LOGINSuasana ruang makan masih terasa berat, setelah percakapan tentang anomali kedua itu. Dan Xeyren-lah yang berdiri lebih dulu. Untuk sesaat, atapan kelabu gelapnya tertuju pada Seraphine. “Cari anomali itu,” ucapnya datar. “Aku tidak peduli berapa orang yang harus dikerahkan. Temukan.” Seraphine mengangkat alis tipis. “Baik, Tuan Crow.” Lalu tanpa menunggu lagi, Xeyren pun segera menggenggam tangan Lovelle yang masih berada di pangkuannya. “Ke kamar," titahnya. Namun belum sempat ia beranjak, tiba-tiba Seraphine kembali membuka suara. “Tuan Crow, aku minta waktu Anda untuk membicarakan sesuatu yang penting.” Tatapan Xeyren pun bergeser kembali pada wanita itu, lalu mengangguk singkat. “Aku akan mengantar Lovelle beristirahat," ucapnya dengan nada suaranya yang tetap tenang. “Tunggulah di ruang kerjaku.” Pria itu lalu memanggil salah satu pelayan. “Antarkan Professor Houston ke ruang kerja.” Pelayan itu pun membungkuk hormat, lalu Xeyren pun kembali berjalan, denga
Ruang makan itu kembali sunyi setelah ucapan terakhir Seraphine. ((Atau lebih buruk... ada seseorang yang mencarimu.)) Tidak ada yang langsung berbicara, bahkan denting alat makan pun telah berhenti. Lovelle masih duduk di atas pangkuan Xeyren, namun kini sekujur tubuhnya terasa sedikit dingin. Seseorang. Seseorang yang mungkin datang bersamanya. Dan orang itu… sedang mencarinya? “Lovelle.” Suara berat Xeyren memecah keheningan. Perlahan gadis itu pun menoleh, dan beradu tatap dengan manik kelabu pria itu tertuju lurus, tajam dan fokus padanya. “Apa ada seseorang yang kamu ingat?” Lovelle membuka bibirnya. “Aku~~” Kalimat itu terhenti, karena tepat di detik berikutnya kepalanya mendadak berdenyut. “Lovelle?” alis Xeyren langsung berkerut. Tangannya pun otomatis menahan pinggang gadis itu lebih erat. Namun Lovelle sudah tidak mendengar apa pun, karena dunia di sekelilingnya seperti menjauh... dan sesuatu yang asing mulai muncul. Jemari kecil yang menggenggam ta
Keheningan singkat tercipta setelah ucapan Xeyren barusan. Elias berdeham kecil sambil mendorong kacamatanya dengan canggung. “T-Tentu saja tidak, Tuan Crow.” Namun berbeda dengan asistennya, Seraphine justru terlihat tenang. Wanita itu bahkan menarik kursinya sendiri dengan elegan, lalu duduk sambil menyilangkan kaki. “Kalau dipikir-pikir,” guman Seraphine santai, “ini pertama kalinya saya melihat Anda membiarkan seseorang berada sedekat itu.” Tatapan tajamnya kembali jatuh pada Lovelle. Seketika, pelukan Xeyren di pinggang Lovelle terasa sedikit semakin erat. Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Banyak sekali analisismu malam ini, Professor.” Seraphine tersenyum samar. “Saya ilmuwan. Hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan.” Sementara itu, Lovelle mulai merasa semakin tidak nyaman dijadikan pusat perhatian seperti ini. Terlebih karena tatapan Seraphine terasa terlalu tajam. Bukan seperti seorang wanita biasa... melainkan seperti seseorang yang sedang membedah sesuatu
Pintu kamar Crelia dibanting dengan keras. Wanita itu masuk dengan napas memburu, sebelum meraih vas kristal di meja samping dan melemparkannya begitu saja ke dinding. Prang! Serta-merta pecahan kaca pun langsung berhamburan di lantai. Namun kemarahan Crelia masih jauh dari reda. Tangannya kemudian menyapu seluruh benda yang ada di atas meja rias. Parfum, bingkai foto, kotak perhiasan, semuanya jatuh berserakan dengan suara gaduh yang memantul di seluruh kamar. “Aku benci dia…!” Jeritnya dengan napas yang gemetar. Mata birunya berkaca-kaca, sementara dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi dipaksa untuk tetap terlihat tenang di depan Xeyren. Selama bertahun-tahun… Tidak peduli seberapa dingin dan berbahayanya Xeyren Crow, pria itu tidak pernah benar-benar memperlakukannya dengan kejam. Tapi sekarang? Hanya demi seorang wanita asing, Xeyren bahkan berani mengancamnya secara terang-terangan! Dan sesungguhnya, itu jauh lebih menyakitkan daripada sebuah
Seketika, jemari Crelia menghantam tuts piano dengan keras. Nada yang kacau dan sumbang pun langsung menggema memenuhi ruang makan, memecahkan suasana elegan yang sejak tadi terasa menyesakkan. Crelia akhirnya berdiri dengan napas yang memburu, karena kehilangan ketenangan anggunnya. Tatapan birunya berkaca-kaca, sebelum akhirnya langsung tertuju tajam pada Lovelle. “Jadi sekarang kamu membelanya?” suara Crelia terdengar bergetar, antara marah dan terluka. Ia lakur menunjuk Lovelle tanpa ragu. “Hanya demi wanita tak jelas ini… kamu sampai membuatku terlihat menyedihkan seperti ini di depanmu?” “Crelia~~” Lovelle mencoba membuka suara, namun wanita itu langsung tertawa sinis. “Tidak usah berpura-pura peduli padaku," lalu tatapan Crelia kembali beralih pada Xeyren. “Aku mengenalmu sejak kecil, Xeyren.” Suaranya mulai meninggi. “Aku selalu ada di pihakmu. Saat semua orang takut padamu, aku tetap tinggal. Saat semua orang menganggapmu monster, aku tetap membelamu.” Mata
Kali ini, Lovelle memilih diam. Ia tidak ingin merusak suasana, meskipun jelas sekali jika dirinya masih belum merasa nyaman berada di sini lagi. Dan di dalam keheningan itulah, tiba-tiba terdengar suara denting lembut piano. Nada klasik dan elegan mengalun pelan memenuhi ruang makan besar itu. Awalnya Lovelle tidak terlalu memerhatikan.Namun beberapa detik kemudian, perlahan keningnya pun mengernyit. Perlahan, Lovelle pun menoleh ke arah piano hitam besar di sisi ruangan. Dan detik berikutnya, manik birunya langsung membelalak kaget. Seseorang duduk di sana. Seorang wanita dengan gaun putih panjang dan rambut pirang terang dan bergelombang, yang terurai di punggungnya. Jemarinya masih bergerak tenang di atas tuts piano, namun wajah wanita itu terlihat jauh lebih pucat dibanding terakhir kali Lovelle melihatnya.Seketika, Lovelle pun menahan napasnya. “C-Crelia…?” Permainan piano itu berhenti sesaat. Lalu perlahan, Crelia menoleh. Dan untuk beberapa detik… tidak ada







