Share

Bab 13

Author: Safiiaa
last update Last Updated: 2025-09-02 20:59:37

Bab 13

Fitri terdiam tak sanggup berkata saat tanpa aba-aba bocah kecil yang tadi pagi ditemuinya tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tangannya memeluk kaki Fitri seakan tak ingin jauh lagi.

"Mama ... Hasbi kangen Mama. Hasbi mau makan kalau sama Mama," rengek Hasbi dengan tangan masih memeluk kaki Fitri erat. Ia menenggelamkan kepalanya diantara dua kaki Fitri.

"Nak, jangan begitu. Ini Tante Fitri, bukan Mama." Wanita paaruh baya di belakang Hasbi itu tampak sungkan pada Fitri. Ia hendak menarik badan Hasbi tapi bocah itu memeluk kaki Fitri erat. Janganka pergi, mengangkat kepalanya saja ia tak mau.

"Maaf ya, Nak Fitri. Ibu terpaksa ajak Hasbi ke sini, soalnya dia mogok makan takut besok kamu ngga datang," sambung wanita paruh baya itu dengan tatapan sungkan. Tangannya masih berusaha menarik badan Hasbi, tapi tak bisa.

Fitri mengangguk paham. "Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya besok janji akan datang." Ia berusaha memaklumi. Selain butuh kerjaan, ia juga tak tega melihat Hasbi seperti itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Suamiku Berubah Pelit   Bab 15

    Bab 15Suara anak kecil itu membuat dua orang dalam ruang tamu itu sama-sama menoleh. Dahi wanita paruh baya itu mengernyit, menatap tajam anak kecil yang memanggil menantunya dengan sebutan "mama"."Mama, kenapa Mama belum datang?" lirih Hasbi dengan tatapan takut-takut. Ia berjalan pelan menuju tempat di mana Fitri duduk. "Siapa kamu panggil menantu saya mama?" sembur Bu Siti keras. Hasbi mematung di tempatnya. Ia tak berani melangkah mendengar bentakan itu. Dengan sigap Fitri meraih badan Hasbi yang sedang ketakutan itu. Ia tak bisa membiarkan mertuanya berbuat seenaknya pada anak yang akan ia asuh. "Jangan takut ya, Sayang. Ada Mama di sini," jawab Fitri tak lagi peduli pada perempuan paruh baya di depannya. Hasbi mengangguk. Ia lantas kembali menunduk setelah matanya mendapati tatapan wanita paruh baya di depannya. Fitri lantas mendekap erat badan Hasbi. Ia tak tega melihat anak kecil diperlakukan seperti itu oleh ibu mertuanya. "Bu, jangan kasar dengan anak kecil. Dia an

  • Ketika Suamiku Berubah Pelit   Bab 14

    Bab 14Ucapan Fitri itu berhasil mencuri perhatian putri sulungnya. Gadis kecil yang mulai beranjak remaja itu tampak memicingkan matanya."Ayah pergi?" Annida mendekati ibunya."Ayah dan Ibu bertengkar hebat. Maafkan Ibu yang sudah tak mampu bersabar menghadapi ayahmu. Ibu khilaf melawan sehingga ayahmu murka dan pergi meninggalkan kita," jawab Fitri dengan suara bergetar.Annida terdiam. Kepingan kejadian masa lalu yang kerap mengusik hatinya kembali berputar di kepalanya. Suara keras ayahnya yang selalu mengusik kenyamanan rfumah itu samar kembali tedengar di telinganya. "Apa Ayah dan Ibu akan bercerai?" Annida bertanya lirih.Fitri menatap putrinya dengan dahi mengerut. Pertanyaan Annida itu terdengar aneh dan tertinggal di ingatannya. "Bercerai?" batin Fitri bertanya-tanya. Ia bahkan tak berpikir sejauh itu"Ibu tidak tahu. Doakan saja yang tebaik untuk kami.""Kalau gitu Nida juga mau kerja, Bu. Nida mau bantu Ibu," pinta Nida cepat."Tidak, Nak!" sergah Fitri. Ia berjalan mend

  • Ketika Suamiku Berubah Pelit   Bab 13

    Bab 13Fitri terdiam tak sanggup berkata saat tanpa aba-aba bocah kecil yang tadi pagi ditemuinya tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tangannya memeluk kaki Fitri seakan tak ingin jauh lagi."Mama ... Hasbi kangen Mama. Hasbi mau makan kalau sama Mama," rengek Hasbi dengan tangan masih memeluk kaki Fitri erat. Ia menenggelamkan kepalanya diantara dua kaki Fitri."Nak, jangan begitu. Ini Tante Fitri, bukan Mama." Wanita paaruh baya di belakang Hasbi itu tampak sungkan pada Fitri. Ia hendak menarik badan Hasbi tapi bocah itu memeluk kaki Fitri erat. Janganka pergi, mengangkat kepalanya saja ia tak mau."Maaf ya, Nak Fitri. Ibu terpaksa ajak Hasbi ke sini, soalnya dia mogok makan takut besok kamu ngga datang," sambung wanita paruh baya itu dengan tatapan sungkan. Tangannya masih berusaha menarik badan Hasbi, tapi tak bisa.Fitri mengangguk paham. "Iya, Bu. Tidak apa-apa. Saya besok janji akan datang." Ia berusaha memaklumi. Selain butuh kerjaan, ia juga tak tega melihat Hasbi seperti itu.

  • Ketika Suamiku Berubah Pelit   Bab 12

    Bab 12"Aku tuh nggak bisa belikan ibuku perhiasan, minimal jangan menjualnya!" Lagi Fitri menjadi sasaran amarah sang suami. "Lalu?" Fitri menyahut dengan cepat. Matanya menatap wajah lelaki di depannya dengan pandangan penuh emosi."Ya kembalikan!!" bentak Aditya lagi, tak peduli pada wajah Fitri yang sudah merah.Fitri terdiam sejenak. Ia berusaha mengatur napasnya agar bisa mengeluarkan semua beban yang mengganjal hati."Mas, aku sudah baik selama ini sama kamu tapi kamu selalu saja bentak-bentak aku!! Aku minta uang belanja tambahan kamu ngga mau kasih tapi sekarang kamu sok ngga mau ngerepotin ibumu!! Maumu apa? Aku nikah sama kamu bukannya seneng malah menderita!! Aku capek, Mas! Aku capek!" sembur Fitri yang tak lagi bisa menahan sesak di dadanya.Air mata Fitri sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia tak sanggup lagi menahan rasa nyeri yang tiap hari bukannya sembuh tapi malah semakin dalam lukanya.Aditya bangkit dari duduknya. Matanya nyalang menatap wanita yang sedang ber

  • Ketika Suamiku Berubah Pelit   Bab 11

    Suamiku Pelit 11Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Aditya. Tetapi ia tak sempat membukanya karena pekerjaan yang masih menumpuk, juga tangan yang masih berbalut kotoran perbengkelan. Aditya sibuk dengan pekerjaannya hari itu. Beruntung Fitri datang tepat waktu sehingga Aditya tak harus telat makan karena tak sempat melihat jam dinding. Dengan lincah Fitri menyiapkan makanan di atas meja seperti biasanya. Hingga saat ia telah selesai menyiapkan nasi dan lauk, Aditya juga telah selesai mencuci tangannya. Sebelum makan, Aditya menyempatkan diri melihat ponselnya terlebih dahulu. Ia berjalam menuju tas kecil yang ia letakkan di atas rak. Mata Aditya memicing melihat sebuah gambar yang menurutnya sedikit berlebihan. Mata itu lantas beralih ke wajah ayu di depannya yang juga tengah sibuk mengamati aktivitas Aditya. "Ada apa, Mas?" tanya Fitri tak biasa. Jarang Aditya memandang dirinya dengan tatapan yang demikian. Entah itu tatapan amarah atau tatapan cemburu. "Kamu habis dari mana?"

  • Ketika Suamiku Berubah Pelit   Bab 10

    Ketika Suamiku Berubah Pelit 10"Kamu yakin?" tanya Bu Amiinah. Ia menatap Fitri dengan tatapan dalam setelah mengusap air matanya. "Saya sedang butuh pekerjaan, Bu. Jika berkenan saya bisa menemani Hasbi setiap hari sambil mengasuhnya," jelas Fitri lagi. Ia berusaha meyakinkan dua orang di depannya agar mau menerimanya bekerja. "Bagaimana Tsar?" tanya Bu Amiinah pada putra pertamanya. "Terserah Mama saja. Kautsar menurut saja asal Hasbi senang." Kautsar menatap Bu Amiinah pasrah. Ia sudah lelah menghadapi sikap Hasbi yang selalu merengek mencari mamanya.Kautsar mengusap wajahnya kasar. Sejenak ia menatap Fitri dalam-dalam. Ada debaran halus yang ia rasakan kala menatap perempuan sederhana di hadapannya itu. Sedetik kemudian Kautsar sadar bahwa wajah ayu yang dipandangnya itu bukan yang halal untuknya. Ia mengusap wajahnya kasar. Sedang yang dipandang masih sibuk dengan darah dagingnya. Kautsar makin tertarik kala melihat sikap Fitri yang penuh kasih sayang pada putranya itu. Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status