LOGINFitri lelah selalu mengalah ketika meminta tambahan yang belanja pada Adit hingga satu bentakan Adit membuat tekadnya bulat untuk bisa punya penghasilan sendiri. Tetapi setelah Fitri memiliki penghasilan sendiri sikap Adit semakin terlihat tidak jelas, ada apa sebenarnya?
View MoreBab 15Suara anak kecil itu membuat dua orang dalam ruang tamu itu sama-sama menoleh. Dahi wanita paruh baya itu mengernyit, menatap tajam anak kecil yang memanggil menantunya dengan sebutan "mama"."Mama, kenapa Mama belum datang?" lirih Hasbi dengan tatapan takut-takut. Ia berjalan pelan menuju tempat di mana Fitri duduk. "Siapa kamu panggil menantu saya mama?" sembur Bu Siti keras. Hasbi mematung di tempatnya. Ia tak berani melangkah mendengar bentakan itu. Dengan sigap Fitri meraih badan Hasbi yang sedang ketakutan itu. Ia tak bisa membiarkan mertuanya berbuat seenaknya pada anak yang akan ia asuh. "Jangan takut ya, Sayang. Ada Mama di sini," jawab Fitri tak lagi peduli pada perempuan paruh baya di depannya. Hasbi mengangguk. Ia lantas kembali menunduk setelah matanya mendapati tatapan wanita paruh baya di depannya. Fitri lantas mendekap erat badan Hasbi. Ia tak tega melihat anak kecil diperlakukan seperti itu oleh ibu mertuanya. "Bu, jangan kasar dengan anak kecil. Dia an
Bab 14Ucapan Fitri itu berhasil mencuri perhatian putri sulungnya. Gadis kecil yang mulai beranjak remaja itu tampak memicingkan matanya."Ayah pergi?" Annida mendekati ibunya."Ayah dan Ibu bertengkar hebat. Maafkan Ibu yang sudah tak mampu bersabar menghadapi ayahmu. Ibu khilaf melawan sehingga ayahmu murka dan pergi meninggalkan kita," jawab Fitri dengan suara bergetar.Annida terdiam. Kepingan kejadian masa lalu yang kerap mengusik hatinya kembali berputar di kepalanya. Suara keras ayahnya yang selalu mengusik kenyamanan rfumah itu samar kembali tedengar di telinganya. "Apa Ayah dan Ibu akan bercerai?" Annida bertanya lirih.Fitri menatap putrinya dengan dahi mengerut. Pertanyaan Annida itu terdengar aneh dan tertinggal di ingatannya. "Bercerai?" batin Fitri bertanya-tanya. Ia bahkan tak berpikir sejauh itu"Ibu tidak tahu. Doakan saja yang tebaik untuk kami.""Kalau gitu Nida juga mau kerja, Bu. Nida mau bantu Ibu," pinta Nida cepat."Tidak, Nak!" sergah Fitri. Ia berjalan mend
Bab 13Fitri terdiam tak sanggup berkata saat tanpa aba-aba bocah kecil yang tadi pagi ditemuinya tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tangannya memeluk kaki Fitri seakan tak ingin jauh lagi."Mama ... Hasbi kangen Mama. Hasbi mau makan kalau sama Mama," rengek Hasbi dengan tangan masih memeluk kaki Fitri erat. Ia menenggelamkan kepalanya diantara dua kaki Fitri."Nak, jangan begitu. Ini Tante Fitri, bukan Mama." Wanita paaruh baya di belakang Hasbi itu tampak sungkan pada Fitri. Ia hendak menarik badan Hasbi tapi bocah itu memeluk kaki Fitri erat. Janganka pergi, mengangkat kepalanya saja ia tak mau."Maaf ya, Nak Fitri. Ibu terpaksa ajak Hasbi ke sini, soalnya dia mogok makan takut besok kamu ngga datang," sambung wanita paruh baya itu dengan tatapan sungkan. Tangannya masih berusaha menarik badan Hasbi, tapi tak bisa.Fitri mengangguk paham. "Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya besok janji akan datang." Ia berusaha memaklumi. Selain butuh kerjaan, ia juga tak tega melihat Hasbi seperti itu.
Bab 12"Aku tuh nggak bisa belikan ibuku perhiasan, minimal jangan menjualnya!" Lagi Fitri menjadi sasaran amarah sang suami. "Lalu?" Fitri menyahut dengan cepat. Matanya menatap wajah lelaki di depannya dengan pandangan penuh emosi."Ya kembalikan!!" bentak Aditya lagi, tak peduli pada wajah Fitri yang sudah merah.Fitri terdiam sejenak. Ia berusaha mengatur napasnya agar bisa mengeluarkan semua beban yang mengganjal hati."Mas, aku sudah baik selama ini sama kamu tapi kamu selalu saja bentak-bentak aku!! Aku minta uang belanja tambahan kamu ngga mau kasih tapi sekarang kamu sok ngga mau ngerepotin ibumu!! Maumu apa? Aku nikah sama kamu bukannya seneng malah menderita!! Aku capek, Mas! Aku capek!" sembur Fitri yang tak lagi bisa menahan sesak di dadanya.Air mata Fitri sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia tak sanggup lagi menahan rasa nyeri yang tiap hari bukannya sembuh tapi malah semakin dalam lukanya.Aditya bangkit dari duduknya. Matanya nyalang menatap wanita yang sedang ber
Suamiku Pelit 11Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Aditya. Tetapi ia tak sempat membukanya karena pekerjaan yang masih menumpuk, juga tangan yang masih berbalut kotoran perbengkelan. Aditya sibuk dengan pekerjaannya hari itu. Beruntung Fitri datang tepat waktu sehingga Aditya tak harus telat makan k
Ketika Suamiku Berubah Pelit 10"Kamu yakin?" tanya Bu Amiinah. Ia menatap Fitri dengan tatapan dalam setelah mengusap air matanya. "Saya sedang butuh pekerjaan, Bu. Jika berkenan saya bisa menemani Hasbi setiap hari sambil mengasuhnya," jelas Fitri lagi. Ia berusaha meyakinkan dua orang di depannya
Ketika Suamiku Berubah Pelit 9 "Nak, itu bukan mama," sahut perempuan paruh baya dengan rambut tersanggul rapi. Tangannya berusaha melerai pelukan jagoan kecil yang sudah mendekap erat pinggang Fitri yang ramping. Namanya Amiinah. Fitri terenyuh melihat tingkah bocah cilik yang tanpa aba-aba itu. I












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews