FAZER LOGINCelia menghela napas panjang. Ada rasa sesal di dalam hatinya setelah mengingat kejadian malam itu. "Haaah! Seharusnya aku melawan mereka dengan lebih keras lagi," gumam Celia bermonolog.
"Semalam aku hanya syok dan ketakutan karena otakku berhenti berpikir. Tapi, sekarang setelah bertemu dengan pria yang diagungkan dan ditakuti semua orang itu, aku tidak lagi merasa takut. Sean tidak lebih dari anak manja yang tidak sengaja terlahir di keluarga kaya sehingga memiliki kekuasaan dan bisa bertindak seenaknya. Aku yakin apa yang dikatakan tadi hanya ancaman sampah belaka."
Celia mengernyitkan dahinya mencoba menelaah kembali setiap rentetan kejadian yang terjadi padanya.
Celia menguatkan dirinya sendiri. Ia sadar, jika ia tidak mempunyai siapapun yang bisa ia andalkan di rumah ini selain dirinya sendiri. Jadi, mau tidak mau, Celia harus bersabar sementara untuk kabur ketika ia sudah menemukan celah.
'Jika aku membuat mereka percaya bahwa aku tunduk pada mereka. Mereka pasti akan melonggarkan penjagaan," ujar Celia dalam hati.
Ia mengambil handuk kimono yang tersedia di kamar mandi dan berjalan menuju ke arah lemari untuk mengambil pakaian. Baru saja Celia selesai berpakaian, seseorang mengetuk pintu dan membuka kunci itu dari luar.
Tampak seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan masuk ke kamar Celia. Ia membungkukan badannya sambil membawa nampan berisikan makanan.
"Nona Celia, Tuan Sean meminta saya mengantarkan makan malam," ujarnya.
"Iya. Taruh di situ saja," jawab Celia.
Setelah pelayan itu meletakkan makan malam, ia berjalan mendekati Celia.
"Izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Naima. Saya kepala pelayan di rumah ini. Saya juga yang ditugaskan untuk merawat Nona mulai malam ini hingga hari pesta pernikahan nanti. Termasuk di dalamnya fitting gaun, make up, dan lainnya. Jadi, saya mohon kerjasama Nona Celia dalam hal ini," jelasnya dengan hormat.
"Baik, Naima. Aku akan berusaha untuk mengikuti semua rangkaian kegiatan yang sudah disiapkan dan dibebankan padamu," tegas Celia.
"Terima kasih, Nona." Naima pun permisi dari kamar Celia. Ia mengunci kembali pintu kamar Celia dari luar.
Celia hanya menghela napas panjang. "Aku akan bersabar hingga hari pernikahan tiba. Setelah itu, jangan harap aku akan bermanis-manis seperti sekarang. Lagi pula ini hanya pernikahan wasiat. Bukan berarti aku dan si Sean itu tidak bisa bercerai, kan. Jadi, biarlah. Hanya sebuah pernikahan," tandas Celia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal ini bukanlah masalah besar. Ia hanya tidak ingin menjadi lemah. Mensugesti diri sendiri adalah satu-satunya cara terbaik yang ia punya
saat ini.
***
Sebuah pernikahan baru saja selesai digelar antara Sean dan Celia, di ballroom utama mansion mewah milik Sean. Celia menunggu di kamar pengantin dengan gaun malam tipis yang sudah disiapkan oleh panitia pernikahan untuknya. Berkali-kali ia merapatkan kimono tidur berbahan satin untuk menutupi tubuhnya. Ia merasa risih dengan baju tipis itu.
Sudah sebulan ia tidak bertemu dengan ibu dan kakak tirinya. Sejak hari di mana ia diculik paksa oleh para pengawal Sean hingga hari pernikahannya, ia sama sekali tidak diperbolehkan mengunjungi ibunya ataupun sekedar menelepon untuk memberikan kabar jika dirinya baik-baik saja. Agar ibu tirinya tidak khawatir. Tidak sekalipun ia pernah mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal itu. Celia merasa sedih dan cemas, tapi ia berusaha untuk menahannya sekuat tenaga.
Pernikahan ini tampak nyata. Semua orang yang berada di inner circle Sean mengetahui jika Celia adalah istrinya. Sikap Sean yang dingin dan angker pun tidak tampak sama sekali selama pesta pernikahan tadi siang. Hal itu membuat Celia muak. Seharian ini ia dipaksa tersenyum di hadapan para tamu dengan berbagai ancaman yang melatarbelakanginya.
Celia menghela napas panjang. Ia memasrahkan semuanya.
Sean yang baru saja selesai menyambut tamu dari kalangan keluarganya, masuk ke dalam kamar pengantin yang tidak lain adalah kamar Sean sendiri. Ia melepas atribut pengantinnya yang membuatnya gerah. Sejenak ia melirik Celia yang duduk canggung di atas kasur.
Celia yang hanya duduk di atas kasur, tampak menggoda dengan lekukan tubuhnya yang terpampang jelas dari baju malam yang ia kenakan. Kedua tangannya sibuk menutupi bagian-bagian tubuhnya sendiri agar tidak tampak menonjol, karena ia juga merasa risih dengan pakaian yang terbuka.
“Pakailah baju yang benar!” ketus Sean tidak menaruh minat pada kemolekan tubuh Celia. Belum berminat. Mungkin.
“Bukankah ini malam pertama? Katanya, ibu tirimu sendiri yang menyiapkan baju ini untukku,” tukas Celia. “Aku hanya berusaha untuk menjadi dewasa dengan berbesar hati menerima pernikahan bodoh ini.”
Sean terkekeh pelan dengan seringai di ujung bibirnya. “Kamu lupa alasanku menikahimu hanya karena kamu harus membayar hutang ayahmu. Jadi, tidak usah ngelunjak hanya karena statusmu sekarang menjadi istriku. Karena aku tidak akan memperlakukanmu seperti seorang istri.”
“Lalu akan seperti apa kamu memperlakukanku, hah?” ketus Celia balik. Ia merasa harga dirinya sudah dijatuhkan dengan adanya pernikahan ini. Terlebih sepertinya Sean belum mengenal Celia. Gadis 20 tahun itu lebih tangguh dan kritis dari pada kelihatannya. Hanya saja, Celia sedikit ceroboh dan sering bertindak spontan tanpa berpikir panjang.
“Aku butuh pelayan baru,” ujar Sean dengan entengnya sembari melepas dasi dari kerah kemejanya.
“Jika kamu membutuhkan pelayan, tidak perlu menikahiku. Cukup pekerjakan aku sebagai pelayan hingga hutang ayahku lunas!” tukas Celia perlahan menaikkan intonasi bicaranya.
“Jangan meninggikan intonasi bicaramu di depanku, Babu!” bentak Sean.
“Memangnya kenapa?” tantang Celia. Gadis muda itu seolah tidak peduli betapa kejamnya Sean bisa memperlakukan seseorang.
Sean menghela napas panjang dan menarik ujung bibirnya, ketika tubuhnya masih membelakangi Celia. ‘Menarik juga keberaniannya,’ batin Sean sebelum berbalik badan menatap Celia.
“Oh, kamu lebih suka dipenjara?” ancam Sean.
Celia seketika diam. Ia sadar ia masih memiliki mimpi yang ingin ia kejar. Ia tidak ingin berakhir di penjara.
“Lalu kenapa kamu menikahiku? Jika hanya menjadikanku sebagai babu?”
Sean kembali mengela napas panjang dan berjalan mendekati Celia. Ia duduk tepat di hadapan Celia. “Kamu lugu sekali.”
“Jangan meremehkan aku. Katakan saja apa alasanmu,” ujar Celia dengan nada datar dan menatap lekat mata Sean.
