Share

Bertemu

Author: YuRa
last update Last Updated: 2025-10-02 13:15:52

Denis akhirnya menjemput Alvin siang itu. Seperti biasa, bila Clarissa, sang istri, tak bisa hadir, Denislah yang mengambil peran. Kehadirannya di depan gerbang sekolah selalu mencuri perhatian, sosok pria muda dengan langkah mantap, wajah berwibawa, dan aura karismatik seorang pemimpin. Tak banyak yang tahu, dibalik citra pengusaha sukses itu, hatinya selalu luluh hanya untuk satu hal, anak kecil yang kini sedang ia cari.

Dari kejauhan, Alvin sudah mengenali siluet papanya. Wajah mungilnya berbinar, lalu suara riangnya memecah keramaian.

“Papa!” serunya sambil berlari menghampiri.

Denis membuka kedua tangannya, menyambut tubuh mungil itu dengan senyum hangat. Namun, keceriaan Alvin seketika meredup.

“Kok bukan Mama yang jemput?” tanyanya dengan nada kecewa.

Denis terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana.

“Kenapa? Nggak mau dijemput Papa?”

Anak itu menggeleng cepat.

“Bukan begitu, Pa. Tapi Mama janji mau jemput Alvin hari ini.”

Denis menarik napas dalam.

“Mama ada keperluan mendadak.”

Alvin menunduk, bibir mungilnya merengut.

“Selalu begitu! Mama lebih sayang pekerjaannya daripada Alvin.”

Kalimat polos itu menohok jantung Denis. Ia menatap putranya yang baru duduk di bangku TK, begitu kecil untuk menanggung kecewa sebesar itu.

“Eh, jangan cemberut gitu dong,” bujuk Denis lembut sambil mengusap kepala anaknya. “Ayo, Alvin mau beli apa?”

Sekejap mata Alvin berbinar kembali. “Es krim, ya?”

Denis pura-pura berpikir serius, menahan senyum.

“Please, Pa… Alvin pengin banget es krim.”

Mereka pun berjalan beriringan, tangan mungil menggenggam tangan kokoh. Dan bagi Denis, di tengah segala kesibukan dan sorotan dunia, momen kecil inilah yang paling berharga, menjadi rumah bagi senyum seorang anak.

Kedai kecil di sudut jalan itu selalu ramai setiap hari. Lampu kuningnya hangat, aroma manis vanila dan cokelat menyambut siapapun yang masuk. Denis menggandeng tangan Alvin, lalu membantunya naik ke kursi tinggi di depan etalase kaca penuh warna-warni es krim.

“Mau rasa apa, Nak?” tanya Denis.

Alvin menunjuk tanpa ragu.

“Cokelat sama stroberi. Dua-duanya ya, Pa.”

“Wah, rakus juga jagoan Papa,” goda Denis sambil memesankan.

Tak lama kemudian, satu cup besar es krim tersaji di hadapan Alvin, lengkap dengan sendok mungil berwarna biru.

Alvin mulai menyendok perlahan, tapi kali ini ia tidak setenang biasanya. Sesekali ia menatap ayahnya, lalu menunduk lagi. Denis menangkap ada sesuatu yang dipendam anaknya.

“Kenapa diem aja? Biasanya kalau makan es krim, Alvin senyum terus,” tanya Denis lembut.

Anak itu berhenti sejenak, lalu mengusap bibirnya yang belepotan es krim.

“Papa, Mama beneran sibuk banget, ya?” suaranya lirih, hampir tenggelam oleh riuh kedai.

Denis menatap lekat wajah kecil itu. “Iya, Mama memang sibuk. Tapi bukan berarti Mama nggak sayang sama Alvin.”

“Tapi Alvin sering nungguin Mama. Janji-janji Mama banyak yang lupa.” Suara Alvin bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. “Kayaknya Mama lebih pilih kerjaan daripada Alvin.”

Ucapan itu membuat dada Denis terasa sesak. Ia tahu betul betapa kerasnya Clarissa bekerja, tapi ia juga mengerti luka kecil yang diam-diam tumbuh di hati anaknya.

Denis menghela napas, lalu mengusap lembut kepala Alvin.

“Mama itu kerja keras juga buat Alvin, supaya Alvin bisa punya masa depan yang baik. Kadang orang dewasa memang suka salah janji, tapi nggak bisa tepati. Bukan karena mereka nggak sayang, tapi karena mereka terlalu ingin segalanya berjalan baik.”

Alvin terdiam. Ia menunduk, lalu dengan suara hampir berbisik bertanya, “Jadi, Mama sayang Alvin, kan?”

Denis tersenyum, menatap dalam mata putranya.

“Sayang banget. Sama seperti Papa. Kamu itu alasan Mama dan Papa berjuang setiap hari.”

Butiran air mata jatuh di pipi Alvin, tapi senyum kecil akhirnya merekah. Ia memeluk Denis erat-erat, seakan takut kehilangan hangat itu.

“Kalau gitu, Papa jangan bohongin Alvin, ya,” bisiknya.

Denis membalas pelukan itu, hatinya bergetar. “Papa janji.”

Rasa haru menyelimuti hati Denis..

Setelah es krim tandas, Denis mengajak Alvin berjalan ke sebuah food court kecil tak jauh dari sekolah. Tempatnya sederhana, meja kursinya terbuat dari plastik, aroma gorengan bercampur dengan wangi nasi hangat memenuhi udara. Meski sederhana, tempat itu selalu ramai di jam makan siang.

Bagi Denis, makan di sini bukan masalah. Ia terbiasa melebur seperti orang kebanyakan. Baginya, kebersamaan lebih penting daripada gengsi. Namun, ia tahu betul istrinya tidak akan pernah mau duduk di tempat seperti ini. Clarissa sering menyebut selera Denis “rendahan” dan bila ia tahu Denis membawa Alvin ke sini, pasti akan marah. Tapi Denis tak peduli.

Alvin duduk bersemangat, menyendok nasi hangat dengan potongan ayam goreng kesukaannya. Wajahnya tampak puas. Sementara itu, Denis hanya menemaninya sambil menyesap kopi hitam pekat, pikirannya melayang entah ke mana.

Hingga matanya menangkap sosok yang tak asing.

Saras.

Perempuan itu berdiri di depan etalase nasi Padang. Matanya berkeliling memilih lauk, tapi gerak-geriknya tampak ragu. Tangan kirinya menggenggam dompet lusuh, tangan kanannya sibuk menyeka peluh dari wajah. Raut wajahnya lelah, seperti seseorang yang menanggung banyak beban.

Alvin, yang duduk menghadap arah yang sama, tiba-tiba berbisik sambil menunjuk.

“Papa, itu kayaknya tante yang nabrak Papa di minimarket kemarin.”

Denis menoleh cepat. “Kamu ingat?”

Anak itu mengangguk mantap.

“Iya. Waktu itu Mama ngomel-ngomel.”

Denis tersenyum tipis, ada sesuatu yang berputar di pikirannya. Ia berdiri perlahan.

“Tunggu di sini, ya. Jangan ke mana-mana.”

Alvin mengangguk, masih sibuk dengan ayam gorengnya.

Denis melangkah pelan mendekati Saras. Perempuan itu baru saja selesai memesan beberapa bungkus nasi, ternyata titipan teman-teman kantornya. Saat berbalik, langkahnya hampir saja bertabrakan dengan Denis.

Kali ini, tatapan mereka bertemu lebih lama daripada pertemuan singkat di minimarket.

“Oh, maaf,” ucap Saras terburu-buru, hampir menjatuhkan bungkus nasi yang ia bawa. Matanya membulat, seolah baru sadar siapa yang berdiri di depannya.

“Pak Denis?”

Denis mengangguk santai.

“Makan siang?”

“Eh… iya,” Saras mengangkat plastik berisi nasi bungkus, senyumnya kaku tapi berusaha ramah. “Ini titipan teman-teman kantor. Bapak juga?”

Denis menoleh sejenak, menunjuk ke arah meja.

“Iya, sama Alvin. Tadi minta es krim, tapi ujung-ujungnya makan juga.”

Saras mengikuti arah pandangan Denis. Di sana, Alvin sedang mengunyah ayam goreng dengan lahap. Begitu melihat Saras, bocah itu langsung melambaikan tangan mungilnya.

“Halo, Tante!” serunya riang.

Saras terkekeh kecil.

“Manis banget anak Bapak.” Ada ketulusan di matanya, meski wajahnya masih diliputi lelah.

Denis menatapnya sejenak, seolah menimbang sesuatu. Lalu, dengan nada ringan namun hangat, ia berkata, “Mau gabung sama kami? Makan bareng?”

Pertanyaan sederhana itu membuat langkah Saras terhenti. Hatinya mendadak hangat, ada kerinduan yang samar, entah pada apa. Namun logikanya segera menahan, ia hanya karyawan biasa, sedang laki-laki di depannya adalah seorang pengusaha sukses. Dunia mereka terlalu jauh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Takdir Menyapa   Bertemu Dennis Lagi

    Saras berdiri di depan pantry, mengaduk kopi hitam di dalam cangkirnya perlahan. Sendok kecil itu beradu dengan dinding keramik, menghasilkan bunyi lirih yang terasa seirama dengan pikirannya yang kacau. Setelah yakin kopinya cukup hangat, ia membawanya ke meja kecil di sudut ruangan.Ia duduk, lalu terdiam. Matanya terpaku pada cairan hitam pekat di hadapannya, seolah di sanalah semua beban pikirannya berkumpul. Beberapa hari terakhir, tubuh dan jiwanya terasa lelah. Bukan karena pekerjaan semata, melainkan karena masa lalu yang tiba-tiba kembali menghantui.Kedatangan Gavin, mengoyak kembali rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Rahasia yang ia kira sudah terkubur bersama luka lama. Kini, semuanya perlahan terkuak.Yang paling membuat hatinya bergetar adalah saat Gavin bertemu Althaf. Akhirnya Saras mengizinkan Gavin untuk menemui Althaf lagi, tapi harus sepengatahuan Saras. Ia tahu, pertemuan itu bisa menjadi awal dari banyak hal, entah penyembuhan, atau justru luka baru.

  • Ketika Takdir Menyapa   Jatuh Cinta

    Dennis duduk diam di kamarnya.Lampu meja menyala redup. Di tangannya, ponsel masih menyala.Menampilkan beberapa foto. Foto Gavin dan Saras. Berdiri berhadapan di depan gedung kantor.Wajah Saras terlihat tegang. Sementara Gavin tampak begitu serius. Dennis menatap layar itu lama. Rahangnya mengeras. Dadanya terasa sesak. “Jadi… kamu ketemu dia lagi,” gumamnya lirih.Ia menggeser layar. Foto berikutnya.Gavin terlihat sedikit condong ke arah Saras, seolah sedang berbicara dengan intens. Dari sudut pengambilan gambar, mereka tampak begitu dekat. Terlalu dekat.“Kenapa kamu nggak cerita sama aku…” bisik Dennis.Ponsel itu diletakkan di meja. Namun pandangannya masih terpaku ke sana. Ingatan tentang pesan-pesan Saras, tawa kecilnya, wajah lelahnya, dan caranya memanggil nama Althaf kembali memenuhi pikirannya.Ia mengepalkan tangan. Bukan karena marah pada Saras.Melainkan pada dirinya sendiri.Melihat Gavin kembali masuk ke hidup Saras, hatinya semakin gelisah.“Aku nggak boleh kehila

  • Ketika Takdir Menyapa   Penyesalan

    Di dalam ruang kerjanya yang remang, Gavin berdiri di depan jendela besar. Kota terlihat berkilau di bawah sana, namun pikirannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan itu. Pikirannya hanya satu. Saras dan anak itu.Ia berbalik, lalu meraih ponselnya.“Satria,” ucapnya singkat saat panggilan tersambung.“Bagaimana hasilnya?”Suara Satria terdengar di seberang.“Saya sudah melacak data lama Bu Saras, Pak. Tempat kerjanya, riwayat pindah rumah, dan beberapa kontak dekatnya.”Gavin menegakkan tubuh.“Lanjutkan.”“Sekarang dia tinggal di daerah Cempaka Indah,” kata Satria.“Rumah sederhana. Tinggal dengan ibunya dan seorang anak laki-laki.”Dada Gavin terasa bergetar.“Alamatnya,” katanya tegas.Satria menyebutkan satu per satu.Gavin langsung menyimpannya.Setelah telepon terputus, ruangan kembali sunyi. Ia duduk perlahan di kursinya.Menatap kosong ke depan.“Jadi selama ini kamu hidup sesederhana itu…” gumamnya.Bayangan Saras mengurus anaknya sendiri tanpa bantuan siapapun membua

  • Ketika Takdir Menyapa   Harus Kuat

    “Kamu nggak bisa menghindar dariku lagi, Saras.”Suara itu terdengar berat dan tegas di belakangnya. Langkah Saras langsung terhenti. Tubuhnya menegang.Perlahan, ia menoleh. Dan seperti yang ia duga, Gavin berdiri beberapa langkah di belakangnya. Jantung Saras berdetak kencang, seolah ingin meloncat keluar dari dadanya.“Mau apa kamu?” tanyanya.Suaranya bergetar, meski ia berusaha terdengar tegas.“Aku cuma mau bicara,” jawab Gavin pelan. Tatapannya lurus menatap wajah Saras. Nada suaranya tidak lagi dingin seperti dulu. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Entah penyesalan atau penasaran.“Bicara?” Saras terkekeh kecil, hambar. “Kayaknya sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”Ia menarik napas, mencoba menguatkan diri.“Apa pun yang pernah ada di antara kita, sudah selesai,” lanjutnya.Gavin mengepalkan tangannya.“Belum,” katanya tegas. “Buat aku, belum selesai.”Saras menggeleng.“Kamu salah,” balasnya. “Semua itu selesai waktu kamu mengusir aku. Waktu kamu lebih percaya

  • Ketika Takdir Menyapa   Menghilang Sejenak

    “Akhir-akhir ini aku lihat Pak Dennis sering ke sini, ya?” ujar Sinta di sela-sela mengetik di depan komputernya.Saras yang sedang merapikan berkas langsung terdiam sejenak.Jantungnya berdegup lebih cepat saat mendengar nama itu disebut.Namun, ia berusaha tetap terlihat santai.“Wajar lah, Mbak,” jawabnya tanpa menoleh. “Ini kan kantor orang tuanya.”Sinta mengangguk kecil, lalu mendekat sedikit.“Iya sih…” katanya pelan. “Tapi dulu dia nggak sesering ini. Sekarang hampir tiap minggu muncul.”Ia menatap Saras dengan senyum penuh arti.“Mungkin lagi ada seseorang yang pengin dia dekatin.”Saras refleks tertawa kecil, meski hatinya sedikit terusik.“Hush, jangan bicara sembarangan, Mbak,” katanya cepat. “Pak Dennis kan punya istri. Masa mau poligami?”Nada suaranya terdengar ringan.Namun di dalam dadanya, ada perasaan asing yang tiba-tiba muncul. Gelisah dan takut, takut kalau ucapan Sinta ada benarnya.Saras kembali fokus pada pekerjaannya. Berusaha mengabaikan pikiran-pikiran yan

  • Ketika Takdir Menyapa   Berusaha Kuat

    “Saras, kamu sakit?”Suara Gayatri membuat Saras sedikit tersentak. Sejak tadi, sang ibu memang memperhatikannya dengan cemas. Sepulang kerja, Saras terlihat lebih banyak diam, sering melamun, seolah pikirannya berada di tempat lain.Padahal sekarang, ia sedang menemani Althaf bermain di ruang tengah. Namun tatapannya kosong.Mainan di tangannya terdiam.“Saras,” panggil Gayatri lagi, lebih lembut.“Bunda!”Teriakan kecil itu membuat Saras tersadar.“Eh… iya, Nak. Kenapa?” jawabnya gugup sambil tersenyum kecil.Althaf memandang ibunya dengan mata bulatnya.“Bunda marah sama Althaf, ya?” tanyanya dengan suara cadel, polos dan penuh kekhawatiran.Hati Saras langsung mencelos.“Enggak, sayang,” jawabnya cepat. Ia meraih tangan kecil anak itu.“Bunda nggak marah, kok.”“Tapi…” Althaf mengerucutkan bibirnya.“Kok Bunda diam aja dari tadi?”Saras terdiam. Ia menatap wajah kecil di hadapannya, wajah yang selama ini menjadi sumber kekuatannya. Ia memeluk Althaf erat.“Maaf ya,” bisiknya lembu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status