로그인Namun bagi Daisy, mengetahui bahwa dia bisa menikmati dua pesta besar dan dua kue ulang tahun jelas merupakan keuntungan besar.Kuenya juga tidak besar, hanya berukuran empat inci. Mereka masing-masing menyuap beberapa sendok, lalu tak lama kemudian kue itu pun habis.Saat memakannya, Lunara merasa rasanya agak aneh. Bagian bolunya juga sedikit terlalu matang. Dia mengernyit, lalu bertanya, "Kamu yang buat ya?"Raut wajah Kayden langsung menunjukkan sedikit ketegangan yang terlihat jelas. "Nggak enak?"Kue itu sangat sederhana, tanpa hiasan atau dekorasi krim apa pun. Di atas kue putih polos hanya ada beberapa buah stroberi dan taburan bubuk kakao.Awalnya Lunara tidak menyadari bahwa itu buatan Kayden. Setelah mencicipinya, dia menyadari bahwa ternyata kue ulang tahun pun telah dipersiapkan sendiri oleh Kayden jauh-jauh hari.Dalam sekejap, hatinya terasa dipenuhi oleh perasaan lembut dan manis. Hati manusia bagaikan sebuah wadah. Ketika wadah itu dipenuhi krim manis, yang tersisa di
Setelah memilih gaun pengantin dan menentukan riasan yang akan digunakan pada hari pernikahan, tanpa terasa hari sudah larut.Saat mereka keluar sambil menggendong Daisy, langit di luar sudah mulai gelap.Lunara mengedipkan mata. "Mau makan apa?"Demi terlihat bagus saat mencoba gaun, Lunara bahkan tidak makan siang. Dia hanya meminta manajer memesan makanan untuk Kayden dan Daisy.Karena Lunara tidak makan, Kayden pun hanya makan beberapa suap."Makan di rumah saja."Lunara menyahut, "Makan di rumah? Memangnya kamu belum bosan sama masakan rumah?""Nanti setelah sampai, kamu akan tahu."Begitu kembali ke vila kecil dan tidak melihat Neti di mana-mana, Lunara sedikit terkejut. Kemudian, dia melihat Kayden berganti pakaian, masuk ke dapur dengan gerakan yang tenang dan terampil, bahkan mengenakan celemek.Semua bahan masakan di dapur sudah disiapkan. Tinggal menunggu mereka pulang untuk dimasak.Namun, Kayden tidak langsung bergerak. Dia terlebih dahulu meninjau semua bahan itu dalam be
Kayden mengoreksinya, "Bukan karena banyak akal. Aku buat postingan itu karena terlalu kesal dan tersiksa gara-gara kamu. Setelah itu aku sendiri lupa hapus.""Bukan juga karena gengsiku besar. Kamu juga tahu bagian tubuhku yang mana yang paling besar dan keras ...."Lunara terdiam, lalu berdeham pelan. "Waktu itu aku hubungi Theron cuma untuk minta dia bantu kirim dokumen. Nggak ada urusan lain."Lunara mengulurkan tangan dan mengusap pipi Kayden. "Kayden, sejak usia 17 tahun, orang yang paling kusukai dan paling kubenci cuma kamu seorang."Kayden langsung menatapnya. Lunara juga menatapnya. Sebagian kegelisahan yang selama ini tersimpan di hatinya pun lenyap begitu saja karena postingan itu.Dari sudut pandang orang luar, dia akhirnya melihat kebingungan, keterbatasan, kepedihan, dan penderitaan yang pernah dialami Kayden saat itu.Ternyata waktu itu Kayden sama seperti dirinya. Bahkan lebih parah darinya. Bukan hanya Lunara, siapa pun yang pernah membaca postingan itu pasti bisa mel
Gadis itu mencari cukup lama, baru menemukan sebuah postingan dari sebuah folder.[ Pacarku memutuskan hubungan secara tiba-tiba. Haruskah aku membencinya? ]Bulu mata panjang Lunara bergetar pelan. Waktu postingan itu dibuat memang tepat setelah mereka putus dulu. Postingan itu sangat populer.Saat dibuka, isinya berasal dari sebuah akun anonim.[ Pacarku tiba-tiba pergi ke luar negeri dan memutuskan hubungan denganku. Aku sempat mengira terjadi sesuatu padanya. Tapi ternyata dia masih berhubungan dengan teman sekamarku untuk main gim. Dia hanya mengabaikanku. ]Kolom komentar di bawahnya dipenuhi makian kepada sang pacar. Pemilik postingan membalas salah satu komentar.[ Kalian bahkan nggak kenal dia. Atas dasar apa kalian maki dia? ]Jawaban itu membuat para mahasiswa lain kebingungan. Ada yang berkomentar bahwa pacarnya memang sudah tidak menyukainya, kalau tidak mana mungkin memutuskan hubungan secara mendadak.Kayden pun membalas.[ Nggak mungkin. Dia bilang mencintaiku setiap ha
Kayden sendiri belum sempat berganti pakaian.Ini adalah pertama kalinya Lunara mengenakan gaun pengantin. Sebelumnya dia memang pernah memakai gaun-gaun formal yang serupa, tetapi mungkin karena suasana dan maknanya berbeda, gaun yang sedang dikenakannya terasa memiliki makna yang jauh lebih besar.Kayden menggendong Daisy dan berdiri mematung di tempat.Rambut Lunara disanggul sederhana. Gaun mermaid tanpa tali itu membalut tubuhnya dengan sempurna. Setiap bagian terasa pas di tempat yang semestinya.Cahaya lampu di atas kepala membuat berlian-berlian pada ujung gaunnya berkilauan, tetapi kilaunya tetap tidak mampu menandingi pesona dirinya.Kayden membungkuk dan menurunkan Daisy. Gadis kecil itu langsung berlari menghampiri Lunara sambil memamerkan gaun biru mengembang yang dikenakannya. Rok gaun itu dipenuhi kupu-kupu bordir dan taburan kristal."Mama, lihat aku! Aku pakai gaun yang serasi sama Mama!""Cantik sekali. Daisy memang tuan putri Mama."Daisy segera menggeleng dan mengay
Jumat itu, matahari bersinar cerah dan suhunya terasa nyaman. Sinar matahari dari luar jendela menembus tirai tipis dan menyinari ruangan, membentuk bayangan bunga yang samar dan berlapis-lapis. Penuh nuansa yang ambigu.Angin sepoi-sepoi menggerakkan tirai dan menyapu pipi Lunara yang memerah. Pria di belakangnya seolah tidak mengenal lelah, bersikeras membuatnya menempel pada kaca jendela.Motif pada tirai menggesek kulit wajahnya hingga terasa perih. Namun, dia tidak bisa melepaskan diri dari gelombang perasaan yang datang silih berganti dan hanya bisa terus menghadapinya.Dalam kesadaran yang sedikit kabur, Lunara tiba-tiba teringat obrolannya dengan Eirene beberapa hari lalu.Saat itu, dia mengatakan bahwa Kayden lebih bertenaga dibanding dulu, padahal itu masih termasuk pernyataan yang cukup konservatif.Mungkin karena beberapa tahun tinggal di luar negeri dan terpengaruh berbagai budaya yang aneh, caranya kini menjadi makin menantang, membuat Lunara menyukai sekaligus membenciny







