로그인Elina memikirkan kejadian malam itu cukup lama sebelum akhirnya mengingat semuanya.Klien yang sedang bernegosiasi kontrak dengannya tiba-tiba mengobrol santai dengannya, lalu tanpa sengaja mereka menemukan bahwa mereka ternyata adalah teman satu angkatan waktu SMA. Hanya saja, tidak satu kelas.Karena satu angkatan dan kelas mereka bersebelahan, banyak guru mata pelajaran yang sama. Jadi, obrolan tentang berbagai cerita masa SMA pun ikut mengalir begitu saja.Kontrak itu berjalan jauh lebih lancar dari yang Elina bayangkan. Hanya saja, setelah itu jadi ada beberapa jamuan makan dan undangan lain. Selama tidak terlalu berlebihan, Elina biasanya tetap datang.Malam kemarin, pria itu memang meminjam ponselnya beberapa menit. Setelah pulang, Elina berniat merapikan dokumen, tetapi malah bertengkar lagi dengan Martin sampai kepalanya hampir pecah.Dia lupa memeriksa ponselnya, lalu langsung tidur. Baru sekarang setelah dibangunkan suara petasan di luar, dia mengambil ponselnya dan sadar so
"Kamu, kamu ...!""Kenapa? Maksudnya nggak usah diskon sekalian, terus mau kasih aku angpau tahun baru juga ya? Wah, terima kasih lho, Kakek. Kalau begitu, totalnya jadi 300 miliar ya."Zafran langsung merasa dadanya sakit. Lunara benar-benar sedang memerasnya secara terang-terangan!Masalahnya, nilai komersial yang dibawa seri Kepompong Pecah untuk perusahaan Lunara memang jauh lebih besar dari 200 miliar. Jadi, sekalipun Zafran mau bersikap seenaknya, keberadaan uang penalti itu tetap masuk akal."Kayden! Kamu cuma diam lihat istrimu menindasku begini? Aku ini kakekmu!"Kayden menuangkan sup untuk Lunara. "Minum dulu, nggak terlalu berminyak."Baru setelah itu dia mengangkat kepala menatap Zafran. "Angpau buatku sekalian transfer saja ke istriku. Uangku semuanya milik dia."Zafran menarik napas dalam-dalam beberapa kali, susah payah menenangkan dirinya sendiri.Sampai makan malam selesai, dia tidak lagi menyinggung soal menyuruh Casya pergi ke Kota Salaon. Casya diam-diam menghela na
Malam tahun baru di Keluarga Narasoma berlangsung damai. Selain Frans yang belum pulang dan Eden yang masih berada di Kota Calros, semua orang hadir.Zafran melihat sekeliling dan tidak menemukan Hardi, jadi dia bertanya, "Mana orangnya?""Katanya malam ini mau makan bersama Eden, besok atau lusa baru pulang."Zafran mendengus dingin, tetapi ekspresinya sedikit melunak."Di saat begini dia baru kelihatan seperti seorang ayah. Kukira dia bakal terus menggila."Bagi Zafran, Eden tetap anak Keluarga Narasoma. Bahkan dalam hatinya dia merasa berutang budi pada Eden, jadi ingin lebih memperhatikannya. Hanya saja, dia tidak menyangka calon istri yang dipilih untuk Eden ternyata salah.Mengingat rekaman itu, awalnya Zafran sebenarnya sangat marah. Namun, lama-lama berubah menjadi rasa bersalah.Dia menghela napas. "Eden memang nggak suka sama gadis itu ya?"Javier menyambung, "Memang nggak suka. Bukannya beberapa hari lalu gadis itu pulang ke rumahnya? Gimana kalau kita kirim dia ke tempat Ed
Kayden mengangguk dengan ekspresi dingin. Tentu saja dia paham. Orang seperti itu tidak layak membuatnya repot.Dibandingkan anjing peliharaan itu, yang lebih penting adalah orang-orang yang bersembunyi di balik nomor-nomor telepon itu, juga Moana.Setelah masuk mobil, Kayden memerintah, "Kita cari Moana."Ignas ragu sejenak. "Tadi Bu Lunara telepon tanya kapan Pak Kayden pulang makan malam."Malam tahun baru memang bukan waktu yang tepat untuk pergi ke rumah tahanan. Kayden menghela napas, memejamkan mata, lalu perlahan menekan aura dingin dan kejam di wajahnya.Silvar ikut naik ke mobil. "Carinya setelah tahun baru saja. Dia nggak bakal kabur. Biarin beberapa hari dulu supaya dia ketakutan."Kalau sekarang pergi, belum tentu mereka akan mendengar kebenaran.Sebenarnya Kayden sudah punya dugaan kasar. Mencari Moana sekarang hanya untuk memastikan dugaannya. Namun tanpa bukti, apa pun yang dikatakan bisa dianggap tuduhan jahat.Dia mengembuskan napas panjang. "Kita pulang sekarang.""B
Pria itu sudah dipukuli sampai sekujur tubuhnya penuh luka. Mendengar pertanyaan Kayden, jari-jarinya bergerak sedikit, tetapi dia tetap mengatupkan gigi rapat dan tidak berbicara.Soal dunia mafia dan urusan-urusan ilegal yang tidak bisa dibawa ke permukaan, Silvar jauh lebih paham daripada Kayden.Sekali lihat saja, Kayden sudah tahu kalau pria ini diancam oleh seseorang. Kalau dia berbicara, nyawanya benar-benar bisa melayang.Silvar mengangkat kelopak matanya sedikit, lalu menoleh ke pria paruh baya di sampingnya. Di wajah pria itu ada bekas luka panjang, membentang dari ujung mata kiri sampai sudut bibir kanan. Tampak menyeramkan sekali.Silvar menarik lengan Kayden. "Ke sana dulu, mau merokok."Kayden mengikuti Silvar berjalan ke samping. Pria dengan wajah bekas luka itu mendekat, lalu berjongkok di depan pria itu dan membisikkan sesuatu di telinganya.Di gedung terbengkalai itu penuh pasir dan debu. Ujung jari Kayden menyala merah karena bara rokok. Baru satu isapan, rokok itu l
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Kakek Buyut."Zafran menatapnya. Keduanya saling mentatap dengan mata besar dan kecil.Gadis kecil ini sangat cantik, karakternya juga kuat. Kalau nanti anak yang dilahirkan Lunara dan Kayden juga bisa seperti ini, Keluarga Narasoma tidak perlu khawatir soal penerus.Sayangnya, gadis kecil ini tetap bukan darah Keluarga Narasoma.Zafran menoleh pada Lunara. "Kapan kalian berencana ganti marganya? Karena sudah jadi orang Keluarga Narasoma, dia nggak bisa terus nggak ikut marga lain."Lunara menjawab dengan tenang, "Nggak akan diganti. Kalaupun ganti, paling ikut margaku. Nanti kalau ada kesempatan punya anak lagi, baru anak itu ikut marganya Kayden."Zafran mengernyit. Sebenarnya dalam hati dia cukup puas pada Daisy. Selain karena dia perempuan dan juga bukan anak kandung Kayden, dalam hal lain semuanya sangat baik.Setidaknya kalau marganya diganti jadi Narasoma, ganjalan di hatinya juga akan sedikit berkurang. Namun, melihat sikap Lunara, jelas d







