Mag-log inAwalnya Lunara juga curiga apakah semua ini ada hubungannya dengan Eden. Dia bahkan sempat memiliki dugaan yang buruk. Bagaimana kalau Moana sebenarnya adalah orang suruhan Eden?Begitu pikiran itu muncul, rasanya langsung menempel di benaknya dan tidak bisa disingkirkan. Jalan itu adalah satu-satunya jalur yang harus dilewati dari pabrik Lunara menuju jalan utama kota.Namun, lokasi pabrik memang terpencil. Bahkan saat pertama kali datang ke sana, Kayden sempat mencari persimpangan yang benar cukup lama.Biasanya bisa dibilang hampir tidak ada orang yang lewat jalan itu selain pegawai perusahaan.Kemunculan Eden di sana sejak awal memang mencurigakan. Namun, dia bilang kebetulan mendengar telepon Moana.Apa semua itu benar-benar hanya kebetulan?Lagi pula, berapa banyak "Lunara" yang mungkin disebut Moana? Masa iya dia kebetulan mengenal orang lain di dunia ini yang juga bernama Lunara?Memang benar bahwa Eden awalnya tidak memberi tahu Kayden. Barusan bahkan sempat ada momen ketika L
Benar.Akan tetapi, Lunara tidak bisa mengatakan itu. Dia memang tidak punya bukti bahwa Eden tidak bersalah, tetapi fakta bahwa Eden menyelamatkannya juga tidak terbantahkan.Kalau dia langsung menunjukkan kecurigaan di depan orang yang menyelamatkan nyawanya, itu akan terlihat sangat tidak tahu diri."Terima kasih sudah menyelamatkanku."Eden menggeleng dan memakai kembali kacamatanya, lalu menatap Lunara."Nggak perlu berterima kasih. Kakak Ipar hanya perlu membantuku sedikit.""Apa?""Aku nggak suka Hilda, dan dia juga nggak suka aku. Dia bertunangan denganku hanya untuk mendekati Kak Kayden. Aku nggak ingin menikah dengannya. Kakak Ipar, mau bantu aku?"Lunara ingin berkata, bagaimana dia bisa membantu urusan seperti itu?Namun, kata-kata itu tertahan di bibirnya. Dia teringat kalau sekarang dia pergi bicara kepada Saphira dan Javier bahwa dia tidak mendukung pernikahan ini, kemungkinan besar Hilda memang tidak akan menikah dengan Eden."Kamu bilang dia bertunangan denganmu demi K
Suara bising membangunkan Lunara. Saat membuka mata dan melihat ke atas, cahaya lampu putih yang terang terasa sangat menyilaukan. Lunara beradaptasi beberapa saat sebelum membuka mata lagi.Melihat dia sudah sadar, pria yang berdiri di samping tempat tidur langsung berbalik dengan wajah penuh kejutan."Kamu sudah bangun?"Lunara membuka mulut. Suaranya masih sedikit serak, mungkin karena saat benturan tadi ada darah yang naik ke tenggorokannya."Eden? Kenapa kamu ada di sini?"Kepala Eden juga dibalut perban."Aku mendengar Moana menelepon seseorang untuk menabrakmu. Awalnya aku ingin kasih tahu Kak Kayden, tapi aku nggak yakin apakah ada orang kedua yang juga bernama Lunara."Jadi, dia datang sendiri.Eden tidak bisa mengatakan bahwa Moana adalah anak buahnya. Namun, dia juga tidak pernah menyuruh Moana melakukan sesuatu pada Lunara. Yang sebenarnya dia inginkan hanyalah membuat sedikit masalah di pabrik Lunara, supaya Lunara tahu bahwa di dunia ini bukan hanya ada Kayden.Lunara jug
Setelah mengetahui mereka semua tidak saling mengenal, Lunara menyingkirkan semua pikiran liarnya dan akhirnya bisa tenang fokus bekerja.Di pihak Grup Narasoma.Moana melihat pesan yang dikirimnya hanya tenggelam. Lunara bahkan tidak membalas satu pun. Dia pun mulai panik.Kenapa Lunara bisa setenang itu? Apa dia tidak khawatir akan terjadi sesuatu di pameran perhiasan besok?Dirinya masih pegawai Grup Narasoma saat ini. Apa Lunara tidak takut ada permainan di balik layar dalam pameran perhiasan itu yang bisa memengaruhi pamerannya?Moana menggigit bibir bawah sambil menatap layar ponselnya. Dia melempar ponsel ke samping dan mengumpat kesal. Beberapa saat kemudian, dia mengambilnya lagi. Akhirnya dia mengambil keputusan dan menelepon seseorang.....Sore hari, Lunara akhirnya selesai mengecek seluruh barang dan memastikan semua detail untuk besok benar-benar tanpa celah. Lalu, dia menerima telepon yang mengatakan ada sedikit masalah di sekolah Daisy dan memintanya datang.Saat keluar
Menjelang berlangsungnya pameran perhiasan Keluarga Narasoma, Lunara menerima sebuah telepon.Saat mengangkatnya dan mendengar suara di seberang sana, Lunara sempat tidak bereaksi."Lunara, ini Moana. Aku ingin bertemu denganmu. Perusahaanmu juga ikut pameran perhiasan kali ini, 'kan? Kalau kamu nggak datang, kamu pasti akan nyesal."Jantung Lunara langsung menegang.Moana sudah lebih dulu menutup telepon.Lunara memegang ponsel dan berdiri di dalam pabrik. Awalnya dia tidak berniat memedulikan telepon Moana dan menganggapnya cuma lelucon.Namun beberapa saat kemudian, dia menerima pesan baru. Begitu dibuka, itu foto seorang pria dengan tahi lalat di dagu yang dikirim Moana.Lunara pun mengernyit dan memanggil Aaron. "Apa ini pria yang sebelumnya menghubungimu?"Aaron menjulurkan kepala ingin melihat lebih jelas, tetapi teringat tangannya masih penuh oli dari perawatan mesin, dia buru-buru mengusap tangan ke bajunya dan menarik diri kembali."Ya, dia! Dia orangnya! Beberapa hari ini ak
Tulang pipi dan garis rahangnya sangat tegas.Dulu saat bosan, Lunara pernah ikut neneknya membaca beberapa buku. Dia tahu wajah seperti Kayden menandakan hubungan dengan orang tua di masa muda tidak terlalu harmonis. Meskipun lahir di keluarga kaya, dia tetap harus melewati banyak kesulitan.Hubungan dengan saudara juga kurang baik, para orang tua di keluarga sangat dominan, dan sejak kecil dia tidak terlalu dimanja.Hanya bagian pernikahannya yang sangat baik. Hubungan suami istrinya harmonis dan dia akan mendapatkan banyak kasih sayang dari istrinya.Sifat lembut hatinya juga terlihat jelas di wajahnya.Hati Lunara ikut menghangat. Dia mendekat ke arah Kayden, hampir seluruh tubuhnya masuk ke mantel pria itu.Kayden menunduk menatapnya. Di matanya penuh kelembutan dan senyuman hangat. "Dingin?""Bukan. Aku cuma penasaran, kenapa Om Hardi begitu menoleransi mantan istrinya?"Toleransi Hardi terhadap Fresia sudah bisa dibilang berlebihan. Mulai dari dulu saat Fresia berselingkuh dan p







