MasukKetika Suamiku Berubah Pelit
Aditya mengacak rambutnya frustasi. Uang yang ia simpan nyatanya terpaksa ia gunakan untuk membayar hutang yang telah ia ambil beberapa bulan lalu.
"Semua gara-gara kamu!" hardik Aditya keras.
"Dasar kamu ngga bisa bantu suami! Malah nyusahin aja!" lanjut Aditya lagi. Ia berjalan ke arah lemari pakaian yang ada di depannya, lalu mengambil amplop cokelat yang kemarin ditemukan Fitri di bawah tumpukan baju. Benda itu lalu dimasukkan ke dalam saku celananya dan kemudian keluar setelah membanting pintu dengan keras.
Beberapa langkah dari depan pintu, Aditya berhenti lantas menoleh ke arah Fitri duduk.
"Sudah untung kamu kunafkahi rutin, tapi masih nyusahin suami aja kerjaannya! Makanya belajar cari uang sendiri!" hardik Aditya lantang dengan mata penuh kobaran amarah.
Mendengar itu, Fitri hanya mampu menangis sambil memeluk Nisa. Gadis kecilnya itu tengah menangis karena takut dengan amukan Bapaknya. Tak henti Fitri mengusap pucuk kepala Nisa agar ia tenang, tetapi sia-sia. Gadis kecil itu tetap terisak dengan air mata bercucuran.
Melihat kondisi Nisa dalam pelukannya membuat hati Fitri perih bak teriris sembilu. Ia tak sampai hati melihat respon Nisa atas apa yang telah diperbuat Aditya, bapaknya. Yang ia takutkan hanya satu, Nisa trauma dengan lelaki yang seharusnya menjadi cinta pertama seorang putri.
"Sudah, Nak. Jangan bersedih lagi. Ayah sedang khilaf, nanti kalau Ayah sudah nggak marah lagi, pasti jadi baik lagi."
"Nisa takut, Bu," sahut Nisa lirih. Isakan masih mendominasi suaranya.
Fitri kembali memeluk erat putri bungsunya. Gerakan tangannya mengusap-usap lembut punggung Nisa membuat Nisa sedikit lebih tenang, meskipun masih menangis lirih.
"Jangan khawatir, ada Ibu di sini. Kamu jangan takut ya, Nak?"
"Nisa benci sama Ayah, Bu." Wajah Nisa semakin ia tenggelamkan ke dalam pelukan Fitri. Hal itu malah membuat Fitri kembali nelangsa.
"Jangan benci, Nak. Ayah hanya sedang emosi. Maklum ya, Ayah sudah lelah bekerja, tapi Ibu malah tak sengaja membuatnya marah. Ibu yang salah, Nak. Maafkan Ayahmu ya?"
Nisa tak lagi menjawab. Ia hanya menikmati pelukan hangat sang Ibu yang membuatnya nyaman. Fitri pun semakin mendekap erat buah hatinya. Ia menyadari bahwa tak seharusnya anak melihat orangtuanya bertengkar.
"Tidakkah Mas Aditya memberiku kesempatan untuk menjelaskan sebelum mengeluarkan semua amarahnya," batin Fitri dalam hati.
Fitri pun tak bisa menutupi kesedihannya. Bulir-bulir bening itu tak lagi mampu ia tahan. Napas dalam yang sejak tadi ia hembuskan, nyatanya tak mampu membuat air mata itu berhenti mengalir. Fitri kembali kalut karena permasalahan ekonomi yang selalu menjadi pemicu amarah suaminya.
"Nisa di kamar dulu, ya? Ibu mau ke dapur."
Nisa menganggukkan kepalanya. Lantas ia turun dari gendongan Fitri kemudian meraih bantal dan berbaring di atasnya. Guling kesayangan menjadi pengganti tubuh Ibunya yang menghangatkan dan menenangkan. Nisa mendekap erat guling itu sambil menikmati slide demi slide kejadian yang baru saja dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Air mata itu kembali mengalir. Kejadian yang dilihatnya bak paku yang sudah ditancapkan, sekalipun dicabut masih terlihat bekasnya.
"Jangan main dulu ya, Nak? Ibu mau nyiapin makan siang Ayah. Tunggu sampai Ibu kembali," ujar Fitri sebelum kakinya melangkah keluar ruangan.
