INICIAR SESIÓNNaima terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Celia. Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis muda di hadapannya, kemudian menghela napas pelan.
“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?”
Celia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku hanya penasaran. Sepertinya semua orang di rumah ini sangat takut kepadanya. Bahkan para pengawal pun selalu menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengannya.”
Naima tersenyum tipis. “Tuan Sean adalah orang yang sulit dipahami. Dia memiliki karakter yang keras, tegas, dan tidak menyukai kesalahan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, saya jarang sekali melihat dia menunjukkan sisi lembutnya.”
“Jadi, dia memang bukan orang baik?”
“Nyonya Celia.” Naima menghela napas. “Saya rasa bukan tempat saya untuk menilai majikan sendiri. Namun, satu hal yang perlu Nyonya ketahui, jangan pernah mencoba menguji kesabarannya. Tuan Sean tidak suka dibantah.”
Celia mendengus pelan.
“Baguslah. Berarti aku tidak salah menilainya sebagai manusia paling menyebalkan di muka bumi.”
“Nyonya!”
“Apa? Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Naima menggelengkan kepala. Ia kemudian merapikan sedikit bagian bahu gaun Celia sebelum kembali berbicara.
“Sekarang, sebaiknya kita segera turun. Tuan Sean sudah menunggu di ruang makan.”
Celia mengangguk. Ia berdiri, mengambil tas kecil yang terletak di meja rias, kemudian mengikuti Naima keluar dari ruangan tersebut.
Di ruang makan utama, Sean duduk sambil membaca beberapa dokumen yang dibawakan oleh asistennya. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap dengan kemeja putih yang dipadukan dengan dasi hitam. Penampilannya terlihat begitu sempurna, mencerminkan sosok pengusaha muda yang memiliki segalanya.
Namun, kesempurnaan itu langsung menghilang dari pandangan Celia begitu pria tersebut mengangkat wajah.
“Lama sekali,” ucap Sean dingin.
“Maaf, Tuan. Saya harus memastikan penampilan Nyonya Celia sudah sesuai dengan permintaan Anda,” jawab Naima sopan.
Sean melirik Celia dari ujung kepala hingga kaki.
“Lumayan. Setidaknya hari ini kau tidak terlihat seperti gelandangan.”
Celia mengepalkan jemarinya. Mulutnya benar-benar tidak pernah bisa digunakan untuk mengatakan sesuatu yang baik.
“Terima kasih atas pujiannya, Sean,” balas Celia dengan senyum manis yang dibuat-buat.
Sean menyipitkan matanya. Ia tampak sedikit terkejut mendengar jawaban tersebut.
“Sepertinya kau mulai memahami posisimu.”
“Aku hanya sedang berusaha menjadi istri yang baik.”
Sean meletakkan dokumen di atas meja.
“Duduk. Kita tidak punya banyak waktu.”
Celia menarik kursi dan duduk di hadapan Sean. Seorang pelayan segera menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya, kemudian menyajikan sarapan berupa roti panggang, telur, dan beberapa potong buah.
“Dengar baik-baik. Hari ini kau akan bertemu dengan seluruh jajaran direksi Star Air. Mereka akan menganggapmu sebagai istriku. Jadi, jangan mempermalukanku.”
Celia mengangguk.
“Jika ada yang bertanya mengenai latar belakang pendidikanmu, jawab sesuai informasi yang sudah diberikan Naima. Jangan membicarakan keluargamu sembarangan. Jangan mengatakan sesuatu yang tidak perlu. Dan yang terpenting, jangan pernah membantah perkataanku di depan mereka.”
“Kalau mereka bertanya bagaimana kita bertemu?”
“Jawab saja melalui hubungan bisnis keluarga.”
“Bagaimana kalau mereka bertanya apakah kita saling mencintai?”
Sean menghentikan gerakan tangannya. Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap Celia.
“Kau pikir aku sedang bermain drama romantis?”
“Tidak. Aku hanya bertanya karena mungkin saja ada yang penasaran dengan hubungan kita.”
“Kalau begitu, tersenyumlah dan katakan bahwa kau sangat mencintaiku.”
Celia hampir tersedak mendengar perkataan tersebut.
“APA?”
Sean meletakkan sendoknya dengan kasar.
“Ada masalah?”
Celia buru-buru menundukkan kepala.
“Tidak. Tidak ada masalah.”
“Bagus. Jangan membuatku mengulang perkataanku.”
Sean kembali menikmati sarapannya, sementara Celia hanya bisa mengaduk-aduk telur di piringnya.
***
Gedung pencakar langit milik Star Air akhirnya terlihat dari kejauhan. Bangunan megah dengan puluhan lantai itu berdiri di kawasan bisnis paling bergengsi di ibu kota.
Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.
Seorang petugas keamanan segera membukakan pintu. Sean turun lebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya kepada Celia.
Celia sempat terdiam. Ia tidak menyangka pria itu akan menawarkan bantuan.
Namun, ketika melihat tatapan tajam Sean, ia segera memahami bahwa tindakan tersebut hanyalah bagian dari sandiwara mereka.
Celia menerima uluran tangannya. Begitu turun, Sean langsung merangkul pinggangnya dan mengarahkannya memasuki gedung.
“Jangan terlalu tegang,” bisik Sean tanpa mengubah senyumnya.
Celia mendongak.
“Bukankah kau sendiri yang mengancam akan memotong jariku jika melakukan kesalahan?”
“Kalau begitu, jangan melakukan kesalahan.”
Celia mengembuskan napas kesal.
Mereka berjalan melewati lobi utama. Beberapa karyawan yang mengenali Sean segera berdiri dan memberikan salam hormat.
“Selamat pagi, Tuan Sean.”
“Selamat pagi, Tuan.”
Sean hanya membalas dengan anggukan singkat. Namun, begitu mereka menyadari keberadaan Celia di sampingnya, bisik-bisik mulai terdengar.
“Itu istrinya, bukan?”
“Benar. Kabarnya mereka baru menikah kemarin.”
“Cantik juga istrinya.”
Celia berusaha mengabaikan semua tatapan tersebut. Ia mempertahankan senyuman seperti yang diajarkan Naima.
Sesampainya di lantai eksekutif, seorang pria muda berjas navy segera menyambut mereka.
“Selamat pagi, Tuan Sean.”
“Pagi, Adrian.”
“Selamat pagi, Nyonya Celia. Perkenalkan, saya Adrian, asisten pribadi Tuan Sean.”
Celia tersenyum ramah.
“Senang bertemu denganmu, Adrian.”
Adrian sedikit membungkukkan tubuhnya. “Senang bertemu dengan Anda juga, Nyonya.”
Sean melirik asistennya.
“Seluruh direksi sudah berkumpul?”
“Sudah, Tuan. Mereka menunggu di ruang rapat utama.”
“Kita masuk sekarang.”
Pintu ruang rapat terbuka.
Belasan orang yang duduk mengelilingi meja panjang segera berdiri ketika Sean memasuki ruangan. Mereka terdiri atas jajaran direksi, beberapa kepala divisi, serta pemegang saham utama Star Air.
“Selamat pagi, Tuan Sean.”
“Pagi.”
Sean berjalan menuju kursi utama. Namun, sebelum duduk, ia menarik kursi di sampingnya untuk Celia.
“Duduklah.”
Celia mengikuti arahannya.
“Perkenalkan,” ujar Sean setelah seluruh orang kembali duduk. “Ini Celia. Mulai sekarang, dia adalah istri saya.”
Beberapa orang tersenyum dan memberikan ucapan selamat.
“Selamat atas pernikahannya, Tuan Sean.”
“Semoga menjadi keluarga yang bahagia.”
“Selamat datang di keluarga besar Star Air, Nyonya Celia.”
Celia membalas semua ucapan tersebut dengan senyuman.
“Terima kasih banyak. Saya senang bisa bertemu dengan kalian semua.”
Seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah kanan meja kemudian mengangkat tangannya.
“Maaf, Tuan Sean. Bolehkah saya bertanya sesuatu?”
Sean mengangguk.
“Silakan, Direktur Helena.”
Wanita bernama Helena itu tersenyum kepada Celia.
“Pernikahan kalian cukup mengejutkan. Kami bahkan baru menerima undangan beberapa waktu sebelum acara berlangsung. Apakah Nyonya Celia berasal dari keluarga pengusaha?”
Celia melirik Sean sekilas.
Ia masih mengingat pesan pria itu mengenai latar belakang keluarganya.
“Saya berasal dari keluarga yang sederhana,” jawab Celia hati-hati. “Namun, keluarga kami memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Wijaya.”
Helena mengangguk.
“Begitu rupanya. Kalau boleh tahu, apakah Nyonya memiliki rencana untuk terlibat dalam kegiatan sosial perusahaan?”
“Tidak perlu,” sela Sean sebelum Celia sempat menjawab. Pria itu menyandarkan punggungnya, lalu menatap seluruh direksi dengan ekspresi dingin. “Istri saya hanya akan menjadi ibu rumah tangga. Dia tidak memiliki urusan apa pun dengan perusahaan ini. Jadi, jangan pernah mencoba menghubunginya atau menemuinya secara pribadi tanpa izin saya. Apakah kalian mengerti?”
Seketika, seluruh ruangan terdiam. Beberapa direktur saling berpandangan, sementara Helena buru-buru mengangguk.
“Baik, Tuan Sean.”
Celia hanya menunduk, menahan kekesalan di dalam hatinya.
Naima terdiam beberapa saat mendengar pertanyaan Celia. Wanita paruh baya itu menatap wajah gadis muda di hadapannya, kemudian menghela napas pelan.“Kenapa Nyonya menanyakan hal itu?”Celia mengangkat kedua bahunya. “Entahlah. Aku hanya penasaran. Sepertinya semua orang di rumah ini sangat takut kepadanya. Bahkan para pengawal pun selalu menundukkan kepala setiap kali berpapasan dengannya.”Naima tersenyum tipis. “Tuan Sean adalah orang yang sulit dipahami. Dia memiliki karakter yang keras, tegas, dan tidak menyukai kesalahan. Selama bertahun-tahun bekerja di rumah ini, saya jarang sekali melihat dia menunjukkan sisi lembutnya.”“Jadi, dia memang bukan orang baik?”“Nyonya Celia.” Naima menghela napas. “Saya rasa bukan tempat saya untuk menilai majikan sendiri. Namun, satu hal yang perlu Nyonya ketahui, jangan pernah mencoba menguji kesabarannya. Tuan Sean tidak suka dibantah.”Celia mendengus pelan.“Baguslah. Berarti aku tidak salah menilainya sebagai manusia paling menyebalkan di
“Tunggu!” cegah Celia yang sontak menghentikan langkah kaki Sean.“Berapa hutang ayahku? Dan berapa gaji yang aku dapatkan jika kau bekerja denganmu?” tanya Celia. Ia penasaran dengan durasi yang akan ia habiskan untuk menebus hutang.“Sepuluh miliar. Dan akan potong dua puluh juta setiap bulan dari pengabdianmu sebagai babuku. Kamu masih beruntung, karena aku membayar pelayanku yang lain, hanya setengah dari gajimu. Apalagi kamu juga mempunyai kehormatan untuk mengandung benihku. Di luar sana banyak Perempuan yang bersedia meski tanpa dibayar. Tapi, aku tidak mau, jadi kamu cukup beruntung,” jawab Sean. Sean hendak melanjutkan langkah kakinya, tapi ia urungkan kembali. Ada kalimat yang tertinggal untuk ia ucapkan.“Oh iya, aku lupa. Turun dari kasurku. Tidur di sofa atau di lantai seperti anjing, terserah. Karena majikan tidak level tidur dengan babu. Kamu boleh tidur di tempat tidur jika sedang melayaniku atau jika kamu hamil nanti. Paham?” lanjut Sean.Celia mencebik kesal. Pandang
Celia menghela napas panjang. Ada rasa sesal di dalam hatinya setelah mengingat kejadian malam itu. "Haaah! Seharusnya aku melawan mereka dengan lebih keras lagi," gumam Celia bermonolog."Semalam aku hanya syok dan ketakutan karena otakku berhenti berpikir. Tapi, sekarang setelah bertemu dengan pria yang diagungkan dan ditakuti semua orang itu, aku tidak lagi merasa takut. Sean tidak lebih dari anak manja yang tidak sengaja terlahir di keluarga kaya sehingga memiliki kekuasaan dan bisa bertindak seenaknya. Aku yakin apa yang dikatakan tadi hanya ancaman sampah belaka."Celia mengernyitkan dahinya mencoba menelaah kembali setiap rentetan kejadian yang terjadi padanya.Celia menguatkan dirinya sendiri. Ia sadar, jika ia tidak mempunyai siapapun yang bisa ia andalkan di rumah ini selain dirinya sendiri. Jadi, mau tidak mau, Celia harus bersabar sementara untuk kabur ketika ia sudah menemukan celah.'Jika aku membuat mereka percaya bahwa aku tunduk pada mereka. Mereka pasti akan melongga
Celia tampak lesu pagi itu. Duduk di atas kasur mewah sambil memeluk lututnya dengan tatapan kosong. Celia tampak seperti orang yang kehilangan gairah hidup. Ia bahkan tidak menyentuh makan malamnya dari semalam. Nampan berisikan sepiring pasta dan segelas air putih itu masih tergeletak di meja di sudut ruangan. Entah sudah basi atau belum, jelas ia tidak mau peduli.Baju yang ia kenakan pun masih baju yang sama dengan yang ia pakai saat dua orang bodyguard itu menjemputnya paksa. Hanya kaos dan celana pendek santai. Tidak ada niat baginya untuk mengintip isi lemari barang hanya untuk mengganti pakaiannya.Meskipun memasang tampang berani, sesungguhnya Celia merasa takut dengan orang yang disebut-sebut sebagai Sean itu. Bagaimana tidak? Ibu tirinya sampai lemas hanya karena membaca namanya Sean. Kakak tirinya pun meminta ia untuk melarikan diri ke desa karena paham reputasi buruk pria bernama Sean Reynald Wijaya itu. Bisa dipastikan Sean memiliki perangai yang teramat buruk.‘Entah m
Langkah kaki Sean bergemerincing tegas di atas lantai marmer kilap kantor utama Star Air, perusahaan penerbangan raksasa yang dikuasai keluarganya. Tanpa mengetuk pintu, ia mendorong kasar pintu kayu mahoni ruangan kerja pribadi sang ayah, Bima.SREK!Sebuah lembar kertas berisikan surat wasiat dari mendiang ibunya melayang bebas dan mendarat telak di atas meja kerja Bima.Bima, pria paruh baya dengan uban di pelipis dan aura wibawa yang kental, sama sekali tidak terkejut. Ia mendongak perlahan, menatap putra tunggalnya dengan pandangan dingin."Apa maksud dari semua ini, hah?" suara Sean menggelegar, penuh amarah yang tertahan. "Ayah perempuan bernama Celia itu yang memiliki hutang pada perusahaan kita. Tapi mengapa justru hidupku yang harus dikekang oleh perjodohan sialan ini? Dan beraninya Ayah menggunakan namaku untuk menyuruh bodyguard menjemput gadis miskin itu secara paksa!"Bima menyesap kopi hitamnya dengan tenang, lalu meletakkannya kembali di atas piring kecil. "Bisakah kam
"Lepaskan aku! Brengsek!" teriak Celia sambil meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua orang lelaki bertubuh tegap.Namun, usaha putus asanya itu sia-sia belaka. Pegangan tangan kedua pria itu bagaikan belenggu baja yang menancap kuat di kedua lengannya, meninggalkan rasa nyeri luar biasa setiap kali ia berontak. Sendi-sendinya terasa seperti mau copot, namun para pengawal itu sama sekali tidak menunjukkan rasa belas kasihan.Tanpa memedulikan ringisan ataupun isakan tangis yang lolos dari bibirnya, kedua pria itu terus menyeret Celia menelusuri lorong.Sebelum ia sempat berpikir jernih mengenai cara menyelamatkan diri, tubuhnya dihempaskan begitu saja ke lantai marmer yang dingin.Bruk!Tubuh Celia menghantam permukaan keras itu dengan kasar. Lututnya membentur lantai tanpa ampun, menciptakan rasa sakit berdenyut yang langsung membuatnya meringis tertahan. Air mata mendesak naik ke pelupuk matanya, tetapi ia berusaha menahannya dengan menggigit bibir bawahn







