Share

Bab 33 Buta Rasa

Author: Aira Jiva
last update publish date: 2026-03-03 22:31:58

“Dasar cowok aneh! Dateng nggak diundang, pulang nggak dianter, udah kayak jelangkung!”

Cinta membanting pintu kamarnya setelah punggung tegap Samudra hilang di kegelapan lorong kosan. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet tipisnya, tangannya masih gemetar karena emosi campur baper yang nggak jelas juntrungannya.

Ia berhenti di depan Kerang dan Mutiara yang masih duduk manis di lantai.

“Heh, lo berdua denger nggak tadi? Dia bilang nilainya nggak bisa dituker sama seblak! Emang seblak salah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 75 Sisi Gelap Sang Pelindung

    "Langkah satu centi lagi, dan lo bakal nyesel seumur hidup, Cinta."Suara bariton Samudra membelah keheningan gerbang belakang kampus seperti silet yang mengiris udara.Cinta tersentak, kakinya yang nyaris menyentuh pusaran kabut hitam itu mendadak kaku. Ia menoleh perlahan dan mendapati Samudra berdiri di sana, namun kali ini wajahnya bukan wajah pelindung yang biasanya hangat. Matanya kelam, sedalam palung laut yang menyimpan rahasia paling gelap.Di sampingnya, Langit berdiri dengan posisi siaga, melipat tangan di dada dengan wajah yang sama dinginnya. Mereka berdua berdiri seperti algojo yang siap mengeksekusi mangsa."Lo berdua... mau apa?!" desis Cinta, suaranya bergetar antara marah dan rasa malu karena aksinya menyelinap dari kosan ternyata gagal total."Gue nggak punya pilihan, Cin," sahut Langit datar. Suaranya tidak menunjukkan emosi sedikit pun, seolah-olah Cinta hanyalah objek tugas yang harus diselesaikan."Lo terlalu nekat. Lo pikir nemuin gerbang ini sendirian malam-

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 74 Kamuflase

    "Gue nggak butuh dikasihani ya, apalagi dijagain sama pembohong kayak lo."Kalimat itu keluar dari mulut Cinta bahkan sebelum Samudra sempat membuka suara di depan pintu kosannya yang tertahan. Cinta mundur selangkah, menatap Samudra dengan pandangan yang lebih dingin dari angin malam. Tidak ada isak tangis yang mendayu, hanya ada gurat kelelahan dan rasa muak yang sangat nyata."Cinta, dengerin gue dulu..""Dengerin apa lagi, Sam?" potong Cinta cepat. "Dengerin skenario baru yang lo buat biar gue kelihatan bego lagi? Jangan pura-pura peduli deh, geli gue liatnya. Selama ini gue hidup dalam rasa bersalah karena ngira Bokap ninggalin gue, dan ternyata lo tahu segalanya tapi milih buat tutup mulut rapat-rapat!"Samudra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras hingga garis ototnya terlihat jelas di bawah lampu koridor yang temaram. Di dalam hatinya, Samudra berteriak bahwa ia hanya ingin melindungi kewarasan Cinta. Ia takut jika Cinta tahu betapa mengerikannya kondisi ayahnya di bawa

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 73 Bisikan Palsu

    "Gue tahu di mana bokap lo sekarang, Cinta."Langkah kaki Cinta mendadak terpaku di atas lantai marmer koridor rektorat yang dingin. Suara itu tidak mengelegar, hanya halus dan tenang, namun memiliki frekuensi yang sanggup menghentikan aliran darah di pembuluh nadi Cinta seketika. Cinta perlahan menoleh, lehernya terasa kaku. Di sana, bersandar pada pilar beton besar dengan gaya yang terlalu sempurna untuk seorang manusia, berdiri Arden.Cinta mendengus sinis, meski jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia mencoba memasang wajah sedingin mungkin, sebuah topeng pertahanan yang biasa ia pelajari di kelas psikologi. "Oh, lo masih sehat ya sekarang? Gue pikir habis kejadian kemarin lo bakal absen lama buat pemulihan diri."Arden tidak terganggu dengan sarkasme itu. Ia malah tersenyum tipis... jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue selalu punya cara buat pulih lebih cepat, Cinta. Apalagi kalau motivasinya adalah lo. Dan ada yang sangat menarik sekarang. Lo pikir gue bakal lewatin gitu a

