Home / Romansa / Kontrak Panas dengan CEO / Bab 3 - Blind Date

Share

Bab 3 - Blind Date

Author: Cinta94
last update publish date: 2025-11-20 22:24:15

"Lama banget sih!" Gerutu Arabella.

Sudah hampir 30 menit dirinya terduduk di kursi seorang diri. Tapi, pria yang dia tunggu-tunggu tak kunjung datang.

Arabella mengambil ponselnya yang berada di dalam tas kecilnya, membuka room chatnya dengan Shreya.

"Udah dimana Bapak CEO yang super sibuk itu" pesan pun dia kirimkan, tepat dengan adanya suara bariton seseorang.

"Selamat sore, Nona."

Arabella melirik ke atas, melihat si pemilik suara. Kesan pertama yang dia dapatkan dari pria ini adalah tampan. Untuk sesaat Arabella terpesona dengan ketampanan si pria. Hingga dia tersadar lalu bangkit dari duduknya dan segera menjalankan aksinya.

"Tuan Azael?" Tanya Arabella dengan gaya centilnya.

Azael mengangguk, "Nona Shreya?"

Arabella kembali tersenyum dengan sangat centil. "Oh, ya.. Shreya Varelly," ucapnya memperkenalkan diri dengan menjulurkan tangannya.

Arabella akan merubah dirinya menjadi gadis centil di hadapan para kandidat calon suami sahabatnya, agar perjodohan ini gagal tentunya.

"Silakan, duduk." Titahnya mempersilakan Azael duduk setelah mereka berjabat tangan.

"Mau pesan kopi atau minuman yang akan membuat anda melayang, hmm," tawarnya dengan raut wajah menggoda.

Azael sedikit berpikir dan menelisik wanita di hadapannya ini. "Kopi saja" sahutnya.

"Haha.. anda lebih suka yang pahit-pahit ternyata," ucap Arabella kembali dengan tawa canggungnya. Ntah mengapa dia merasa pria ini berbeda dari kandidat sebelumnya.

Arabella memanggil pelayan restoran dan memesan minuman untuknya dan juga untuk Azael.

Disela-sela obrolannya dengan Azael, dia mengirimkan pesan pada Shreya.

"Pria ini sungguh dingin."

"Saya dengar, kamu tidak bekerja di perusahan ayahmu?"

Arabella kembali tersenyum, kali ini senyuman canggung. "Oh, iya. Em.. saya hanya ingin mandiri saja, mencoba berpetualang dan menikmati masa muda, bukankah itu akan menyenangkan."

Minuman pesanan mereka pun tiba, pelayan menyajikannya di atas meja. Arabella pun memesan kopi sama seperti Azael, padahal dirinya anti sekali dengan kopi, karena itu akan membuat jantungnya berdebar dengan cepat dan mambuat asam lambungnya naik.

"Sepertinya kamu pecinta kopi?" Tanya Arabella ketika melihat Azael begitu menikmati kopinya.

"Menurut saya, kopi bisa menghilangkan kepenatan. Kamu sendiri?"

"Saya tidak terlalu suka kopi, saya lebih suka minuman yang akan membuat kita melayang, hingga terbuai akan sentuhan," tuturnya dengan mengedipkan satu matanya.

Namun, yang sebenarnya Arabella rasakan adalah perasaan gugup dan cemas. Tidak semudah pria-pria sebelumnya, sepertinya misi ini akan sedikit membutuhkan waktu lama.

Meskipun Azael adalah pria dingin, tetapi dia adalah tipe pria yang mudah sadar dengan seseorang yang menjadi lawan bicaranya. Raut wajah canggung dan gugup yang tengah Arabella rasakan bisa Azael lihat dengan jelas dari sini.

Hingga otak cerdas Azael memiliki ide untuk membuat rencana si wanita ini gagal. Dia pun bangkit dari duduknya menghampiri Arabella. Mencondongkan kepalanya kala keduanya sudah dekat. Membuat Arabella sedikit memundurkan badannya.

"Saya pun suka akan hal itu. Jika kamu mau, kita bisa lakukan sekarang," bisiknya di luar dugaan Arabella.

"Sial, bagaimana ini!" Batinnya. Kedua mata Arabella membulat sempurna.

Azael tersenyum licik, lalu berjalan kembali menuju kursinya.

"Waw.. Haha.. Ternyata kita sama," sahut Arabella dengan perasaan yang sudah tidak bisa lagi dia jabarkan.

Jantungnya berpacu dengan cepat, belum lagi keringat dingin sudah mengalir di balik pakaiannya.

Azael tersenyum miring. Wanita di hadapannya ini tidak bisa berakting sama sekali.

"Jadi.. bagaimana?" Pertanyaan Azael itu berhasil membuat Arabella semakin tidak tenang. Hingga suara pada ponselnya membuat dia meraih ponselnya lalu mengangkat panggilan masuk.

Dengan cepat otak cerdasnya ini pun berjalan.

"Honey... maafkan aku, aku masih bertemu dengan client, mungkin setengah jam lagi selesai dan kita bisa langsung segera bertemu," ujarnya, membuat seseorang di sebrang sana merasa bingung atas apa yang Arabella katakan.

Arabella kembali menatap Azael lalu memasang muka seolah dia bersalah. "Oh.. Maaf, tadi itu telepon dari kekasih saya," bisiknya.

Padahal yang memanggilnya adalah Shreya, ntah kenapa wanita itu meneleponnya.

Hingga satu pesan masuk dan saat membacanya membuat Arabella membulatkan matanya dengan sempurna.

"Apa!" Pekiknya seraya berdiri dan itu membuat Azael ikut terkejut.

Kedua mata Arabella langsung menatap ke arah pintu masuk, dia bingung harus bagaimana. Lalu, otaknya ini pun memberikan ide gila agar dia bisa segera keluar dari restoran ini. Bukan apa, tetapi saat ini dia tengah memakai riasan soft, yang memungkinkan orang terdekatmya mengenalo dirinya.

"Kita bisa lakukannya sekarang!" Ajaknya pada Azael. Membuat lelaki itu menggangkat satu alisnya.

Tanpa menunggu persetujuan si pria, dia langsung saja menarik pergelangan tangan Azael. Mengajaknya segera keluar dari restoran ini.

"Jangan sampai ketemu." Batinnya.

Dia berjalan dengan tangan yang menggandeng lengan kekar Azael.

Hingga saat di pintu masuk, seseorang pun masuk dengan wanita disampingnya. Dengan segera Arabella menyembunyikan wajahnya, dia merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Azael.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" Kaget Azael dengan kening yang berkerut.

Dengan seluruh keberanian yang dia miliki, bibirnya pun menyentuh bibi kenyal Azael dan itu berhasil membuat Azael terdiam. Hanya sebuah kecupan biasa, Arabella lakukan agar wajahnya tidak terlihat oleh seseorang yang baru saja masuk. Tetapi, kecupan itu membuat hati Azael berdebar.

Melepaskan kecupan singkatnya setelah seseorang yang dia hindari itu tak lagi terlihat dan tak akan melihatnya. Nafas lega pun di embuskan. Bagaimana bisa disaat seperti ini harus bertemu dengannya, rasanya sungguh memalukan.

"Bodoh!" Rutuknya dengan wajah yang menyedihkan.

Beberapa saat kemudian barulah dia tersadar karena suara seseorang.

Azael menyadari keanehan wanita yang berada di hadapannya ini. Dia tau, wanita ini tengah menghindari seseorang. Namun, dia tidak bisa membuat wanita ini tenang begitu saja, setelah apa yang sudah dia lakukan.

"Oh.. jadi Nona Shreya ingin segera melakukannya disini? Apakah sudah tidak sesabar itu, hm?" Godanya dengan seringai yang membuat Arabella merinding melihatnya.

