LOGINPOV Anita. Aku tersenyum simpul saat masuk ke dalam mobil baru. Ya, meski tidak benar-benar baru, tapi ini setidaknya kendaraan yang dibeli Bude Nurmala yang kini resmi menjadi mertuaku. Bahkan, kendaraan ini atas namaku sendiri.Hal yang tidak pernah disangka oleh Ica.Aku mengelus dashboard mobil dengan lembut, seolah sedang menyentuh harta paling berharga. STNK yang tergeletak di depan mata itu bertuliskan namaku. Anita Al Birru. Aku jadi punya ide. Sepertinya asyik kalau ngerjain Ica."Kamu lagi ngelamun apa, Sayang?" Suara Mas Al membuatku menoleh ke arahnya.Aku bergelayut manja di pundaknya, sementara ia yang sedang fokus menyetir ke arah jalan, sesekali menoleh ke arahku."Terima kasih banyak, Sayang. Akhirnya aku bisa punya mobil sendiri.""Jangan terima kasih padaku, tapi pada Ibu yang selalu menyayangi kamu, Sayang." Mas Al tersenyum manis."Itu sudah pasti, Mas. Aku bersyukur banget punya mertua yang sangat menyayangi bahkan menganggapku anak sendiri."Mas Al mengangguk.
“Apa yang bisa aku bantu, Mbak?” Sepupu Al menjawab suara berat tapi antusias, di ujung sana."Rio, tolong cek dari mana sumber keuangan Mas Al hingga bisa membeli mobil cash hanya dengan menggesek ATM.”“Bukankah suami Mbak Ica itu pengusaha fashion yang cukup sukses.” Rio tertawa kecil.“Tidak sesukses yang kamu pikir.” Aku ikut tertawa. “Sepengetahuanku, seluruh sumber keuangannya sudah aku pegang. Bahkan, gajinya hanya sepuluh juta per bulan. Jadi, dari mana dia dapat uang sebanyak itu?""Siap, Mbak Ica. Aku akan cari tahu."Aku menutup telepon dengan napas yang tertahan. Rio adalah sepupu Al dari jalur ayahnya. Tapi, aku tidak segan meminta bantuannya untuk menyelidiki lelaki yang masih bergelar suamiku. Karena Rio punya dendam tersendiri pada Al. Rio baru pulang dari Jepang, sebagai TKI. Tiga hari lalu, kami bertemu secara tidak sengaja di mall. Tiga hari lalu, aku yang baru selesai berbelanja bersama Nadira di pusat kota berjalan menuju food court di lantai dua. Mataku m
"Ini apa, kenapa kamu kasih aku ponsel jadul ini?" Al menelisik gawai hitam yang kini ada di tangannya. Ibu jarinya mengusap-usap layar kecil ponsel itu dengan bingung. Al tidak menyangka, singgahnya ke kediaman Anita kali ini justru diberi ponsel jadul. "Ini alat untuk komunikasi kita saat ini." Anita bersandar di sofa, kaki kanannya disilangkan di atas kaki kiri. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak mencapai matanya.Al mengerutkan kening mendengar suara Anita. Ia memutar-mutar ponsel itu di tangannya, lalu melemparkannya ke pangkuan sendiri dengan kesal."Hai, ini sudah zaman modern, kita punya alat komunikasi yang canggih. Kenapa kamu justru ingin mundur ke belasan tahun silam?" tangannya menggelepar di udara.Anita tertawa kecil. Ia mencondongkan tubuh ke depan, siku tangannya bertumpu di lutut."Justru yang canggih itu rawan disadap, Mas. Apa kamu nggak merasa aneh dengan Ica akhir-akhir ini?"Al terdiam sejenak. Jemarinya yang tadinya gelisah kini berhenti
“Gimana, Mbak? Kapan Mas Al akan mengantarkan mobilnya ke sini, Mbak?” Devi menatapku dengan penuh harap.Aku menggeleng. Devi mengerutkan kening. “Mas Al bilang mobilnya belum selesai, masih ada beberapa hal lagi yang harus dibereskan.”“Dan kamu percaya begitu saja, Mbak?”Devi menatapku dengan wajah serius.Aku tersenyum tipis sambil menggeleng.“Kakakmu tidak sebodoh itu, Dev! Belum selesai itu hanya alasan Mas Al. Masalah yang sesungguhnya adalah dia tidak berani melawan Ica, istrinya yang sok berkuasa itu.” Mahasiswi semester empat itu menjentikkan jarinya. “Aku percaya, Mbakku tidak senaif itu.” “Kalau aku senaif yang kamu bayangkan, tidak mungkin ada benda itu, Devi!” Jari telunjukku mengarah pada ponsel jadul yang tergeletak di atas meja makan kami. “Tapi, kenapa kemarin waktu dipermalukan di depan umum. Kelihatan seperti ayam takutnya?”“Karena aku hanya pura-pura, tapi tenang bukan karena lemah hanya sedang mencari celah. Devi manggut-manggut sambil mengangkat k
Aku menghempaskan tubuh ke kursi sofa ruang tengah dengan kasar. Kepalaku penat. Sekali lagi, penat.Sejak pagi tadi, aku berhadapan dengan Ica yang seperti orang gila. Tiba-tiba melarang membawa mobil. Tiba-tiba main rental mobil. Bahkan mengancam akan menghentikan desain terbaru. Yang lebih parah lagi, mengancam akan bekerja di perusahaan orang lain hanya gara-gara aku melarangnya mengambil mobil SUV yang akan kuberikan pada Anita. Entah kenapa, makin ke sini gaya bicara Ica seolah-olah sedang memegang kendali atas hidupku. Padahal, aku suaminya. Kepala keluarganya. Pemilik butik Alica. Tapi kenapa hari ini aku merasa seperti tikus yang terjebak?Ponselku bergetar di saku celana. Nama Anita tertera di layar. Aku menghela napas panjang sebelum mengangkatnya."Halo, Sayang," jawabku, berusaha terdengar ceria."Mas, gimana mobilnya? Aku sudah nggak sabar mau latihan nyetir." Suara Anita terdengar riang di seberang sana.Aku menelan ludah. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasany
“Hari ini aku butuh mobil, Mas. Kamu bawa motor aja,” ucap sebelum Mas Al melangkah meninggalkan kamar.Dia yang hendak menarik handle pintu kamar berhenti.“Kenapa, mau ke mana kamu? Kamu saja yang naik motor. Aku butuh mobil hari ini. Kalau nggak mau bawa motor, nggak usah pergi. Aku menarik napas dalam-dalam sambil mengepalkan tangan. Mata ini menatap punggungnya yang membelakangiku dengan darah yang mendidih. Sepagi ini sudah dibuat emosi oleh orang yang tidak tahu diri. “Aku ada perlu, perginya ngajak Nadira. Lagian, kenapa nggak kamu sendiri yang naik motor? Mobil itu milikku, kamu cuman pinjem, Mas. Tapi, kenapa kamu jadikan aku seperti pengemis? Padahal mobil itu aku beli sebelum menikah dan menggunakan uangku sendiri.” Dia membalikkan badan, menatapku dengan tajam. “Kenapa kamu seperhitungan itu padaku, Ca? Kenapa?” Suaranya naik beberapa oktaf. Karena kamu, tidak layak diberikan apa pun lagi dari aku, Mas. “Terserah kamu mau beranggapan apa, Mas, yang pasti aku mema







