LOGIN“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.
“Berapa hutang ayahku? Dan berapa gaji yang aku dapatkan jika kau bekerja denganmu?” tanya Celia. Ia penasaran dengan durasi yang akan ia habiskan untuk menebus hutang.
“Sepuluh miliar. Dan akan potong dua puluh juta setiap bulan dari pengabdianmu sebagai babuku. Kamu masih beruntung, karena aku membayar pelayanku yang lain, hanya setengah dari gajimu. Apalagi kamu juga mempunyai kehormatan untuk mengandung benihku. Di luar sana banyak Perempuan yang bersedia meski tanpa dibayar. Tapi, aku tidak mau, jadi kamu cukup beruntung,” jawab Sean. Sean hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi ia urungkan kembali. Ada kalimat yang tertinggal untuk ia ucapkan.
“Oh iya, aku lupa. Turun dari kasurku. Tidur di sofa atau di lantai seperti anjing, terserah. Karena majikan tidak level tidur dengan babu. Kamu boleh tidur di tempat tidur jika sedang melayaniku atau jika kamu hamil nanti. Paham?” lanjut Sean.
Celia mencebik kesal. Pandang matanya beralih menatap sofa di salah satu sudut kamar itu setelah Sean pergi ke kamar mandi. Ia menghela napas panjang. “Tidak apa-apa Celia. Setidaknya, sofa mahal itu empuk untuk digunakan tidur,” ujar Celia bermonolog menenangkan dirinya sendiri.
Ia kemudian beranjak ke meja mengambil pulpen dan kertas, menghitung berapa bulan ia harus menjadi budak dari pria menyebalkan itu. Karena ia tidak ingin salah memasukkan angka nol, Celia menggunakan kertas dan pulpen untuk menghitungnya. 10 miliar rupiah nominal yang memiliki banyak angka nol di belakang angka 1.
Seketika ia merasa frustasi. Harapannya untuk bisa memiliki pernikahan bahagia bak di negeri dongeng, pupus sudah. Tidak ada harapan. Ia tidak akan bisa lari hingga hutang itu lunas. Hutang yang mungkin baru bisa lunas setelah ia tua dan keriput.
***
BYUUUR!!!
“Hahhhhhh.” Celia menarik napas kelagapan dengan siraman air dingin yang membangunkan tidurnya. Ia seketika duduk dengan panik.
“Bangun! Ini sudah jam berapa? Ck! Kamu bahkan lebih buruk dari pelayan termalas di rumah ini!” ketus Sean.
Celia yang nyawanya masih sebagian berterbangan di alam mimpi, berusaha menyadarkan dirinya. Ia melirik sebal ke arah pria yang mengenakan handuk kimono putih di hadapannya itu.
“Sudah sadar?” tanya Sean menatap jengkel wajah kebingungan Celia.
Celia mengangguk pelan kemudian melirik ke arah jam dinding. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi.
“Maaf.” Hanya itu kata yang bisa terucap dari mulut Celia. Ia menundukkan kepalanya, merasa terintimidasi dengan perlakuan Sean pagi ini.
“Mandi dan bersiaplah. Hari ini, aku akan memperkenalkanmu pada seluruh jajaran direksi di kantorku. Karena kita baru saja menikah,” suruh Sean.
“Hah?” Celia masih tidak mengerti apa yang dimaksud Sean.
Dengan cepat Sean mencengkeram rahang Celia dan menatap mata Celia dengan tatapan tajamnya. “Dengar! Jika kamu melakukan sedikit saja kesalahan di acara penting ini. Atau jika kamu tidak bisa menjaga sikapmu, aku pastikan setelah acara hari ini berakhir, kamu akan kehilangan satu ruas jarimu! Paham?!”
Mata Celia sontak terbelalak, ia meneguk salivanya sendiri, membayangkan satu ruas jarinya terpotong. Ia buru-buru mengangguk cepat, meskipun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
“Baiklah, cepat mandi. Setelah itu temui Naima. Ia yang akan menjelaskan apa yang harus kamu lakukan hari ini,” perintah Sean sembari menghempaskan Celia kembali ke atas sofa. Kemudian ia beralih ke walk-in closet miliknya untuk berganti pakaian.
Celia masih menundukkan kepalanya, ia berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Kepalanya terasa berputar sesaat. Mungkin karena ia dibangunkan dengan guyuran air dingin yang membuatnya merasa pusing.
"Apa tidak adakah cara lain yang lebih beradab untuk membangunkan seseorang?" keluh Celia bermonolog.
***
Setelah selesai mandi, Naima sudah menunggu di dalam kamar. Ia membawakan gaun berwarna pink nude. Gaun lengan panjang dengan rok di atas lutut. Lengkap dengan sepatu dan tas tangan dengan warna senada.
Celia hanya menatap Naima dengan tatapan kosong.
“Tuan Sean meminta anda untuk mengenakan gaun ini. Setelah berpakaian, kami tunggu Nyonya Celia di ruang make up,” ujar Naima meletakkan gaun itu dan bergegas pergi.
Celia hanya diam dengan wajah datar melihat Naima berlalu. Ia memang sedang enggan berkomentar. Diambilnya gaun itu. Dari bahan dan jahitannya, memang tampak seperti gaun mahal. Apakah gaun ini akan menjadi miliknya, ataukah Sean akan memasukkan harga gaun ini ke dalam daftar hutangnya. Entahlah. Celia tidak tahu. Ia mencoba menuruti apa yang diminta oleh Sean.
Celia membawa gaun itu ke kamar mandi dan memakainya. Ia lalu menemui Naima di ruang make up. Ruangan yang sama seperti saat ia mempersiapkan pesta pernikahannya kemarin.
Tim make up artist sudah siap dengan perlengkapan mereka. Mereka meminta Celia duduk. Dengan cekatan tangan-tangan terampil mereka memoleskan make up natural ke wajah Celia. Beberapa dari mereka sibuk membenahi tampilan rambut Celia. Membuat rambut hitam Celia tampak mengombak dan tergantung indah sebatas punggung.
Naima segera meminta tim keluar ruangan setelah selesai dengan pekerjaannya. Ia menaikan dagu Celia dari posisi tertunduk. Mengarahkan Celia agar duduk tegap.
“Tersenyumlah,” perintah Naima sambil tersenyum ramah. Celia melengkungkan senyumnya. Namun, ada rona keterpaksaan di wajahnya.
“Jangan tampilkan keterpaksaan di wajahmu. Apapun yang terjadi, cobalah untuk selalu tersenyum. Sapalah semua tamu undangan di kantor Tuan Sean dengan senyuman. Nyonya harus tampil seperti seorang wanita yang sangat bahagia dengan pernikahannya. Mengerti?” lanjut Naima dengan tegas tanpa meninggalkan kesan ramah. Wanita paruh baya itu terkadang tampak tegas dan kaku. Namun, terkadang tampak ramah. Membuat Celia kesulitan untuk menerka kepribadiannya.
Celia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan diakhiri dengan lengkung senyuman manis di bibirnya. Sulit memang bagi Celia untuk berpura-pura baik di hadapan banyak orang. Tapi, tentu saja ini karena ia tidak memiliki pilihan lain. Di samping itu, ia tidak mau menyusahkan Naima.
“Nah, begitu lebih baik.”
“Naima?” panggil Celia.
“Ya, Nyonya?”
“Apa Tuan Sean itu orang baik?”
Naima terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Celia. Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis muda di hadapannya, kemudian menghela napas pelan.“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?”Celia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku hanya penasaran. Sepertinya semua orang di rumah ini sangat takut kepadanya. Bahkan para pengawal pun selalu menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengannya.”Naima tersenyum tipis. “Tuan Sean adalah orang yang sulit dipahami. Dia memiliki karakter yang keras, tegas, dan tidak menyukai kesalahan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, saya jarang sekali melihat dia menunjukkan sisi lembutnya.”“Jadi, dia memang bukan orang baik?”“Nyonya Celia.” Naima menghela napas. “Saya rasa bukan tempat saya untuk menilai majikan sendiri. Namun, satu hal yang perlu Nyonya ketahui, jangan pernah mencoba menguji kesabarannya. Tuan Sean tidak suka dibantah.”Celia mendengus pelan.“Baguslah. Berarti aku tidak salah menilainya sebagai manusia paling menyebalkan di
“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.“Berapa hutang ayahku? Dan berapa gaji yang aku dapatkan jika kau bekerja denganmu?” tanya Celia. Ia penasaran dengan durasi yang akan ia habiskan untuk menebus hutang.“Sepuluh miliar. Dan akan potong dua puluh juta setiap bulan dari pengabdianmu sebagai babuku. Kamu masih beruntung, karena aku membayar pelayanku yang lain, hanya setengah dari gajimu. Apalagi kamu juga mempunyai kehormatan untuk mengandung benihku. Di luar sana banyak Perempuan yang bersedia meski tanpa dibayar. Tapi, aku tidak mau, jadi kamu cukup beruntung,” jawab Sean. Sean hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi ia urungkan kembali. Ada kalimat yang tertinggal untuk ia ucapkan.“Oh iya, aku lupa. Turun dari kasurku. Tidur di sofa atau di lantai seperti anjing, terserah. Karena majikan tidak level tidur dengan babu. Kamu boleh tidur di tempat tidur jika sedang melayaniku atau jika kamu hamil nanti. Paham?” lanjut Sean.Celia mencebik kesal. Pandang
Celia menghela napas panjang. Ada rasa sesal di dalam hatinya setelah mengingat kejadian malam itu. "Haaah! Seharusnya aku melawan mereka dengan lebih keras lagi," gumam Celia bermonolog."Semalam aku hanya syok dan ketakutan karena otakku berhenti berpikir. Tapi, sekarang setelah bertemu dengan pria yang diagungkan dan ditakuti semua orang itu, aku tidak lagi merasa takut. Sean tidak lebih dari anak manja yang tidak sengaja terlahir di keluarga kaya sehingga memiliki kekuasaan dan bisa bertindak seenaknya. Aku yakin apa yang dikatakan tadi hanya ancaman sampah belaka."Celia mengernyitkan dahinya mencoba menelaah kembali setiap rentetan kejadian yang terjadi padanya.Celia menguatkan dirinya sendiri. Ia sadar, jika ia tidak mempunyai siapapun yang bisa ia andalkan di rumah ini selain dirinya sendiri. Jadi, mau tidak mau, Celia harus bersabar sementara untuk kabur ketika ia sudah menemukan celah.'Jika aku membuat mereka percaya bahwa aku tunduk pada mereka. Mereka pasti akan melongga
Celia tampak lesu pagi itu. Duduk di atas kasur mewah sambil memeluk lututnya dengan tatapan kosong. Celia tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Ia bahkan tidak menyentuh makan malamnya dari semalam. Nampan berisikan sepiring pasta dan segelas air putih itu masih tergeletak di meja di sudut ruangan. Entah sudah basi atau belum, jelas ia tidak mau peduli.Baju yang ia kenakan pun masih baju yang sama dengan yang ia pakai saat dua orang bodyguard itu menjemputnya paksa. Hanya kaos dan celana pendek santai. Tidak ada niat baginya untuk mengintip isi lemari barang hanya untuk mengganti pakaiannya.Meskipun memasang tampang berani, sesungguhnya Celia merasa takut dengan orang yang disebut-sebut sebagai Sean itu. Bagaimana tidak? Ibu tirinya sampai lemas hanya karena membaca namanya Sean. Kakak tirinya pun meminta ia untuk melarikan diri ke desa karena paham reputasi buruk pria bernama Sean Reynald Wijaya itu. Bisa dipastikan Sean memiliki perangai yang teramat buruk.‘Entah m
Langkah kaki Sean bergemerincing tegas di atas lantai marmer kilap kantor utama Star Air, perusahaan penerbangan raksasa yang dikuasai keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu mahoni ruangan kerja pribadi sang ayah, Bima.SREK!Sebuah lembar kertas berisikan surat wasiat dari mendiang ibunya melayang bebas dan mendarat telak di atas meja kerja Bima.Bima, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan aura wibawa yang kental, sama sekali tidak terkejut. Ia mendongak perlahan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin."Apa maksud dari semua ini, hah?" suara Sean menggelegar, penuh amarah yang tertahan. "Ayah perempuan bernama Celia itu yang memiliki hutang pada perusahaan kita. Tapi mengapa justru hidupku yang harus dikekang oleh perjodohan sialan ini? Dan beraninya Ayah menggunakan namaku untuk menyuruh bodyguard menjemput gadis miskin itu secara paksa!"Bima menyesap kopi hitamnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas piring kecil. "Bisakah kam
"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.Bruk!Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahn







