LOGINSemua keluarga Saras sudah masuk ke kamar masing-masing. Suasana hotel yang tadi ramai kini perlahan menjadi tenang.Di kamar itu, hanya ada Dennis dan Saras. Saras baru saja selesai membersihkan make up-nya. Wajahnya kembali sederhana, tapi justru terasa lebih hangat dan nyata.Sementara itu, Dennis sejak tadi tak berhenti tersenyum, menatap Saras seolah masih tak percaya dengan apa yang telah terjadi hari ini.“Aku masih butuh penjelasan dari Mas,” kata Saras akhirnya, memecah keheningan. Nadanya lembut, tapi ada sedikit kesal yang tak bisa ia sembunyikan. “Mengapa Mas seolah menghindari aku?”Dennis menarik napas pelan, lalu mendekat sedikit.“Maafkan aku, ya?” ucapnya tulus. “Aku sengaja tidak menghubungimu karena sedang menyiapkan semua ini.”Saras menatapnya lekat, menunggu penjelasan lebih.“Termasuk menemui Pakde Tama,” lanjut Dennis. “Aku tahu caraku salah,” tambah Dennis pelan. “Aku pikir, kalau semuanya sudah siap, kamu akan langsung bahagia. Tapi aku lupa, kamu juga but
Langkah Saras terhenti sesaat di ambang pintu. Matanya langsung tertuju ke satu titik. Di sana, di sebuah meja dengan enam kursi, Dennis berdiri. Mengenakan jas rapi, terlihat berbeda dari biasanya. Lebih dewasa. Lebih mantap. Dan saat mata mereka bertemu.Dennis tersenyum. Senyum yang selama ini ia rindukan.“Kamu akan menikah,” bisik Sinta pelan di sampingnya.Deg! Jantung Saras terasa seperti berhenti berdetak. Ia menatap lurus ke depan, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.Perlahan, pandangannya beralih ke sekeliling ruangan. Ia melihat ibunya, duduk dengan mata yang berkaca-kaca. Di sampingnya, Althaf tampak tersenyum kecil, seolah ikut mengerti meski dalam diam. Tak jauh dari sana, ada keluarga Pakde Tama.Semua mata kini tertuju padanya.Saras menelan ludah. Tangannya sedikit gemetar. Ini bukan lagi sekadar kejutan. Ini adalah jawaban.Jawaban atas penantian, keraguan, dan semua rasa yang selama ini ia simpan sendiri.Perlahan, ia melangkah maju, menuju Dennis, menuju takd
Benny berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir rapi, lalu membukakan pintu belakang.“Silakan,” ucapnya sopan.Saras sempat ragu sepersekian detik, tapi akhirnya ia masuk tanpa banyak bertanya. Benny menyusul duduk di depan, memberi isyarat pada sopir untuk segera berangkat.Mobil melaju perlahan meninggalkan area kantor.Sepanjang perjalanan, Saras hanya diam. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan, tentang pekerjaan, tentang kesalahan yang mungkin ia buat, bahkan hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun.Sesekali ia melirik ke arah Benny.Pria itu tampak serius menatap gadget di tangannya, sesekali mengetik sesuatu. Wajahnya datar, sulit ditebak.“Mau ke mana sebenarnya,” batin Saras.Ia ingin bertanya, tapi entah kenapa urung. Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya. Hingga akhirnya mobil melambat dan berhenti di depan sebuah hotel mewah.Saras mengerjap pelan, memastikan apa yang ia lihat.“Hotel?” kata Saras dalam hati.Keningnya berkerut. Jantungnya kembali berdetak
“Mamanya belum memberikan restu,” suara Saras pelan, seolah setiap kata yang keluar terasa berat. “Mas Dennis pernah bilang, dia akan menikahi aku, dengan atau tanpa restu mamanya.”Saras berhenti sejenak. Ia menatap kosong ke depan, pikirannya seperti kembali ke masa lalu.“Tapi aku nggak mau kalau tidak ada restu dari mamanya,” lanjutnya, kali ini lebih tegas, meski suaranya sedikit bergetar. “Aku nggak mau kisah lalu terulang lagi.”Ruangan terasa hening di antara mereka. Sinta tidak langsung menanggapi. Ia bisa merasakan bahwa ini bukan sekadar keraguan biasa, ini luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.Saras menarik napas panjang.“Aku pernah ada di posisi itu, Mbak, memaksakan hubungan yang nggak direstui.” Ia tersenyum tipis, pahit. Sinta mengangguk pelan, matanya penuh pengertian.“Makanya sekarang aku takut,” bisik Saras. “Bukan takut kehilangan dia, tapi takut mengulang kesalahan yang sama.”Sinta meraih tangan Saras, menggenggamnya pelan.“Kalau memang hubungan ini tidak
Hubungan Saras dan Dennis masih berjalan tenang, terlalu tenang, bahkan. Hari demi hari berlalu tanpa perubahan yang berarti, seolah waktu ikut berhenti bersama mereka. Tidak ada langkah maju, tapi juga tidak benar-benar mundur. Hanya diam di tempat.Di balik ketenangan itu, Saras mulai merasakan sesuatu yang mengganjal. Restu dari Irsa, mamanya Dennis, masih belum terlihat jelas. Sikapnya tetap sama, tidak menolak, tapi juga tidak benar-benar menerima. Dan justru itu yang membuat Saras semakin tidak tenang.Malam-malamnya kini tak lagi sesederhana dulu. Ia sering terjaga lebih lama, memikirkan hal-hal yang sebelumnya berusaha ia abaikan. Tentang masa depan. Tentang kepastian. Tentang dirinya sendiri di dalam hidup Dennis.Saras menghela napas panjang.Ia lelah menebak-nebak.“Apa aku harus terus nunggu?” gumamnya pelan.Perasaannya pada Dennis tidak berubah. Justru semakin dalam. Tapi bersamaan dengan itu, muncul juga keraguan yang perlahan mengikis keyakinannya. Saras mulai goyah.B
Selesai mengantarkan kedua orang tuanya pulang, Dennis kembali memutar setir mobilnya, kali ini menuju rumah Saras, perempuan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya. Perjuangan belum selesai.Jalanan sore itu lengang. Sesekali Dennis melirik ke arah Saras yang duduk di sampingnya, diam dengan pikiran yang entah ke mana.“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Dennis, suaranya lembut meski matanya tetap fokus menatap jalan.Saras tersenyum tipis, namun tidak sepenuhnya menyembunyikan kegelisahan di wajahnya.“Macam-macam, Mas.”Dennis menghela napas pelan.“Ada yang bikin kamu kesal?”Saras menggeleng cepat.“Enggak ada.”Mobil terus melaju, tapi suasana di dalamnya terasa sedikit berat. Dennis mencoba mencairkan suasana.“Aku lihat, hati Mama mulai luluh,” katanya dengan nada penuh harap. “Mudah-mudahan restu itu segera kita dapat. Aku pengin kita menikah tanpa beban.”Saras menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuannya.“Kalau seandainya tetap nggak dapat res
[Saras, aku dan Alvin mau mengajakmu dan Althaf ke tempat permainan. Aku jemput ya?]Pesan itu muncul di layar ponsel Saras, membuat hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia menatap layar ponselnya dengan ragu, jantungnya berdegup kencang. Haruskah aku menerima ajakan mereka? pikirnya.Tapi s
Langkah Saras yang biasanya tegas mendadak kaku di atas lantai marmer lobi kantor yang dingin. Matanya melebar, menangkap sebuah pemandangan yang tak pernah ia duga sebelumnya. Di sudut sofa kulit yang mewah, dua pria sedang bercakap-cakap dengan akrab.Gavin. Pria itu tampak sangat berwibawa dalam
Althaf menerima bungkusan itu dengan kedua tangan kecilnya yang gemetar karena antusias. Ia melirik Saras sekejap, seolah meminta izin tanpa kata. Begitu Saras memberikan anggukan kecil, Althaf langsung duduk di lantai beralaskan karpet tipis, menyobek kertas kado itu dengan semangat yang meledak-l
Sinta tertegun. Kata-katanya menggantung di udara, terasa hambar sekaligus tajam. Ia bisa melihat kilatan samar di mata Saras sebelum perempuan itu memalingkan wajah."Maafkan aku, Saras," bisik Sinta tulus. "Aku tidak bermaksud mengorek luka lama."Saras memaksakan senyum tipis, jemarinya sibuk me







