Share

Bab 3

Author: Surana
Mendengar hal itu, ekspresi wajah Gilang seketika berubah menjadi dingin membeku.

Dia menunduk menatap Vanya dengan tatapan yang terasa sangat asing dan mengerikan. "Vanya, tadinya aku pikir kamu itu penurut dan tahu diri, nggak suka cari ribut. Ternyata semuanya cuma akting. Posisi kakakmu di hatiku nggak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun."

"Sejak awal kamu masuk ke keluarga ini, bukannya kamu sudah paham soal itu?"

Vanya membuka mulutnya hendak bicara, tetapi tak ada suara yang keluar.

Di saat itulah, Joanna melangkah datang dengan anggun.

Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru laut, rambut panjangnya yang bergelombang tergerai indah, dengan riasan wajah yang tampak segar dan anggun, benar-benar menyerupai sosok Laili.

Para tamu di sekitar seketika berbisik-bisik riuh.

"Ya ampun, mirip banget."

"Penampilan Joanna begini benar-benar persis seperti mendiang Laili."

Di tengah bisikan para tamu, tatapan Gilang sempat tampak linglung sejenak.

Mata Haris bahkan mulai berkaca-kaca. Detik berikutnya, dia tak tahan lagi dan langsung menghambur ke pelukan Joanna sambil terisak. "Bibi Joanna, andai saja Bibi yang jadi ibuku! Aku nggak mau diurus sama Vanya lagi!"

Joanna balas memeluknya dengan lembut sambil mengusap kepala bocah itu.

Gilang menatap Joanna dengan tatapan kosong untuk waktu yang lama. Begitu kesadarannya kembali, dia langsung bergegas maju dan merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Sorot matanya dipenuhi dengan rasa cinta yang mendalam.

Vanya bersandar lemas di tepi kolam renang, merasa hatinya telah benar-benar mati rasa.

Enam tahun dia menikah dan masuk ke Keluarga Mahesa, selama enam tahun pula dia merawat mereka dengan sepenuh hati tanpa celah sedikit pun.

Dia tak pernah mendapatkan sandaran manja dari Haris seperti itu, juga tak pernah melihat tatapan penuh cinta dari Gilang yang seperti ini.

Sama sekali tidak ada jejak keberadaannya yang tertinggal di lubuk hati ayah dan anak itu, barang sedikit pun.

Sedangkan Joanna ... hanya bermodalkan wajah yang mirip dengan kakaknya, dengan begitu mudah mendapatkan semua yang selama ini hanya bisa Vanya impikan.

Vanya meremas kuat jas luar yang tersampir di bahunya, lalu tertawa getir meratapi nasibnya sendiri.

Untunglah ... semua ini akan segera berakhir.

Malam itu, setelah pesta usai di tengah guyuran hujan, mereka semua pulang bersama.

Vanya sudah berganti pakaian dan duduk di kursi depan samping kemudi, menatap kosong ke luar jendela dalam diam.

Di kursi belakang, Joanna sedang asyik mengobrol lembut dengan Haris. Sesekali Gilang menyahut dengan suara rendah, tetapi nada bicaranya terdengar sangat memanjakan, itu belum pernah Vanya dengar sebelumnya.

Benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.

Vanya menundukkan pandangan, ujung jarinya tanpa sadar mengelus cincin pernikahan di jari manisnya.

Sudah enam tahun, tetapi cincin ini tidak pernah benar-benar memiliki makna apa pun.

Tiba-tiba, suara decit rem yang memekakkan telinga merobek kesunyian malam hujan!

Brak!

Di tengah suara benturan yang dahsyat, Vanya merasa dunianya berputar hebat. Kantong udara menghantam wajahnya dengan keras dan seketika rasa amis darah memenuhi mulutnya.

Dengan susah payah dia mendongak. Melalui kaca mobil yang hancur berantakan, dia melihat Gilang sedang menggendong Joanna dan menerjang hujan, sementara Haris berlari kencang mengikuti di belakang mereka.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh untuk melihat keadaannya.

Air hujan bercampur darah mengalir masuk ke matanya, membuat pandangannya kabur seketika. Dia mencoba membuka mulut, tetapi tak ada suara yang sanggup keluar.

Ternyata benar kata orang, saat seseorang berada di ambang kematian, potongan-potongan ingatan masa lalu akan berputar kembali seperti film.

Dia teringat malam hujan enam tahun lalu. Gilang berdiri di ruang tamu Keluarga Baskara dengan tatapan yang jauh lebih dingin daripada hujan di luar jendela. "Sesuai perjanjian kedua keluarga, jangka waktunya enam tahun. Tugasmu adalah mengurus Haris dan melayani kebutuhan biologisku. Selain itu, kamu dilarang mencampuri urusan pribadiku, dan kalau sampai hamil, kamu wajib aborsi."

Dia teringat saat pertama kali Haris mengurungnya di ruang bawah tanah, Gilang hanya berdiri di tangga dan berkata dengan nada datar, "Haris itu anak yang ditukar dengan nyawa Laili, jadi sabar sedikitlah."

"Masih ada napas! Cepat bawa tandunya!"

Dalam keadaan setengah sadar, seseorang menyeret tubuhnya keluar dari mobil yang hancur.

Lampu di koridor rumah sakit terasa sangat putih dan menyilaukan mata.

"Keduanya bergolongan darah RH Negatif, stok darah di bank darah cuma cukup buat menyelamatkan satu orang!" Suara dokter terdengar sangat panik.

"Kasih ke Joanna dulu," sahut Gilang tanpa keraguan sedikit pun. "Dia nggak boleh kenapa-napa."

"Terus, Nona Vanya ...."

"Biarin saja dia mati!" Haris berteriak sambil terisak. "Ibu paling takut kegelapan, biarkan dia mati supaya bisa menemani Ibu di sana!"

Vanya ingin sekali tertawa, tetapi dia justru tersedak gumpalan darah.

Betapa konyolnya semua ini.

Bagi mereka, nyawanya bahkan tidak lebih berharga daripada seorang wanita pengganti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status