Masuk“Jangan keluar malem ini ya, Cin. Perasaan Mbak nggak enak, bulannya lagi bulat sempurna, nggak bagus buat anak gadis yang pikirannya lagi kosong.”Cinta yang baru saja hendak mencangklong tas selempangnya terhenti di depan pintu gerbang kosan. Ia menoleh ke arah Mbak Ayu, ibu kos mereka yang sering dianggap punya indra keenam karena hobi banget ngoleksi bunga melati di teras.“Cuma sebentar kok, Mbak. Perut saya udah demo dari tadi, butuh asupan seblak level lima buat nenangin saraf yang habis kena teror,” sahut Cinta sambil nyengir, mencoba menutupi kegundahan hatinya soal Arden.Mbak Ayu menatap Cinta dengan tatapan dalam, matanya terpaku pada leher Cinta yang entah kenapa terlihat lebih putih dari biasanya di bawah lampu teras. “Bulannya beda, Cin. Malam ini bulan purnamanya lapar. Kamu jangan sampai jadi santapannya.”"Sama dong, Mbak! Nanti saya bungkusin seblak juga buat Mbak sama bulannya, biar bulannya nggak berani macem macem!” seru Cinta sambil melangkah keluar gerbang, m
“Cinta.. Sini bergabung dengan semesta yang puitis ini! Kenapa muka lo ditekuk kayak cucian nggak kering gitu?”Suara Gilang memecah lamunan Cinta yang baru saja mendarat dengan lemas di rumput taman belakang kampus.Gilang, si anak indie garis keras, sedang sibuk nyetem gitar bolongnya, sementara di sampingnya ada Rian yang lagi asyik niup asap rokok sambil baca buku puisi yang judulnya 'Luka yang Menari'.“Semesta lagi nggak ramah sama gue, Lang. Semesta gue isinya orang-orang aneh di hidup gue,” sahut Cinta lemas. Ia menyandarkan kepalanya ke batang pohon mahoni yang besar, mencoba mencari sedikit ketenangan setelah huru-hara di gedung BEM tadi.“Hidup itu emang ribet kalau lo cari maknanya pakai logika, Cin. Coba pakai rasa,” celetuk Rian tanpa menoleh, gayanya sok filsuf. “Mau kopi nggak? Biar pahitnya hidup lo kalah sama pahitnya biji kopi pilihan ini. Gue seduh pake air mata kegelisahan.”“Lebay deh Lo.. Nggak usah, makasih. Hari gue udah cukup pahit gara-gara denger berita be
“Dasar cowok aneh! Dateng nggak diundang, pulang nggak dianter, udah kayak jelangkung!”Cinta membanting pintu kamarnya setelah punggung tegap Samudra hilang di kegelapan lorong kosan. Ia berjalan mondar-mandir di atas karpet tipisnya, tangannya masih gemetar karena emosi campur baper yang nggak jelas juntrungannya.Ia berhenti di depan Kerang dan Mutiara yang masih duduk manis di lantai. “Heh, lo berdua denger nggak tadi? Dia bilang nilainya nggak bisa dituker sama seblak! Emang seblak salah apa coba? Seblak itu pahlawan perut gue pas lagi bokek, tau! Mending makan seblak daripada makan ati gara-gara dia!”Cinta mendengus, lalu menunjuk kotak biru misterius di sudut. “Dan lo, Kotak Biru! Jangan diem aja. Si Samudra itu beneran pasang alat sadap ya? Kok dia tau gue mau jual kalian? Jangan-jangan di dalem kerang ini ada microchipnya?”Tik!Lampu kamar berkedip lagi, kali ini lebih lama, seolah-olah si lampu lagi capek dengerin curhatan Cinta yang nggak kelar-kelar.“Udah, nggak usah
“Gimana? Motor gue lebih asik kan daripada naik mobil yang bikin sesak? Berasa napas, kan?”Arden bersuara agak keras dari balik helmnya, mencoba mengalahkan deru angin jalanan malam yang menusuk pori-pori.Cinta yang duduk di boncengan hanya tersenyum tipis, tangannya memegang besi behel motor dengan kuat, menjaga jarak aman agar punggungnya tidak menempel pada jaket kulit Arden. Hatinya masih bergemuruh, sisa-sisa klaim sepihak Samudra di parkiran tadi masih terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokan.“Iya, Kak. Seger banget, tapi kayaknya rambut gue udah mirip singa kesurupan sekarang,” sahut Cinta, mencoba mencairkan suasana yang tadi sempat membeku.Arden terkekeh, suaranya terdengar sangat santai dan menyenangkan, seolah-olah ketegangan dengan Samudra tadi hanyalah angin lalu yang tidak perlu dipikirkan. “Tenang, singa juga cantik kok kalau singanya itu lo. Kita langsung ke kosan lo atau mau mampir beli martabak dulu? Muka lo kayak butuh asupan gula biar nggak kelihatan
“Sekarang lo jadi pacar gue.”Cinta yang sedang berdiri sendirian di bawah pohon ketapang itu langsung menoleh dengan gerakan patah-patah. Tangannya masih mencengkeram erat tali tas ranselnya, sementara alisnya terangkat tajam, menatap sosok yang baru saja mengeluarkan pernyataan paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar tahun ini.“Apa?” tanya Cinta, suaranya naik satu oktav karena syok.Samudra berdiri tegap di depannya. Jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah, namun kehadiran pria itu terasa seperti tembok beton yang menghalangi oksigen.Angin sore membuat daun-daun ketapang berdesir pelan di atas kepala mereka, memberikan latar suara yang damai, sangat kontras dengan atmosfer di antara mereka yang mendadak berat dan menyesakkan.“Lo butuh pasangan, dan gue adalah pilihan paling aman buat lo saat ini,” lanjut Samudra tanpa keraguan sedikit pun. Tatapannya lurus, datar, dan seolah-olah dia baru saja membacakan sebuah fakta ilmiah yang tidak bisa diganggu gugat.Cinta menata
“Gue boleh duduk di sini, kan? Kursi lain penuh, kayaknya.”Suara itu rendah, lembut, dan memiliki intonasi yang begitu tenang sampai-sampai Cinta merasa pendengarannya baru saja disaring oleh beludru. Cinta yang sedang sibuk mengeluarkan buku catatan dari tasnya seketika membeku. Ia mendongak, dan jantungnya nyaris melompat keluar saat melihat Arden berdiri tepat di samping kursinya.Arden tersenyum tipis dan sangat sopan tapi entah kenapa terasa begitu intens. Ia tidak menunggu jawaban lama, hanya menatap mata Cinta dengan binar yang ramah, seolah meminta izin secara personal dengan cara yang sangat berkelas.“Eh… i.. iya, Kak. Boleh kok,” jawab Cinta terbata. Ia segera menggeser tasnya dengan gerakan kikuk, hampir saja menjatuhkan kotak pensilnya kalau Arden tidak dengan sigap menahannya dengan ujung jarinya.Sentuhan singkat di kotak pensil itu saja sudah cukup membuat aliran listrik aneh menjalar ke punggung Cinta.Rara yang duduk di sebelah kiri Cinta langsung tersedak ludahnya







