Masuk"Langkah satu centi lagi, dan lo bakal nyesel seumur hidup, Cinta."Suara bariton Samudra membelah keheningan gerbang belakang kampus seperti silet yang mengiris udara.Cinta tersentak, kakinya yang nyaris menyentuh pusaran kabut hitam itu mendadak kaku. Ia menoleh perlahan dan mendapati Samudra berdiri di sana, namun kali ini wajahnya bukan wajah pelindung yang biasanya hangat. Matanya kelam, sedalam palung laut yang menyimpan rahasia paling gelap.Di sampingnya, Langit berdiri dengan posisi siaga, melipat tangan di dada dengan wajah yang sama dinginnya. Mereka berdua berdiri seperti algojo yang siap mengeksekusi mangsa."Lo berdua... mau apa?!" desis Cinta, suaranya bergetar antara marah dan rasa malu karena aksinya menyelinap dari kosan ternyata gagal total."Gue nggak punya pilihan, Cin," sahut Langit datar. Suaranya tidak menunjukkan emosi sedikit pun, seolah-olah Cinta hanyalah objek tugas yang harus diselesaikan."Lo terlalu nekat. Lo pikir nemuin gerbang ini sendirian malam-
"Gue nggak butuh dikasihani ya, apalagi dijagain sama pembohong kayak lo."Kalimat itu keluar dari mulut Cinta bahkan sebelum Samudra sempat membuka suara di depan pintu kosannya yang tertahan. Cinta mundur selangkah, menatap Samudra dengan pandangan yang lebih dingin dari angin malam. Tidak ada isak tangis yang mendayu, hanya ada gurat kelelahan dan rasa muak yang sangat nyata."Cinta, dengerin gue dulu..""Dengerin apa lagi, Sam?" potong Cinta cepat. "Dengerin skenario baru yang lo buat biar gue kelihatan bego lagi? Jangan pura-pura peduli deh, geli gue liatnya. Selama ini gue hidup dalam rasa bersalah karena ngira Bokap ninggalin gue, dan ternyata lo tahu segalanya tapi milih buat tutup mulut rapat-rapat!"Samudra mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras hingga garis ototnya terlihat jelas di bawah lampu koridor yang temaram. Di dalam hatinya, Samudra berteriak bahwa ia hanya ingin melindungi kewarasan Cinta. Ia takut jika Cinta tahu betapa mengerikannya kondisi ayahnya di bawa
"Gue tahu di mana bokap lo sekarang, Cinta."Langkah kaki Cinta mendadak terpaku di atas lantai marmer koridor rektorat yang dingin. Suara itu tidak mengelegar, hanya halus dan tenang, namun memiliki frekuensi yang sanggup menghentikan aliran darah di pembuluh nadi Cinta seketika. Cinta perlahan menoleh, lehernya terasa kaku. Di sana, bersandar pada pilar beton besar dengan gaya yang terlalu sempurna untuk seorang manusia, berdiri Arden.Cinta mendengus sinis, meski jantungnya berpacu gila-gilaan. Ia mencoba memasang wajah sedingin mungkin, sebuah topeng pertahanan yang biasa ia pelajari di kelas psikologi. "Oh, lo masih sehat ya sekarang? Gue pikir habis kejadian kemarin lo bakal absen lama buat pemulihan diri."Arden tidak terganggu dengan sarkasme itu. Ia malah tersenyum tipis... jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue selalu punya cara buat pulih lebih cepat, Cinta. Apalagi kalau motivasinya adalah lo. Dan ada yang sangat menarik sekarang. Lo pikir gue bakal lewatin gitu a
"Cin.., lo mau masuk kelas atau mau jadi patung selamat datang di situ?"Suara melengking Rara membuyarkan lamunan Cinta yang sedari tadi terpaku menatap punggung Samudra yang menjauh di bawah pohon mahoni. Cinta tersentak, mengerjapkan matanya yang terasa perih karena kurang tidur. Ia segera menyesuaikan tali tasnya dan bergegas menyusul Rara masuk ke ruang kuliah 302 yang sudah mulai penuh."Sorry, Ra. Agak blank dikit gue," gumam Cinta sambil mencari tempat duduk di barisan tengah, posisi paling aman untuk mahasiswa yang sedang tidak ingin jadi pusat perhatian dosen.Di depan kelas, Pak Bambang, dosen senior yang terkenal dengan kacamata tebal dan cara bicaranya yang lambat namun menghujam, sudah berdiri di balik podium kayu. Ia sedang menyiapkan materi slide presentasi bertajuk "Mekanisme Pertahanan Ego, Represi dan Amnesia Disosiatif".Cinta menelan ludah. Topik hari ini rasanya seperti sebuah sindiran halus dari semesta."Selamat pagi semuanya," suara Pak Bambang menggema, ber
"Ehh... Zombiii.." Samudra berteriak memanggil Cinta dari kejauhan."Apaan sih.." sahut Cinta dengan muka masam sambil memalingkan wajah."Dehh.. sombong amat. Muka lo pagi ini lebih mirip zombi daripada mahasiswi Psikologi teladan yang siap dengerin curhat pasien."Suara bariton yang berat dan sangat familiar itu menghentikan langkah Cinta tepat di depan gerbang gedung Fakultas Psikologi. Cinta yang sedang berjalan gontai dengan mata panda yang menghitam dan botol air mineral di tangan, nyaris saja menjatuhkan tas punggungnya. Ia menoleh perlahan, lehernya terasa kaku seperti engsel pintu yang karatan.Di sana, bersandar di pilar beton dengan gaya yang terlalu keren untuk ukuran manusia normal, berdiri Samudra. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Pangeran laut itu tidak tampak segar dan sedingin biasanya. Ada gurat kelelahan yang nyata di wajah pucatnya, dan matanya yang biru jernih tampak sedikit meredup, dikelilingi bayangan gelap yang tipis."Lo ngapain di sini, Sam? Bikin suasana m
"Gue khianatin Paman Baruna karena gue suka sama lo, Cinta. Sesederhana itu."Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Samudra, memecah kesunyian di antara deretan rak buku tua perpustakaan Mbah Tejo. Suaranya bariton, tenang, namun mampu membuat bulu kuduk Cinta meremang. Mata biru jernih itu menatap dalam ke netra Cinta, seolah-olah ia sedang menyatakan sebuah kebenaran mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.Cinta tertegun sejenak. Jantungnya sempat melonjak gila-gailaan, namun sedetik kemudian, akal sehatnya menendang perasaan itu jauh-jauh.Ia tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa tidak percaya yang amat sangat."Hahaaa""Halah! Masih mau pake kartu itu lagi, Sam? Lo pikir gue amnesia?!" Cinta melipat tangan di dada, matanya menyipit sinis, menatap pangeran laut di depannya dengan pandangan menghina. "Dulu lo juga bilang gitu cuma buat pengalihan isu biar gue ngejauh dari Arden pas dia lagi nempel banget sama gue kayak perangko! Lo cuma takut Arden dapet kekuata
“Cinta... Mawar itu mati karena disentuh algojo yang barusan lo peluk di atas motor!”Suara Samudra menggelegar di dalam kamar kos Cinta, dingin dan tajam layaknya bongkahan es yang menghantam kaca.Samudra berdiri di ambang jendela yang membeku, jubah hitamnya berkibar ditiup angin malam yang mend
“Lo mau lari sampai kapan, Cinta? Nggak ada lubang yang nggak bisa gue masukin...”Suara Vanessa mengalun dingin, memantul di antara pilar beton koridor lantai tiga yang mulai sepi. Cinta yang tengah merapat di balik dinding merasakan jantungnya berdegup hingga ke kerongkongan. Seharian ini, suasa
“Boleh gue masuk, Cinta?”Suara itu lembut, tapi entah kenapa bulu kuduk Cinta meremang. Vanessa berdiri di ambang pintu sendirian. Tidak ada geng The Snakes yang biasanya mengekor di belakangnya. Dia hanya mengenakan dress kasual mahal, namun auranya sangat mendominasi ruangan sempit itu.Cinta m
“Persetan sama kalian semua! Gue benci kalian! Pergi dari hidup gue!”Cinta tidak menoleh lagi. Dia tidak peduli jika Samudra membekukan aspal di belakangnya atau jika Arden menelan cahaya lampu jalan dengan bayangannya yang merayap. Dia berbalik dan lari sekuat tenaga. Kakinya yang gemetar dipaks







