat pekat, seolah ada bahaya besar yang tak kasatmata sedang mengintai di tikungan pertama.

Hijau!

Lampu start berubah warna. Dalam sepersekian detik, motor Axel melesat paling depan, memimpin badai mesin yang menderu liar membelah kegelapan malam, meninggalkan Nala yang membeku di tempat dengan perasaan was-was yang luar biasa.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   81. Benteng Pembelaan Axel

    Ruang perawatan VIP itu mendadak menjadi arena perdebatan yang hangat. Suara detak monitor jantung Axel berbunyi teratur, bersahut-sahutan dengan hembusan napasnya yang diusahakan tetap tenang. Meskipun bahu kirinya masih terbebat perban tebal dan selang infus menjulur di tangan kanannya, Axel mencengkeram tepi ranjang. Pria itu memaksakan tubuhnya untuk duduk tegak, menatap lurus ke arah Ayah Nala—Surya —dengan sorot mata yang hangat namun tak gentar sedikit pun. "Axel mungkin memang sering bikin Om gundah karena hobi balapan," ujar Axel dengan suara serak namun terdengar mantap. "Tapi Axel tidak akan pernah membiarkan Nala mengorbankan kebahagiaannya sendiri cuma karena tekanan Devan, Om." "Bukan cuma soal tekanan, Axel," sahut Ayah Nala, helaan napasnya terdengar berat meski raut wajahnya mulai melunak. "Devan itu punya jaringan hukum yang kuat. Om cuma tidak mau Nala atau pun keluarga kita terseret masalah yang rumit." "Harga diri dan kebahagiaan Nala tidak bisa di tukar d

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   80. Serangan di Belakang Layar

    Deklarasi Axel di ruang perawatan VIP masih menyisakan keheningan yang serasa membakar di dalam dada Nala. Jemari Nala yang gemetar baru saja meletakkan mangkuk bubur di atas meja nakas ketika pintu kamar mandi tersingkap. Nala membasuh wajahnya dengan air dingin, berusaha menetralisir debar jantungnya yang tak beraturan.Namun, ketenangan rapuh itu lenyap seketika.Brak!Pintu kayu ruang rawat VIP terdorong kasar hingga menghantam dinding. Langkah kaki yang terburu-buru dan sarat amarah terdengar berderak tajam menembus kesunyian lantai lima.Nala tersentak keluar dari kamar mandi, sementara Axel yang terbaring kaku di ranjang hanya menyipitkan matanya tajam.Ayah Nala berdiri di ambang pintu. Kemeja batiknya tampak kusut, kacamata berbingkai hitamnya sedikit miring, dan wajah paruh bayanya merah padam diselimuti kemurkaan yang meledak-ledak. Di belakangnya, Ibu Nala menyusul dengan wajah pucat dan mata yang sudah sembap oleh tangisan."Nala!" bentak Ayahnya, suaranya melengking meme

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   79. Pria yang Berbeda

    Pagi menyingsing di lantai lima Rumah Sakit Pusat, membawa pendar matahari tipis yang menerobos tirai tipis ruang perawatan VIP. Ruangan berukuran luas itu sangat kontras dengan tenda medis darurat di Bukit Tengger yang beraroma minyak kayu putih dan beralas karpet empuk, hasil campur tangan mendadak orang tua Axel yang langsung mengambil alih fasilitas begitu mendengar kabar kecelakaan putranya. Di atas ranjang elektrik yang ditata agak menegak, Axel terbaring kaku. Lengan dan bahu kirinya terbebat perban tebal berlapis penyangga khusus. Wajah rupawannya masih dipenuhi goresan luka yang mengering, namun matanya yang memerah sudah terbuka sempurna, menatap lurus ke arah langit-langit kamar. Nala duduk di kursi kayu di samping ranjang. Wajahnya pucat pasi, kelopak matanya sembap karena tak tidur semalaman. Gaun malamnya sudah berganti dengan kaus longgar dan jeans kusam yang dibawakan Reno tadi subuh. Di pangkuannya, sebuah mangkuk porselen berisi bubur halus masih berasap tipis.

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   78. Malam Pertama di Rumah Sakit

    Lampu neon lorong lantai tiga Rumah Sakit Pusat memancarkan pendar putih yang dingin dan steril. Bau tajam cairan antiseptik menusuk indra penciuman Nala yang terduduk kaku di atas bangku besi dingin. Jam dinding bundar di atas pintu ruang operasi menunjukkan pukul dua dini hari. Gaun malam biru navy yang dikenakannya masih terasa lembap dan ternoda bercak lumpur sirkuit, sementara telapak kakinya yang tak beralas terasa dingin menusuk lantai marmer. Namun seluruh sensasi fisik itu tenggelam oleh bunyi mendengung di kepalanya. Di balik pintu ganda bertuliskan "RUANG OPERASI - DILARANG MASUK", lampu indikator merah masih menyala benderang. Axel telah berada di dalam sana selama hampir tiga jam untuk menangani bahu kirinya yang retak parah, terinfeksi, dan mengalami pendarahan hebat. Drrrt... Drrrt... Drrrt... Ponsel di pangkuan Nala bergetar tanpa henti. Layarnya yang redup menyala terang, menampilkan lusinan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan singkat yang masuk bertubi-

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   77. Konfrontasi di Ruang Medis

    Langkah kaki Devan yang teratur dan tegap membelah keheningan di ambang pintu ruang medis darurat. Air hujan menetes dari pinggiran jas hitam mewahnya, membasahi lantai ubin yang dingin. Di belakangnya, beberapa petugas panitia sirkuit dan tim medis hanya bisa terpaku kaku, tak ada yang berani memotong wibawa dingin pria Hukum tersebut. Devan tidak melirik Axel yang masih menyudutkan Nala di dinding. Matanya terkunci mutlak pada Nala, menyipit penuh tajamnya ancaman tersirat. "Nala," panggil Devan dengan nada suara bariton yang teramat tenang, namun mengandung tekanan yang sanggup memutus pasokan udara di dalam ruangan. "Kemari. Jangan buat orang tuamu dan seluruh keluarga besar menunggu lebih lama lagi." Nala mematung, tubuhnya berguncang hebat di bawah kurungan lengan Axel. Cengkeraman jemari Axel di pergelangan tangannya memuat ketegangan mendadak, menolak melepaskan Nala sedikit pun. Axel memiringkan kepalanya, menatap Devan dengan pendar mata membara di balik peluh dan go

  • Ketika Sahabat Mulai Cemburu: Kau Hanya Milikku   76. Deklarasi Mutlak

    Sensasi hangat dan rasa darah yang menggelegak di bibir Axel perlahan terlepas. Namun, cengkeraman jemarinya pada pergelangan tangan Nala tidak mengendur sedikit pun. Axel menarik kepalanya hanya beberapa sentimeter, membiarkan napasnya yang memburu dan panas berhembus langsung menerpa kulit wajah Nala yang basah oleh air mata. Dada tegap Axel yang terbungkus baju balap robek naik turun tak teratur, menempel ketat pada dada Nala yang gemetar hebat. "Axel..." cicit Nala dengan suara pecah yang teramat lirih. Sorot matanya membelalak kaku, dadanya sesak oleh serbuan guncangan emosi yang baru saja merobek benteng pertahanannya. "Kau... kau sudah gila..." "Aku memang gila, Nala!" desis Axel parau, intonasi suaranya rendah namun bergetar hebat oleh intensitas emosi mentah yang meluap. Axel memiringkan kepalanya sedikit, memangkas jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Pendar matanya yang memerah dan bersimbah peluh dingin mengunci iris mata Nala dengan dominasi mutlak

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status