Sean sempat merasa tertantang dengan satu-satunya keturunan Jordan ini. Selama ini tidak ada yang berani menatap matanya secara langsung kecuali kedua orang tuanya. Gadis miskin ini dengan berani menatap matanya seolah menantangnya. Ingin sekali Sean menghukum gadis galak dan tidak tahu diri itu. Namun, tidak! Permainan masih panjang.
Sean tersenyum dengan senyuman termanis yang bisa ia lengkungkan di wajahnya, sebelum mulai menjelaskan. Senyuman manis yang memuakkan di mata Celia.
“Pertama, karena aku tidak ingin membayar biaya jaminan kesehatan dan kesejahteraan untukmu. Itu sebabnya aku tidak ingin kamu tampak menjadi pelayanku di depan tim audit, tapi aku ingin kamu tampak seperti istriku. Karena jika kamu menjadi pelayanku, itu artinya aku harus membayar pajak pekerja juga. Aku pebisnis. Pantang rugi.
“Kedua, tujuanmu di sini untuk membayar hutang ayahmu. Jadi bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Semakin kamu patuh padaku, semakin besar aku potong hutang ayahmu. Dan seluruh penilaian subjektif. Jadi, bersikap baik lah padaku layaknya babu pada majikannya.
“Ketiga, ternyata kamu tidak seburik dan sedekil yang aku kira. Lumayanlah untuk ukuran orang miskin, kamu masih sanggup membeli produk kecantikan sepertinya. Semula, aku berpikir ... jika pertama kali melihatmu dan aku tidak selera dengan wajahmu, aku ingin menempatkanmu jauh di desa terpencil untuk mengurus kuda dan sapi peliharaanku. Tapi, aku berubah pikiran karena bentukanmu tidak terlalu memalukan untuk ditampilkan di depan umum. Jadi, anggaplah, kamu babu yang beruntung.
“Keempat, aku ingin segera menempati posisiku sebagai presiden direktur Star Air. Dan aku tidak memiliki waktu untuk mencari calon istri. So ... win-win solution,” terang Sean panjang lebar dengan gaya bicaranya yang sedikit selengean.
“Ah aku lupa satu hal lagi, karena aku juga membutuhkan keturunan. Jadi, kamu harus melahirkan anak untukku.”
Ia kemudian beranjak menuju ke kamar mandi, meninggalkan Celia yang masih terpaku dengan mulut menganga tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.
Naima terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Celia. Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis muda di hadapannya, kemudian menghela napas pelan.“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?”Celia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku hanya penasaran. Sepertinya semua orang di rumah ini sangat takut kepadanya. Bahkan para pengawal pun selalu menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengannya.”Naima tersenyum tipis. “Tuan Sean adalah orang yang sulit dipahami. Dia memiliki karakter yang keras, tegas, dan tidak menyukai kesalahan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, saya jarang sekali melihat dia menunjukkan sisi lembutnya.”“Jadi, dia memang bukan orang baik?”“Nyonya Celia.” Naima menghela napas. “Saya rasa bukan tempat saya untuk menilai majikan sendiri. Namun, satu hal yang perlu Nyonya ketahui, jangan pernah mencoba menguji kesabarannya. Tuan Sean tidak suka dibantah.”Celia mendengus pelan.“Baguslah. Berarti aku tidak salah menilainya sebagai manusia paling menyebalkan di
“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.“Berapa hutang ayahku? Dan berapa gaji yang aku dapatkan jika kau bekerja denganmu?” tanya Celia. Ia penasaran dengan durasi yang akan ia habiskan untuk menebus hutang.“Sepuluh miliar. Dan akan potong dua puluh juta setiap bulan dari pengabdianmu sebagai babuku. Kamu masih beruntung, karena aku membayar pelayanku yang lain, hanya setengah dari gajimu. Apalagi kamu juga mempunyai kehormatan untuk mengandung benihku. Di luar sana banyak Perempuan yang bersedia meski tanpa dibayar. Tapi, aku tidak mau, jadi kamu cukup beruntung,” jawab Sean. Sean hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi ia urungkan kembali. Ada kalimat yang tertinggal untuk ia ucapkan.“Oh iya, aku lupa. Turun dari kasurku. Tidur di sofa atau di lantai seperti anjing, terserah. Karena majikan tidak level tidur dengan babu. Kamu boleh tidur di tempat tidur jika sedang melayaniku atau jika kamu hamil nanti. Paham?” lanjut Sean.Celia mencebik kesal. Pandang
Celia menghela napas panjang. Ada rasa sesal di dalam hatinya setelah mengingat kejadian malam itu. "Haaah! Seharusnya aku melawan mereka dengan lebih keras lagi," gumam Celia bermonolog."Semalam aku hanya syok dan ketakutan karena otakku berhenti berpikir. Tapi, sekarang setelah bertemu dengan pria yang diagungkan dan ditakuti semua orang itu, aku tidak lagi merasa takut. Sean tidak lebih dari anak manja yang tidak sengaja terlahir di keluarga kaya sehingga memiliki kekuasaan dan bisa bertindak seenaknya. Aku yakin apa yang dikatakan tadi hanya ancaman sampah belaka."Celia mengernyitkan dahinya mencoba menelaah kembali setiap rentetan kejadian yang terjadi padanya.Celia menguatkan dirinya sendiri. Ia sadar, jika ia tidak mempunyai siapapun yang bisa ia andalkan di rumah ini selain dirinya sendiri. Jadi, mau tidak mau, Celia harus bersabar sementara untuk kabur ketika ia sudah menemukan celah.'Jika aku membuat mereka percaya bahwa aku tunduk pada mereka. Mereka pasti akan melongga
Celia tampak lesu pagi itu. Duduk di atas kasur mewah sambil memeluk lututnya dengan tatapan kosong. Celia tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Ia bahkan tidak menyentuh makan malamnya dari semalam. Nampan berisikan sepiring pasta dan segelas air putih itu masih tergeletak di meja di sudut ruangan. Entah sudah basi atau belum, jelas ia tidak mau peduli.Baju yang ia kenakan pun masih baju yang sama dengan yang ia pakai saat dua orang bodyguard itu menjemputnya paksa. Hanya kaos dan celana pendek santai. Tidak ada niat baginya untuk mengintip isi lemari barang hanya untuk mengganti pakaiannya.Meskipun memasang tampang berani, sesungguhnya Celia merasa takut dengan orang yang disebut-sebut sebagai Sean itu. Bagaimana tidak? Ibu tirinya sampai lemas hanya karena membaca namanya Sean. Kakak tirinya pun meminta ia untuk melarikan diri ke desa karena paham reputasi buruk pria bernama Sean Reynald Wijaya itu. Bisa dipastikan Sean memiliki perangai yang teramat buruk.‘Entah m
Langkah kaki Sean bergemerincing tegas di atas lantai marmer kilap kantor utama Star Air, perusahaan penerbangan raksasa yang dikuasai keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu mahoni ruangan kerja pribadi sang ayah, Bima.SREK!Sebuah lembar kertas berisikan surat wasiat dari mendiang ibunya melayang bebas dan mendarat telak di atas meja kerja Bima.Bima, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan aura wibawa yang kental, sama sekali tidak terkejut. Ia mendongak perlahan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin."Apa maksud dari semua ini, hah?" suara Sean menggelegar, penuh amarah yang tertahan. "Ayah perempuan bernama Celia itu yang memiliki hutang pada perusahaan kita. Tapi mengapa justru hidupku yang harus dikekang oleh perjodohan sialan ini? Dan beraninya Ayah menggunakan namaku untuk menyuruh bodyguard menjemput gadis miskin itu secara paksa!"Bima menyesap kopi hitamnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas piring kecil. "Bisakah kam
"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.Bruk!Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahn







