LOGINSilvar lebih tinggi dari Alfie.Mendengar ucapan Alfie, Silvar langsung melepaskan tangan Alfie ke samping, lalu menarik Elina yang masih terpaku dan melindunginya di belakang."Alfie, aku masih ingat waktu kamu memohon sama ayahku untuk investasi seperti anjing. Kamu sendiri sudah lupa? Hotel Internasional Lumino, Pak Alfie benar-benar nggak ingat sama sekali, ya."Keluarga Rasputi punya pengaruh besar di bidang kuliner. Mereka juga salah satu raksasa terkenal di industri film dan hiburan. Hanya saja, Silvar biasanya tidak terlalu peduli dengan urusan keluarga.Kalau benar-benar dibandingkan, status Keluarga Rasputi dan Keluarga Narasoma berada di level yang sama. Sedangkan Keluarga Sankara, hanya bisa memandang ke atas.Di mata Silvar, Keluarga Sankara hanyalah keluarga kaya baru yang baru naik daun beberapa tahun ini dan masih belum memiliki fondasi yang kuat.Begitu ada masalah, yang dilakukan hanya menekan anak perempuan di rumah untuk maju menyelesaikan masalah, benar-benar tidak
Silvar menginjak pedal gas dengan kuat. Rahangnya tampak menegang, matanya menatap tajam lampu lalu lintas di depan. Di ponselnya, panggilan terus dilakukan tanpa henti. Berapa kali pun dia menelepon, semuanya seperti tenggelam tanpa jejak.Tidak ada yang menjawab.Silvar mengembuskan napas panjang. Biasanya dia terlihat santai dan mudah diajak bicara, tapi saat ini malah terlihat keras kepala.Entah karena ponsel Elina diambil oleh orang Keluarga Sankara sehingga dia tidak bisa menjawab, atau memang Elina tidak ingin mengangkat teleponnya.Mobil berhenti di luar kediaman Keluarga Sankara. Di depan rumah itu ada deretan pohon. Di bawah pohon-pohon tinggi itu, cahaya lampu jalan tampak redup. Mobil sport biru terparkir di pinggir jalan tanpa ada yang menyadarinya.Di bawah pohon, seorang pria menarik tangan Elina dengan sikap tegas."Elina, kamu kerja di Grup Narasoma, masa nggak tahu sama sekali soal Martin?"Elina menggigit bibirnya sambil menatap Alfie. "Kak, waktu aku masuk, Grup Na
Lunara mengangguk. "Benar juga, pilihanmu selalu terlalu gaya pria. Jadi aku saja yang cari. Kak Gaia, ada rekomendasi brand nggak?"Tanpa perlu bertanya lebih jauh, Gaia dan Eirene sudah mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Sekarang Gaia malah ingin menangis. Dia menarik Lunara ke samping."Itu ... omonganku yang dulu itu cuma asal-asalan. Jangan kamu masukkan ke hati ya ...."Biasanya dia memang sering asal bicara. Kalau sampai Lunara menyampaikannya ke Kayden, besok dia mungkin bisa dipecat dengan alasan yang paling konyol.Sekarang Gaia benar-benar ingin menampar dirinya sendiri.'Mulut sialan. Kenapa harus asal ngomong?'Lunara tersenyum pelan, "Tenang saja, aku nggak akan bilang ke dia."Sebenarnya, Kayden juga tidak tertarik dengan apa yang mereka bicarakan secara pribadi.Waktu itu dia sudah bilang kalau dia dan Kayden sudah menikah, tapi Gaia dan Eirene sama sekali tidak percaya. Lunara juga tidak pernah berniat menyembunyikannya.Gaia akhirnya menghela napas lega.Setela
Gaia mendengus sejenak. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh pinggang Lunara, lalu mengangkat alisnya. "Tunggu dulu, masih ada hal yang kamu sembunyikan dari kami nggak?"Dia bahkan takut kalau lain kali Lunara mengatakan sesuatu, dia dan Eirene bisa kaget sampai pingsan duluan.Mata Lunara dipenuhi senyuman. Dia mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin di jarinya."Kira-kira bulan Mei tahun depan, aku undang kalian ke pernikahanku. Nggak perlu kasih hadiah, datang makan saja sudah cukup."Melihat cincin di jari Lunara, Gaia berkata, "Berlian ini kelihatannya kecil ya, suamimu agak pelit.""Ini aku beli sendiri, sudah tiga atau empat tahun yang lalu. Waktu itu aku ingin sederhana saja, memang nggak besar."Kayden sebenarnya ingin membelikan cincin berlian yang lebih besar, tapi Lunara menolak.Bagi Lunara, cincin lebih penting dari segi makna. Besar kecilnya berlian bukan yang paling penting.Gaia memanjangkan suaranya dengan penuh rasa penasaran, "Apa ini yang dulu pernah Sarah bil
Peluncuran gim adalah tugas terpenting hari ini. Kehadirannya hanya untuk memperjuangkan hak.Untuk dirinya sendiri, untuk Moonbreeze, juga untuk Grup Narasoma.Untuk semua usaha yang pernah dia lakukan, untuk kerja keras yang pernah dia curahkan.Dan juga untuk dirinya.Setelah Moonbreeze muncul, situasi di lokasi langsung berbalik sepenuhnya.Kayden mengambil mikrofon, lalu memutar tutup botol air mineral di meja dengan santai dan meletakkannya di depan Lunara. Dia bahkan tidak melihat Lunara sepanjang waktu, seolah itu hanya hal kecil yang dilakukan secara refleks."Selain soal memperjuangkan hak, berikutnya adalah isi utama dari gim yang akan kami rilis kali ini."Sebenarnya, urusan peluncuran gim tidak perlu dijelaskan langsung oleh Kayden. Mulai dari gameplay, alur cerita, gaya visual, sampai pengenalan pengisi suara, semuanya dia tangani sendiri.Semua itu hanya karena Lunara masih duduk di atas panggung. Konferensi peluncuran gim Grup Narasoma berjalan lebih sukses dari perkira
Seluruh ruangan seketika menjadi hening.Di atas panggung, Lunara menyesuaikan mikrofon di tangannya. Di layar besar di belakangnya, muncul semua video proses menggambar yang bisa dipublikasikan sejak dia debut."Sejak awal aku menjadi Moonbreeze, sampai sekarang sudah sepuluh tahun. Awalnya, aku hanya membagikan gambar yang kubuat di internet. Setelah perlahan punya gaya sendiri, aku juga mendapatkan para penggemarku.""Selama sepuluh tahun ini, aku nggak pernah berhenti berkarya. Di industri, aku bahkan dijuluki budak kerja."Di bawah panggung, orang-orang yang mengenal Moonbreeze tidak bisa menahan tawa.Lunara juga tersenyum, nadanya lembut. "Aku suka melukis dan aku juga berterima kasih kepada semua orang yang menemani perjalananku selama ini. Dulu aku pernah membagikan kehidupan pribadiku di internet. Saat aku bilang ayahku sakit, bahkan ada penggemar yang menghubungiku secara pribadi untuk menawarkan bantuan medis.""Cinta dan dukungan itulah yang mengangkatku. Aku juga nggak in
Lunara menundukkan kepala melihat Daisy yang sudah tertidur. Dia tidak menyadari tatapan Zavian yang panas dan dalam. Dia teringat apa yang pernah dikatakan Saphira sebelumnya, bahwa pria di Keluarga Narasoma akan menyerahkan gaji mereka setelah menikah.Dompet Kayden tentu akan dipegang oleh calon
Lama tidak terdengar suara dari pihak Lunara.Saphira pun sedikit menahan diri karena takut akan membuat gadis itu terkejut. Lagi pula, dia juga belum tahu apakah di seberang sana benar-benar seorang gadis muda."Nak? Gimana menurutmu?" Nada bicaranya menjadi jauh lebih hati-hati.Lunara memaksakan
Lunara berada di posisi serbasalah. Melihat wajah Kayden yang semakin mendekat dan napasnya yang nyaris mengenai wajahnya, dia terpaksa membuka mulut. "Aku bukan kakak iparmu. Aku nggak punya hubungan apa pun dengan Pak Kayden."Begitu kalimat itu terucap, tawa Kayden terdengar pelan. Bahkan Alden d
Lunara berdiri di samping mobil. "Aku naik MRT saja."Tatapan Kayden dalam dan tenang, dia melirik Lunara sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Masuk." Dia tidak memberi Lunara pilihan lain.Jam sibuk pagi di Kota Andara selalu padat. Arus kendaraan macet dan jalanan penuh. Kalau memaksa naik MR







