แชร์

9. Pindah Posisi

ผู้เขียน: Black Aurora
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-18 14:58:58

Tatapan Luca sedikit mengeras. “Sebuah ledakan terjadi pada mobil milik Lucien Moreau.” Ia menatap lurus ke dalam mata Xeyren.

“Lucien dan seluruh pengawalnya tewas di tempat. Dan kebetulan,” lanjut Luca, “Anda adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di sebuah kasino beberapa jam sebelum kejadian.”

Xeyren mengangkat alisnya yang tebal dan gelap. “Kebetulan yang menarik.” Nada suaranya tetap santai. Namun matanya tidak pernah benar-benar lengah.

“Apakah Anda sedang menuduh saya, Jaksa?”

Luca melangkah satu langkah lebih dekat. “Apakah saya perlu melakukannya?”

Keduanya kini berdiri cukup dekat, membuat ketegangan di udara terasa semakin jelas.

Xeyren tersenyum tipis. “Saya hanya seorang pebisnis yang kebetulan bertemu kliennya.” Ia mengangkat bahu ringan.

“Jika klien tersebut memiliki masalah lain di luar urusan bisnis, itu bukan tanggung jawab saya.”

Luca menatapnya beberapa detik lebih lama, seakan sedang mencoba membaca kebohongan di wajah pria itu.

Namun Xeyren terlalu tenang, terlalu terlatih, dan terlalu tidak terbaca.

Akhirnya Luca menghela napas pelan. “Seperti biasa, Anda selalu memiliki jawaban.”

Kali ini Xeyren tidak menyahut, namun senyum samarnya sama sekali tidak hilang.

Luca melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih rendah. “Saya hanya ingin mengingatkan satu hal, bahwa saya akan mengawasi Anda.”

Tatapannya kini menjadi lebih tajam. "Jadi sebaiknya Anda tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum… jika tidak ingin saya menangkap Anda secara langsung.”

Xeyren tertawa pelan, meskipun tidak ada kehangatan sama sekali di dalam tawanya.

“Ancaman dari seorang jaksa,” katanya. “Apa seharusnya saya harus merasa takut?"

Luca tidak terpancing, alih-alih hanya menatap Xeyren datar. “Ini bukan ancaman, Tuan Crow. Tapi sebuah peringatan.”

Setelah itu, Luca berbalik.

Namun sebelum benar-benar pergi, langkahnya melambat dan matanya menyapu ke seluruh ruangan.

Seolah-olah mencari sesuatu, atau seseorang.

Dan Xeyren memperhatikan semua itu tanpa mengatakan apa pun, namun sudah memahami di dalam benaknya.

“Jaksa Montclair.” Xeyren memanggil tiba-tiba.

Luca berhenti, namun ia tidak langsung menoleh.

Hanya diam, seolah memberi ruang bagi kalimat berikutnya.

Xeyren melangkah pelan mendekat, “Ada satu hal yang mengganggu pikiran saya sejak Anda datang ke Mansion ini.”

Baru kali ini Luca sedikit menoleh, menatap datar Xeyren dari samping.

Xeyren tersenyum tipis. “Cara Anda melihat ke sekeliling tadi, tidak seperti seseorang yang hanya datang untuk mengajukan pertanyaan hukum. Tapi lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu.”

Ia berhenti beberapa langkah di belakang Luca. Cukup dekat untuk terasa mengintimidasi.

Luca tidak menjawab, namun bahunya terlihat sedikit menegang.

Xeyren menyembunyikan senyumnya, lalu bersuara dengan nada yang kini lebih rendah.

“Saya jadi mulai bertanya-tanya, apakah kedatangan Anda ke sini… benar-benar hanya untuk menanyakan perihal Las Vegas? Atau Anda sebenarnya sedang mencari seseorang di Mansion saya?”

Kalimat tajam dan langsung itu menggantung di udara, membuat Luca akhirnya berbalik sepenuhnya.

Kini mereka kembali saling berhadapan, namun tatapan pria berkacamata itu tetap terlihat tenang meskipun ada kilatan serupa petir kecil di dalam matanya.

“Anda terlalu banyak berasumsi, Tuan Crow,” jawabnya akhirnya.

“Saya datang karena ada kejadian besar yang melibatkan seseorang yang baru saja Anda temui,” lanjut Luca dengan nada yang tetap profesional.

“Jika Anda merasa diawasi atau dicurigai, mungkin itu karena Anda sendiri yang terlalu sering berada di tempat yang salah, pada waktu yang salah.”

Kalimat itu jelas dan sekaligus menjadi penyangkalan yang rapi.

Luca kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu.

Xeyren tidak langsung menjawab setelah Luca memberikan penyangkalannya.

Sebaliknya, ia hanya menatap pria itu beberapa detik lebih lama, sebelum senyum tipis yang berbahaya itu kembali muncul.

“Kalau begitu, sayalah yang terlalu curiga,” ucapnya ringan, seolah tidak terlalu peduli..

“Tapi apa Anda tahu, Jaksa?” lanjutnya dengan nada santai yang justru terdengar lebih provokatif, “saya cukup pandai mengenali orang yang datang dengan tujuan tersembunyi.”

Luca tidak bergerak, tapi tatapannya tetap dingin

Xeyren memiringkan kepala sedikit, seolah baru menyadari sesuatu yang menarik.

“Terutama jika itu berkaitan dengan seseorang yang… seharusnya memberi laporan kepada Anda, tetapi tiba-tiba saja dia menghilang tanpa jejak.”

Kalimat itu halus tapi tepat sasaran, dan senyum Xeyren kini sedikit melebar.

“Tenang saja, Jaksa,” ujarnya pelan, hampir seperti bisikan yang disengaja untuk menusuk.

“Jika memang Anda sedang kehilangan seseorang, mungkin itu artinya Anda hanya terlambat untuk menyadari... bahwa tidak semua orang tetap berada di posisi yang sama untuk selamanya.”

Luca menatap Xeyren lurus-lurus, lebih dalam dan dingin kali ini.

Namun Xeyren belum selesai.

Ia menambahkan, dengan nada yang masih santai namun jauh lebih berani, serta dengan sengaja ingin memprovokasi.

“Beberapa orang, bahkan terlihat cukup nyaman berada di bawah atap saya. Atau mungkin... di atas ranjang saya?"

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kiss The Antagonist    68. Apa Dia Sepenting Itu?

    Cahaya matahari pagi jatuh samar dari sela tirai tinggi berwarna gelap, membentuk garis tipis keemasan di atas ranjang besar itu.Lovelle mengerjapkan matanya perlahan.Ruangan ini…?Langit-langit yang tinggi, aroma kayu dan parfum maskulin yang samar, serta suasana dingin yang terlalu familiar.Ini kamar Xeyren. Dia telah kembali ke Mansion ini lagi. Kesadaran Lovelle pun mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Dan tepat saat itulah, sebuah suara berat terdengar dari sampingnya.“Sudah bangun?”Perlahan, Lovelle menoleh.Xeyren duduk di kursi di sisi ranjang dengan tubuh yang sedikit bersandar. Kemeja hitamnya masih terbuka di bagian leher, sementara manik kelabu gelap pria itu menatapnya tanpa berkedip.Entah sudah berapa lama pria itu berada di sana.Sebelum Lovelle menjawab pertanyaannya, tiba-tiba saja Xeyren bergerak.Ia menempelkan punggung tangannya di kening Lovelle, untuk memeriksa suhu tubuhnya.Gerakannya yang tenang dan sentuhannya yang dingin membuat Lovelle terpaku dalam

  • Kiss The Antagonist    67. Sosok Pengganti Albrecht Varyn

    Mobil hitam itu akhirnya memasuki gerbang utama Mansion milik Xeyren Crow, tepat menjelang dini hari. Lampu-lampu taman menyala redup di sepanjang jalan masuk, sementara puluhan pria bersenjata tampak berjaga di berbagai titik. Pengamanan tempat itu kini jauh lebih ketat dari biasanya. Bukan hanya di luar, bahkan bagian atap dan balkon Mansion pun dipenuhi penjaga tambahan. Xeyren keluar lebih dulu dari mobil, lalu tanpa kesulitan mengangkat tubuh Lovelle ke dalam gendongannya. Tubuh gadis itu masih lemas dan tidak sadarkan diri. Kepalanya bersandar lemah di dada Xeyren, sementara rambut gelapnya jatuh berantakan di lehernya. Tatapan beberapa pelayan langsung menunduk begitu pria itu melangkah masuk. Xeyren berjalan menujut pintu utama Mansion yang telah terbuka lebar. “Tuan Xeyren,” sapa seorang pelayan dengan sopan, meski jelas terlihat gugup. “Ada tamu yang sudah menunggu sejak tadi malam.” Langkah Xeyren tidak berhenti. “Siapa?” tanyanya datar. “Seorang wanita

  • Kiss The Antagonist    66. Hanya Aku Yang Boleh Menyakitinya

    "Kirim beberapa orang untuk mengejar Xeyren dan Daniela." Suara Luca terdengar rendah, namun membuat seluruh anak buahnya langsung bergerak. Beberapa pria bersenjata segera memasuki lorong rahasia di belakang ruangan, mengikuti jejak pelarian Xeyren. Sementara Luca tetap berdiri diam selama beberapa detik, seraya menatap lorong gelap itu Kini semuanya terasa jauh lebih jelas. Daniela, atau lebih tepatnya... gadis yang berada di dalam tubuh itu... sangat membuatnya tertarik. Bukan hanya karena keberadaan dua kesadaran berbeda di dalam dirinya, tapi gadis itu juga seseorang yang membuat Xeyren Crow kehilangan kendali. Dan Xeyren bukanlah tipe pria yang terobsesi tanpa alasan. Kalau pria itu sampai mempertaruhkan seluruh penelitian, membunuh Professor Varyn, bahkan memancing Luca datang ke sini… ...maka Daniela pasti memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Saat Luca sedang berpikir tentang tindakan selanjutnya, tiba-tiba saja suara ledakan dahsyat m

  • Kiss The Antagonist    65. Rute Pelarian

    Tatapan Luca dan Xeyren saling terkunci, di tengah ruangan yang dipenuhi dengung mesin. Tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak lebih dulu. Namun keduanya tahu… begitu pelatuk ditarik, tidak akan ada jalan kembali. Jari Luca perlahan menekan pistolnya, moncong senjata itu tepat mengarah ke kepala Xeyren. Sementara di sisi seberang, handgun milik Xeyren sudah lebih dulu tertuju lurus ke arah dada Luca. Tepat di jantungnya. Dan Lovelle hanya berdiri membeku di tengah-tengah mereka. Napasnya terasa semakin berat akibat frekuensi mesin yang terus berdenyut di udara. Saat itu juga... manik coklat milik Luca bergerak sekilas ke arah mesin di belakang Xeyren. Lampu intinya terlihat berkedip pelan, teratur dan aktif. Mesin itu adalah sumber semuanya. Selama alat itu masih bekerja, Lovelle akan terus dipaksa menerima tekanan gelombang yang menyerang kesadarannya tanpa henti. Luca pun menyipitkan samar matanya. Lalu dalam sepersekian detik, ia telah mengambil kepu

  • Kiss The Antagonist    64. Tak Pernah Kulepaskan

    Ruangan bawah tanah itu dipenuhi suara dengung rendah dari mesin-mesin yang terus bekerja tanpa henti. Cahaya dari monitor berpendar redup, memantulkan bayangan dingin di wajah orang-orang yang berdiri di dalamnya. Di tengah ruangan, sebuah perangkat besar berbentuk lingkaran logam berdiri aktif. Kabel-kabel hitam menjulur dari bagian bawahnya, terhubung pada panel data yang terus bergerak cepat. Gelombang frekuensi berdenyut pelan dari inti alat itu. Professor Albrecht Varyn menatap layar di depannya dengan mata berbinar penuh gairah. “Luar biasa…” gumannya pelan. “Respon sinkronisasinya jauh lebih stabil dibanding simulasi.” Tak jauh darinya, tampak Xeyren Crow yang duduk tenang di kursi kulit hitam, dengan satu kaki menyilang. Tatapan kelabu pria itu tertuju lurus pada layar koordinat yang terus bergerak. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. Karena sejak awal… ide tentang alat itu memang berasal darinya. Xeyren yang pertama kali menyadari satu hal sederhan

  • Kiss The Antagonist    63. Koordinat

    Alistair belum benar-benar pergi ketika perangkat komunikasinya bergetar singkat. Ia menoleh untuk membaca pesan yang masuk, lalu berhenti sepersekian detik. “Ada tambahan?” tanya Luca tanpa menoleh. Alistair mengangkat pandangan. “Ya, Tuan.” “Tim menemukan sesuatu di laboratorium,” lanjutnya tenang. “Bukan pada peralatan utamanya… tapi pada sistem cadangan.” Luca akhirnya berbalik menatapnya. “Jelaskan.” “Beberapa server sengaja dibiarkan aktif,” ujar Alistair. “Seolah-olah ditinggalkan terburu-buru. Tapi setelah dianalisis… ternyata data intinya kosong.” Alis Luca sedikit berkerut. “Dihapus dengan sengaja?” Alistair menggeleng tipis. “Bukan dihapus, Tuan. Tapi dipindahkan secara sistematis dan bersih. Juga tidak ada jejak yang mengindikasikan dilakukan dengan terburu-buru.” Beberapa detik kemudian, ekspresi Luca terlihat berubah. “…jadi ini bukan penggerebekan yang terlambat,” gumannya pelan. Alistair mengangguk. “Lebih tepatnya… kita justru diarahkan ke sana.

  • Kiss The Antagonist    11. Wanitanya Luca

    “Siapa yang menyuruhmu keluar, Lovelle?” Lovelle menelan ludah dan seketika tersadar, bahwa meski ia berhasil selamat dari takdir kematian di halaman ke-lima, tapi di sini ia masih dalam permainan yang jauh lebih berbahaya dan kompleks. Xeyren perlahan melangkah mendekat dengan langkah yang be

  • Kiss The Antagonist    18. Siapa Pemegang Kendalinya

    Beberapa hari kemudian, di malam lelang... Gedung tua bergaya klasik itu berdiri megah di tengah kota. Tampak tenang dari luar, namun di dalamnya dipenuhi aura ketegangan. Di sana, sekitar lima belas orang telah berkumpul. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh di dunia gelap, masing-masing me

  • Kiss The Antagonist    34. Penyusup

    Xeyren tidak berkata apa-apa. Namun dalam satu gerakan halus, tangannya masuk ke balik jasnya, dan sebuah hand gun tiba-tiba saja sudah berada dalam genggamannya. Senjata itu langsung terangkat dan mengarah lurus ke pintu. Sementara di belakang tubuh Xeyren, Lovelle refleks menutup mulutnya se

  • Kiss The Antagonist    21. Kesalahanmu

    “Daniela,” panggil Luca pelan. Sekarang Lovelle pun tidak berpikir lagi, dan langsung berlari ke arahnya. Pria ini adalah tokoh protagonis dalam novel. Satu-satunya pria yang harus ia percaya, alih-alih Xeyren Crow yang jelas-jelas penjahatnya. "Kamu baik-baik saja?" Luca masih memegangi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status