Home / Romansa / Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta / Bab 17 Undangan yang Berminyak

Share

Bab 17 Undangan yang Berminyak

Author: Aira Jiva
last update Last Updated: 2026-02-13 14:45:35

“Pestaaa pantaiiii! Dateng ya, jangan jadi kupu -kupu kuliah doang!”

Suara anggota BEM menggema di selasar kampus. Brosur- brosur warna biru tua dibagikan secara agresif. Di tengah keramaian itu, Cinta hampir tersenggol dua kali sebelum akhirnya satu lembar kertas mengilap mendarat di tangannya.

Tema besar tercetak tegas di bagian atas, MIDNIGHT TIDES – Annual Coastal Celebration. Di sudut bawah, logo Yayasan berkilau dengan tinta perak... simbol kekuasaan Samudra Arkananta.

Cinta menatapnya ti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 37 Mata Kodok

    “Cin? Lo masih idup kan? Ini gue udah bawa amunisi... seblak ceker sama masker timun buat mata kodok lo!”Gedoran pintu Rara yang brutal itu seolah-olah menghantam gendang telinga Cinta yang masih berdenyut. Cinta mengerang, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa seberat beton. Benar kata Rara semalam, matanya benar-benar bengkak, merah, dan nyaris tidak bisa terbuka... persis kodok sawah yang habis kena lindas ban motor.Cinta meraba-raba bawah bantalnya. Kertas itu masih di sana. Kertas yang semalam membuatnya tidak bisa tidur tenang karena takut isinya adalah ancaman dari Samudra atau kutukan bayangan Arden.“Bentar, Ra! Gue lagi ngumpulin nyawa!” teriak Cinta dengan suara serak.Cinta duduk di tepi kasur, memegang kertas putih yang terlipat rapi itu dengan tangan gemetar. Ini dia, pikirnya. Dengan jantung yang berpacu liar, Cinta membuka lipatan kertas itu perlahan. Ia memicingkan mata kodoknya, berusaha fokus membaca tulisan di dalamnya.[NOTA TOKO MEKAR JAYA]1 set Lace B

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 36 Sisa Sisa Kepercayaan

    “Persetan sama kalian semua! Gue benci kalian! Pergi dari hidup gue!”Cinta tidak menoleh lagi. Dia tidak peduli jika Samudra membekukan aspal di belakangnya atau jika Arden menelan cahaya lampu jalan dengan bayangannya yang merayap. Dia berbalik dan lari sekuat tenaga. Kakinya yang gemetar dipaksa menghantam aspal jalanan yang sunyi. Napasnya tersengal, dadanya sesak seolah ada batu besar yang menghimpit ulu hatinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya mulai luruh, membasahi pipinya yang panas karena amarah dan rasa malu yang bercampur jadi satu.Dia terus berlari menembus kabut tipis malam, mengabaikan teriakan atau panggilan apa pun yang mungkin menyusul di belakangnya. Yang dia tahu, dia harus sampai ke kosan. Dia harus sembunyi. Dia harus hilang dari pandangan dua monster yang baru saja menghancurkan hatinya.BRAKKK!Cinta membanting pintu kamarnya hingga debu dari langit-langit berjatuhan. Dengan tangan gemetar, dia memutar kunci dua kali, lalu merosot di balik pintu kayu yan

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 35 Bulan Purnama

    “Jangan keluar malem ini ya, Cin. Perasaan Mbak nggak enak, bulannya lagi bulat sempurna, nggak bagus buat anak gadis yang pikirannya lagi kosong.”Cinta yang baru saja hendak mencangklong tas selempangnya terhenti di depan pintu gerbang kosan. Ia menoleh ke arah Mbak Ayu, ibu kos mereka yang sering dianggap punya indra keenam karena hobi banget ngoleksi bunga melati di teras.“Cuma sebentar kok, Mbak. Perut saya udah demo dari tadi, butuh asupan seblak level lima buat nenangin saraf yang habis kena teror,” sahut Cinta sambil nyengir, mencoba menutupi kegundahan hatinya soal Arden.Mbak Ayu menatap Cinta dengan tatapan dalam, matanya terpaku pada leher Cinta yang entah kenapa terlihat lebih putih dari biasanya di bawah lampu teras. “Bulannya beda, Cin. Malam ini bulan purnamanya lapar. Kamu jangan sampai jadi santapannya.”"Sama dong, Mbak! Nanti saya bungkusin seblak juga buat Mbak sama bulannya, biar bulannya nggak berani macem macem!” seru Cinta sambil melangkah keluar gerbang, m

