공유

Kilau Cincin yang Memudar
Kilau Cincin yang Memudar
작가: Izal

Bab 1

작가: Izal
[Bagaimana keadaan ayahmu?]

Pesan Nathan terpampang di layar, bagai jarum yang datang terlambat.

Aku duduk di bangku panjang di luar kamar rawat, sementara pena untuk menandatangani persetujuan itu masih tergenggam di tanganku.

Tutup pena itu sampai retak dalam genggamanku, dan ujung plastik kecilnya menekan telapak tanganku.

Perawat membuka pintu dan keluar dengan suara pelan.

"Nona Melani, untuk sementara kondisi pasien sudah melewati masa kritis, tetapi masih harus terus dipantau."

Aku mengangguk.

Ponselku kembali bergetar.

Nathan mengirim pesan kedua.

[Emosi Dya sudah stabil. Aku akan ke sana sekarang.]

Aku menatap kalimat itu cukup lama, lalu membalas dengan dua kata.

[Nggak usah.]

Tak lama kemudian dia langsung meneleponku.

Aku tidak mengangkatnya.

Saat ayahku dipindahkan ke ruang ICU, hari sudah terang.

Di balik jendela kaca, dia terbaring di ranjang rumah sakit, dengan separuh wajah tertutup masker oksigen.

Tiba-tiba aku teringat malam pesta pertunangan kami.

Saat Nathan memakaikan cincin di jariku, ujung jarinya sempat menyentuh jemariku.

Dia berkata, "Lani, mulai sekarang kalau terjadi apa pun, langsung hubungi aku."

Saat itu tepuk tangan bergemuruh dari bawah panggung.

Dan aku benar-benar memercayainya.

Pukul delapan pagi, Nathan akhirnya tiba di rumah sakit.

Dia masih mengenakan mantel abu-abu tua yang dipakainya semalam. Kerahnya sedikit kusut, dan dari tubuhnya tercium aroma campuran disinfektan serta parfum wanita.

Saat melihatku, langkahnya sedikit terhenti.

"Kenapa nggak mengangkat teleponku?"

Aku bersandar di dinding, suaraku terdengar serak.

"Aku takut membangunkan Widya."

Keningnya sedikit berkerut.

"Melani, memang harus bicara seperti itu?"

Aku tidak mengangkat kepala.

"Kalau begitu, aku harus bilang apa? Terima kasih karena di tengah kesibukanmu masih sempat menjenguk ayahku?"

Nathan terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangan hendak menggenggam pergelangan tanganku.

Gerakannya sangat lembut, seperti seorang dokter yang menenangkan pasien.

"Semalam situasinya memang khusus. Dya mengidap gangguan kecemasan yang parah. Dia nggak boleh menerima tekanan emosional."

Aku menarik kembali tanganku.

"Ayahku sedang diselamatkan."

"Aku tahu."

Nada bicaranya melunak.

"Tapi ayahmu sudah berada di rumah sakit. Ada dokter, ada prosedur. Di pihak Dya, hanya ada aku."

Hanya ada dia.

Tiga kata itu seketika membuatku tersenyum tipis.

Nathan menatapku, dan sebersit rasa tak senang melintas di matanya.

"Sudahlah, jangan membuat masalah. Aku sudah datang."

Dia selalu merasa, asal dia datang, semuanya sudah tertebus.

Seperti pelukan yang terlambat, penjelasan yang terlambat, perhatian yang juga terlambat.

Asalkan dia bersedia memberikannya, maka aku seharusnya menerimanya.

Dokter keluar dari ruang kerja sambil menyerahkan setumpuk tagihan dan rencana pengobatan lanjutan kepadaku.

Baru saja aku hendak menerimanya, Nathan lebih dulu mengambilnya.

"Biar aku yang urus."

Ujung jarinya membalik lembar demi lembar dokumen itu dengan gerakan yang profesional dan tenang.

"Aku akan meminta seseorang mengevaluasi ulang rencana operasinya. Jangan terlalu khawatir."

Kalau dulu, satu kalimat itu saja sudah cukup membuat mataku memerah.

Namun sekarang, yang tersisakan hanya rasa dingin.

Saat itu ponselnya berdering.

Nathan melirik layarnya, dan ekspresinya tampak jauh lebih lembut.

Nama yang muncul di layar: [Dya].

Dia tidak mengangkat telepon itu, hanya mematikannya.

Detik berikutnya, pesan dari Widya muncul.

[Nathan, aku sudah bangun. Kamar ini terasa sangat kosong. Aku agak takut.]

Tangan Nathan yang memegang berkas itu mengepal sedikit lebih erat.

Aku melihatnya.

Dia juga tahu bahwa aku melihatnya.

Suasana hening selama beberapa detik.

Dia mengangkat kepala, nadanya tetap tenang.

"Aku akan membayar biaya perawatan ayahmu dulu, lalu pergi menemuinya sebentar."

Aku menatap lembar tagihan di tangannya.

"Nggak perlu."

Nathan mengernyit.

"Melani, sekarang bukan waktunya untuk ngambek."

Aku mengambil kembali lembar tagihan itu dari tangannya, lalu merapikannya.

"Aku nggak sedang ngambek."

"Urusan ayahku akan kutangani sendiri."

Dia menatapku, seolah ingin memastikan apakah aku kembali menggunakan sikap diam untuk memaksanya mengalah.

Namun aku hanya berbalik dan berjalan menuju loket pembayaran.

Di belakangku, telepon dari Widya kembali berdering.

Kali ini Nathan mengangkatnya.

Dia merendahkan suaranya.

"Jangan takut. Aku akan segera kembali."

Aku tidak menghentikan langkah.

Antrean di loket sangat panjang, sementara lampu di atasnya berkedip-kedip.

Aku menunduk menatap cincin di jari manisku.

Berlian itu masih tetap berkilau.

Namun tiba-tiba aku merasa, kini dia tak lagi mampu menemukanku.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kilau Cincin yang Memudar   Bab 9

    "Setiap malam aku selalu teringat saat di luar ruang gawat darurat. Kamu duduk di sana sendirian, meneleponku, sementara aku malah menyuruhmu jangan membesar-besarkan keadaan."Dia terdiam sejenak."Lani, aku datang bukan untuk memohon agar kita rujuk."Akhirnya aku menatapnya.Matanya memerah, tetapi dia tetap berusaha terlihat tenang."Aku datang untuk meminta maaf.""Maafkan aku."Ucapan itu sudah lama sekali kutunggu.Hingga akhirnya, saat kata-kata itu datang, semuanya sudah tidak berarti lagi.Aku berkata,"Aku sudah menerimanya."Nathan tampak seperti tertusuk oleh kalimat itu.Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya lalu meletakkannya di tepi pagar."Cincinnya sudah kuubah. Tulisan yang terukir di bagian dalamnya juga sudah dihapus. Kalau kamu nggak menginginkannya, buang saja."Aku tidak mengambilnya."Nathan, jangan memberiku apa pun lagi."Jari-jarinya menegang.Aku berkata pelan,"Semua yang kamu lakukan sekarang hanyalah menambal celah dari masa lalu. Tapi aku suda

  • Kilau Cincin yang Memudar   Bab 8

    "Biarkan saja dia.""Kamu terlalu tenang.""Lalu aku harus bagaimana?"Aku menutup kotak obat."Yang dia inginkan bukan tanggapanku, melainkan Nathan yang menghiburnya."Sharon mencibir."Kalau begitu dia mungkin akan kecewa. Kudengar tadi malam Nathan dilaporkan dalam rapat rumah sakit."Tanganku berhenti sejenak."Pengaduan apa?""Seseorang melaporkan secara anonim bahwa selama ini dia menyalahgunakan ruang rawat pribadi dan sumber daya dokter spesialis untuk Widya, bahkan melampirkan catatan sebagai bukti. Sekarang pihak rumah sakit sedang menyelidikinya."Aku tidak berkata apa pun.Catatan itu memang kususun sebelum meninggalkan Kota Pelabuhan.Bukan untuk membalas dendam.Aku hanya tiba-tiba tidak ingin lagi membantu mereka mempertahankan kepura-puraan itu.Tak lama kemudian, Nathan menelepon.Nomor baru ini belum kublokir.Begitu tersambung, kalimat pertamanya adalah,"Kamukah yang melaporkannya?""Ya."Napasnya terdengar berat."Apa kamu tahu ini akan memengaruhi evaluasi jabata

  • Kilau Cincin yang Memudar   Bab 7

    "Undangannya dipilih oleh Bibi dan Widya. Biar saja Widya yang menjelaskannya ...."Bu Teresa terdiam sesaat."Jangan menyindir terus. Demi kamu, beberapa hari ini Nathan sampai mengubah jadwal operasinya. Dia juga kelihatan sangat lelah. Sudahlah, cepat kembali."Suaraku tetap tenang."Kalau dia lelah, suruh saja Widya yang menghiburnya.""Melani!"Bu Teresa menahan amarahnya."Dengan kondisi ayahmu sekarang, ke depannya masih banyak pengeluaran yang menunggu. Kalau kamu benar-benar putus dengan Nathan, siapa yang akan menanggungmu?"Tanganku berhenti.Jadi di matanya, aku menikahi Nathan hanya agar ada yang menanggung biaya pengobatan ayah."Nggak perlu Bibi mengkhawatirkannya.""Jangan sok kuat. Nanti kalau kamu sudah nggak sanggup, pada akhirnya kamu juga akan kembali memohon kepada kami."Aku menutup telepon.Tak lama kemudian, pengacara membalas pesanku."Nona Melani, tak ada hambatan hukum untuk membatalkan pertunangan. Biaya acara pertunangan dapat diselesaikan sesuai pembagian

  • Kilau Cincin yang Memudar   Bab 6

    "Selain orang yang datang menjenguk pasien, yang lain nggak diperbolehkan masuk ke sini."Seolah tidak mendengar perkataanku, tatapannya tetap tertuju pada wajahku."Kamu jadi lebih kurus."Dulu, mendengar kalimat itu mungkin membuat hatiku luluh.Sekarang, aku hanya merasa itu tidak perlu."Ada keperluan apa Dokter Nathan datang kemari?"Sapaan itu membuat alisnya sedikit menegang."Jangan memanggilku seperti itu.""Lalu harus kupanggil apa? Mantan tunangan?"Jakunnya bergerak pelan."Aku sudah meminta pernikahannya ditunda, bukan dibatalkan. Tenangkan dirimu beberapa hari, nanti kita bicarakan lagi."Aku melewatinya dan berjalan menuju kamar rawat.Dia mengulurkan tangan untuk menghalangiku. Gerakannya sangat terkendali, hanya sedikit menghalangi jalanku."Melani, aku mengakui hari itu aku memang nggak menanganinya dengan baik. Tapi kamu nggak bisa menjatuhkan hukuman mati kepadaku hanya dengan satu kalimat."Aku mengangkat kepala dan menatapnya."Saat aku menunggumu di luar ruang ga

  • Kilau Cincin yang Memudar   Bab 5

    Pukul lima lewat dua puluh dini hari, kabut tebal menyelimuti dermaga Kota Kabut.Saat aku mendorong kursi roda ayah naik ke feri, perawat pendamping mengikuti di belakang sambil membawa barang bawaan sederhana.Ayah masih belum tahu bahwa aku akan membawanya ke pusat rehabilitasi di luar kota.Dia bersandar di kursi roda. Ucapannya masih belum jelas saat bertanya,"Lani, kita mau ke mana?"Aku merapikan syal di lehernya."Kita pergi ke tempat yang lebih tenang supaya Ayah bisa memulihkan kesehatan."Di dalam kabin feri tidak banyak penumpang.Aku duduk di dekat jendela sambil memandangi lampu-lampu Kota Pelabuhan yang perlahan menjauh.Setelah ponsel dinyalakan, muncul daftar panggilan tak terjawab.Tiga puluh tujuh panggilan.Semuanya dari Nathan.Ada juga pesan dari Bu Teresa."Melani, kamu membawa ayahmu ke mana? Pernikahan tinggal tujuh hari lagi. Jangan bertindak gegabah."Widya juga mengirim satu pesan."Kak Lani, Nathan mencarimu semalaman. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Cepatla

  • Kilau Cincin yang Memudar   Bab 4

    Pada hari ayah menjalani pemeriksaan ulang, Nathan berjanji akan menemaniku mendampingi ayah menjalani konsultasi pascaoperasi.Dia bilang pukul sepuluh pagi.Pukul sembilan lewat tiga puluh, aku sudah mendorong kursi roda ayah dan menunggu di depan Departemen Rehabilitasi.Kondisi ayah sedikit membaik. Dengan mulut yang masih agak mencong, dia bertanya,"Nathan pasti sangat sibuk, ya?"Aku menyelimuti lututnya dengan selimut."Ya, dia sibuk."Pukul sepuluh lewat lima, dia belum datang.Pukul sepuluh lewat dua puluh, dokter mulai memanggil nomor antrean.Aku menelepon Nathan. Panggilan pertama tidak dijawab, panggilan kedua langsung ditolak.Baru pada panggilan ketiga dia mengangkatnya.Suasana di seberang sangat sunyi, seperti berada di sebuah ruang rawat privat."Lani, aku sedang ada urusan."Aku memandang nomor antrean yang terus berkedip di depan ruang periksa."Dokter sudah menunggu. Berkas pemeriksaan ulang dibawa olehmu."Semalam dia bilang takut aku menghilangkannya, jadi dia s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status