FAZER LOGINLangkah kaki Sean bergemerincing tegas di atas lantai marmer kilap kantor utama Star Air, perusahaan penerbangan raksasa yang dikuasai keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu mahoni ruangan kerja pribadi sang ayah, Bima.
SREK!
Sebuah lembar kertas berisikan surat wasiat dari mendiang ibunya melayang bebas dan mendarat telak di atas meja kerja Bima.
Bima, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan aura wibawa yang kental, sama sekali tidak terkejut. Ia mendongak perlahan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin.
"Apa maksud dari semua ini, hah?" suara Sean menggelegar, penuh amarah yang tertahan. "Ayah perempuan bernama Celia itu yang memiliki hutang pada perusahaan kita. Tapi mengapa justru hidupku yang harus dikekang oleh perjodohan sialan ini? Dan beraninya Ayah menggunakan namaku untuk menyuruh bodyguard menjemput gadis miskin itu secara paksa!"
Bima menyesap kopi hitamnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas piring kecil. "Bisakah kamu belajar bersikap sopan kepada ayahmu sendiri, Sean?" ucap Bima datar, tanpa sedikit pun menaikkan intonasi suaranya.
"Jangan berikan aku ceramah basi! Jawab pertanyaanku!" desak Sean, mencengkeram tepi meja kerja Bima hingga buku-buku jarinya memutih.
Bima menghela napas panjang, menatap putranya dengan tatapan meremehkan. "Aku mengira kamu cukup cerdas untuk memimpin perusahaan ini kelak. Tapi ternyata, pikiranmu dangkal sekali."
"Jaga bicaramu!"
"Semuanya sudah tertulis dengan jelas di dalam surat wasiat mendiang ibumu, Sania," potong Bima tajam. "Star Air masih berada di bawah kepemilikan saham Sania. Jika kamu ingin mengambil alih seluruh kendali penuh dan menjadi CEO utama seperti ambisimu selama bertahun-tahun, maka hanya ada satu jalan keluar: terima gadis itu sebagai istrimu, dan buat ia melunasi hutang keluarganya dengan cara apa pun."
"Kalau begitu, aku akan melunasi hutang remeh gadis miskin itu sekarang juga dengan uangku sendiri, lalu menceraikannya keesokan harinya!" bentak Sean geram.
Bima tersenyum tipis, sebuah senyuman sinis yang membuat dada Sean semakin bergemuruh karena kesal. "Kamu benar-benar melewatkan poin paling penting di paragraf terakhir, ya? Pernikahan bisnis ini wajib berjalan minimal selama tiga tahun penuh. Barulah kuasa hukum ibumu berhak mengalihkan seluruh saham tersebut kepadamu. Saham itu memiliki poin penting, hanya bisa diwariskan kepada pewaris yang sudah berumah tangga. Ibumu tahu betul kalau anak berandal sepertimu alergi pada komitmen pernikahan, jadi ia membuat jebakan ini."
"Kenapa harus gadis miskin itu? Bukankah ini akan menjadi skandal memalukan bagi keluarga kita? Kenapa tidak menikahkanku dengan anak perempuan dari kalangan bangsawan atau pengusaha terhormat?!" Sean melampiaskan frustasinya.
"Hentikan omong kosongmu, Sean!" seru Bima dengan nada suara yang akhirnya menajam, memotong protes putranya. "Kamu tidak bisa menghargai wanita yang telah melahirkanmu? Sania sudah tiada, tapi wasiatnya masih saja kau bantah! Jangan khawatir soal status sosial, skenario latar belakang pendidikan dan prestasi palsu untuk gadis itu sudah disiapkan oleh tim hukum kita. Keluarga kita tidak akan menanggung malu. Lagi pula, perempuan dari keluarga miskin jauh lebih mudah dikendalikan karena mereka tidak memiliki backing kekuasaan untuk melawan."
Bima kembali menunduk, mengabaikan putranya dan fokus pada berkas-berkas perusahaan di depannya. "Tiga tahun pernikahan kontrak. Setelah saham itu resmi beralih atas namamu, kamu bebas menendang dan membuang gadis itu sesukamu."
"Ck!" Sean mengepalkan kedua tangannya hingga otot-otot di lengannya menegang. Napasnya memburu menahan amarah yang meledak-ledak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan membanting pintu ruangan ayahnya dengan keras.
Malam menjelang. Sean berdiri termenung di balkon kamar pribadinya, menatap kosong ke arah halaman belakang kediamannya yang luas. Ia mencoba merasionalkan isi surat wasiat ibunya yang terasa begitu tidak masuk akal di kepalanya.
Ayah Celia hanya memiliki hutang yang nominalnya tidak ada apa-apanya dibandingkan harga satu unit helikopter pribadi milik perusahaannya. Namun, mengapa sang ibu harus membuat syarat serumit ini?
Aku masih tidak bisa merangkai benang merah dari semua ini, batin Sean bergejolak. Bagaimana bisa Mama memaksaku menikahi gadis miskin hanya untuk melunasi hutang receh itu dalam kurun waktu tiga tahun?
Sebuah spekulasi buruk mendadak melintas di benak gelapnya.
Atau jangan-jangan... Mama menyimpan dendam kesumat pada keluarga gadis itu? Dan ia sengaja ingin aku menyiksa Celia perlahan-lahan sebagai bentuk pembalasan di masa lalu?
Sudut bibir Sean perlahan terangkat membentuk sebuah seringai dingin yang mengerikan.
Jika memang itu tujuannya, maka tugasku sangat sederhana. Aku hanya perlu membuat hidup gadis miskin itu menderita setiap harinya untuk menuntaskan dendam mendiang Mama. Itu hal yang sangat mudah bagiku.
Sean menyipitkan matanya, kilatan kejam terpancar dari manik matanya di tengah kegelapan malam.
Orang miskin tidak punya daya tawar, tidak punya kekuasaan, dan sangat mudah untuk dihancurkan mentalnya. Mungkin itu alasan utama Mama menjebakku dalam pernikahan ini, agar gadis itu tidak berani menuntut apa pun selain tunduk pada setiap perintahku. Permainan yang sangat menarik.
Naima terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Celia. Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis muda di hadapannya, kemudian menghela napas pelan.“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?”Celia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku hanya penasaran. Sepertinya semua orang di rumah ini sangat takut kepadanya. Bahkan para pengawal pun selalu menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengannya.”Naima tersenyum tipis. “Tuan Sean adalah orang yang sulit dipahami. Dia memiliki karakter yang keras, tegas, dan tidak menyukai kesalahan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, saya jarang sekali melihat dia menunjukkan sisi lembutnya.”“Jadi, dia memang bukan orang baik?”“Nyonya Celia.” Naima menghela napas. “Saya rasa bukan tempat saya untuk menilai majikan sendiri. Namun, satu hal yang perlu Nyonya ketahui, jangan pernah mencoba menguji kesabarannya. Tuan Sean tidak suka dibantah.”Celia mendengus pelan.“Baguslah. Berarti aku tidak salah menilainya sebagai manusia paling menyebalkan di
“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.“Berapa hutang ayahku? Dan berapa gaji yang aku dapatkan jika kau bekerja denganmu?” tanya Celia. Ia penasaran dengan durasi yang akan ia habiskan untuk menebus hutang.“Sepuluh miliar. Dan akan potong dua puluh juta setiap bulan dari pengabdianmu sebagai babuku. Kamu masih beruntung, karena aku membayar pelayanku yang lain, hanya setengah dari gajimu. Apalagi kamu juga mempunyai kehormatan untuk mengandung benihku. Di luar sana banyak Perempuan yang bersedia meski tanpa dibayar. Tapi, aku tidak mau, jadi kamu cukup beruntung,” jawab Sean. Sean hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi ia urungkan kembali. Ada kalimat yang tertinggal untuk ia ucapkan.“Oh iya, aku lupa. Turun dari kasurku. Tidur di sofa atau di lantai seperti anjing, terserah. Karena majikan tidak level tidur dengan babu. Kamu boleh tidur di tempat tidur jika sedang melayaniku atau jika kamu hamil nanti. Paham?” lanjut Sean.Celia mencebik kesal. Pandang
