FAZER LOGINCelia tampak lesu pagi itu. Duduk di atas kasur mewah sambil memeluk lututnya dengan tatapan kosong. Celia tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Ia bahkan tidak menyentuh makan malamnya dari semalam.
Nampan berisikan sepiring pasta dan segelas air putih itu masih tergeletak di meja di sudut ruangan. Entah sudah basi atau belum, jelas ia tidak mau peduli.
Baju yang ia kenakan pun masih baju yang sama dengan yang ia pakai saat dua orang bodyguard itu menjemputnya paksa. Hanya kaos dan celana pendek santai. Tidak ada niat baginya untuk mengintip isi lemari barang hanya untuk mengganti pakaiannya.
Meskipun memasang tampang berani, sesungguhnya Celia merasa takut dengan orang yang disebut-sebut sebagai Sean itu. Bagaimana tidak? Ibu tirinya sampai lemas hanya karena membaca namanya Sean. Kakak tirinya pun meminta ia untuk melarikan diri ke desa karena paham reputasi buruk pria bernama Sean Reynald Wijaya itu. Bisa dipastikan Sean memiliki perangai yang teramat buruk.
‘Entah mengapa, aku merasa bodoh. Sedari kecil menghabiskan waktuku membaca kisah-kisah romantis ala-ala princess. Mengidolakan mereka. Berharap suatu hari aku bisa bersama dengan pangeran baik hati. Menikah dan hidup bahagia selamanya. Tapi, kenyataannya. Hal itu tidak pernah ada.
‘Aku belajar mandiri barang kali kisahku akan semirip Pocahontas. Aku belajar tegar siapa tahu aku memiliki kisah seperti Mulan. Aku belajar menerima takdir barang kali kisahku seperti Cinderella. Hah! Aku dulu dengan bangga memanggil namaku sendiri sebagai Cinderella di hadapan teman-temanku SMA ketika mereka meledek kondisi keluargaku yang tidak utuh. Tapi, aku terjebak di sini. Di rumah mewah milik seseorang yang terkenal arogan hanya karena sepucuk surat wasiat. Mereka benar, aku hanya berimajinasi tentang menikah dan hidup bahagia selamanya,’ batin Celia mengingat masa-masa sulit yang telah ia lewati.
Telinga Celia samar mendengar suara kunci pintu kamar dibuka disusul dengan suara langkah kaki dari sepatu pantofel yang beradu dengan lantai marmer. Suara itu semakin mendekat dan berhenti di ujung kasurnya. Celia melirik sedikit ke arah orang-orang yang menghampirinya. Ia melihat pria yang menyeretnya paksa semalam, datang dengan setelan jas hitam. Dan di sampingnya, Sean tampak berdiri dengan tatapan wajah yang dingin, sama seperti semalam.
Bola mata Celia terbelalak. Ia takut. Dengan gerakan spontan Celia berlari menuju pintu keluar kamar besar itu. Celia yang gegabah mengira ini adalah kesempatannya untuk kabur.
Namun, sayang di depan pintu kamar, ada 2 pengawal lainnya yang langsung saja menangkap tubuh mungil Celia. Kedua pengawal itu langsung saja menyeret Celia kembali masuk dan membawanya tepat di hadapan Sean.
Celia tersungkur berlutut di hadapan pria mengerikan itu. Jantungnya berdegup kencang ketakutan membayangkan apa yang bisa pria itu lakukan padanya.
Celia tersungkur berlutut di hadapan pria mengerikan itu. Jantungnya berdegup kencang ketakutan membayangkan apa yang bisa pria itu lakukan padanya.
Celia sempat melihat mata elang itu menatap tajam ke arahnya sebelum ia kembali menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa mengelak. Kedua tangannya dikunci oleh dua pengawal yang menangkapnya.
Pria bermata coklat dengan alis tegas dan hitam itu menatap Celia. Tatapannya terasa sangat mengintimidasi. Pria itu lalu mencengkeram rahang Celia kuat-kuat dan mendongakkan wajah Celia ke atas. Menghadapkan paksa pandangan Celia pada sepasang mata coklat yang sangat ingin dihindarinya itu.
Pria itu, membolak-balikkan wajah Celia ke kiri dan ke kanan, seolah ingin mengetahui bentuk wajah Celia secara seksama.
“Jika dilihat dari dekat begini, tidak begitu buruk. Tapi, memang terlihat kumuh dan bau busuk,” ujar pria itu beropini setelah mendapatkan hasil analisa dari lekuk wajah Celia.
Celia hanya mencebik kesal dengan perlakuan pria itu yang melihatnya bak barang yang akan dibeli.
“Dengar!” perintah tegas pria itu sembari mempererat cengkeraman tangannya. Suaranya berat seperti bariton. “Aku Sean. Biasanya orang memanggilku Tuan Wijata. Tapi, aku mengizinkanmu memanggilku Sean. Aku yang akan menikahimu. Karena itu yang sudah tertulis di dalam surat wasiat. Jadi, selama persiapan pernikahan, ikuti semua saran Naima. Naima adalah kepala pelayan yang aku perintahkan untuk mengurusmu. Ia akan menemuimu nanti malam. Jika, kamu tidak bisa menuruti aturan Naima, maka aku sendiri yang akan memberimu pelajaran. Dan jika kamu berani kabur dari rumah ini ...”
Ia memotong kalimatnya seolah berpikir tentang hukuman yang tepat bagi Celia. “... aku akan membunuhmu. Ah, tidak. Kematian terlalu mudah. Bagaimana jika menguliti kulit punggungmu inchi demi inchi lalu menyiramkan alkohol pada bekas lukanya dan tetap membiarkanmu hidup untuk merasakan perih. Menarik, bukan? Kamu pasti penasaran untuk membayangkan betapa perih rasanya, bukan? Atau kamu tertantang untuk mencobanya? Aku sangat suka mendengar seseorang memekik kesakitan. Suara itu bagaikan simfoni musik di telingaku. Jadi, jika kamu tidak ingin menjadi instrument musik neraka, lebih baik kamu menurut.” Sean kemudian melepaskan cengkeraman tangannya dengan keras membuat tubuh Celia terhuyung. Lalu beranjak pergi.
Baru beberapa langkah, ia berhenti dan kembali menatap Celia. “Mandilah. Jangan membuat rumahku menjadi berbau busuk karena aroma tubuhmu itu!” perintahnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Para pengawal melepaskan kedua lengan Celia dan ikut pergi mengekor di belakang Sean. Pintu kamar kembali dikunci dari luar. Celia limbung dan terduduk di lantai. Kakinya terasa lemas. Ia kehabisan kata-kata. Apa yang bisa ia lakukan hanyalah menangis.
‘Pria itu benar-benar psikopat. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria kejam seperti itu?’ batin Celia yang seketika merasa nyeri di hatinya.
Puas dengan tangisan dan air mata yang membuat matanya sembab seharian ini. Celia berjalan ke arah lemari. Ia memilih baju santai untuk ia kenakan sebelum Naima, orang yang ditunjuk oleh Sean datang menemuinya.
Suara gemericik air dari pancuran terdengar. Celia merasakan sensasi rileks ketika air hangat itu menyeka punggungnya. Ia merasa lelah meskipun tidak melakukan apapun. Wajar saja, yang lelah bukanlah tubuhnya. Tapi, jiwanya.
Hidupnya yang sudah terencana secara realistis harus kandas begitu saja karena sepucuk surat wasiat. Awalnya, Celia ingin bekerja menjadi sales tiket pesawat agar bisa menabung untuk membiayai kuliahnya sendiri. Namun kini, realitanya ia malah dipaksa menikah dengan si pemilik maskapai pesawat terbang.
Kalimat itu mungkin terdengar congkak dan sombong jika diceritakan pada orang yang tidak mengerti kisah sebenarnya. Padahal, kenyataannya tidak seindah itu. Pernikahan ini hanya berdasarkan hutang piutang.
'Kenapa mereka begitu kejam padaku? Apa hutang ayahku sebanyak itu? Aku masih tidak terima menjadi korban atas apa yang tidak pernah aku lakukan. Bukan aku yang berhutang. Aku tidak ikut menikmati uang hasil hutangnya. Tapi, aku yang terjebak di sini. Memuakkan sekali,' batin Celia sembari menggosok tubuhnya dengan puff yang tersedia di kamar mandi.
Celia menghela napas panjang. "Aku harus tetap kuat. Aku harus tetap hidup. Aku yakin aku bisa keluar dari semua mimpi buruk ini. Meskipun rasanya sangat mustahil tapi harapan apa lagi yang bisa aku genggam untuk saat ini? Mereka menjagaku seolah aku ini tahanan perang yang berbahaya," ujar Celia bermonolog.
Naima terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Celia. Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis muda di hadapannya, kemudian menghela napas pelan.“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?”Celia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku hanya penasaran. Sepertinya semua orang di rumah ini sangat takut kepadanya. Bahkan para pengawal pun selalu menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengannya.”Naima tersenyum tipis. “Tuan Sean adalah orang yang sulit dipahami. Dia memiliki karakter yang keras, tegas, dan tidak menyukai kesalahan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, saya jarang sekali melihat dia menunjukkan sisi lembutnya.”“Jadi, dia memang bukan orang baik?”“Nyonya Celia.” Naima menghela napas. “Saya rasa bukan tempat saya untuk menilai majikan sendiri. Namun, satu hal yang perlu Nyonya ketahui, jangan pernah mencoba menguji kesabarannya. Tuan Sean tidak suka dibantah.”Celia mendengus pelan.“Baguslah. Berarti aku tidak salah menilainya sebagai manusia paling menyebalkan di
“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.“Berapa hutang ayahku? Dan berapa gaji yang aku dapatkan jika kau bekerja denganmu?” tanya Celia. Ia penasaran dengan durasi yang akan ia habiskan untuk menebus hutang.“Sepuluh miliar. Dan akan potong dua puluh juta setiap bulan dari pengabdianmu sebagai babuku. Kamu masih beruntung, karena aku membayar pelayanku yang lain, hanya setengah dari gajimu. Apalagi kamu juga mempunyai kehormatan untuk mengandung benihku. Di luar sana banyak Perempuan yang bersedia meski tanpa dibayar. Tapi, aku tidak mau, jadi kamu cukup beruntung,” jawab Sean. Sean hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi ia urungkan kembali. Ada kalimat yang tertinggal untuk ia ucapkan.“Oh iya, aku lupa. Turun dari kasurku. Tidur di sofa atau di lantai seperti anjing, terserah. Karena majikan tidak level tidur dengan babu. Kamu boleh tidur di tempat tidur jika sedang melayaniku atau jika kamu hamil nanti. Paham?” lanjut Sean.Celia mencebik kesal. Pandang
Celia menghela napas panjang. Ada rasa sesal di dalam hatinya setelah mengingat kejadian malam itu. "Haaah! Seharusnya aku melawan mereka dengan lebih keras lagi," gumam Celia bermonolog."Semalam aku hanya syok dan ketakutan karena otakku berhenti berpikir. Tapi, sekarang setelah bertemu dengan pria yang diagungkan dan ditakuti semua orang itu, aku tidak lagi merasa takut. Sean tidak lebih dari anak manja yang tidak sengaja terlahir di keluarga kaya sehingga memiliki kekuasaan dan bisa bertindak seenaknya. Aku yakin apa yang dikatakan tadi hanya ancaman sampah belaka."Celia mengernyitkan dahinya mencoba menelaah kembali setiap rentetan kejadian yang terjadi padanya.Celia menguatkan dirinya sendiri. Ia sadar, jika ia tidak mempunyai siapapun yang bisa ia andalkan di rumah ini selain dirinya sendiri. Jadi, mau tidak mau, Celia harus bersabar sementara untuk kabur ketika ia sudah menemukan celah.'Jika aku membuat mereka percaya bahwa aku tunduk pada mereka. Mereka pasti akan melongga
Celia tampak lesu pagi itu. Duduk di atas kasur mewah sambil memeluk lututnya dengan tatapan kosong. Celia tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Ia bahkan tidak menyentuh makan malamnya dari semalam. Nampan berisikan sepiring pasta dan segelas air putih itu masih tergeletak di meja di sudut ruangan. Entah sudah basi atau belum, jelas ia tidak mau peduli.Baju yang ia kenakan pun masih baju yang sama dengan yang ia pakai saat dua orang bodyguard itu menjemputnya paksa. Hanya kaos dan celana pendek santai. Tidak ada niat baginya untuk mengintip isi lemari barang hanya untuk mengganti pakaiannya.Meskipun memasang tampang berani, sesungguhnya Celia merasa takut dengan orang yang disebut-sebut sebagai Sean itu. Bagaimana tidak? Ibu tirinya sampai lemas hanya karena membaca namanya Sean. Kakak tirinya pun meminta ia untuk melarikan diri ke desa karena paham reputasi buruk pria bernama Sean Reynald Wijaya itu. Bisa dipastikan Sean memiliki perangai yang teramat buruk.‘Entah m
Langkah kaki Sean bergemerincing tegas di atas lantai marmer kilap kantor utama Star Air, perusahaan penerbangan raksasa yang dikuasai keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu mahoni ruangan kerja pribadi sang ayah, Bima.SREK!Sebuah lembar kertas berisikan surat wasiat dari mendiang ibunya melayang bebas dan mendarat telak di atas meja kerja Bima.Bima, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan aura wibawa yang kental, sama sekali tidak terkejut. Ia mendongak perlahan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin."Apa maksud dari semua ini, hah?" suara Sean menggelegar, penuh amarah yang tertahan. "Ayah perempuan bernama Celia itu yang memiliki hutang pada perusahaan kita. Tapi mengapa justru hidupku yang harus dikekang oleh perjodohan sialan ini? Dan beraninya Ayah menggunakan namaku untuk menyuruh bodyguard menjemput gadis miskin itu secara paksa!"Bima menyesap kopi hitamnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas piring kecil. "Bisakah kam
"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.Bruk!Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahn







