Share

Bab 7

Penulis: Nyi Ratu
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-06 00:17:54

"Apa artinya ini bagi kita? Di depan umum?" tanya Isabella, suaranya tercekat, matanya mencari jawaban di wajah Sebastian.

Sebastian melangkah maju, menjembatani jarak di antara mereka. Ia tidak menjawab, tetapi rahangnya mengeras, urat di lehernya menegang. Ini bukan lagi soal bisnis; ini adalah pertarungan pribadi.

"Mereka mengira ini adalah taktik usang: menikah, lalu menceraikannya. Kita harus mengubah kontrak itu. Kita harus membuktikan kepada setiap mata yang menonton bahwa kita... nyata," desisnya.

Sebastian mencondongkan tubuhnya ke depan, bisikannya dipenuhi beban yang baru, "Aku tidak punya pilihan selain mempercayai orang luar. Seseorang yang tidak terikat secara internal pada Vance Global. Seseorang yang tidak punya alasan untuk mengkhianatiku. Isabella." Ia menyebut namanya dengan desakan mentah, "Jadilah tunangan sejatiku, untuk saat ini. Aku butuh kamu."

Ketakutan dingin karena sewa dan utang yang tertunda terasa remeh di hadapannya. Isabella merasakan jantungnya berdebar, bukan karena ketakutan kecil, tetapi karena bahaya besar yang baru terungkap. Ia menggenggam tangan Sebastian, cengkeramannya kuat, membiarkan baja terbentuk dalam dirinya.

"Apa pun yang terjadi, kita bersama," jawab Isabella, nadanya datar dan mantap, sebuah janji yang baru lahir.

Sebastian mengangguk, kilatan perhitungan muncul di matanya. Ia menarik Isabella menuju ruang kerjanya.

Di tengah ruangan, papan tulis digital berdenyut dengan grafik dan struktur perusahaan. Sebastian menampar layar dengan telapak tangannya. "Kebocoran ini terlalu bersih. Terlalu sempurna. Ini bukan Alistair Moretti saja. Ada tikus di lingkaran dalamku, seseorang dengan akses tingkat tinggi yang ingin menghancurkanku sepenuhnya."

Dia mengetik cepat, struktur perusahaan runtuh dan mempersempit daftar nama di layar. "Anggota dewan yang merencanakan kudeta, atau..."

Sebastian berhenti. Bahunya merosot sedikit. Ia tidak melihat Isabella, tetapi tatapannya kosong, terpaku pada layarnya sendiri. Ekspresi kemarahan yang dingin berubah menjadi rasa sakit yang menusuk. Isabella bisa merasakan luka lama muncul di ruangan itu.

"...Atau anggota keluarga," lanjutnya, suaranya datar, lebih berbahaya daripada teriakan. "Pamanku, Arthur yang selalu cemburu. Dia tahu persis di mana harus menembak."

Isabella hanya bisa menarik napas, isakan tertahan di tenggorokannya. "Keluarga Anda sendiri?"

Sebastian meraih cangkir teh kamomil yang dingin di meja, lalu meremasnya dalam genggaman.

"Permainan sudah berakhir. Kita bukan lagi fiktif, Isabella. Kita adalah tim. Kita sedang berperang. Dan untuk memancing tikus itu keluar, kita harus menunjukkan pertunangan paling meyakinkan yang pernah dilihat kota ini."

Dia menatapnya, intensitas di matanya begitu kental, seakan lidah api yang membara siap melahap.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Isabella, tahu bahwa jawaban itu akan menjadi bom yang jauh lebih besar daripada sekadar acara gala lainnya.

Sebastian menyeringai sinis, senyum tanpa kegembiraan, hanya perhitungan kejam. "Sekarang, Nona Isabella." Ia mengucapkan kata-kata itu seolah sedang mengukir takdir.

"Kita tidak akan memberinya makan malam gala lagi. Kita akan memberinya kepastian. Hari ini, kita mulai perencanaan pernikahan. Kita akan mengumumkan tanggalnya. Kita akan terikat selamanya di mata publik. Dan kemudian..."

Sebastian mencondongkan tubuhnya mendekat, bisikannya sedingin janji kematian. "...Kita akan menghancurkan mereka bersama."

Isabella merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya, tetapi bukan karena kata-kata kejam yang diucapkan Sebastian. Itu karena realisasi yang baru saja muncul di benaknya. Ia tidak hanya menyetujui pertunangan palsu; ia baru saja menyetujui sebuah pernikahan yang, meskipun dimaksudkan sebagai umpan, akan tetap mengikat mereka secara hukum.

"Pak Sebastian..." Isabella berbisik, suaranya sedikit bergetar. "Pernikahan, di mata hukum... itu nyata. Bahkan jika itu hanya untuk panggung. Apa yang terjadi selanjutnya... apa yang terjadi jika setelah semua ini berakhir, kita tidak bisa berpisah?"

Sebastian tidak tersenyum. Senyum sinisnya menghilang, dan ada bayangan gelap yang melintas di matanya, bayangan yang hanya muncul ketika ia berpikir tentang pengkhianatan di masa lalu.

Sebastian menyentuh pipinya dengan ibu jari yang dingin. "Itu risiko yang harus kita ambil, Isabella. Aku pastikan semuanya hancur setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan." Ia berhenti, mendekat. "Kecuali...."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 35

    Sebastian menatap pantulan dirinya di cermin yang berembun. Ia mengingat bagaimana Isabella selalu memindahkan serangga kecil ke luar rumah daripada membunuhnya. Ia mengingat bagaimana mata istrinya selalu berbinar setiap kali mereka melewati toko perlengkapan bayi, jauh sebelum konflik ini dimulai."Seorang ibu tidak akan membunuh bagian dari dirinya hanya untuk membalas dendam," bisik Sebastian pada dirinya sendiri. "Bukan Isabella. Dia terlalu suci untuk dosa sekeji itu."Logika Sebastian mulai membedah kejadian semalam. Isabella mengatakan prosedur itu baru saja selesai, namun ia mampu berdiri dan berjalan—meski dengan wajah pucat. Jika itu adalah sebuah gertakan, maka itu adalah gertakan paling brutal dalam sejarah pernikahan mereka. Sebastian menyadari satu hal: Isabella sedang menggunakan senjata yang paling mematikan untuk menghancurkannya. "Apa dia melakukan ini agar aku membenci dan menceraikannya?"Namun, ada satu ketakutan yang lebih besar: Bagaimana jika ia salah? Bagaim

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 34

    Isabella membekap mulutnya sendiri, meredam isak tangis yang nyaris meledak. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, ia menyandarkan tubuhnya yang lunglai hingga merosot ke lantai. Tangan gemetarnya meraba perutnya yang masih sedikit kram—bukan karena prosedur medis yang dingin, melainkan karena stres yang menggerogoti fisiknya.Di sana, di dalam rahimnya, sebuah nyawa masih berdenyut. Lemah, namun ada.Ia mendengar raungan Sebastian dari luar. Ia mendengar pukulan tangan pria itu pada marmer dan pernyataan cintanya yang menyimpang. Budak? Cinta? Isabella memejamkan mata erat-erat. Kata-kata itu datang terlambat. Luka yang ditorehkan Sebastian dua hari lalu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan permohonan maaf yang bersimbah air mata."Kau pembohong, Sebastian," bisik Isabella pada kegelapan kamar. "Kau mencintai ego dan rasa bersalahmu, bukan aku."Rencana awal Isabella adalah membuat Sebastian sangat membencinya hingga pria itu melemparkan surat cerai ke wajahnya. Ia ingin beb

