Share

Bab 4

Auteur: Surana
Saat dia terbangun kembali, suasana kamar rawat yang kosong terasa begitu mencekam.

Kaki kanan Vanya dibalut gips yang tebal. Sedikit gerakan saja sudah cukup untuk membuatnya mandi keringat dingin karena rasa sakit yang luar biasa.

Saat perawat datang untuk mengganti perban, dia tidak tahan untuk tidak berkomentar, "Ada pasien bernama Joanna yang kecelakaan juga, suami sama anaknya nggak pernah lepas jagain dia. Kamu luka parah begini, bahkan hampir meninggal tadi, kok nggak ada keluarga yang nemenin?"

"Orang yang kamu maksud tadi, itu suami sama anakku," jawab Vanya lirih.

Wajah perawat itu seketika memucat karena canggung. Dia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan segera pergi dari sana.

Sinar matahari di luar jendela sangat cerah, menyinari seprai putih tempat tidurnya, tetapi kehangatan itu tak sanggup menembus hingga ke tulang-tulangnya.

Baru saat senja tiba, pintu kamar rawatnya tiba-tiba ditendang terbuka dengan keras!

Gilang menerjang masuk dengan aura kemarahan yang meluap-luap. Dia langsung mencengkeram rahang Vanya dengan kuat. "Kecelakaan ini kamu yang rencanain, 'kan?"

Pupil mata Vanya mengecil seketika karena terkejut.

"Kamu tahu muka Joanna hampir saja cacat karena bekas luka?" Jari-jemari Gilang makin mencengkeram kuat, tatap matanya dipenuhi kemarahan yang mengerikan. "Kalau dia sampai cacat, dia nggak bakal mirip Laili lagi!"

Vanya terbatuk lemas beberapa kali. "Bukan aku pelakunya, aku nggak tahu apa-apa. Lagi pula, kamu nggak lihat kalau lukanya paling parah itu aku?"

Akan tetapi, Gilang sama sekali tidak percaya. Dia menyeret Vanya paksa menuju kamar rawat Joanna, suaranya sedingin es. "Ikut aku, minta maaf sama Joanna sekarang!"

"Aku nggak salah."

Melihat Vanya yang tidak mau menurut, kemarahan Gilang meledak. "Oke! Kamu nggak mau minta maaf juga nggak apa-apa. Aku bakal kasih tahu apa konsekuensinya kalau kamu sampai berani merusak wajah dia!"

"Seingatku, kamu dulu belajar menari, 'kan? Pengawal! Patahkan satu kakinya!"

Begitu perintah itu keluar, seorang pengawal masuk membawa tongkat bisbol.

Seketika, seluruh aliran darah Vanya terasa membeku!

"Nggak ... jangan!" Vanya meronta sekuat tenaga mencoba menghindar, tetapi dua orang pengawal menekan tubuhnya dengan sangat kuat di atas ranjang rumah sakit.

Tongkat bisbol itu menghantam keras tepat di atas gips kaki kanannya.

Krak!

Suara tulang yang patah terdengar sangat jelas di dalam ruangan itu.

Di detik saat rasa sakit yang luar biasa merobek kewarasannya, Vanya tiba-tiba teringat sebuah kenyataan yang konyol. Dia sama sekali tidak bisa menari.

Sosok yang memenangkan medali emas dalam kompetisi balet itu adalah kakaknya Vanya. Sosok yang selalu membuat Gilang terbayang-bayang itu juga kakaknya.

Sedangkan dia, Vanya, hanyalah anak haram Keluarga Baskara yang keberadaannya selalu disembunyikan.

Jika saja kakaknya tidak meninggal, mungkin ayahnya takkan pernah ingat bahwa dia memiliki anak perempuan lain seperti Vanya.

Ayahnya pun takkan pernah tahu betapa menderitanya hidup Vanya dan ibunya saat mereka hanya bisa bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup.

Saat pengawal itu melepaskan pegangannya, Vanya meringkuk di atas ranjang seperti boneka yang sudah rusak parah. Keringat dingin membasahi seluruh baju pasiennya.

Gilang berdiri di sisi tempat tidur, menatap dengan dingin saat perawat sibuk setengah mati memanggil dokter.

"Ingatlah rasa sakit hari ini. Supaya besok-besok, kamu bisa kapok dan belajar dari kesalahanmu."

Selama beberapa hari berturut-turut, tidak ada satu orang pun yang datang menjenguknya.

Sampai hari itu, Ayah Vanya menerjang masuk ke kamar rawat dan melemparkan segepok foto tepat ke wajah Vanya dengan kasar.

"Begini caramu menjaga hubungan baik antara dua keluarga kita? Kamu biarkan barang tiruan itu menginjak-injakmu?"

Pinggiran foto yang tajam meninggalkan beberapa goresan luka di wajah Vanya. Dia memungutnya dan melihat satu per satu. Semuanya adalah potret kebahagiaan Joanna, Gilang, dan Haris.

"Semua ini nggak ada hubungannya sama aku lagi. Masa kontrak enam tahunnya sudah habis," ucap Vanya dengan tenang. "Aku harus pergi."

"Sesuai janji kita dulu, setelah aku cerai, aku mau pergi hidup berdua sama ibuku dan menjalani hidupku sendiri."

Baru saja ayahnya hendak marah, pintu kamar rawat tiba-tiba didorong terbuka dengan keras.

Gilang berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang sangat muram dan mengerikan. "Kamu serius?"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status