Celia menghela napas panjang. Ada rasa sesal di dalam hatinya setelah mengingat kejadian malam itu. "Haaah! Seharusnya aku melawan mereka dengan lebih keras lagi," gumam Celia bermonolog."Semalam aku hanya syok dan ketakutan karena otakku berhenti berpikir. Tapi, sekarang setelah bertemu dengan pria yang diagungkan dan ditakuti semua orang itu, aku tidak lagi merasa takut. Sean tidak lebih dari anak manja yang tidak sengaja terlahir di keluarga kaya sehingga memiliki kekuasaan dan bisa bertindak seenaknya. Aku yakin apa yang dikatakan tadi hanya ancaman sampah belaka."Celia mengernyitkan dahinya mencoba menelaah kembali setiap rentetan kejadian yang terjadi padanya.Celia menguatkan dirinya sendiri. Ia sadar, jika ia tidak mempunyai siapapun yang bisa ia andalkan di rumah ini selain dirinya sendiri. Jadi, mau tidak mau, Celia harus bersabar sementara untuk kabur ketika ia sudah menemukan celah.'Jika aku membuat mereka percaya bahwa aku tunduk pada mereka. Mereka pasti akan melongga
Celia tampak lesu pagi itu. Duduk di atas kasur mewah sambil memeluk lututnya dengan tatapan kosong. Celia tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Ia bahkan tidak menyentuh makan malamnya dari semalam. Nampan berisikan sepiring pasta dan segelas air putih itu masih tergeletak di meja di sudut ruangan. Entah sudah basi atau belum, jelas ia tidak mau peduli.Baju yang ia kenakan pun masih baju yang sama dengan yang ia pakai saat dua orang bodyguard itu menjemputnya paksa. Hanya kaos dan celana pendek santai. Tidak ada niat baginya untuk mengintip isi lemari barang hanya untuk mengganti pakaiannya.Meskipun memasang tampang berani, sesungguhnya Celia merasa takut dengan orang yang disebut-sebut sebagai Sean itu. Bagaimana tidak? Ibu tirinya sampai lemas hanya karena membaca namanya Sean. Kakak tirinya pun meminta ia untuk melarikan diri ke desa karena paham reputasi buruk pria bernama Sean Reynald Wijaya itu. Bisa dipastikan Sean memiliki perangai yang teramat buruk.‘Entah m
Langkah kaki Sean bergemerincing tegas di atas lantai marmer kilap kantor utama Star Air, perusahaan penerbangan raksasa yang dikuasai keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu mahoni ruangan kerja pribadi sang ayah, Bima.SREK!Sebuah lembar kertas berisikan surat wasiat dari mendiang ibunya melayang bebas dan mendarat telak di atas meja kerja Bima.Bima, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan aura wibawa yang kental, sama sekali tidak terkejut. Ia mendongak perlahan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin."Apa maksud dari semua ini, hah?" suara Sean menggelegar, penuh amarah yang tertahan. "Ayah perempuan bernama Celia itu yang memiliki hutang pada perusahaan kita. Tapi mengapa justru hidupku yang harus dikekang oleh perjodohan sialan ini? Dan beraninya Ayah menggunakan namaku untuk menyuruh bodyguard menjemput gadis miskin itu secara paksa!"Bima menyesap kopi hitamnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas piring kecil. "Bisakah kam
"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.Bruk!Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahn