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 33

    Lampu kristal di penthouse itu berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kini berada dalam satu ruangan, namun terpisah oleh jurang kematian yang baru saja terjadi.Isabella duduk di sofa beludru, wajahnya sepucat kertas. Ia baru saja tiba dari rumah sakit dua jam yang lalu tanpa sepengetahuan Sebastian. Bau antiseptik masih samar tercium dari balik aroma parfum mahalnya. Di atas meja marmer, sebuah map merah dari rumah sakit tergeletak terbuka—menampilkan laporan medis yang menyatakan bahwa prosedur terminasi kehamilan telah selesai dilakukan.Sebastian berdiri di dekat jendela, membelakangi istrinya. Bahunya bergetar hebat."Kau melakukannya..." suara Sebastian pecah, hampir tak terdengar. "Tanpa bicara padaku, tanpa memberiku kesempatan untuk memohon... kau membunuh anak kita, Isabella."Isabella menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit dengan mata kosong. "Anak kita? Sejak kapan kau peduli? Dua hari lalu, saat aku akan memberitahumu kalau aku hamil, apa yang kau la

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 32

    Langkah kaki Isabella yang berirama di atas lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati bagi Sebastian. Pria itu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan satu gerakan cepat, Sebastian mencengkeram lengan Isabella—lembut, namun penuh desakan."Lepaskan," desis Isabella tanpa menoleh."Tidak sebelum kau menatap mataku dan mengatakan bahwa pembelaanmu tadi hanya soal angka di atas kertas," suara Sebastian merendah, parau oleh emosi yang tertahan. "Kau menampar Arthur demi 'investasi'? Jangan membohongi dirimu sendiri, Isabella. Kau masih peduli padaku."Isabella berbalik dengan sentakan kasar. Ia tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang lebih menyakitkan daripada tamparan yang ia berikan pada Arthur tadi."Peduli? Kau menyebut ini peduli?" Isabella melangkah maju, memangkas jarak hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Sebastian yang bergetar. "Aku hanya sedang menjaga agar 'barang daganganku' tidak cacat sebelum di

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 31

    Dua hari berlalu di dalam penthouse megah itu, namun suasananya lebih menyerupai kamar mayat daripada hunian mewah. Ruangan-ruangan luas dengan dinding kaca yang menampilkan kerlap-kerlip kota terasa hampa. Sebastian dan Isabella bergerak seperti hantu; mereka berada di ruang yang sama, namun terpisah oleh jurang yang tak terlihat.Pagi di hari ketiga dimulai dengan keheningan yang menyesakkan, hingga sebuah paket tanpa nama mendarat di meja marmer ruang utama.Selama empat puluh delapan jam terakhir, Sebastian mencoba segala cara untuk memecah es. Ia mengirimkan bunga peony favorit Isabella—yang berakhir di tempat sampah. Ia meminta chef pribadi memasak hidangan kesukaan istrinya—yang dibiarkan mendingin tanpa disentuh.Isabella hanya makan makanan yang ia masak sendiri. Setiap kali mata mereka tak sengaja bertemu, ia akan menatap Sebastian seolah pria itu adalah noda yang mengganggu pemandangan, lalu pergi tanpa sepatah kata pun."Isabella, kita harus bicara soal rapat pemegang saha

  • Kontrak Cinta Sang Ahli Waris   Bab 30

    Helikopter itu mendarat di atap gedung pusat Vance Global. Di bawah sana, puluhan lampu lampu flash kamera dari wartawan sudah berkedip seperti ribuan jarum cahaya yang haus akan skandal.Sebastian menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menatap Isabella, hendak menawarkan tangannya untuk membantu istrinya turun, namun Isabella sudah lebih dulu melangkah keluar dengan punggung tegak dan dagu terangkat.'Apa dia memiliki penthouse di setiap gedung Vance Group?' Isabella bertanya-tanya dalam hatinya. 'Aku pikir hanya di Skyline Tower. 'Begitu pintu terbuka, kebisingan dunia luar menyerbu masuk. Sebastian segera melangkah maju, secara refleks meletakkan tangannya di pinggang Isabella—gestur protektif yang biasanya terasa hangat, namun kini terasa seperti besi panas bagi mereka berdua."Tuan Vance! Benarkah ada upaya penculikan?""Nyonya Isabella, apakah Anda terluka?""Bagaimana tanggapan Anda mengenai rumor kebocoran data medis?"Sebastian mempererat dekapanny

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status