ログインXeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah.
Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega. Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan. Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia. Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar. Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit. Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya. Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam. Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengamati mangsanya. “Sekarang... kita bisa berbicara tanpa gangguan,” ujarnya akhirnya. Ujung pisau itu terangkat, dan bilah dingin itu menyentuh bahu Lovelle. Tubuh gadis itu sontak menegang, tapi Xeyren tidak langsung melukai. Ia hanya membiarkan ujung pisau itu meluncur perlahan di atas kain seragam pelayan yang dikenakan Lovelle. Dari bahu… turun ke lengan… lalu berhenti di dekat tulang selangka hingga membuat Lovelle menggigil ketakutan dibuatnya. “Siapa yang mengirimmu?” tanya Xeyren. Pisau itu lalu bergerak lagi, hingga kini menyentuh garis leher baju Lovelle. Gadis itu serta-merta menahan napasnya. “Siapa yang kau layani?” lanjut pria itu. Lovelle membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Bilah pisau itu bergerak perlahan di sepanjang lengannya, hampir seperti sentuhan yang disengaja. Xeyren terasa terlalu dekat, terlalu dominan. Dan meskipun situasinya menakutkan… Lovelle merasakan sesuatu yang aneh berdenyut di dalam tubuhnya. Perasaan yang tidak seharusnya muncul saat seseorang sedang mengancam hidupnya. Ia merasa malu, namun juga tidak bisa mengabaikan gelenyar aneh yang terasa menggelitik kulitnya. Sial. Dan sekarang kulit wajahnya yang putih pucat pasti sedang merona hingga ke telinga. 'Yang benar saja! Dia itu jahat, Lovelle! Jangan terpengaruh hanya karena dia sangat tampan!' Lovelle mengutuk dirinya sendiri diam-diam dalam hati, sementara Xeyren terus memperhatikannya dengan mata yang setengah menyipit. “Menarik,” gumannya. Pisau itu kini berhenti di dekat paha Lovelle, menyentuh kain rok Lovelle. “Biasanya mata-mata akan langsung memohon,” ujarnya. “Namun kau terlihat… berbeda.” Tubuh Lovelle pun semakin menegang kala pisau itu masuk perlahan ke dalam roknya. Xeyren jelas sekali menikmati ketakutan yang terpancar dari wajahnya. Aura pria itu benar-benar seperti penjahat. Tidak ada belas kasihan atau empati. Hanya rasa ingin tahu… dan kekuasaan. Lovelle mengigit bibirnya ketika ujung pisau itu kini berada di dekat bagian sensitifnya. “Jika aku merobekmu sekarang,” ucap Xeyren pelan, “mungkin kau akan lebih kooperatif.” Pisau itu sedikit bergerak, dan Lovelle langsung tersentak. Lovelle menarik napas cepat. “Tunggu!” Xeyren berhenti. Tatapan abu-abu gelap itu menatap Lovelle dengan dingin. “Aku… aku bisa membantumu.” Lovelle menemukan ide untuk membebaskannya dari takdir kematian kedua. Setidaknya mengulur waktu, karena ia merasa belum saatnya Xeyren mengetahui kepada siapa sesungguhnya Daniela bekerja. Itu adalah informasi yang sangat penting dan krusial, mungkin akan ia simpan untuk momen yang lebih menguntungkan. Hening selama beberapa detik, lalu Xeyren tertawa pelan. Tawa rendah yang tidak mengandung sedikit pun kepercayaan. “Benarkah?" Tukasnya seraya memiringkan kepala. “Mata-mata yang tertangkap basah di kamarku… ingin membantuku?” Xeyren mengeluarkan pisau itu dari balik rok Lovelle, lalu kembali menyentuh lehernya. “Cobalah membuatku percaya.” Lovelle menelan ludah. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia punya. Jika ini gagal… ia pasti mati. “Nanti malam,” ucap Lovelle pelan, “jangan datang ke pertemuan di Las Vegas, dengan klien dari Paris.” Tatapan Xeyren sedikit berubah. “…lanjutkan.” Lovelle menarik napas gemetar. Matanya menatap langsung ke Xeyren. “Itu adalah sebuah jebakan. Mereka tidak datang untuk berbisnis, tapi untuk menangkapmu.” Ruangan itu tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi. Xeyren menatapnya lama. “Dan dari mana kau mengetahui hal itu?” tanyanya perlahan. Lovelle tidak menjawab, namun ia tahu. Dalam novel yang ia baca, pertemuan itu memang terjadi. Xeyren memang selamat, tapi ia terluka cukup parah dalam penyergapan itu. Dan malam itu menjadi awal perang besar di dunia bisnis gelap yang melibatkan Crow Corporation. Perusahaan raksasa milik pria yang kini berdiri di depannya. Xeyren Crow. Pria paling berbahaya dalam cerita ini. ***Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya. Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle. Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya. Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya. “Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan. Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?” Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama. Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana. Lovelle menarik napas pelan.
Lokasi : Salt Lake City, UtahLangkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya. Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. “Tuan Crow," sapa mereka serempak. Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.” Pintu besar itu lalu didorong perlahan. Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak. Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow. Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini,lnamun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda. Lebih dingin dan berbahaya. Pengawa
Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas. Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar. Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang. Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris. Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu. Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi. Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu. Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya. Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang? Brengsek! Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sud
Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah. Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega. Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan. Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia. Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar. Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit. Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya. Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam. Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengam
Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren. Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadany
Saat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan. Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap. Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu. Seketika Lovelle pun tertegun. Dimana dirinya sekarang? Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya. Dan pakaiannya pun... kering. Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” gumannya pelan. Mungkinkan ia sedang bermimpi? Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi. Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya. “Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?” Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pri







