Share

Bab 3

Author: Anjani
"Nggak, kamu berpikir kejauhan."

Meskipun tanpa kejadian semalam, aku memang sudah memesan janji potong rambut untuk hari ini.

Thomas jelas tidak percaya padaku. Dia mengamatiku dari atas sampai bawah. "Kamu seharusnya tahu aku nggak suka wanita berambut pendek. Mau coba menarik perhatianku dengan cara ini sangatlah bodoh."

Aku mengabaikannya dan langsung pergi ke kamarku. Aku berganti pakaian dengan gaun merah yang sudah lama tidak kupakai. Warna yang cerah itu sangat menarik perhatian.

Thomas melirikku dengan acuh tak acuh dari pagar, tetapi cengkeramannya pada pagar sedikit mengencang. Urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas.

Pada saat ini, Angeline memeluknya dari belakang. "Tom, Karin banyak berubah akhir-akhir ini. Apa dia masih ngambek dan belum maafkan kita atas pertunangan kita?"

Thomas memalingkan muka. "Biarkan saja dia. Begitu menyadari trik itu nggak berhasil, dia akan kembali ke tampang semulanya."

Aku keluar rumah tanpa menoleh untuk bertemu dengan pasangan kencan buta yang telah diatur oleh ibuku di kafe. Ini seharusnya adalah pertemuan pertama kami, tetapi kami seperti teman yang sudah saling kenal selama bertahun-tahun. Kami mengobrol dengan gembira dan sangat sefrekuensi.

Ketika sampai di rumah malam itu, aku bersenandung riang. Tak disangka, aku malah melihat Thomas duduk di sofa ruang tamu. Dia sedikit membungkuk dan terlihat sangat tidak nyaman.

Berhubung pernah menikah dengannya selama tiga tahun di kehidupan sebelumnya, aku tahu dia memiliki sakit maag yang serius. Dia mungkin memaksakan diri duduk di sana agar Angeline tidak khawatir.

Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur, tetapi suasana hatiku hari ini sedang baik. Lagi pula, aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya di rumahku. Itu akan berdampak buruk pada orang tuaku.

Setelah ragu sejenak, aku berkata, "Kotak P3K ada di laci kedua lemari putih."

Thomas mendongak dan mata kami bertemu. Dia mungkin berpikir aku akan mengambilnya. Jadi, dia tetap duduk dan hanya tersenyum mengejek.

"Kenapa? Karina, kamu mau cari kesempatan supaya bisa paksa aku balas budi?"

Sebelum dia selesai berbicara, aku berbalik dan kembali ke kamarku. Jadi, aku tidak tahu bahwa senyumnya sedikit membeku dan tatapannya perlahan-lahan menjadi muram.

Hidupku sangat tenang selama beberapa hari selanjutnya. Sampai suatu hari, Thomas tiba-tiba marah dan melemparkan sepotong pakaian dalam renda ke wajahku.

"Karina, kenapa kamu begitu nggak tahu malu?"

Aku tidak mengerti apa yang terjadi dan mematung di tempat. Aku secara refleks menangkapnya dan melihat bahwa itu memang adalah pakaian dalamku ....

Aku langsung merasa malu. "A ... apa maksudmu?"

Thomas mencibir, "Aku hampir mengira kamu benar-benar sudah nggak suka sama aku, tapi kamu ternyata cuma jual mahal. Kamu pura-pura nggak peduli padaku, tapi diam-diam meletakkan pakaian dalammu di tempat tidurku untuk merayuku. Apa kamu begitu haus akan sentuhan pria dan kekurangan pria untuk melayanimu?"

Aku buru-buru menjelaskan, "Pasti ada kesalahpahaman, aku nggak ...."

"Berhentilah berdalih. Karina, kamu benar-benar menjijikkan."

Thomas menatapku dengan kecewa. Dia menggenggam tangan Angeline dan melangkah keluar. "Aku akan bawa Angie kembali ke rumah Keluarga Panjari. Lain kali kita bertemu, ingat panggil aku kakak ipar."

Tanggal pernikahan mereka sudah ditetapkan. Angeline tidak punya banyak teman di Kota Naklat, jadi orang tuaku memintaku menjadi pengiring pengantin.

Mereka kembali pada hari pernikahan, lalu menggenggam tanganku dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Angie akan segera menikah. Paman dan bibimu sudah bisa tenang di alam baka. Sekarang, cuma tinggal kamu."

Aku menyentuh gelang pasangan di tangan kananku, pipiku diam-diam memerah. "Emm ... aku juga sudah punya pacar."

Ibuku bertanya dengan terkejut, "Siapa orangnya? Bukannya kamu nggak pergi ke kencan buta yang kami aturkan untukmu sebelumnya?"

Aku pun menjawab dengan bingung, "Hah?"

Jika begitu, siapa orang yang kutemui dan jadi pacarku itu?

Thomas yang mendengar percakapan itu juga tersenyum mengejek. Dia mungkin tidak menganggapnya serius dan mengira aku berbohong. Namun, melihat betapa teguhnya sikapku, dia sedikit mengernyit dan terlihat agak gelisah.

Memanfaatkan momen ketika tidak ada orang di sekitar, Thomas menungguku di pintu keluar kamar mandi, lalu berbisik di telingaku, "Selama kamu bersikap pengertian dan sadar diri, juga jangan menaruh fantasi yang nggak realistis terhadapku, aku akan tetap perlakukan kamu layaknya seorang adik seperti dulu dan menghabiskan waktu bersamamu selagi senggang."

Aku menyahut dengan serius, "Aku sudah punya pacar. Aku nggak akan pernah mengganggumu lagi."

Thomas mendengus, lalu meraih pergelangan tanganku. "Kalau begitu, coba bilang kenapa ada huruf T yang terukir di gelangmu? Bukankah itu berarti Thomas?"

"Bukan!"

Tidak jauh dari sana, Angeline menyaksikan adegan ini dengan cemburu. Matanya berkilat penuh kebencian.

Sebelum upacara dimulai, kekacauan terjadi di belakang panggung. Gaun pengantin wanita digunting sampai rusak dan meninggalkan lubang yang besar. Di cermin rias, bahkan ada tulisan "mati sana" yang ditulis dengan lipstik.

Angeline menangis tersedu-sedu. Ketika semua orang berkumpul untuk menghiburnya, tatapannya tertuju padaku.

"Karina, aku tahu kamu sudah menyukai Tom selama hampir sepuluh tahun, tapi kamu juga nggak boleh salahkan aku cuma karena kamu nggak mendapatkannya. Pada hari kami umumkan pertunangan kami, kamu jelas sudah setuju. Kenapa kamu sengaja merusak pernikahan yang sudah lama kutunggu-tunggu?"

Semua orang langsung heboh.

Aku pernah mengejar Thomas dengan begitu heboh. Jadi, yang paling mungkin melakukan hal seperti ini memang aku.

Ketika Thomas tiba, Angeline bersandar di pelukannya dan berkata sambil terisak, "Tom, kurasa aku harus kembalikan kamu pada Karina. Kalau nggak, entah hal gila apa lagi yang akan dilakukannya kelak ...."

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.

Ini bukan pertama kalinya Thomas mempermalukanku di depan umum, tetapi ini pertama kalinya dia main tangan.

Aku menatap tampangnya yang marah dan mata redup. "Thomas, kamu nggak akan pernah percaya padaku, bahkan sekali pun?"

"Memangnya kamu layak dipercayai?" Thomas dengan dingin memperhatikanku jatuh ke lantai, lalu berujar dengan kejam, "Karena kamu begitu nggak tahu diri, jangan salahkan aku bersikap kejam. Aku akan kasih penjelasan pada Paman dan Bibi. Kalian, bertindaklah."

Thomas memerintahkan para pengiring pengantin pria untuk merobek gaunku dan menulis kata "jalang" di wajahku dengan lipstik. Dia mengatakan akan menghukumku dengan cara yang sama seperti yang kugunakan untuk menindas Angeline.

Aku menangis dan meronta tanpa henti. Sampai seseorang berseru dengan dingin, "Berhenti!"

Sepasang tangan yang familier mengangkatku. Aku membenamkan wajahku di dada pria itu.

Aku samar-samar mendengar suara Thomas tiba-tiba menjadi berat, seolah-olah diwarnai dengan ketidaksenangan. Dia bertanya, "Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Karina?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kita Punya Esok, tapi tak Punya Selamanya   Bab 8 

    Selama beberapa saat selanjutnya, aku mengikuti keinginan orang tuaku dan belajar mengelola perusahaan keluarga kami. Insidenku dengan Angeline di pesta pernikahan telah diklarifikasi. Begitu rekaman CCTV dirilis, kebenaran juga langsung terungkap.Aku mendengar bahwa Angeline memohon mati-matian kepada Thomas untuk tidak mengusirnya. Selama dibiarkan tetap tinggal di rumah Keluarga Panjari, dia akan melakukan apa saja. Bagaimanapun juga, Keluarga Sentosa pasti tidak akan menerimanya lagi.Mengenai rumor tentang Tristan di ibu kota, itu hanyalah rumor mengenai dia yang sangat kejam dan tegas dalam bertindak. Selama ada yang mengkhianatinya, dia tidak akan mengampuni orang itu meskipun orang itu adalah keluarganya.Namun, aku tidak takut. Aku hanya tahu bahwa Tristan baik padaku, dan aku juga baik padanya. Itu sudah cukup.Suatu malam, aku bertemu dengan Thomas lagi. Dia seharusnya sudah mabuk dan mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat karena tidak ingin membiarkanku pergi.Melihat

  • Kita Punya Esok, tapi tak Punya Selamanya   Bab 7

    "Mobil Thomas masih ada di bawah. Karin, kamu nggak mau turun?" Aku menggeleng ke arah ibuku dan menjawab, "Nggak usah pedulikan dia." Benar saja, dua jam kemudian, Thomas melaju pergi.Setelah kejadian ini, orang tuaku sangat sedih. Mereka bahkan sampai memutuskan hubungan bisnis dengan Keluarga Panjari.Semua orang di komunitas elite Kota Naklat berspekulasi tentang apa yang terjadi antara kedua keluarga. Selain pernikahan yang dibatalkan tanpa alasan, keluarga kami bahkan memutuskan hubungan bisnis. Seseorang yang ada di lokasi kejadian mengungkapkan bahwa itu karena aku cemburu dan membuat keributan yang tidak bisa diperbaiki.Ketika aku diundang ke sebuah pesta, semua orang memandangku dengan tatapan mengejek."Itu orangnya. Dia itu wanita bermuka dua yang merusak pernikahan kakaknya sendiri."Seseorang bahkan sengaja mencoba menumpahkan anggur merah ke arahku saat aku mendekat. Pada saat itu, seseorang yang terasa asing sekaligus familier menarikku ke dalam pelukannya. Dia meng

  • Kita Punya Esok, tapi tak Punya Selamanya   Bab 6 

    Suasana hati Angeline memang sangat buruk. Awalnya, Thomas masih bersabar dan mencoba menghiburnya. Dia berjanji akan memberi Angeline pernikahan yang lebih baik dan sempurna lain kali. Dia bahkan akan mengajak Angeline berbulan madu ke luar negeri.Berhubung Angeline masih tidak senang, Thomas menyipitkan matanya dan berujar, "Angie, sejak kapan kamu jadi orang yang begitu nggak tahu berterima kasih?" Angeline langsung panik. Dia memaksakan diri untuk meneteskan air mata, lalu mulai menangis tak terkendali. "Tom, kamu salah paham. Aku begitu menantikan pernikahan hari ini, tapi semuanya sudah hancur. Aku sedih banget." Thomas melunakkan sikap dan nada bicaranya. "Aku sudah gantikan kamu kasih pelajaran pada Karina." Angeline ingin mengatakan itu sama sekali tidak. Dia berharap Karina benar-benar mati. Mereka berasal dari latar belakang yang sama. Kenapa Karina selalu bisa menikmati hidup, sedangkan dia tidak bisa. Dia bahkan harus berebut, bersaing, dan menyenangkan orang lain.Nam

  • Kita Punya Esok, tapi tak Punya Selamanya   Bab 5 

    Memulihkan rekaman CCTV membutuhkan waktu. Tristan memberitahuku bahwa dia mengambil jurusan ilmu komputer dan bahkan kuliah di universitas yang sama denganku.Aku pun sedikit terkejut. Saat itu, seluruh fokusku tertuju pada Thomas. Aku tidak pernah memperhatikan pria lain selain dia. Jika tidak, aku seharusnya mengingat seseorang seunggul Tristan.Di sisi lain, Angeline dengan panik menarik lengan baju Thomas. "Tom, seingatku, kamu membelikanku sepuluh gaun pengantin. Meski yang ini rusak, aku bisa pakai yang cadangan. Kita selesaikan saja dulu upacaranya." Thomas menarik tangannya dari cengkeraman Angeline, lalu menatap ke arah aku dan Tristan pergi dengan perasaan kacau. Entah kenapa, dia merasa semuanya seperti sedang perlahan-lahan lepas dari kendalinya."Lain kali saja. Patuh dikit." Thomas mengabaikan permohonan di mata Angeline dan bersikeras membatalkan pernikahan hari ini. Melihat suasana hatinya yang buruk, Angeline tidak berani memaksakan kehendaknya.Aku juga terkejut ke

  • Kita Punya Esok, tapi tak Punya Selamanya   Bab 4

    Gaunku sudah digunting sampai robek, bahkan sampai menunjukkan pakaian dalamku.Tristan terlihat sangat sakit hati. Dia melepas jasnya untuk menyelimuti tubuhku, lalu menggunakan dasinya untuk menghapus lipstik di wajahku. Kemudian, dia baru melirik Thomas."Apa masih perlu ditanya? Masih nggak kelihatan? Aku pacar Karin." Thomas diam-diam mengepalkan tangannya. Tatapannya tertuju pada tangan Tristan yang melingkari pinggangku. Di pergelangan tangannya ada gelang yang mirip dengan milikku. Itu adalah model pasangan.Beberapa detik kemudian, Thomas tiba-tiba rileks. Dia memasang ekspresi seperti sudah memahami semuanya."Karina, hebat juga kamu. Kamu bahkan mencari orang untuk bersandiwara bersamamu. Dari mana kamu sewa aktor ini? Dia cukup menghayati peran." Menyadari perhatian Thomas telah beralih, Angeline mulai menangis lagi. "Karina, berhubung kamu sudah punya pacar, kamu seharusnya segera melupakan perasaanmu pada Tom. Kenapa kamu membuat keributan seperti ini? Apa kamu mau mend

  • Kita Punya Esok, tapi tak Punya Selamanya   Bab 3

    "Nggak, kamu berpikir kejauhan."Meskipun tanpa kejadian semalam, aku memang sudah memesan janji potong rambut untuk hari ini.Thomas jelas tidak percaya padaku. Dia mengamatiku dari atas sampai bawah. "Kamu seharusnya tahu aku nggak suka wanita berambut pendek. Mau coba menarik perhatianku dengan cara ini sangatlah bodoh."Aku mengabaikannya dan langsung pergi ke kamarku. Aku berganti pakaian dengan gaun merah yang sudah lama tidak kupakai. Warna yang cerah itu sangat menarik perhatian.Thomas melirikku dengan acuh tak acuh dari pagar, tetapi cengkeramannya pada pagar sedikit mengencang. Urat-urat di punggung tangannya terlihat jelas.Pada saat ini, Angeline memeluknya dari belakang. "Tom, Karin banyak berubah akhir-akhir ini. Apa dia masih ngambek dan belum maafkan kita atas pertunangan kita?"Thomas memalingkan muka. "Biarkan saja dia. Begitu menyadari trik itu nggak berhasil, dia akan kembali ke tampang semulanya."Aku keluar rumah tanpa menoleh untuk bertemu dengan pasangan kencan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status