Share

Bab 5

Auteur: Surana
"Iya, aku sangat serius."

Suara Vanya terdengar sangat pelan, namun setiap katanya terdengar begitu tegas dan jelas.

Tatapan mata Gilang menggelap. Baru saja dia hendak membuka suara, Ayah Vanya tiba-tiba menyela dengan raut wajah yang dipenuhi senyum menjilat, "Pak Gilang, jangan dengerin omong kosong dia! Anak ini cuma lagi ngambek sebentar, mana mungkin dia tega ninggalin Anda dan Haris?"

"Dia itu cuma cemburu karena belakangan ini Anda kelihatan dekat sama Joanna. Kalau Anda bujuk dia sedikit, dia bakal luluh, mana mungkin dia benaran mau pergi?"

Mendengar hal itu, rasa dingin di mata Gilang sedikit mereda. Tatapannya kembali tertuju pada Vanya. "Ternyata benar, kamu bikin keributan begini cuma gara-gara Joanna."

Vanya membuka mulutnya hendak membantah, tetapi Gilang sudah lebih dulu menyela, "Kalau kamu pergi dari sini, kamu itu bukan siapa-siapa. Aku janji, selama kamu bisa jaga sikap dan nggak macam-macam, Joanna nggak akan pernah ganggu posisimu. Harusnya kamu sudah puas dengan tawaran ini, 'kan?"

Ujung jari Vanya meremas telapak tangannya sendiri. Baru saja dia ingin menolak mentah-mentah, ayahnya tiba-tiba menggebrak meja dengan keras dan membentak kasar, "Vanya! Kamu itu anakku, harusnya kamu nurut sama aku!"

Setelah itu, ayahnya langsung memasang wajah menjilat lagi. Dia mengeluarkan sebuah kontrak dari dalam tas kerjanya dan menyerahkannya dengan kedua tangan kepada Gilang. "Pak Gilang, begini, proyek yang ini masih butuh tanda tangan Anda."

Gilang melirik sekilas ke arah kontrak itu, lalu menatap Vanya, dan akhirnya mengambil pena untuk menandatanganinya.

"Jangan bikin ribut lagi," ucap Gilang singkat sebelum akhirnya berbalik pergi.

Tak lama setelah pintu kamar rawat itu tertutup, Haris tiba-tiba menerobos masuk.

Tubuh kecilnya berdiri di ambang pintu, tetapi sorot matanya penuh dengan kebencian. "Aku dengar semuanya! Ayah bilang kamu harus tetap di sini, tapi aku nggak mau!"

Vanya menatap bocah itu, seketika ingatannya melayang pada sosok Haris saat masih berusia tiga tahun. Dulu Haris sering memanggilnya Ibu dengan suara lembut dan merentangkan tangan minta dipeluk. Namun kemudian, entah siapa yang memberitahunya bahwa Vanya bukanlah ibu kandungnya, bahkan menuduh Vanya sebagai penyebab kematian ibunya.

Sejak saat itulah, segalanya berubah.

"Bibi Joanna jauh lebih lembut dari kamu, lebih baik hati, dan sayang banget sama aku!" Haris mengatupkan giginya rapat-rapat, suara kekanak-kanakannya dipenuhi kebencian yang mendalam. "Aku lebih milih Bibi Joanna yang nikah sama Ayah buat urus aku, daripada harus sama pembunuh kayak kamu!"

Vanya memejamkan mata sejenak, suaranya terdengar serak. "Haris, sudah berulang kali aku bilang, waktu aku nikah sama ayahmu, ibumu itu sudah meninggal."

"Pembohong!" Haris berteriak histeris memotong ucapannya. "Bibi Joanna sendiri yang bilang kalau kamulah yang sudah celakain ibuku! Kamu itu gila harta, mau naik derajat biar bisa jadi Nyonya Mahesa! Jangan harap aku bakal maafin kamu!"

Jantung Vanya berdegup kencang karena terkejut.

'Joanna?'

Wanita itu ternyata berani memfitnahnya sekeji itu di depan Haris?

Belum sempat dia memberikan penjelasan, Haris sudah memberi perintah pada pengawal, "Buang dia ke kamar mayat! Biar dia kapok dan tobat di sana!"

Pengawal itu ragu-sejenak. "Tuan Muda, tapi ini ...."

"Kenapa? Kalian berani nggak nurut sama aku?" Haris mengeluarkan ponselnya. "Kalau begitu, sekarang juga aku telepon Ayah, aku bilang kalian berani menentang perintahku!"

Para pengawal itu tidak berani ragu lagi. Mereka segera mendorong kursi roda Vanya, berjalan lurus menuju sudut rumah sakit yang paling lembap dan sunyi. Kamar mayat.

Hawanya menusuk hingga ke tulang.

Ruangan itu terasa sedingin lemari es raksasa. Vanya yang hanya mengenakan baju pasien yang tipis langsung gemetaran hebat karena kedinginan.

Dia berusaha menggerakkan kursi rodanya, tetapi gips yang berat di kaki kanannya membuatnya tidak bisa berkutik sedikit pun.

"Haris!"

"Haris!"

"Keluarin aku dari sini!"

Vanya berteriak memanggil nama bocah itu sekuat tenaga, tetapi satu-satunya jawaban yang dia terima hanyalah suara keras pintu besi yang tertutup rapat, diikuti suara putaran kunci yang dingin memekakkan telinga.

Kegelapan seketika menyelimuti seluruh ruangan. Suasana di sekelilingnya menjadi sunyi yang mengerikan, hanya menyisakan dengung rendah dari mesin pendingin mayat yang terus beroperasi.

Vanya sudah sampai di puncak keputusasaannya. Dia menggedor pintu berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali.

Setelah sekian lama, tangannya yang lemas perlahan merosot jatuh dari daun pintu.

Rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang mulai mengikis kesadarannya. Pandangan Vanya perlahan kabur, hingga akhirnya dia tenggelam dalam kegelapan total.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status