LOGIN"Ini tempat pertunjukan Jesshiena Frossel itu? Kita lihat saja langsung, bagaimana caranya menjatuhkannya nanti, hahahaha!" Cistine Moontel masih kesenangan atas kepercayaan dirinya. Bagiku hal menjijikan seperti dirinya ini, membuatku tidak ingin berurusan sedikitpun terhadap mereka. Mengingat kelakuannya yang selalu saja menghasilkan banyak korban, aku tidak seharusnya hanya tinggal diam. Seperti waktu diriku yang tidak memiliki pengetahuan apapun itu. Dan, hanya bisa melihat kelakuan sampah ini. Aku ikut memasuki gedung pertunjukan itu. 'Memang tidak bisa dibiarkan wanita ini bertingkah seenaknya ini.' Karena penampilanku yang agak usang ini dan kebanyakan para pengunjung yang memasuki tempat ini sangat berpenampilan menarik dibandingkan biasa, Cistine Moontel melihat ku dan menghampiri ku. Tanpa menghentikan langkah, aku langsung menyadarinya. Kala itu, aku berpikir, 'Tentunya tempat ini masih bisa dikatakan tidak terjangkau oleh masyarakat umumnya. Walaupun mereka yang menabun
Terdiam sejenak dengan wajah yang merunduk dengan kipas tangan yang terbuka ia menutupi ekspresi wajahnya. Yang mana ia sedang menyeringai di kala berpikir, 'Ku pastikan kamu juga hancur! Tidak akan ku buatkan kamu mati. Tapi lebih menarik jadi budakku seumur hidup. Hahahahaha! Kamu bisa menjadi bonekaku yang lebih tinggi kedudukannya di kerajaan ini. Semuanya akan jadi milikku!' Cistine dengan penuh ketenangan segera melangkah mendekati Leitte dan berbisik suatu kalimat kepada Leitte. "Kamu tidak mungkin menebakkannya, kan? Hahahahaha, kamu jangan lupa dengan kemampuanku selama ini! Sampai jumpa, Le- it- te." Cistine mulai melangkah dan semakin jauh. "Datanglah kepadaku. Karena- Hanya orang sepertimu yang cocok untukku." Leitte Verk tersentak dalam diam. Alfrelina Yarne terheran dengan hal yang dibisikkan wanita membuat tunangannya terdiam seperti ini. "Ada apa?" "Bukan apa-apa, Lina sayangku. Hanya saja, kenapa harus ada orang segila ini? Padahal aku tahu dia memang segila
"Mohon maaf, saya adalah Cistine Moontel, putri pertama Duke Moontel! Baru sekarang saya berkesempatan bertemu dengan anda.... Setelah sekian lama saya berada di luar kerajaan ini. Walaupun saya sudah lama kembali ke kerajaan ini semenjak kelulusan, baru kali ini saya berkesempatan menemui anda. Mengingat, anda yang sering berada di sisi Putra Mahkota...." "Saya mengerti, senang bertemu dengan anda lagi, Lady." Leitte memberikan salam dengan gerakan tubuhnya. "Tapi, saya cukup senang berhadapan dengan anda lagi seperti ini!" "Iya, Lady Cistine Moontel. Senang bertemu dengan anda." Putri pertama Verk bertunangan dengan Putra Kedua Duke Moontel, Tristante Moontel. Dikarenakan itu, diadakan pertemuan kedua keluarga tersebut atas pertemuan pelamaran dari Duke Moontel ke kediaman mereka. Dengan rasa penasaran, Leitte segera memasuki ruang pertemuan dan memperkenalkan dirinya hingga pusat perhatian mereka ke sosok Leitte Verk. Pembicaraan sempat menjadi membicarakan Leitte hingga ke
Angin malam di hutan menerpa rambut Soft Pink yang terurai meskipun Celzuru berada di dalam tenda yang dibangun oleh para pasukan prajurit kerajaan Diamondver. Ia dan Riliana Verk menginap di tenda yang sama. Pintu tenda masih terbuka dan Celzuru memperhatikan suasa luar tenda yang mana hutan yang gelap tertangkap oleh mata pink Diamondnya yang bulat sempurna. "Mengingat suasana ini, aku jadi teringat suatu hal..." Celzuru terdiam dan Riliana tersentak melihat raut wajah Celzuru yang terlihat suram. "I, i, ingat hal apa, zzzz Zu!?" Riliana merasa merinding apalagi suara hutan membuatnya bulu kuduknya berdiri. "Rilia! Bagaimana kalau kita menceritakan kisah horor!?" "Ja, jangan menceritakan kisah horor di tempat menyeramkan seperti ini, Zu! Aku tidak bisa tidur! "Humm... Ataukah kamu mau mendengar kisah Croinel selama ia menjadi pelayanku?" Riliana tersentak. Ia menggelengkan kepalanya dengan malu. Rasa takutnya hilang sesaat. "Ba, baiklah kisah horor saja!" Celzur
"Daerah sini kah." Dari ketinggian Zennofer berhasil menemukan kereta kuda kerajaan yang akan berpulang ke istana dari kediaman Roseary menuju istana. 'Dia benar-benar terlihat berbeda dibandingkan waktu melupakan pria itu.' 'Aku jadi penasaran saja. Apa aman-aman saja aku datang ke tempat tinggalnya ini?' 'Tapi untungnya orang itu tidak tahu aku sering menemuimu, Viyuranessa.' 'Menganggap dunia ini ada di genggamannya. Ia terlalu percaya semua akan berjalan atas pemikirannya.' *** "Terasa panjang juga hari ini." Baru saja aku merebahkan diriku di kasur untuk melepaskan semua penat di hari ini, angin mulai berhembus masuk ke dalam kamarku. Aku tentunya mengenali angin ini. Tanpa beranjak dari berbaring, aku hanya menoleh ke arah jendela. "Wah wah, kamarmu membosankan juga, Viyuranessa." "Kamu bahkan berani datang ke rumahku, Zenno." Aku sedikit sentak menggelengkan kepala memang sempat kepikiran sebelumnya di ada di sini. "Aku sempat berpikiran sih kamu bakal menemu
"Kamu benar-benar santai, Rean. Yang mereka incar sebenarnya adalah kamu." Rean tersentak dan tentunya terheran. "Bagaimana kamu tahu itu, Yu!?" Aku tentunya terheran dengan keterkejutannya yang jelas-jelas terlihat. "Kenapa kamu jadi berpikir aku tidak bakalan menyadari hal seperti ini." "Tunggu dulu, Yu. Apa saja yang sudah kamu ketahui mengenai hal ini?" Termenung memikirkan Zennofer yang masih berada disana, aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dengan keadaan yang rumit ini. 'Dia juga bisa lebih gila lagi jika dibiarkan lebih lama. Aku tidak ingin tangannya jadi kotor lagi akibat ulah keserakahan orang itu.' 'Aku tidak bisa melakukannya sendirian.' 'Karena itu waktu itu aku mencoba membicarakannya dengannya, tetapi malah...!' "Itu-" "Viyura!" Lina melihatku dan segera menghampiriku. Aku menoleh ke arah Lina sambil mengatakan, "Kita bicarakan nanti ya, Rean," ucapku yang hanya didengar oleh Rean. "Jelaskan saja sekarang, Yu!" "Nanti saja!" Memberikan tatapan
"Benar rumor katakan, anda sangat cantik. Dan ternyata anda lebih cantik jika terlihat dari dekat!" Pangeran itu melangkah mendekat untuk melihat wajah calon tunangannya lebih dekat. Aku masih merundukkan kepalaku dan berharap hari ini cepat berakhir. Merasa terhiraukan, dengan suara bisikan keci
"Apa kak Yu sudah baik-baik saja?" "Ya. Tadi itu mungkin karena ingatan Viyuranessa yang tiba-tiba muncul di kepalaku." "Ingatan?" Aku mengangguk dan mengatakan, "Kemungkinan, kita akan mengingat semua kenangan mereka sebelumnya, Zu!" "Oh." Aku dan adikku sedang berjalan melintasi mansion. Kami
"Apa Lady Viyura bersikap aneh hari ini karena putra mahkota akan datang ke mansion ini untuk-?" ucap Klea. "Apaan itu?!" tatapanku masih datar, padahal aku sedikit bingung. "Pa-nge-ran??" "Iya! Yang Mulia Pangeran Agnreandel Leansane Diamondver datang, akan datang ke mansion ini untuk mengumumka
Di sebuah cerita novel yang berlatarkan seperti pada abad pertengahan Eropa, lapangan yang begitu luas di dalam area akademi kerajaan Diamondver, para eksekutor ialah prajurit dari istana, sibuk melakukan segala persiapan tanpa ada rasa semangat tergambar di wajah mereka. Pekerjaan yang bagi mereka







