مشاركة

Bab 6

مؤلف: Surana
Saat dia terbangun kembali, dia sudah terbaring di ranjang rumah sakit dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Namun, rasa dingin itu seolah masih mengendap di sela-sela tulangnya, enggan untuk pergi.

"Sudah bangun?" Suara Gilang terdengar dari sampingnya.

Vanya menoleh perlahan. Dia melihat pria itu duduk di tepi ranjang dengan setelan jas yang rapi, tetapi di balik kerah kemejanya, samar-samar terlihat sebuah noda kemerahan yang intim.

Lagi-lagi bekas ciuman.

Vanya mengalihkan pandangannya, suaranya terdengar serak. "Ngapain kamu ke sini?"

Gilang mengernyitkan dahi. "Kali ini kamu bikin masalah apa lagi sampai Haris marah?"

Vanya menarik sudut bibirnya, tertawa getir penuh sindiran. "Aku yang bikin masalah sama dia?"

"Kejadian yang lalu nggak usah dibahas lagi. Tapi, beberapa hari ini, dia kasih aku buat jadi umpan anjing mastiff, tendang aku ke kolam renang, lucuti semua bajuku ...." Vanya mendongak, menatap lurus ke bola mata Gilang. "Pak Gilang, menurut Anda, sebenarnya siapa yang cari gara-gara sama siapa?"

Raut wajah Gilang sedikit mendingin. "Bukannya semua itu memang karena kesalahanmu sendiri?"

Vanya tertawa getir meratapi nasibnya. "Lalu, gimana dengan kejadian di kamar mayat kali ini? Biarpun aku nggak salah apa-apa, dia bakal tetap pakai segala macam cara buat usir aku."

"Tolong kasih tahu dia, nggak usah pakai trik rendahan begini lagi. Kontrak di antara kita sebentar lagi bakal habis dan saat itu tiba, aku bakal pergi dengan sendirinya."

Mendengar hal itu, wajah Gilang seketika berubah muram. "Vanya! Kamu bahas soal itu lagi, nggak ada habis-habisnya ya?"

"Sudahlah, nanti biar aku yang bicara sama Haris supaya dia nggak usir kamu lagi. Mulai sekarang kalian harus akur dan kamu jangan terus-terusan bilang mau pergi, bikin pusing saja!"

Vanya menatapnya dalam diam, lalu tiba-tiba tersenyum. "Oke, aku nggak akan bahas lagi."

Toh, tujuh hari lagi, semuanya benar-benar akan berakhir.

Melihat Vanya tidak membantah lagi, ekspresi Gilang sedikit melunak. "Cepat sembuh, jangan cari masalah lagi."

Setelah mengucapkan itu, dia berbalik pergi. Punggungnya masih tampak sangat dingin dan tak terjangkau.

Vanya menatap pintu yang tertutup itu, lalu perlahan memejamkan matanya.

Tujuh hari lagi dan dia akan benar-benar terbebas dari semua ini.

Keesokan harinya, Gilang menyeret paksa Haris ke kamar rawat Vanya.

Bocah itu memasang ekspresi kaku dan berdiri di samping tempat tidur dengan ogah-ogahan. Sorot matanya dipenuhi dengan rasa jijik.

Gilang memberi perintah dengan suara dingin, "Minta maaf, terus jagain dia baik-baik."

Haris mencibir, tetapi akhirnya dia mengambil mangkuk bubur dan menyendokkannya ke mulut Vanya. Kalimatnya terdengar sangat kaku. "Makan."

Vanya meliriknya sekilas tanpa berkata apa-apa, lalu menunduk untuk memakannya.

Gilang pun mengangguk puas, lalu berbalik keluar untuk menerima telepon.

Akan tetapi, tak lama kemudian, Vanya tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya gatal luar biasa, seolah ada ribuan semut yang merayap di bawah kulitnya.

Dia tak tahan untuk tidak menggaruknya, tetapi makin digaruk rasanya makin gatal. Dalam sekejap, kulitnya yang putih bersih sudah dipenuhi bilur-bilur merah, bahkan sampai berdarah karena cakaran kukunya sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari sampingnya. Vanya mendongak dengan sentakan napas pendek, menatap tajam ke arah Haris. "Ini perbuatanmu?"

Haris mendorongnya dengan kasar sambil mendengus sinis. "Iya, memang aku yang lakuin, terus kenapa? Aku nggak bakal sudi minta maaf sama kamu!"

"Semua luka ini tuh emang pantas buat kamu! Kalau dari awal kamu pergi dan nggak usah balik lagi, masalahnya nggak bakal sepanjang ini. Makanya, jangan jadi benalu di sini!"

Vanya sekuat tenaga menahan rasa gatal yang menyiksa. Dia meronta, berusaha bangkit untuk menekan bel panggil dokter, tetapi gips di kaki kanannya membuat setiap gerakannya terasa sangat berat. Baru saja dia berhasil menumpu tubuhnya, dia langsung jatuh terjerembap ke lantai dengan kondisi yang sangat menyedihkan.

Haris berdiri di sampingnya, tertawa jahat. "Gimana rasanya bubuk gatalnya? Enak, 'kan? Kamu kelihatan lucu banget sekarang, persis kayak kura-kura yang kebalik!"

Vanya menggertakkan gigi, mencoba sekali lagi menggapai bel darurat di kepala tempat tidur. Namun, Haris mendorongnya lagi, lalu berkata dengan nada sombong, "Nggak usah buang-buang tenaga. Pintunya sudah aku kunci, nggak bakal ada yang datang nolongin kamu!"

Baru setelah efek obat gatal itu perlahan mereda, tubuh Vanya sudah dipenuhi luka cakaran dan dia tergeletak lemas di lantai.

Saat itulah Haris dengan santainya membuka pintu, lalu berlari keluar sambil berteriak memanggil Gilang, "Ayah! Vanya jatuh, aku nggak kuat angkatnya!"

Gilang bergegas datang, lalu membopong Vanya kembali ke ranjang. Dia mengernyitkan dahi melihat bekas cakaran di sekujur tubuh istrinya. "Kenapa bisa begini?"

Suara Vanya terdengar serak. "Haris, dia kasih bubuk gatal ke aku."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 26

    "Jangan begitu. Sekarang, kamu dan Haris harus segera pergi," tolak Vanya tanpa ragu sedikit pun.Ketika seorang pria mulai merasa penasaran terhadap seorang wanita, itulah awal dari sebuah perasaan.Akan tetapi, Vanya tahu bahwa di dalam hati Gilang akan selalu ada tempat bagi mendiang Laili, posisi yang tidak akan pernah bisa digoyahkan oleh siapa pun.Orang yang masih hidup tidak akan pernah bisa menang melawan orang yang sudah mati. Vanya sudah membuktikan hal itu sekali dan dia benar-benar lelah. Dia tidak ingin mencobanya lagi.Kondisinya yang sekarang sudah sangat baik. Dia tidak butuh mereka untuk bisa hidup bahagia.Gilang merasa sangat tidak berdaya, dia berkata dengan perlahan, "Vanya, percaya atau nggak, aku sebenarnya mulai menyukaimu. Meski belum bisa menandingi perasaanku pada Laili, tapi berikan aku waktu, aku akan mencintaimu. Cinta ini nggak ada hubungannya dengan Laili. Aku tahu aku harus belajar merelakannya."Mendengar itu, Vanya merasa sangat jijik seolah melihat

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 25

    "Anak durhaka? Kamu bahkan nggak pantas kusebut sebagai Ayah. Nggak pernah menafkahiku sehari pun, tapi masih berharap aku berbakti padamu?""Selama enam tahun ini, bukannya sudah cukup banyak keuntungan yang kamu peras dari Keluarga Mahesa? Masih belum menyerah juga? Kamu pikir aku akan tetap menurut padamu seperti dulu? Jangan mimpi!"Dulu, dia sudah terlalu lama bersabar dan mengalah saat berada di kediaman Mahesa. Sekarang, dia tidak akan pernah membiarkan dirinya ditindas lagi.Mendengar ucapan itu, wajah ayahnya berubah pucat pasi lalu merah padam. Merasa orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk ke arahnya, rasa malunya berubah menjadi kemurkaan yang meledak."Vanya, kamu benar-benar sudah berani sekarang! Kalau bukan karena aku, ibumu pasti sudah lama mati karena sakit! Kamu juga nggak akan mungkin bisa masuk ke lingkaran Keluarga Mahesa dan mencicipi hidup mewah sebagai nyonya besar!""Kamu itu berutang pada Keluarga Baskara, berutang pada kakakmu, Laili!

