INICIAR SESIÓN
"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.
Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.
Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.
Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.
Bruk!
Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahnya. Ia mendongak dengan napas terengah-engah, mendapati salah seorang lelaki itu berdiri tegak di hadapannya.
"Simpan tenagamu," ucap lelaki itu dengan nada datar yang mengintimidasi. "Jangan coba-coba kabur atau melakukan hal bodoh jika kamu masih peduli pada keselamatan ibu tiri dan saudaramu di rumah. Tuan Sean akan datang untuk menemuimu nanti."
Sebelum Celia sempat membalas makian atau melayangkan protes, Erwin berbalik dan membanting pintu kamar itu dengan keras.
Klek!
Suara kunci berputar dari luar, mengurungnya dalam kesunyian yang pekat dan menyesakkan.
Celia bangkit dengan tergesa, mengabaikan rasa ngilu di lututnya, lalu menerjang pintu kayu jati yang kokoh itu. Ia memukul-mukul permukaannya dengan panik sambil berteriak histeris. "Buka! Sebenarnya apa salah ayahku?! Berapa banyak hutangnya sampai aku harus diseret seperti penjahat ke tempat terkutuk ini?!"
Tidak ada sahutan. Rumah mewah ini bagaikan benteng mati yang kedap suara. Tidak ada satu pun orang yang peduli pada teriakannya yang mulai serak. Ia menendang daun pintu itu berulang kali hingga tenaganya terkuras habis.
Lututnya perlahan melemah, tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Celia melorot, terduduk bersandar pada daun pintu dengan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya yang pucat.
"Ayah... tega sekali Ayah menjadikanku jaminan hutang," bisiknya parau di antara isakan tertahan, memeluk lututnya erat-erat untuk mencari kehangatan semu. "Di hari ulang tahunku... Ayah justru memberikan surat warisan yang menjadi tiket kematianku. Apa sebenci itu Ayah padaku?"
Ia teringat kembali bagaimana surat wasiat itu dibacakan tepat di hari jadinya yang ke-dua puluh dua. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan atau ucapan selamat, ia justru mendapati dirinya diserahkan begitu saja untuk melunasi utang peninggalan ayahnya. Utang yang tidak pernah ia ketahui nominalnya, tetapi kini harus dibayar dengan seluruh kebebasan hidupnya.
Waktu terus bergulir tanpa henti. Jarum jam dinding yang tergantung megah di sudut kamar telah menunjuk angka dua belas malam. Kesunyian malam menyelimuti kediaman megah tersebut.
Ia berpindah meringkuk di atas tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra lembut, berusaha meredakan ngilu di kakinya. Hari ini seharusnya menjadi hari perayaan usianya yang bertambah bahagia, bukan malam mencekam di mana ia diculik atas suruhan orang asing bernama Sean Reynald.
Pikiran Celia melayang pada desas-desus kelam yang sempat ia dengar dari Shella, kakak tirinya, beberapa minggu lalu. Sean dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang kejam, dingin, dan berdarah dingin. Pria itu dikabarkan pernah menghabisi nyawa mantan kekasihnya sendiri karena sebuah pengkhianatan, meski pihak keluarga berhasil meredam kasus tersebut dari sorotan hukum berkat kekuasaan dan kekayaan melimpah yang mereka miliki.
Membayangkan pria berdarah dingin semacam itu akan menjadi suaminya membuat darah Celia mendidih sekaligus membeku karena ngeri. Celia tahu betul, di dunia ini, hukum bisa dibeli dengan uang, dan keluarga Sean adalah penguasa tertinggi dalam hal itu.
Keluarga mereka pasti menyuap banyak aparat penegak hukum untuk menutupi semua kejahatan itu, batin Celia gemetar ketakutan, merinding membayangkan apa yang akan dilakukan pria itu kepadanya esok hari.
Ia bangkit dari ranjang, berjalan pelan ke arah jendela besar yang tertutup tirai beludru tebal berwarna merah marun. Dengan jemari yang bergetar, ia sedikit menggeser tirai tersebut untuk mengintip keadaan di luar.
Pemandangan yang tersaji di balik kaca jendela membuatnya terkesiap hebat. Puluhan pria berjas hitam dengan postur tubuh tegap tampak berjaga ketat di setiap sudut halaman yang luas. Mereka berpatroli dengan disiplin tinggi, membuat tempat ini tampak seperti markas sindikat kriminal internasional alih-alih kediaman pribadi orang kaya biasa.
Tidak ada celah untuk kabur, pikirnya putus asa, menyadari bahwa melarikan diri dari tempat ini sama saja dengan mencari mati.
Tiba-tiba, suara putaran kunci terdengar dari arah pintu kamar.
Cklek.
Celia seketika menegang. Jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru melangkah mundur, mencari tempat bersembunyi di balik pilar dinding kamar sambil menahan napasnya, berharap malam ini bukanlah akhir dari hidupnya.
Pintu perlahan terbuka lebar. Sosok yang melangkah masuk bukanlah pelayan ataupun wanita paruh baya yang ia bayangkan, melainkan seorang pria tinggi tegap dengan aura dominan yang langsung memenuhi seluruh ruangan.
Itu adalah Sean Reynald.
Pria itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam menghujam. Di bawah temaram lampu kamar, wajah Sean tampak begitu sempurna namun memancarkan aura kegelapan yang mengerikan. Bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis, sebuah senyuman sinis yang membuat wajahnya terlihat bagaikan sesosok iblis yang baru saja keluar dari kegelapan neraka.
Sepasang matanya menatap ke arah tempat tidur dan sudut ruangan, memindai keberadaan Celia dengan tatapan lapar, persis seperti seekor serigala buas yang kelaparan, siap menerkam mangsanya kapan saja tanpa ampun.
Celia yang bersembunyi di balik pilar merasa sekujur tubuhnya membeku.
Sean melangkah masuk perlahan. Suara pantulan sepatunya di lantai marmer terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi Celia. Pria itu melepas jas hitamnya dan melemparkannya begitu saja ke atas sofa, lalu mulai menyusuri ruangan dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari tempat Celia bersembunyi.
"Keluar, atau aku sendiri yang menyeretmu keluar dari persembunyianmu, Nona Celia!" Suara Sean terdengar rendah, tetapi sangat tajam menusuk gendang telinga. Suara itu tidak bernada tinggi, tetapi mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Menyadari dirinya sudah ketahuan, Celia dengan terpaksa keluar dari balik pilar. Ia berdiri dengan tubuh gemetar hebat, berusaha menegakkan dagunya meski lututnya terasa lemas. Ia menatap pria di hadapannya dengan campuran antara rasa takut dan amarah yang meluap-luap.
Sean berhenti tepat beberapa langkah di depan Celia. Jarak yang begitu dekat membuat Celia bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur wewangian mewah yang menguar dari tubuh pria itu. Sean menundukkan sedikit wajahnya untuk menatap mata Celia lekat-lekat, menikmati ekspresi ketakutan yang terpancar jelas di wajah mungil gadis itu.
"Jadi... kau wanita pembawa sial yang diwariskan oleh mendiang ayahmu untuk melunasi seluruh utangnya padaku?" tanya Sean dengan nada meremehkan, seringainya semakin melebar memperlihatkan sisi gelap yang membuat bulu kuduk Celia merinding hebat.
"Aku bukan barang jaminan!" balas Celia dengan suara bergetar namun berusaha keras untuk tetap tegas. "Apa hak kalian memperlakukanku seperti ini? Lepaskan aku!"
Sean tertawa kecil, sebuah tawa dingin yang sama sekali tidak mencerminkan kebahagiaan, melainkan sebuah ejekan telak. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu dengan gerakan cepat mencengkeram dagu Celia menggunakan ibu jari dan telunjuknya, memaksa gadis itu mendongak menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam.
Celia meringis pelan saat cengkeraman di dagunya terasa begitu kuat, namun ia menolak untuk menunjukkan kelemahannya lebih jauh. Ia menggertakkan giginya, menatap tajam mata pria di hadapannya meskipun air mata ketakutan kembali menggenang di sudut matanya.
"Hakku?" Sean mendekatkan wajahnya, membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Celia dengan suara yang penuh ancaman mematikan. "Ayahmu menyerahkanmu secara sah melalui surat wasiat dan perjanjian utang piutang yang tidak bisa kau batalkan dengan air mata murahmu itu. Mulai detik ini, hidupmu, kebebasanmu, bahkan napas yang kau hirup adalah milikku."
Celia terkesiap, napasnya semakin memburu mendengar pernyataan mutlak yang keluar dari bibir pria itu. Ia mencoba melepaskan dagunya dari cengkeraman Sean, namun tenaga pria itu terlalu besar untuk dilawannya.
"Kau pikir kau bisa melawan takdir yang sudah digariskan ini?" lanjut Sean dengan tatapan penuh teror yang menghujam jiwa Celia. "Kau pikir dengan meronta atau berteriak di kamar ini akan membuatku iba? Kau salah besar, Celia. Di dunia yang aku kuasai, belas kasihan adalah hal yang tidak pernah ada."
Sean melepaskan cengkeramannya pada dagu Celia dengan sedikit dorongan kasar, membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan dan mundur dua langkah ke belakang. Pria itu merapikan lengan kemejanya yang sedikit terlipat, lalu menatap Celia untuk terakhir kalinya dengan sorot mata tajam.
"Nikmati malam terakhirmu sebagai orang bebas di kamar ini," ucap Sean dingin seraya berbalik melangkah menuju pintu keluar. "Jangan pernah coba-coba untuk kabur, Nona Celia!"
Naima terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Celia. Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis muda di hadapannya, kemudian menghela napas pelan.“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?”Celia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku hanya penasaran. Sepertinya semua orang di rumah ini sangat takut kepadanya. Bahkan para pengawal pun selalu menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengannya.”Naima tersenyum tipis. “Tuan Sean adalah orang yang sulit dipahami. Dia memiliki karakter yang keras, tegas, dan tidak menyukai kesalahan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, saya jarang sekali melihat dia menunjukkan sisi lembutnya.”“Jadi, dia memang bukan orang baik?”“Nyonya Celia.” Naima menghela napas. “Saya rasa bukan tempat saya untuk menilai majikan sendiri. Namun, satu hal yang perlu Nyonya ketahui, jangan pernah mencoba menguji kesabarannya. Tuan Sean tidak suka dibantah.”Celia mendengus pelan.“Baguslah. Berarti aku tidak salah menilainya sebagai manusia paling menyebalkan di
“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.“Berapa hutang ayahku? Dan berapa gaji yang aku dapatkan jika kau bekerja denganmu?” tanya Celia. Ia penasaran dengan durasi yang akan ia habiskan untuk menebus hutang.“Sepuluh miliar. Dan akan potong dua puluh juta setiap bulan dari pengabdianmu sebagai babuku. Kamu masih beruntung, karena aku membayar pelayanku yang lain, hanya setengah dari gajimu. Apalagi kamu juga mempunyai kehormatan untuk mengandung benihku. Di luar sana banyak Perempuan yang bersedia meski tanpa dibayar. Tapi, aku tidak mau, jadi kamu cukup beruntung,” jawab Sean. Sean hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi ia urungkan kembali. Ada kalimat yang tertinggal untuk ia ucapkan.“Oh iya, aku lupa. Turun dari kasurku. Tidur di sofa atau di lantai seperti anjing, terserah. Karena majikan tidak level tidur dengan babu. Kamu boleh tidur di tempat tidur jika sedang melayaniku atau jika kamu hamil nanti. Paham?” lanjut Sean.Celia mencebik kesal. Pandang
Celia menghela napas panjang. Ada rasa sesal di dalam hatinya setelah mengingat kejadian malam itu. "Haaah! Seharusnya aku melawan mereka dengan lebih keras lagi," gumam Celia bermonolog."Semalam aku hanya syok dan ketakutan karena otakku berhenti berpikir. Tapi, sekarang setelah bertemu dengan pria yang diagungkan dan ditakuti semua orang itu, aku tidak lagi merasa takut. Sean tidak lebih dari anak manja yang tidak sengaja terlahir di keluarga kaya sehingga memiliki kekuasaan dan bisa bertindak seenaknya. Aku yakin apa yang dikatakan tadi hanya ancaman sampah belaka."Celia mengernyitkan dahinya mencoba menelaah kembali setiap rentetan kejadian yang terjadi padanya.Celia menguatkan dirinya sendiri. Ia sadar, jika ia tidak mempunyai siapapun yang bisa ia andalkan di rumah ini selain dirinya sendiri. Jadi, mau tidak mau, Celia harus bersabar sementara untuk kabur ketika ia sudah menemukan celah.'Jika aku membuat mereka percaya bahwa aku tunduk pada mereka. Mereka pasti akan melongga
Celia tampak lesu pagi itu. Duduk di atas kasur mewah sambil memeluk lututnya dengan tatapan kosong. Celia tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Ia bahkan tidak menyentuh makan malamnya dari semalam. Nampan berisikan sepiring pasta dan segelas air putih itu masih tergeletak di meja di sudut ruangan. Entah sudah basi atau belum, jelas ia tidak mau peduli.Baju yang ia kenakan pun masih baju yang sama dengan yang ia pakai saat dua orang bodyguard itu menjemputnya paksa. Hanya kaos dan celana pendek santai. Tidak ada niat baginya untuk mengintip isi lemari barang hanya untuk mengganti pakaiannya.Meskipun memasang tampang berani, sesungguhnya Celia merasa takut dengan orang yang disebut-sebut sebagai Sean itu. Bagaimana tidak? Ibu tirinya sampai lemas hanya karena membaca namanya Sean. Kakak tirinya pun meminta ia untuk melarikan diri ke desa karena paham reputasi buruk pria bernama Sean Reynald Wijaya itu. Bisa dipastikan Sean memiliki perangai yang teramat buruk.‘Entah m
Langkah kaki Sean bergemerincing tegas di atas lantai marmer kilap kantor utama Star Air, perusahaan penerbangan raksasa yang dikuasai keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu mahoni ruangan kerja pribadi sang ayah, Bima.SREK!Sebuah lembar kertas berisikan surat wasiat dari mendiang ibunya melayang bebas dan mendarat telak di atas meja kerja Bima.Bima, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan aura wibawa yang kental, sama sekali tidak terkejut. Ia mendongak perlahan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin."Apa maksud dari semua ini, hah?" suara Sean menggelegar, penuh amarah yang tertahan. "Ayah perempuan bernama Celia itu yang memiliki hutang pada perusahaan kita. Tapi mengapa justru hidupku yang harus dikekang oleh perjodohan sialan ini? Dan beraninya Ayah menggunakan namaku untuk menyuruh bodyguard menjemput gadis miskin itu secara paksa!"Bima menyesap kopi hitamnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas piring kecil. "Bisakah kam
"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.Bruk!Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahn







