Share

4. Petunjuk

Author: Black Aurora
last update publish date: 2026-03-14 16:01:23

Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah.

Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega.

Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama.

Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya.

“Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan.

Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik.

Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia.

Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar.

Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit.

Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya.

Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam.

Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengamati mangsanya.

“Sekarang... kita bisa berbicara tanpa gangguan,” ujarnya akhirnya.

Ujung pisau itu terangkat, dan bilah dingin itu menyentuh bahu Lovelle.

Tubuh gadis itu sontak menegang, tapi Xeyren tidak langsung melukai.

Ia hanya membiarkan ujung pisau itu meluncur perlahan di atas kain seragam pelayan yang dikenakan Lovelle.

Dari bahu… turun ke lengan… lalu berhenti di dekat tulang selangka hingga membuat Lovelle menggigil ketakutan dibuatnya.

“Siapa yang mengirimmu?” tanya Xeyren.

Pisau itu lalu bergerak lagi, hingga kini menyentuh garis leher baju Lovelle.

Gadis itu serta-merta menahan napasnya.

“Kepada siapa kau bekerja?” lanjut pria itu.

Lovelle membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar.

Bilah pisau itu bergerak perlahan di sepanjang lengannya, hampir seperti sentuhan yang disengaja.

Xeyren terasa terlalu dekat, terlalu dominan.

Dan meskipun situasinya menakutkan… Lovelle merasakan sesuatu yang aneh berdenyut di dalam tubuhnya.

Perasaan yang tidak seharusnya muncul saat seseorang sedang mengancam hidupnya.

Ia merasa malu, namun juga tidak bisa mengabaikan gelenyar aneh yang terasa menggelitik kulitnya.

Sial. Dan sekarang kulit wajahnya yang putih pucat pasti sedang merona hingga ke telinga.

'Yang benar saja! Dia itu jahat, Lovelle! Jangan terpengaruh hanya karena dia sangat tampan!'

Lovelle mengutuk dirinya sendiri diam-diam dalam hati, sementara Xeyren terus memperhatikannya dengan mata yang setengah menyipit.

“Menarik,” gumannya.

Pisau itu kini berhenti di dekat paha Lovelle, menyentuh kain rok Lovelle.

“Biasanya mata-mata akan langsung memohon,” ujarnya.

“Namun kau terlihat… berbeda.”

Tubuh Lovelle pun semakin menegang kala pisau itu masuk perlahan ke dalam roknya.

Xeyren jelas sekali menikmati ketakutan yang terpancar dari wajahnya. Aura pria itu benar-benar seperti penjahat.

Tidak ada belas kasihan atau empati. Hanya rasa ingin tahu… dan kekuasaan.

Lovelle mengigit bibirnya ketika ujung pisau itu kini berada di dekat bagian sensitifnya.

“Jika aku merobekmu sekarang,” ucap Xeyren pelan, “mungkin kau akan lebih kooperatif.”

Pisau itu sedikit bergerak, dan Lovelle langsung tersentak.

Lovelle menarik napas cepat. “Tunggu!”

Xeyren berhenti. Tatapan abu-abu gelap itu menatap Lovelle dengan dingin.

“Aku… aku bisa membantumu.” Lovelle menemukan ide untuk membebaskannya dari takdir kematian kedua.

Setidaknya mengulur waktu, karena ia merasa belum saatnya Xeyren mengetahui kepada siapa sesungguhnya Daniela bekerja.

Itu adalah informasi yang sangat penting dan krusial, mungkin akan ia simpan untuk momen yang lebih menguntungkan.

Hening selama beberapa detik, lalu Xeyren tertawa pelan.

Tawa rendah yang tidak mengandung sedikit pun kepercayaan.

“Benarkah?" Tukasnya seraya memiringkan kepala.

“Mata-mata yang tertangkap basah di kamarku… ingin membantuku?”

Xeyren mengeluarkan pisau itu dari balik rok Lovelle, lalu kembali menyentuh lehernya.

“Cobalah membuatku percaya.”

Lovelle menelan ludah. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia punya.

Jika ini gagal… ia pasti mati.

“Nanti malam,” ucap Lovelle pelan, “jangan datang ke pertemuan di Las Vegas, dengan klien dari Paris.”

Tatapan Xeyren sedikit berubah. “…lanjutkan.”

Lovelle menarik napas gemetar. Matanya menatap langsung ke Xeyren. “Itu adalah sebuah jebakan. Mereka tidak datang untuk berbisnis, tapi untuk menangkapmu.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi. Xeyren menatapnya lama.

“Dan dari mana kau mengetahui hal itu?” tanyanya perlahan.

Lovelle tidak menjawab, namun ia tahu.

Dalam novel yang ia baca, pertemuan itu memang terjadi.

Xeyren memang selamat, tapi ia terluka cukup parah dalam penyergapan itu.

Dan malam itu menjadi awal perang besar di dunia bisnis gelap yang melibatkan Crow Corporation.

Perusahaan raksasa milik pria yang kini berdiri di depannya.

Xeyren Crow.

Pria paling berbahaya dalam cerita ini.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kiss The Antagonist    102. Sesuatu Yang Seharusnya Kuingat

    Di pagi hari, suara bel apartemen yang berbunyi nyaring membuat Lovelle mengerang pelan di atas tempat tidur.Kelopak matanya masih terasa begitu berat. Ia pun tidak ingat pukul berapa dirinya baru tertidur semalam.Yang ia ingat hanyalah mata kelabu gelap, suara renda dan wajah Xavian yang terlalu mirip dengan seseorang yang seharusnya tidak mungkin ada di dunia ini.Suara bel kembali berbunyi, tapi Lovelle malah menarik selimut menutupi kepalanya.Namun beberapa detik kemudian, otaknya perlahan mulai bekerja.Bel? Siapa yang datang pagi-pagi begini?Dengan rambut yang berantakan dan wajah yang linglung karena masih mengantuk, Lovelle segera beranjak keluar kamar untuk membuka pintu depan apartemen.Dan di sana... Nathan sedang berdiri sambil membawa dua gelas kopi dan Lovelle hanya menatapnya dengan ekspresi kosong.Pria itu berkedip heran beberapa kali. "...Lovelle?"Nathan mengerutkan kening."Kamu... tidak bekerja hari ini?"Butuh waktu sekitar tiga detik hingga otak Lovelle akhi

  • Kiss The Antagonist    101. Teman Lama

    Jantung Lovelle berdetak semakin keras.Sulit dipercaya.Pertanyaan itu... keluar dari bibir pria yang memiliki wajah yang sama persis dengan Xeyren. Bibir yang sama, mata yang sama, dan suara rendah yang sama.Namun entah kenapa, semuanya terasa berbeda.Untuk sesaat, pikirannya seperti ditarik jauh ke masa lalu. Ke sebuah ruangan yang diterangi cahaya lilin. Ke sepasang mata kelabu yang tidak pernah sedingin ini.Tatapan yang selalu berubah gelap setiap kali memandangnya, sorot yang pernah membuat seluruh tubuhnya gemetar.Ia teringat jemari kokoh yang menggenggam tangannya, pelukan hangat yang nyaris mencekik karena begitu erat, serta kecupan-kecupan lembut yang pernah mendarat di sekujur tubuhnya. Pria itu... Pria yang sama sekali tidak pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, tetapi selalu menunjukkan segalanya melalui tindakan.Namun sekarang... mata yang sama itu justru memandangnya dengan rasa ingin tahu yang dingin...... seolah mereka benar-benar orang asing."Jad

  • Kiss The Antagonist    100. Menatapku Seperti Hantu

    Lovelle merasa seluruh darah di tubuhnya seolah mengalir ke wajahnya. Karena sekarang, bukan hanya Xavian yang menatapnya. Para pengawal yang berdiri di dekat pria itu ikut memandang ke arahnya. Beberapa karyawan yang sedang berjalan di lobi pun ikut berhenti dan memperhatikan mereka. Untuk sesaat, suasana menjadi canggung. Lovelle menelan ludah, lalu perlahan melangkah keluar dari balik pilar. "...Anda sedang berbicara denganku?" tanyanya ragu. Xavian sedikit menelengkan kepala sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tentu saja." Tatapan mata kelabu itu tetap tenang dan datar. "Ada hal penting mengenai pekerjaan yang ingin kudiskusikan denganmu." Lovelle sedikit mengernyit. "Sekarang?" "Ya. Sekarang." "Kalau memang tentang pekerjaan..." Lovelle mencoba tersenyum sopan. "Apa tidak bisa besok saat jam kerja?" "Tidak." Jawaban Xavian datang dengan cepat. "Aku perlu mendiskusikannya malam ini." Kali ini Lovelle terdiam, dan ia bisa merasakan tatap

  • Kiss The Antagonist    99. Boleh Aku Mengantarmu?

    "Aku penasaran," lanjut Xavian tenang. "Apakah model itu cukup kuat untuk dipertahankan jika aku mengganti seluruh variabel pasar yang Anda gunakan?" Jantung Lovelle kembali berdetak keras, karena kini ia sadar bahwa pria itu memang tidak menatapnya sebagai seseorang yang dikenalnya. Namun untuk alasan yang tidak ia pahami... Xavian Claine baru saja mengalihkan seluruh perhatian Lovelle kepadanya. Jam kerja hari itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Bahkan setelah presentasi selesai dan Daniel Carter mengucapkan kalimat penutup, Lovelle masih belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. "Presentasi yang sangat baik, Nona White." Salah satu eksekutif mengangguk puas. Daniel tersenyum lega dan segera menjawab, "Terima kasih. Sebagian besar analisis ini memang disusun oleh Lovelle." Lovelle hanya mengangguk kecil secara refleks, namun pikirannya masih tertinggal di ujung meja rapat... pada pria yang duduk di sana. Xavian Claine. Atau... Xeyren. Ketika Daniel memberi isya

  • Kiss The Antagonist    98. Apa Dia Tidak Mengenaliku?

    Lovelle bahkan tidak menyadari jika sejak tadi ia sedang menahan napasnya. Beberapa detik yang lalu, dunia masih terasa normal. Lalu sekarang... Xeyren Crow sedang berada di ruangan yang sama dengannya. Tidak. Bukan Xeyren. Nama pria itu adalah Xavian Claine. Pemilik C-Works Industries. Pemimpin perusahaan raksasa yang baru saja mengakuisisi tempatnya bekerja. Seorang pebisnis. Seorang CEO. Seorang manusia nyata yang seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan dunia yang pernah ditinggalkan Lovelle. Namun semakin lama ia memandang pria itu, semakin sulit baginya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Xeyren dan Xavian terlalu mirip... Bukan hanya wajah, tapi juga bola mata, ukiran tattoo di kulitnya, bahkan cara pria itu duduk dengan postur yang tegak dan tenang. Mereka berdua sama-sama memiliki aura dominan yang secara alami membuat seluruh ruangan fokus mengelilinginya. Lovelle pun mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengendalikan jantungnya yang terus berd

  • Kiss The Antagonist    97. Xeyren?

    Lovelle baru mengangkat wajahnya ketika pintu lift telah tertutup sepenuhnya, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat samar pada dinding logam yang mengkilap. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam dengan ponsel yang masih berada di tangan. Setelah membaca pesan Nathan sekali lagi, jemarinya pun kini bergerak cepat di atas layar untuk mengetik jawaban. "Terima kasih. Semoga harimu juga menyenangkan." Singkat, namun cukup tulus untuk mewakili apa yang ingin ia sampaikan. Beberapa detik selanjutnya pesan itu pun terkirim, dan Lovelle pun memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali di saku. Ketika pintu lift terbuka beberapa menit kemudian, Lovelle pun segera melangkah keluar. Namun keningnya sontak mengernyit saat baru menyadari sesuatu yang tidak biasa. Lorong kantor di lantai ini tampak jauh lebih ramai daripada biasanya. Beberapa orang berdiri berkelompok sambil berbicara dengan suara pelan, sedangkan sebagian lain terlihat mondar-mandir dengan tablet atau laptop di tangan.

  • Kiss The Antagonist    96. Pria Dari Dalam Buku

    Suasana di dalam mobil menjadi sedikit canggung setelah percakapan itu, tapi untungnya Nathan tidak memaksa. Ia tidak meminta jawaban Lovelle dengan segera, juga tidak mengulangi lagi pengakuan perasaannya. Dan Lovelle sangat bersyukur untuk itu, karena saat ini pikirannya masih benar-benar bera

  • Kiss The Antagonist    95. Khayalan ataukah Nyata?

    Pagi itu, cahaya matahari musim dingin menembus tirai apartemen Lovelle. Udara masih terasa dingin, ketika gadis itu berdiri di depan meja rias sambil menyisir rambut gelapnya yang hanya mencapai leher. Hari ini akan menjadi hari kerja yang panjang. Namun saat sedang merapikan ujung rambutnya,

  • Kiss The Antagonist    94. Seseorang Yang Masih Terus Mencari

    Malam itu, Nathan menepati janjinya. Tepat setelah jam kerja berakhir, mobil hitam yang sama sudah menunggu di depan gedung kantor. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara. Tatapan Lovelle ke luar jendela memandangi lampu kota yang menyala di kedua sisi jalan, orang-orang memenuhi t

  • Kiss The Antagonist    92. Kembali

    Lovelle menatap Nathan tanpa berkedip dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat, seolah pikirannya belum mampu mengejar kenyataan yang baru saja menghantam dirinya. Dan tampak begitu lega melihatnya. "Aku..." suara Lovelle terdengar pelan. "Aku benar-benar sudah kembali?" Nathan tidak l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status