/ Romansa / Kiss The Antagonist / 5. Jebakan Yang Gagal

공유

5. Jebakan Yang Gagal

작가: Black Aurora
last update 게시일: 2026-03-15 00:48:57

Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas.

Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar.

Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang.

Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris.

Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu.

Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi.

Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu.

Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya.

Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang?

Brengsek!

Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sudut bibirnya.

“Apakah Anda sedang menunggu seseorang, Tuan Moreau?” tanya Xeyren pelan, dalam suara yang rendah tapi menusuk tajam.

Lucien menelan ludah. Setelah terlihat seperti sedang berpikir untuk beberapa saat, akhirnya ia pun memutuskan.

Persetan!

Apa pun yang terjadi, ia harus menangkap Xeyren Crow dan membawanya kepada seseorang yang menginginkan pria ini dengan memberikan hadiah sejumlah uang yang sangat besar!

“Tangkap dia, hidup-hidup!” Perintah Lucien kepada tiga orang bodyguard yang berdiri di belakangnya.

Lalu tiba-tiba saja, semua lampu di kasino pun padam. Situasi berubah menjadi gelap total.

Kemudian terdengar suara tembakan, teriakan, dan kepanikan yang memenuhi ruangan.

Orang-orang berdesakan keluar dari pintu, beberapa jatuh dan terinjak, serta chip poker berserakan.

Beberapa menit kemudian, lampu pun mendadak kembali menyala.

Namun sayangnya, Xeyren Crow telah menghilang tanpa jejak.

Hanya ada Lucien, bodyguardnya, dan beberapa pengunjung Casino yang masih tersisa.

Lucien mendengus pelan, lalu segera menghubungi seseorang di ponselnya.

“Maaf… aku belum bisa membawa Xeyren. Dia berhasil melarikan diri.”

Tidak lama kemudian, Lucien keluar dari kasino menuju sebuah mobil hitam mewah yang telah menunggunya.

Namun baru beberapa detik setelah masuk, sebuah ledakan besar tiba-tiba menghancurkan mobilnya.

Menghadirkan kobaran api yang menyala terang serta logam yang beterbangan di udara malam yang gelap.

Bisa dipastikan jika Lucien serta beberapa pengawalnya telah tewas terpanggang api di dalamnya.

***

Beberapa jam kemudian.

Suara baling-baling helikopter terdengar memecah keheningan malam di sebuah Mansion megah, yang berdiri di tengah tanah luas dan sunyi.

Helikopter hitam itu perlahan turun dan mendarat dengan halus di sebuah helipad pribadi.

Ketika salah satu pintunya terbuka, tampak Xeyren Crow turun dari dalamnya.

Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah malam penuh kekacauan di Las Vegas tadi hanyalah sebuah gangguan kecil yang tak berarti.

Seorang pria yang mengenakan setelan formal segera berjalan mendekat.

“Selamat datang kembali, Tuan Crow.” Ia adalah kepala pelayan Mansion yang bernama Christian.

Xeyren berjalan melewati helipad tanpa berhenti, sementara Christian berjalan di belakangnya.

“Bagaimana keadaan Daniela?”

Christian langsung menjawab, “Dia masih berada di dalam kamar pribadi Anda, Tuan. Terikat di kursi dan diawasi oleh dua orang pengawal.”

Xeyren mengangguk pelan dengan ekspresi yang tidak berubah.

“Pindahkan dia ke ruang kerja,” Xeyren berucap seraya melangkah menuju pintu besar Mansion.

Beberapa pengawal yang berjaga tampak menundukkan kepala penuh hormat saat ia lewat.

Ketika sampai di dalam rumah, Xeyren akhirnya berkata dengan nada datar, “Pengawal yang menjaganya boleh bubar.”

Pelayan itu tampak sedikit terkejut. “Tapi, Tuan... Daniela itu mata-mata! Bisa jadi wanita itu berpura-pura bersikap polos untuk mengecoh dan menjebak Anda!"

Xeyren menatap ke arah koridor panjang yang menuju kamar pribadinya. Lalu kembali berkata,“Aku tidak ingin diganggu, Christian."

Ia berjalan menuju tangga, lalu melukiskan seringai tipis seraya menatap Christian.

“Terutama saat aku sedang bersama Daniela.”

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kiss The Antagonist    7. Nama Yang Sebenarnya

    Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya. Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle. Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya. Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya. “Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan. Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?” Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama. Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana. Lovelle menarik napas pelan.

  • Kiss The Antagonist    6. Pelajaran Untuk Pengkhianat

    Lokasi : Salt Lake City, UtahLangkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya. Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. “Tuan Crow," sapa mereka serempak. Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.” Pintu besar itu lalu didorong perlahan. Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak. Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow. Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini,lnamun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda. Lebih dingin dan berbahaya. Pengawa

  • Kiss The Antagonist    5. Jebakan Yang Gagal

    Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas. Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar. Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang. Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris. Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu. Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi. Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu. Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya. Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang? Brengsek! Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sud

  • Kiss The Antagonist    4. Petunjuk

    Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah. Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega. Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan. Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia. Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar. Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit. Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya. Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam. Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengam

  • Kiss The Antagonist    3. Ketika Alur Mulai Berubah

    Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren. Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadany

  • Kiss The Antagonist    2. Mencium Sang Antagonis

    Saat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan. Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap. Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu. Seketika Lovelle pun tertegun. Dimana dirinya sekarang? Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya. Dan pakaiannya pun... kering. Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” gumannya pelan. Mungkinkan ia sedang bermimpi? Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi. Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya. “Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?” Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pri

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status