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 24

    Saat membuka mata, Haris menyadari dirinya berada dalam dekapan yang hangat.Ibunya Vanya, Linda, sedang memeluknya. Melihat Haris sudah siuman, dia dengan telaten menyuapinya bubur, meski nada bicaranya tetap terdengar sangat dingin."Lain kali, jangan pernah lagi gunakan taktik melukai diri sendiri seperti ini. Kalau sekali lagi kamu sengaja membuat dirimu kelaparan sampai pingsan cuma untuk mencari Vanya, aku nggak akan segan-segan menyerahkanmu ke kantor polisi."Haris menelan sesendok bubur, matanya tertunduk lesu. "Maafkan aku ...."Linda langsung memotong permintaan maafnya dengan cepat. "Nggak perlu lagi mengucapkan kata maaf. Luka yang kamu torehkan pada Vanya nggak akan pernah bisa dimaafkan. Kalau bukan karena kamu masih anak-anak, aku pasti akan mempertaruhkan nyawaku sendiri untuk memastikan kamu merasakan setiap penderitaan yang pernah dia rasakan!""Tapi, aku benar-benar tahu aku salah. Aku bisa tinggal di sini untuk menebus dosaku, tolong jangan usir aku, ya?"Air mata

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 23

    Haris juga menggigit bibirnya dengan raut wajah yang sangat sedih. "Ayah, apa Ibu benar-benar sudah nggak menginginkanku lagi?""Nggak mungkin. Selama kita berusaha keras memohon pengampunannya, suatu hari nanti dia pasti akan melihat ketulusan hati kita."Gilang tidak ingin membuat putranya bersedih dan dirinya sendiri pun belum mau menyerah.Mendengar ucapan itu, suasana hati Haris sedikit membaik. Dia mengangguk mantap. "Aku pasti akan berusaha keras!"Setelah pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka mereka, ayah dan anak itu membeli sebuah rumah di dekat penginapan Vanya dan menetap di sana untuk sementara waktu.Suatu hari, Haris melihat Arum sedang duduk di depan pintu, menikmati masakan buatan Vanya sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit bahagia.Seketika, rasa iri dan cemburu yang amat sangat bergejolak di dalam hati Haris.Dulu, hanya dialah satu-satunya anak yang mendapatkan perawatan istimewa seperti itu dari Vanya.Hanya dia yang boleh memanggil Vanya Ibu.Akan tet

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 22

    Belum sempat kata-kata penjelasan itu selesai terucap, Vanya sudah memotongnya dengan tidak sabar, "Sudahlah. Nggak perlu lagi membicarakan hal-hal nggak berguna seperti itu. Dulu, aku memang sangat berharap kalian bisa menyukaiku. Tapi, sekarang, aku sudah punya cinta dari banyak orang. Aku nggak butuh kalian lagi."Baru saja dia hendak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba sebuah papan reklame di atas kepala mereka terlepas dan jatuh menghantam ke arahnya."Vanya!""Ibu!"Dalam sekejap mata, Gilang dan Haris secara bersamaan menerjang ke arah Vanya sambil berteriak panik.Vanya hanya sempat melangkah mundur satu langkah. Dia sama sekali tidak terluka, tetapi papan reklame itu justru menghantam dan menembus bahu Gilang.Darah segar terus mengalir deras dari bahunya. Gilang meringis menahan sakit yang luar biasa, tetapi dia sekuat tenaga tidak mengeluarkan satu pun keluhan.Sebaliknya, hal pertama yang dia lakukan adalah memastikan keadaan Vanya."Vanya, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang lu

  • Kini, Aku Belajar Melepasmu   Bab 21

    Gilang dan Haris terpaku menatap pintu yang tertutup rapat itu. Mereka merasa sangat tidak berdaya dan kehilangan arah."Ayah, aku sudah minta maaf, tapi kenapa Ibu nggak mau memaafkanku? Apa kontrak itu sebegitu pentingnya? Apa selama bertahun-tahun ini dia sama sekali nggak punya perasaan pada kita? Bagaimana bisa dia melepaskan semuanya begitu saja?""Padahal meskipun aku membencinya, di dalam hatiku aku masih mencintainya diam-diam. Aku benar-benar tahu aku salah sekarang."Haris terisak dengan suara lirih.Air mata sebesar biji jagung jatuh membasahi tanah, tak terbendung lagi.Kali ini, dia benar-benar menangis dengan tulus.Dia sungguh tidak mengerti, mengapa Vanya bisa bersikap begitu baik pada gadis kecil yang baru dikenalnya beberapa hari, tetapi bisa dengan begitu cepat menghapus mereka dari hatinya.Di sampingnya, tinju Gilang yang mengepal di sisi kaki mulai mengeluarkan tetesan darah, yang perlahan mengalir dari sela jari dan jatuh ke tanah."Mungkin karena kita sudah ben

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status