Share

Kita yang Terluka
Kita yang Terluka
Auteur: Asda Witah busrin

BAB 1

last update Dernière mise à jour: 2025-11-05 18:45:07

“Aku tidak peduli dengan istrimu. Yang terpenting, nikahi anakku!”

Lelaki yang mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam menatap Ammar dengan pandangan tajam. Dia membenarkan kacamata dan menghela napas panjang. Ini kali ketiga mereka bertemu dan dia jelas tidak mau ada tawar menawar lagi.

“Tidak ada kata damai! Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat anakku lumpuh. Kamu sendiri mengakui kalau kecelakaan itu terjadi murni karena kelalaianmu dalam mengemudi. Jadi, tidak ada pembicaraan lain lagi untuk urusan ini. Jangan datang lagi menemuiku kecuali untuk untuk membicarakan pernikahanmu dengan anakku. Atau … jeruji besi menunggumu untuk mempertanggungjawabkan kesalahanmu!”

Ammar menghela napas panjang, berusaha memenuhi rongga dadanya yang terasa sesak. Aroma cairan pembersih lantai khas rumah sakit memenuhi penciumannya. Suara televisi yang menyala sayup-sayup terdengar saat mereka terdiam, sengaja dikecilkan saat dia masuk ke ruangan ini sekitar lima belas menit yang lalu.

Dia melirik ke arah seorang wanita yang sedang dibantu oleh saudaranya untuk duduk di kursi roda. Wanita berambut sepinggang itu tidak sekalipun menatap dirinya. Dari raut wajahnya yang sembab, Ammar tahu ada kesedihan mendalam dan kemarahan yang bersarang kuat di hatinya.

“Anak saya dua orang masih kecil-kecil, Pak Gun ….”

“Aku tidak memintamu meninggalkan keluargamu! Aku hanya memintamu menikahi anakku, menggantikan posisi tunangannya yang memutuskan hubungan sebelah pihak karena tidak mau memiliki istri cacat.” Gunawan mengepalkan tangan saat mendengar suara isak tangis anaknya. Sejujurnya, hatinya juga nyeri setiap kali menyadari kalau dua kaki Adelia sudah tidak bisa berfungsi seperti dulu lagi.

“Kamu seorang Ayah, sama seperti aku. Jadi, kamu pasti paham betul rasanya mengkhawatirkan masa depan anakmu.” Mata Gunawan berkaca-kaca saat melihat Adelia minta pada istrinya agar mereka segera keluar. Putrinya enggan mendengarkan percakapan lebih lanjut.

“Rencana pernikahannya yang akan digelar beberapa bulan lagi batal, padahal dia dan tunangannya sudah berhubungan selama empat tahun. Jadi, apa menurutmu aku bisa tenang saja disaat melihat kenyataan kalau kemungkinan tidak akan ada lelaki yang mau menikahi wanita cacat seperti anakku?”

Ammar menunduk, meremas jemarinya yang saling bertaut. Lelaki itu memijat keningnya, kepalanya terasa berat menghadapi tuntutan dari orang tua Adelia.

“Nikahi dia. Kamu yang membuat Adelia cacat begitu. Jadi, kamu harus bertanggung jawab padanya seumur hidupmu.” Gunawan memberi penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.

Lelaki berusia lima puluh enam tahun itu berdiri dan meraih kunci mobil di atas nakas. Setelah dirawat beberapa minggu, hari ini Adelia diperbolehkan pulang. Dia memberikan kartu nama pada Ammar. “Ini alamat rumah kami. Datang kemari bersama keluargamu untuk membicarakan tanggal pernikahan kalian. Jangan terlalu lama karena aku bukan termasuk orang yang sabaran.”

Ammar menghela napas panjang saat Gunawan meninggalkannya sendirian. Dia memukul sofa yang dia duduki saat pintu ruangan tertutup. Dengan perasaan kacau, Ammar akhirnya ikut pergi saat petugas kebersihan rumah sakit masuk untuk membereskan ruangan.

“Adelia!” Ammar sedikit berteriak saat sampai di parkiran. Dia berjalan cepat menghampiri keluarga Gunawan yang baru saja akan masuk ke mobil. “Bisa kita bicara berdua? Sebentar saja.” Ammar menatap Adelia dengan pandangan penuh permohonan. Ini pertama kalinya dia bicara dengan gadis itu meski dalam tiga kali pertemuan, mereka berada dalam satu ruangan.

“Adelia sedang dalam kondisi yang tidak stabil, Nak Ammar.” Fatma bicara pada Ammar sambil membantu Adelia masuk ke mobil. Setelah pintu mobil ditutup, dia menoleh pada Ammar yang masih berdiri di tempatnya semula.

“Dia belum bisa diajak bicara. Setiap malam, dia berteriak-teriak seperti orang gila karena belum bisa menerima keadaan. Adelia bahkan harus diberi obat penenang. Dia sudah diberi rujukan untuk bertemu dengan psikiater.” Fatma menghapus ujung matanya yang basah. Sungguh, keadaan anaknya saat ini benar-benar membuatnya bersusah hati.

“Divonis cacat permanen dan ditinggalkan oleh tunangan yang selama ini selalu ada untuknya membuat dia terpukul hebat. Padahal, rencana pernikahan mereka tidak sampai tiga bulan lagi.” Wanita yang mengenakan selendang untuk menutupi rambutnya itu mengusap hidungnya yang terasa sesak, berle n dir.

“Pulanglah, maaf kalau tuntutan kami dirasa berat. Semoga saja, keluarga Nak Ammar bisa mengerti. Kami juga berada dalam posisi sulit saat ini.” Fatma meraih tangan suaminya, mengajak lelaki itu masuk ke mobil. Dia tidak mau sampai Gunawan gelap mata dan mencelakai Ammar karena kemarahan yang teramat sangat.

Ammar menatap kepergian mobil keluarga Adelia dengan wajah nelangsa. Dia berjalan gontai menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari sana. Lelaki itu memukuli kemudi beberapa kali. Dia akhirnya berhenti saat merasa lelah.

Bayangan saat kecelakaan terjadi kembali memenuhi kepala Ammar hingga dia merasa pusing. Dia yang baru saja pulang dari dinas luar kota memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi saat melihat jalanan lengang. Panggilan video istri dan kedua anaknya lepas maghrib tadi terus membayang, membangkitkan kerinduan yang terus menghentak-hentak karena tiga hari tidak bertemu.

Lalu, kecelakaan itu terjadi begitu saja. Sangat cepat hingga Ammar bahkan kesulitan mencerna apa yang sedang terjadi. Teriakan panjang dan suara decitan rem karena mobil dipaksa berhenti memecah keheningan langit malam itu.

“Astaghfirullah ….” Ammar mengusap wajah dengan kedua tangan saat mengingat semua. Dia menghela napas panjang. Dadanya seperti dihimpit beban berat, sementara pundaknya seakan ditekan sangat kencang.

Lelaki itu terdiam lama memikirkan percakapannya dengan Gunawan tadi. Harga mati. Tidak ada tawar menawar lagi.

Ammar menggenggam kemudi erat. Perlahan, air mata mengalir di pipinya saat wajah istri dan kedua anaknya menari-nari di pelupuk mata.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kita yang Terluka   BAB 135

    “Aku makan di rumah Ibu saja. Kangen masakan Ibu. Sudah lama kita tidak menginap disana.” Indra mengajak Zahra langsung pulang saja. Dia tidak nafsu makan. Perutnya tidak lapar sama sekali. Kalau tadi dia tidak nafsu makan karena deg-degan menunggu hasil apa Zahra benar hamil atau tidak, kali ini dia tidak merasa lapar karena hatinya buncah oleh perasaan bahagia.“Mas senang?” Zahra memegang lengan Indra saat mereka sudah di mobil. Dia tersenyum saat melihat Indra mengangguk dan menatap matanya dalam-dalam.“Senang … senang sekali, Sayang.” Indra meraih dagu Zahra dan mencium bibir istrinya lama. Rasa harusnya tak terhingga hingga air matanya jatuh di sela-sela bibir mereka. Lelaki itu tersenyum saat kedekatan mereka terlepas. Indra bingung dengan perasaannya, campur aduk memenuhi dada. Dia masih belum percaya kalau akhirnya Tuhan mempercayainya untuk menitipkan amanah keturunan yang sekian lama dia inginkan.Kedua orang tua Zahra terkejut saat mendengar kabar dari Zahra. Lebih terkej

  • Kita yang Terluka   BAB 134

    Dada Indra bergemuruh hebat. Lelaki itu merasakan telinganya berdenging kencang hingga tidak mendengar suara tangis Zahra lagi. Sekian menit berlalu, dia akhirnya bisa menguasai diri. Perlahan, Indra melepaskan pelukan Zahra dan membawa istrinya duduk di kasur. Kakinya terasa lemas antara yakin dan tidak dengan keajaiban yang datang ke hidupnya. Dia membingkai wajah Zahra tanpa kata, menunggu istrinya bicara.“Besok kita cek ke dokter, Mas.” Air mata Zahra mengalir. Akhirnya, dia bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini Indra berikan padanya dan kedua anaknya. Tidak lama lagi, dia bisa melihat lelaki yang sangat menyukai anak-anak itu menggendong dan menimang da rah dagingnya sendiri. “Mas senang?” Zahra memegang tangan Indra yang membingkai wajahnya. Dia tersenyum melihat mata suaminya berkaca-kaca.“Senang.” Indra bicara dengan suara serak. Satu kata itu susah payah dia keluarkan. Entah kapan terakhir kali dia merasakan perasaan seperti ini. Antara yakin dan tidak kalau akhirnya

  • Kita yang Terluka   BAB 133

    “Bilang terima kasih nggak?”“Bilang dong ….” Rika meraih bantal dan tiduran di dekat Zahra. Dia memperhatikan wajah mamanya dan menautkan alis. “Tumben Mama dandan di rumah? Biasanya cuma lipstik saja sama pakai bedak tipis. Kok ini pakai alis dan merah-merah pipi segala?” Rika menyentuh pipi mamanya.“Cantik nggak Mama?” Zahra terkekeh saat Rika spontan mengangguk. Dia mencium kening anaknya dan mengelus rambut Rika yang dikepang dua. “Siapa yang merapikan rambut Rika? Tante Anisa?” Zahra balik bertanya, tidak menanggapi pertanyaan anaknya tadi. Entahlah, dia mendadak ingin dandan saja pagi tadi. Setelah salat pun dia touch up, seperti sedang di kantor. Biasanya, kalau di rumah, malas dia dandan-dandan begitu.“Nenek laaaah, apaan Tante Anisa.” Rika mencebik. Kedua tantenya itu boro-boro merapikan rambutnya, yang ada mereka hanya akan protes rambut Rika kusutlah, susah diaturlah, Rika gerak-gerak terus lah dan masih banyak lagi hingga akhirnya tetap tida

  • Kita yang Terluka   BAB 132

    “Rika, ajak adik-adiknya kesini! Ayo, makan dulu.” Mela memanggil cucunya. Wanita itu menggeser pesanan makanan yang sudah sampai saat pramusaji membawakan kue ulang tahun dengan dekorasi Bis Tayo kesukaan Reki. “Rika, ayo ajak adik-adiknya kesini!” Mela berdecak pelan melihat cucu pertamanya itu masih asyik bermain perosotan bersama kedua adiknya. Rika itu seperti pimpinan bagi Rika dan Reki. Keduanya lebih menuruti apa kata Rika dibandingkan yang lainnya, termasuk Ammar dan Adelia sekalipun.“Ayo kita makan dulu, Gengs! Nanti diomelin Tante Anisa.” Rika tertawa-tawa melihat tantenya melirik dengan mata menyipit ke arah mereka. Dia memang sengaja mengeraskan suaranya saat bicara. Anak kelas empat SD itu sudah pandai berdebat dengan kedua tantenya kalau dilarang ini itu dan dicereweti oleh mereka. “Kalau Tante Azizah mode kalem. Aman. Ada pawangnya soalnya.”Meja mereka langsung ramai oleh suara tawa berderai. Rika terkikik bersama Riko melihat Anisa dan Azizah men

  • Kita yang Terluka   BAB 131

    Gadis itu datang bersama tunangannya, rekan di tempatnya bekerja. Mereka sudah melangsungkan lamaran minggu lalu dan rencana akan menikah setelah lebaran, tiga bulanan lagi. “Mau apa? Biar kuambilkan.” Ammar yang duduk di samping Adelia menatap mantan istrinya sambil tersenyum. Dari gerak-gerik Adelia, dia tahu kalau wanita itu membutuhkan sesuatu. Sejak tadi, Adelia minta tolong mamanya yang sedang ke kamar mandi kalau membutuhkan sesuatu karena gerakannya yang terbatas. “Mau gurame tepung? Atau mie tumis?” Ammar sigap mengambilkan saat melihat Adelia mengangguk. Tiga tahun ke belakang, hubungan mereka jauh membaik. Keduanya menjadi teman yang saling mengisi untuk membersamai pertumbuhan Reki. Ammar sudah naik jabatan lagi di kantor, sehingga tidak pusing membagi nafkah untuk ketiga anaknya. Apalagi, Anisa dan Azizah juga sudah bekerja, dia hanya perlu menanggung ibunya saja. Sementara Adelia juga nyaman bekerja di rumah. Apalagi, sekar

  • Kita yang Terluka   BAB 130

    Seperti biasa, Fatma memeluknya erat dan kali ini, Zahra membalas pelukan, tidak seperti dulu hanya membiarkan. “Mas Indra, masalah pembicaraan kita kemarin, dari kami sudah ada lagi stok resleting yang sempat tertunda. Apa masih butuh barangnya? Saya mau nelpon Mas Indra kelupaan terus karena repot kemarin-kemarin ini.” Gunawan menepuk bahu Ammar saat lelaki itu menyalaminya. “Kalau masih perlu, nanti saya kirim orang ke kantor Mas Indra buat ngasih sampel apa sesuai atau tidak dengan keinginan.” Zahra menyalami Ammar tanpa kata saat Indra masih ngobrol dengan Gunawan. Wanita itu memutuskan menunggu diluar saja karena tidak nyaman berada di dalam sana. Sejak tadi, Ammar sering menatap ke arahnya dan Zahra merasa Indra juga menyadarinya hingga suaminya itu tidak sedetikpun melepaskan genggaman tangan mereka. Lepas dzuhur, Ammar dan keluarga berpamitan. Dia mencium pipi anaknya hati-hati. Setelah ini, dia akan sibuk membagi waktu. Beruntun

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status