登入Tatapan Luca sedikit mengeras. “Sebuah ledakan terjadi pada mobil milik Lucien Moreau.” Ia menatap lurus ke dalam mata Xeyren.
“Lucien dan seluruh pengawalnya tewas di tempat. Dan kebetulan,” lanjut Luca, “Anda adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di sebuah kasino beberapa jam sebelum kejadian.” Xeyren mengangkat alisnya yang tebal dan gelap. “Kebetulan yang menarik.” Nada suaranya tetap santai. Namun matanya tidak pernah benar-benar lengah. “Apakah Anda sedang menuduh saya, Jaksa?” Luca melangkah satu langkah lebih dekat. “Apakah saya perlu melakukannya?” Keduanya kini berdiri cukup dekat, membuat ketegangan di udara terasa semakin jelas. Xeyren tersenyum tipis. “Saya hanya seorang pebisnis yang kebetulan bertemu kliennya.” Ia mengangkat bahu ringan. “Jika klien tersebut memiliki masalah lain di luar urusan bisnis, itu bukan tanggung jawab saya.” Luca menatapnya beberapa detik lebih lama, seakan sedang mencoba membaca kebohongan di wajah pria itu. Namun Xeyren terlalu tenang, terlalu terlatih, dan terlalu tidak terbaca. Akhirnya Luca menghela napas pelan. “Seperti biasa, Anda selalu memiliki jawaban.” Kali ini Xeyren tidak menyahut, namun senyum samarnya sama sekali tidak hilang. Luca melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih rendah. “Saya hanya ingin mengingatkan satu hal, bahwa saya akan mengawasi Anda.” Tatapannya kini menjadi lebih tajam. "Jadi sebaiknya Anda tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum… jika tidak ingin saya menangkap Anda secara langsung.” Xeyren tertawa pelan, meskipun tidak ada kehangatan sama sekali di dalam tawanya. “Ancaman dari seorang jaksa,” katanya. “Apa seharusnya saya harus merasa takut?" Luca tidak terpancing, alih-alih hanya menatap Xeyren datar. “Ini bukan ancaman, Tuan Crow. Tapi sebuah peringatan.” Setelah itu, Luca berbalik. Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya melambat dan matanya menyapu ke seluruh ruangan. Seolah-olah mencari sesuatu, atau seseorang. Dan Xeyren memperhatikan semua itu tanpa mengatakan apa pun, namun sudah memahami di dalam benaknya. “Jaksa Montclair.” Xeyren memanggil tiba-tiba. Luca berhenti, namun ia tidak langsung menoleh. Hanya diam, seolah memberi ruang bagi kalimat berikutnya. Xeyren melangkah pelan mendekat, “Ada satu hal yang mengganggu pikiran saya sejak Anda datang ke Mansion ini.” Baru kali ini Luca sedikit menoleh, menatap datar Xeyren dari samping. Xeyren tersenyum tipis. “Cara Anda melihat ke sekeliling tadi, tidak seperti seseorang yang hanya datang untuk mengajukan pertanyaan hukum. Tapi lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu.” Ia berhenti beberapa langkah di belakang Luca. Cukup dekat untuk terasa mengintimidasi. Luca tidak menjawab, namun bahunya terlihat sedikit menegang. Xeyren menyembunyikan senyumnya, lalu bersuara dengan nada yang kini lebih rendah. “Saya jadi mulai bertanya-tanya, apakah kedatangan Anda ke sini… benar-benar hanya untuk menanyakan perihal Las Vegas? Atau Anda sebenarnya sedang mencari seseorang di Mansion saya?” Kalimat tajam dan langsung itu menggantung di udara, membuat Luca akhirnya berbalik sepenuhnya. Kini mereka kembali saling berhadapan, namun tatapan pria berkacamata itu tetap terlihat tenang meskipun ada kilatan serupa petir kecil di dalam matanya. “Anda terlalu banyak berasumsi, Tuan Crow,” jawabnya akhirnya. “Saya datang karena ada kejadian besar yang melibatkan seseorang yang baru saja Anda temui,” lanjut Luca dengan nada yang tetap profesional. “Jika Anda merasa diawasi atau dicurigai, mungkin itu karena Anda sendiri yang terlalu sering berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah.” Kalimat itu jelas dan sekaligus menjadi penyangkalan yang rapi. Luca kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. Xeyren tidak langsung menjawab setelah Luca memberikan penyangkalannya. Sebaliknya, ia hanya menatap pria itu beberapa detik lebih lama, sebelum senyum tipis yang berbahaya itu kembali muncul. “Kalau begitu, sayalah yang terlalu curiga,” ucapnya ringan, seolah tidak terlalu peduli.. “Tapi apa Anda tahu, Jaksa?” lanjutnya dengan nada santai yang justru terdengar lebih provokatif, “saya cukup pandai mengenali orang yang datang dengan tujuan tersembunyi.” Luca tidak bergerak, tapi tatapannya tetap dingin Xeyren memiringkan kepala sedikit, seolah baru menyadari sesuatu yang menarik. “Terutama jika itu berkaitan dengan seseorang yang… seharusnya memberi laporan kepada Anda, tetapi tiba-tiba saja dia menghilang tanpa jejak.” Kalimat itu halus tapi tepat sasaran, dan senyum Xeyren kini sedikit melebar. “Tenang saja, Jaksa,” ujarnya pelan, hampir seperti bisikan yang disengaja untuk menusuk. “Jika memang Anda sedang kehilangan seseorang, mungkin itu artinya Anda hanya terlambat untuk menyadari... bahwa tidak semua orang tetap berada di posisi yang sama untuk selamanya.” Luca menatap Xeyren lurus-lurus, lebih dalam dan dingin kali ini. Namun Xeyren belum selesai. Ia menambahkan, dengan nada yang masih santai namun jauh lebih berani, serta dengan sengaja ingin memprovokasi. “Beberapa orang, bahkan terlihat cukup nyaman berada di bawah atap saya. Atau mungkin... di atas ranjang saya?" ***SATU TAHUN KEMUDIAN... Hujan turun perlahan di balik jendela ruang bersalin. Xavian berdiri tepat di sisi ranjang, tidak pernah melepaskan genggaman tangan Lovelle sejak wanita itu mulai merasakan kontraksi beberapa jam yang lalu. Pria yang selalu terlihat tenang itu tampak benar-benar gugup. "Tarik napas, Nyonya. Sedikit lagi." Suara dokter terdengar samar di tengah napas Lovelle yang memburu. Lovelle menggenggam tangan suaminya begitu erat, hingga buku-buku jari Xavian memutih. "Aku... tidak kuat lagi..." "Kamu pasti kuat, Love. Kamu sudah pernah melewati hal-hal yang jauh lebih berat daripada ini." Xavian segera membungkuk, mengecup kening istrinya yang dipenuhi keringat. Lalu tatapan mereka saling bertemu. Di dalam kedua pasang mata berbeda warna itu, masih tersimpan kenangan tentang kehidupan yang seharusnya tak pernah ada. Tentang seorang pria bernama Xeyren Crow, tentang seorang gadis yang pernah terlempar ke dunia lain. Tentang seorang putri... yang meng
"Hah? Menginap?" mulut Lovelle benar-benar terbuka saking kagetnya. "Tapi... kenapa??"Sayangnya pertanyaan itu sepertinya tidak akan mendapatkan jawabannya, karena Xavian yang akhirnya benar-benar tidak menjelaskan alasannya.Pria itu hanya berjalan ke arah sofa ruang tamu, melepas jas hitamnya, lalu melipatnya rapi di bagian atas sandaran.Lovelle masih berdiri mematung beberapa langkah darinya. "Tuan Claine...?"Tanpa menjawab, Xavian hanya melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa.Melihat ekspresi lelah di wajah bosnya itu, Lovelle pun mengembuskan napas pelan."Sebentar."Gadis itu masuk ke dalam kamar, lalu beberapa saat kemudian ia pun kembali seraya membawa sebuah bantal dan selimut tebal berwarna abu-abu."Apartemen saya cuma punya satu kamar," ucapnya sedikit canggung. "Maaf... jadi Anda harus tidur di sofa.""Tidak masalah." Xavian berucap sembari menerima bantal itu tanpa banyak bicara. Lovelle masih belum beranjak.Tatapannya terus mengamati pria yang siang tadi begitu
Sudah tiga hari berlalu sejak peristiwa Lovelle yang pingsan di kantor. Selama tiga hari itu pula, tidak ada lagi pembicaraan mengenai penglihatan aneh yang mereka berdua alami. Xavian seolah menghapus seluruh kejadian itu dari permukaan, ia pun kembali menjadi CEO C-Works yang dikenal semua orang. Sikapnya dingin, perfeksionis, dan sulit ditebak. Seolah pria yang memeluk Lovelle di dalam mimpi itu tidak pernah ada. Namun tak ada yang tahu... bahwa tatapan pria itu telah berubah setiap kali menatap Lovelle. *** "Mulai hari ini, Nona White dipindahkan ke Executive Office." Suara kepala HR terdengar jelas, dan Lovelle pun sontak mengangkat kepala. "...Maaf?" tanya gadis itu bingung. "Ini keputusan langsung dari Tuan Xavian Claine. Mulai sekarang Anda akan menjadi Executive Assistant beliau." "Apa?!" Kali ini Emma-lah yang menjerit pelan sembari mengguncang lengan Lovelle. "Gila... itu promosi mendadak yang luar biasa!" bisiknya pelan. Namun wajah Lovelle tampak a
Kelopak mata Lovelle terasa begitu berat saat ia berusaha membuka mata. Gelap. Sunyi. Tak ada suara sama sekali. "...Aku di mana?" Gadis itu hanya bisa tertegun kala melihat hamparan putih yang seolah tak berujung. Lalu perlahan, Lovelle pun mulai melangkah. Busana kerja yang tadi ia kenakan kini telah berganti menjadi gaun putih sederhana yang bergoyang diterpa angin. Ia pun mengernyit bingung. "Aneh..." Tempat ini terasa begitu asing, namun juga terasa seperti rumah. Tiba-tiba langkah kaki lain terdengar dari kejauhan, dan Lovelle pun menoleh. Matanya menangkap sesosok pria yang berjalan dari balik kabut putih. Tubuhnya tinggi, rambutnya gelap, serta tatapan kelabu yang begitu dikenalnya. Dingin dan tajam, namun jauh di dalam sana ada luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh. Napas Lovelle pun tercekat di tenggorokannya. "...Xeyren." Pria itu berhenti melangkah, dan untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap. Tidak ada senyum atay pelukan, hanya ad
Xavian memejamkan mata begitu kuat hingga urat di pelipisnya menegang. Napasnya terdengar berat, cepat dan tidak beraturan... saat dua kehidupan saling bertabrakan di dalam kepalanya. Xavian Claine. CEO C-Works. Lahir, tumbuh, bersekolah, membangun perusahaan, mengambil alih puluhan bisnis. Semuanya nyata, semuanya memiliki kenangan. Namun di saat yang sama... ada kehidupan lain yang sama nyatanya. Pria bernama Xeyren Crow. Sebuah dunia yang seharusnya tidak mungkin ada. Seorang wanita bernama Lovelle. Seorang putri bernama Xeyrelle. Semuanya terasa begitu nyata hingga dadanya sesak dan sulit menghirup udara. Di sisi lain, Lovelle menatapnya dengan masih berurai air mata. "Tuan Claine..." "Jangan," potong Xavian dengan nada suaranya yang dingin. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi aku tidak akan membiarkan beberapa potong halusinasi mengambil alih hidupku." Kalimat itu membuat Lovelle tercekat. "Tapi... ini bukan halusinasi...." "Bagaimana kau
Pintu ruang CEO menutup dengan bunyi "klik", yang malah terdengar seperti vonis hakim untuk terdakwa. Lovelle menatap gugup pria yang ada di depannya, dan berdiri membelakanginya. "T-Tuan Claine...?" Tidak ada jawaban. Xavian masih tak bergerak di posisinya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja kerja. Namun beberapa detik kemudian, satu pukulan keras menghantam permukaan meja, membuat Lovelle terlonjak kaget. BRAKK!! Napas Xavian tampak memburu. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Ini tidak mungkin. Ia adalah Xavian Claine. Lahir di kota ini, dibesarkan oleh keluarganya, dan membangun C-Works dari nol. Lalu... siapa pria bernama Xeyren Crow itu?? Kenapa semua ingatan itu terasa lebih nyata daripada hidupnya sendiri?? Tangan pria itu pun mengepal semakin erat, lalu perlahan Xavian menoleh. Tatapan kelabunya kini begitu tajam, sama seperti tatapan Xeyren ketika pertama kali menodongkan senjata ke leher Lovelle. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terja
Langkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pri
“Ummh...” Lovelle mengerang lirih dengan kedua mata yang masih terpejam, kala ia merasakan sesuatu yang dingin dan solid mencengkeram lehernya. “Bangun, Miss Little Spy. Baru saja kutinggal sebentar, kamu malah ketiduran? Really?” Suara maskulin dan berat itu menusuk tajam telinga Lovelle, mem
Suara baling-baling helikopter tiba-tiba terdengar membelah keheningan malam dari atas Mansion, membuat Lovelle yang masih terikat langsung membuka matanya lebar-lebar. Xeyren pun ikut melirik ke atas. Pisau yang tadi nyaris menyentuh bola mata Lovelle, kini tertahan di udara. Tatapan pria itu
Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada