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 34 Luka Yang Menari

    “Cinta.. Sini bergabung dengan semesta yang puitis ini! Kenapa muka lo ditekuk kayak cucian nggak kering gitu?”Suara Gilang memecah lamunan Cinta yang baru saja mendarat dengan lemas di rumput taman belakang kampus.Gilang, si anak indie garis keras, sedang sibuk nyetem gitar bolongnya, sementara di sampingnya ada Rian yang lagi asyik niup asap rokok sambil baca buku puisi yang judulnya 'Luka yang Menari'.“Semesta lagi nggak ramah sama gue, Lang. Semesta gue isinya orang-orang aneh di hidup gue,” sahut Cinta lemas. Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon mahoni yang besar, mencoba mencari sedikit ketenangan setelah huru-hara di gedung BEM tadi.“Hidup itu emang ribet kalau lo cari maknanya pakai logika, Cin. Coba pakai rasa,” celetuk Rian tanpa menoleh, gayanya sok filsuf. “Mau kopi nggak? Biar pahitnya hidup lo kalah sama pahitnya biji kopi pilihan ini. Gue seduh pake air mata kegelisahan.”“Lebay deh Lo.. Nggak usah, makasih. Hari gue udah cukup pahit gara-gara denger berita be

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 33 Buta Rasa

    “Dasar cowok aneh! Dateng nggak diundang, pulang nggak dianter, udah kayak jelangkung!”Cinta membanting pintu kamarnya setelah punggung tegap Samudra hilang di kegelapan lorong kosan. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet tipisnya, tangannya masih gemetar karena emosi campur baper yang nggak jelas juntrungannya.Ia berhenti di depan Kerang dan Mutiara yang masih duduk manis di lantai. “Heh, lo berdua denger nggak tadi? Dia bilang nilainya nggak bisa dituker sama seblak! Emang seblak salah apa coba? Seblak itu pahlawan perut gue pas lagi bokek, tau! Mending makan seblak daripada makan ati gara-gara dia!”Cinta mendengus, lalu menunjuk kotak biru misterius di sudut. “Dan lo, Kotak Biru! Jangan diem aja. Si Samudra itu beneran pasang alat sadap ya? Kok dia tau gue mau jual kalian? Jangan-jangan di dalem kerang ini ada microchipnya?”Tik!Lampu kamar berkedip lagi, kali ini lebih lama, seolah-olah si lampu lagi capek dengerin curhatan Cinta yang nggak kelar-kelar.“Udah, nggak usah

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 32 Nilai Yang Tidak Bisa Ditawar

    “Gimana? Motor gue lebih asik kan daripada naik mobil yang bikin sesak? Berasa napas, kan?”Arden bersuara agak keras dari balik helmnya, mencoba mengalahkan deru angin jalanan malam yang menusuk pori-pori.Cinta yang duduk di boncengan hanya tersenyum tipis, tangannya memegang besi behel motor dengan kuat, menjaga jarak aman agar punggungnya tidak menempel pada jaket kulit Arden. Hatinya masih bergemuruh, sisa-sisa klaim sepihak Samudra di parkiran tadi masih terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokan.“Iya, Kak. Seger banget, tapi kayaknya rambut gue udah mirip singa kesurupan sekarang,” sahut Cinta, mencoba mencairkan suasana yang tadi sempat membeku.Arden terkekeh, suaranya terdengar sangat santai dan menyenangkan, seolah-olah ketegangan dengan Samudra tadi hanyalah angin lalu yang tidak perlu dipikirkan. “Tenang, singa juga cantik kok kalau singanya itu lo. Kita langsung ke kosan lo atau mau mampir beli martabak dulu? Muka lo kayak butuh asupan gula biar nggak kelihatan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status