Tangan Fitri sibuk menyusut air mata yang masih juga belum mampu berhenti dengan sendirinya. Ia tak mau kondisinya dilihat oleh sang Ibu. Fitri tak boleh terlihat lemah. Fitri kuat.
Beruntung kejadian ini terjadi saat adik dan anak sulungnya sedang sekolah. Jadi Fitri tak perlu sibuk mencari alasan atas sikap Aditya yang terlampau kasar padanya.
Namun tidak demikian dengan sang Ibu. Tanpa menjelaskan, sang ibu paham apa yang dialami putrinya. Tak banyak berkata, Bu Rohmah segera memeluk putrinya saat Fitri melintas di depan ruangan khusus yang digunakan untuk menjahit baju-baju pelanggannya.
"Sabar ya, Nduk?" ucap Bu Rohmah saat Fitri sudah berada dalam dekapannya. Ibu yang paham akan kondisi rumah tangga putrinya semakin merasa bersalah atas apa yang terjadi hari ini. Beban yang harus dipikul Fitri sendiri membuatnya turut semangat mengerjakan baju-baju milik pelanggan agar bisa menyumbang untuk membeli kebutuhan hidup bersama-sama.
Setelah dipeluk oleh Bu Rohmah, air mata Fitri tak henti mengalir. Ia merasa malu karena sudah membuat keributan di rumahnya karena sikapnya. Padahal ia tak tahu apapun tentang urusan suaminya.
Aditya cenderung tertutup soal keuangan bengkel maupun pribadinya. Yang Fitri tahu, tiap bulan Aditya rutin memberinya uang belanja bulanan. Itu saja.
"Maafin Fitri ya, Bu. Siang-siang sudah bikin keributan," ujar Fitri penuh rasa bersalah.
"Tak apa, Nak. Dalam rumah tangga, pertengkaran itu lumrah terjadi. Asal dia tidak main tangan dan selingkuh, kamu harus tetap patuh padanya."
"Tapi Fitri lelah, Bu. Seolah Fitri hanya beban untuknya. Padahal Fitri adalah tanggung jawabanya."
"Suamimu sudah lelah mencari uang, wajar jika ia emosi akan satu hal yang tidak sesuai dengan pikirannya," jawab Bu Rohmah yang masih berusaha untuk menjadi penengah.
"Tapi ucapannya seolah Fitri adalah beban untuknya. Fitri mau bekerja saja, Bu. Fitri mau bantu keuangan keluarga. Fitri sudah banyak mengalah, tapi masih salah di mata suami."
"Yang sabar, Nduk. Kalau mau kerja, minta izin suamimu dulu," pinta Bu Rohmah.
"Tanpa minta izin, dari ucapannya sudah menyiratkan sebuah perintah, Bu. Percuma juga minta izin nanti dia marah lagi. Asal Ibu mau bantu Fitri jaga Nisa di rumah saja sudah membuat hati Fitri lega," jelas Fitri.
"Terserah kamu kalau begitu. Kamu yang menjalani, kamu yang tahu mana yang terbaik buat keluargamu," jawab Bu Rohmah akhirnya.
Fitri pun melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan siang buat Aditya. Meskipun hatinya marah, dongkol dan kesal, Fitri berusaha menutup semua rasa itu demi baktinya pada sang suami.
Fitri harus mengalah untuk bertahan demi keutuhan rumah tangganya.
Sebuah rantang makanan kembali ia bawa dengan berjalan kaki menuju bengkel suaminya. Bekas air mata yang membuat wajahnya lembab dan bengkak tak ia pedulikan. Padahal wajah itu sudah sukses membuat siapapun yang melihatnya bertanya-tanya.
Aditya yang menyadari perubahan wajah istrinya hanya mampu memandang dengan hati yang, entahlah. Antara kesal, rasa bersalah bercampur malu.
Aditya lalu meletakkan obeng yang ia gunakan untuk memperbaiki mesin motor pelanggannya. Lelaki seperempat abad lebih itu lantas mengikuti kaki Fitri menuju ruangan tempat ia biasa beristirahat.
"Lelaki tadi mau menagih hutang yang masih belum jatuh tempo." Aditya berusaha menjelaskan perihal kejadian yang tadi terjadi.
Fitri tak menjawab. Rasa kesal dan marahnya masih mendominasi perasaan dalam dirinya.
Aditya meraih kursi yang berada di sebelah Fitri. Ia menikmati gerak lincah Fitri menyiapkan makanan untuk dirinya, sekalipun ia tahu bahwa lagi-lagi ucapannya telah menyakiti hati istrinya.
"Nggak apa-apa. Bukannya aku selalu menjadi pelampiasan amarahmu? Apalagi soal uang. Selalu aku yang salah."
Aditya tak mampu menjawab sebab apa yang diucapkan istrinya itu adalah fakta. Bibirnya kelu hanya sekedar untuk meminta maaf pada pasangan halalnya itu.
Bersambung🌵🌵🌵
Bab 15Suara anak kecil itu membuat dua orang dalam ruang tamu itu sama-sama menoleh. Dahi wanita paruh baya itu mengernyit, menatap tajam anak kecil yang memanggil menantunya dengan sebutan "mama"."Mama, kenapa Mama belum datang?" lirih Hasbi dengan tatapan takut-takut. Ia berjalan pelan menuju tempat di mana Fitri duduk. "Siapa kamu panggil menantu saya mama?" sembur Bu Siti keras. Hasbi mematung di tempatnya. Ia tak berani melangkah mendengar bentakan itu. Dengan sigap Fitri meraih badan Hasbi yang sedang ketakutan itu. Ia tak bisa membiarkan mertuanya berbuat seenaknya pada anak yang akan ia asuh. "Jangan takut ya, Sayang. Ada Mama di sini," jawab Fitri tak lagi peduli pada perempuan paruh baya di depannya. Hasbi mengangguk. Ia lantas kembali menunduk setelah matanya mendapati tatapan wanita paruh baya di depannya. Fitri lantas mendekap erat badan Hasbi. Ia tak tega melihat anak kecil diperlakukan seperti itu oleh ibu mertuanya. "Bu, jangan kasar dengan anak kecil. Dia an
Bab 14Ucapan Fitri itu berhasil mencuri perhatian putri sulungnya. Gadis kecil yang mulai beranjak remaja itu tampak memicingkan matanya."Ayah pergi?" Annida mendekati ibunya."Ayah dan Ibu bertengkar hebat. Maafkan Ibu yang sudah tak mampu bersabar menghadapi ayahmu. Ibu khilaf melawan sehingga ayahmu murka dan pergi meninggalkan kita," jawab Fitri dengan suara bergetar.Annida terdiam. Kepingan kejadian masa lalu yang kerap mengusik hatinya kembali berputar di kepalanya. Suara keras ayahnya yang selalu mengusik kenyamanan rfumah itu samar kembali tedengar di telinganya. "Apa Ayah dan Ibu akan bercerai?" Annida bertanya lirih.Fitri menatap putrinya dengan dahi mengerut. Pertanyaan Annida itu terdengar aneh dan tertinggal di ingatannya. "Bercerai?" batin Fitri bertanya-tanya. Ia bahkan tak berpikir sejauh itu"Ibu tidak tahu. Doakan saja yang tebaik untuk kami.""Kalau gitu Nida juga mau kerja, Bu. Nida mau bantu Ibu," pinta Nida cepat."Tidak, Nak!" sergah Fitri. Ia berjalan mend
Bab 13Fitri terdiam tak sanggup berkata saat tanpa aba-aba bocah kecil yang tadi pagi ditemuinya tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tangannya memeluk kaki Fitri seakan tak ingin jauh lagi."Mama ... Hasbi kangen Mama. Hasbi mau makan kalau sama Mama," rengek Hasbi dengan tangan masih memeluk kaki Fitri erat. Ia menenggelamkan kepalanya diantara dua kaki Fitri."Nak, jangan begitu. Ini Tante Fitri, bukan Mama." Wanita paaruh baya di belakang Hasbi itu tampak sungkan pada Fitri. Ia hendak menarik badan Hasbi tapi bocah itu memeluk kaki Fitri erat. Janganka pergi, mengangkat kepalanya saja ia tak mau."Maaf ya, Nak Fitri. Ibu terpaksa ajak Hasbi ke sini, soalnya dia mogok makan takut besok kamu ngga datang," sambung wanita paruh baya itu dengan tatapan sungkan. Tangannya masih berusaha menarik badan Hasbi, tapi tak bisa.Fitri mengangguk paham. "Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya besok janji akan datang." Ia berusaha memaklumi. Selain butuh kerjaan, ia juga tak tega melihat Hasbi seperti itu.
Bab 12"Aku tuh nggak bisa belikan ibuku perhiasan, minimal jangan menjualnya!" Lagi Fitri menjadi sasaran amarah sang suami. "Lalu?" Fitri menyahut dengan cepat. Matanya menatap wajah lelaki di depannya dengan pandangan penuh emosi."Ya kembalikan!!" bentak Aditya lagi, tak peduli pada wajah Fitri yang sudah merah.Fitri terdiam sejenak. Ia berusaha mengatur napasnya agar bisa mengeluarkan semua beban yang mengganjal hati."Mas, aku sudah baik selama ini sama kamu tapi kamu selalu saja bentak-bentak aku!! Aku minta uang belanja tambahan kamu ngga mau kasih tapi sekarang kamu sok ngga mau ngerepotin ibumu!! Maumu apa? Aku nikah sama kamu bukannya seneng malah menderita!! Aku capek, Mas! Aku capek!" sembur Fitri yang tak lagi bisa menahan sesak di dadanya.Air mata Fitri sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia tak sanggup lagi menahan rasa nyeri yang tiap hari bukannya sembuh tapi malah semakin dalam lukanya.Aditya bangkit dari duduknya. Matanya nyalang menatap wanita yang sedang ber
Suamiku Pelit 11Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Aditya. Tetapi ia tak sempat membukanya karena pekerjaan yang masih menumpuk, juga tangan yang masih berbalut kotoran perbengkelan. Aditya sibuk dengan pekerjaannya hari itu. Beruntung Fitri datang tepat waktu sehingga Aditya tak harus telat makan karena tak sempat melihat jam dinding. Dengan lincah Fitri menyiapkan makanan di atas meja seperti biasanya. Hingga saat ia telah selesai menyiapkan nasi dan lauk, Aditya juga telah selesai mencuci tangannya. Sebelum makan, Aditya menyempatkan diri melihat ponselnya terlebih dahulu. Ia berjalam menuju tas kecil yang ia letakkan di atas rak. Mata Aditya memicing melihat sebuah gambar yang menurutnya sedikit berlebihan. Mata itu lantas beralih ke wajah ayu di depannya yang juga tengah sibuk mengamati aktivitas Aditya. "Ada apa, Mas?" tanya Fitri tak biasa. Jarang Aditya memandang dirinya dengan tatapan yang demikian. Entah itu tatapan amarah atau tatapan cemburu. "Kamu habis dari mana?"
Ketika Suamiku Berubah Pelit 10"Kamu yakin?" tanya Bu Amiinah. Ia menatap Fitri dengan tatapan dalam setelah mengusap air matanya. "Saya sedang butuh pekerjaan, Bu. Jika berkenan saya bisa menemani Hasbi setiap hari sambil mengasuhnya," jelas Fitri lagi. Ia berusaha meyakinkan dua orang di depannya agar mau menerimanya bekerja. "Bagaimana Tsar?" tanya Bu Amiinah pada putra pertamanya. "Terserah Mama saja. Kautsar menurut saja asal Hasbi senang." Kautsar menatap Bu Amiinah pasrah. Ia sudah lelah menghadapi sikap Hasbi yang selalu merengek mencari mamanya.Kautsar mengusap wajahnya kasar. Sejenak ia menatap Fitri dalam-dalam. Ada debaran halus yang ia rasakan kala menatap perempuan sederhana di hadapannya itu. Sedetik kemudian Kautsar sadar bahwa wajah ayu yang dipandangnya itu bukan yang halal untuknya. Ia mengusap wajahnya kasar. Sedang yang dipandang masih sibuk dengan darah dagingnya. Kautsar makin tertarik kala melihat sikap Fitri yang penuh kasih sayang pada putranya itu. Ka