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 72 Mekanisme Represi

    "Cin.., lo mau masuk kelas atau mau jadi patung selamat datang di situ?"Suara melengking Rara membuyarkan lamunan Cinta yang sedari tadi terpaku menatap punggung Samudra yang menjauh di bawah pohon mahoni. Cinta tersentak, mengerjapkan matanya yang terasa perih karena kurang tidur. Ia segera menyesuaikan tali tasnya dan bergegas menyusul Rara masuk ke ruang kuliah 302 yang sudah mulai penuh."Sorry, Ra. Agak blank dikit gue," gumam Cinta sambil mencari tempat duduk di barisan tengah, posisi paling aman untuk mahasiswa yang sedang tidak ingin jadi pusat perhatian dosen.Di depan kelas, Pak Bambang, dosen senior yang terkenal dengan kacamata tebal dan cara bicaranya yang lambat namun menghujam, sudah berdiri di balik podium kayu. Ia sedang menyiapkan materi slide presentasi bertajuk "Mekanisme Pertahanan Ego, Represi dan Amnesia Disosiatif".Cinta menelan ludah. Topik hari ini rasanya seperti sebuah sindiran halus dari semesta."Selamat pagi semuanya," suara Pak Bambang menggema, ber

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 71 Memori yang Terkunci

    "Ehh... Zombiii.." Samudra berteriak memanggil Cinta dari kejauhan."Apaan sih.." sahut Cinta dengan muka masam sambil memalingkan wajah."Dehh.. sombong amat. Muka lo pagi ini lebih mirip zombi daripada mahasiswi Psikologi teladan yang siap dengerin curhat pasien."Suara bariton yang berat dan sangat familiar itu menghentikan langkah Cinta tepat di depan gerbang gedung Fakultas Psikologi. Cinta yang sedang berjalan gontai dengan mata panda yang menghitam dan botol air mineral di tangan, nyaris saja menjatuhkan tas punggungnya. Ia menoleh perlahan, lehernya terasa kaku seperti engsel pintu yang karatan.Di sana, bersandar di pilar beton dengan gaya yang terlalu keren untuk ukuran manusia normal, berdiri Samudra. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Pangeran laut itu tidak tampak segar dan sedingin biasanya. Ada gurat kelelahan yang nyata di wajah pucatnya, dan matanya yang biru jernih tampak sedikit meredup, dikelilingi bayangan gelap yang tipis."Lo ngapain di sini, Sam? Bikin suasana m

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 70 Modus Lama

    "Gue khianatin Paman Baruna karena gue suka sama lo, Cinta. Sesederhana itu."Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Samudra, memecah kesunyian di antara deretan rak buku tua perpustakaan Mbah Tejo. Suaranya bariton, tenang, namun mampu membuat bulu kuduk Cinta meremang. Mata biru jernih itu menatap dalam ke netra Cinta, seolah-olah ia sedang menyatakan sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.Cinta tertegun sejenak. Jantungnya sempat melonjak gila-gailaan, namun sedetik kemudian, akal sehatnya menendang perasaan itu jauh-jauh.Ia tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya yang amat sangat."Hahaaa""Halah! Masih mau pake kartu itu lagi, Sam? Lo pikir gue amnesia?!" Cinta melipat tangan di dada, matanya menyipit sinis, menatap pangeran laut di depannya dengan pandangan menghina. "Dulu lo juga bilang gitu cuma buat pengalihan isu biar gue ngejauh dari Arden pas dia lagi nempel banget sama gue kayak perangko! Lo cuma takut Arden dapet kekuata

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 54 Amukan Penguasa Lautan

    “Berlutut, Samudra! Atau lo bakal denger suara tulang lehernya patah lebih keras dari deburan ombak di bawah sana!”Suara Arden bergema dari dalam mobil yang kacanya sudah retak seribu. Tangan bayangannya yang legam melilit leher Cinta dengan sangat kencang. Cinta yang baru saja tersadar dari ping

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 53 Deklarasi di Ujung Karang

    “Gue tahu lo di belakang, Arden! Keluar atau gue tenggelamkan seluruh bayangan lo ke dasar palung paling dalam!”Samudra menginjak rem dengan kasar tepat di ujung tebing karang yang menjorok ke Samudera Hindia. Mobil sedan hitam itu berhenti dengan posisi ban depan hanya beberapa senti dari jurang.

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 52 Obsesi Sang Penguasa

    “Kasihan ya... sudah jadi manusia biasa yang nggak berguna, tapi masih saja harus diburu seperti tikus got.” Cinta tersentak. Aroma parfum mawar yang menyengat menyerbu indra penciumannya sebelum sosok Vanessa muncul dari balik pilar lobi kampus. Si ular berbaju desainer itu berdiri dengan senyu

  • Ketika Samudra dan Langit Jatuh Cinta    Bab 51 Antara Harapan dan Jelaga

    “Ehhh.. apaan sih ini? Ini kenapa satu halaman isinya ombak semua, udah kayak gelombang lukisan tempat Nyi Roro Kidul!”Rara menyambar kertas sketsa Cinta di meja kantin dengan gerakan secepat kilat.Matanya memicing, mengamati coretan pulpen Cinta yang membentuk pola gelombang berulang ulang... ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status