Dia pun tak hentin-hentinya merutuki kelakuan bodohnya ini. Menggigit bibir bawahnya dengan isi kepala yang terus berfikir apa yang harus dia lakukan.

"Kalau begitu, ayok.." Ajak Azael kali ini dialah yang menarik lengan Arabella.

Hingga Arabella menyentakkan lengannya dan membuat genggaman Azael terlepas.

"Tuan Azael, bukankah anda sudah tahu, saya sudah punya kekasih, jadi hubungan ini tidak bisa berlanjut. Perjodohan ini tidak akan berlanjut!" Sentak Arabella.

Azael mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi, Nona Shreya sedang merasa gugup?"

Arabella bingung sendiri, kenapa bisa ceroboh seperti ini. "Bukan.. aku tidak gugup sama sekali, hanya saja, emm.. kita sudahi semuanya sebelum terlalu jauh."

"Baiklah, pemutusan sepihak dari keluarga Vallery. Akan dipastikan besok sudah tersebar beritanya," kata Azael. Sebenarnya dia hanya menakuti saja, dia pun ingin terlepas dari perjodohan ini. Tetapi, tidak dengan cara seperti ini. Ini sama saja seperti dia dicampakkan seorang wanita.

Arabella membuka mulutnya, apa yang sudah dia lakukan. Seharusnya tidak seperti ini, semua ini karena kedatangan Zayan Elfarel, crushnya yang tak pernah bisa dia gapai hingga saat ini. Karena dia sudah memiliki kekasih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 56-Azelan

    "Lain kali jangan tiba-tiba muncul gitu, kasian kan Giselle, dia pasti kaget banget tadi." Azael hanya melirik sekilas pada Arabella, lalu kembali fokus menyetir."Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya. Kamu merasa aku terlalu sibuk dengan pekerjaan?"Pembicaraan mereka mulai serius.Arabella menatap Azael, lalu tersenyum pada pria tampan yang menjadi kekasihnya ini."Hm, kalau dibilang sibuk bukankah memang kamu itu seharusnya sibuk dengan pekerjaan. Akan sangat aneh bukan, jika seorang CEO tidak sibuk dengan pekerjaannya, apakah kamu CEO gadungan." Ucap Arabella dengan tawanya."Asal kamu tahu, aku pun tipe wanita pekerja keras, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada jalan-jalan. Bukankah kamu seharusnya bangga padaku, hm." Sambungnya membuat pria disampingnya ini tersenyum."Tentu aku harus bangga memiliki kekasih sepertimu," "TIdak, bukan sebagai kekasih, tetapi sebagai karyawan, agar aku bisa mendapatkan kenaikan gaji, karena aku sudah bekerja keras untuk

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 55-Malu

    Kini kedua pria dengan stelan jas yang membuat keduanya tampil gagah dan berwibawa ini, sudah berada disalah satu restoran, dimana client mereka sudah membuat janji. Sebuah ruangan VIP yang dipesan untuk membicarakan bisnis ini."Mereka sudah tiba?""Seharusnya sudah. Karena sesuai janji di jam makan siang." Jawab Naufal seraya melihat jam yang melingkar di peregelangan tangannya.Mereka tetap berjalan menuju ruangan VIP yang sudah clientnya infokan kepada Naufal."Selamat siang, Pak Azael?" Tanya seorang waiters yang berjaga di depan pintu ruangan ini.Azael menganggukkan kepalanya. Si waiters pun membukakan pintu dan mempersilakan Azael serta Naufal untuk masuk.Di dalam sana sudah terduduk seorang pria dengan stelan jas seperti mereka. Pria itu pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan client-nya ini."Selamat siang Pak Azael dan Pak Naufal.""Siang Pak Damar." Jawab Naufal, mereka saling berjabat tangan."Mari, silakan duduk." Kata Damar dengan sopan.Azael meelihat ada tas w

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 54-Prabrik

    Seperti biasa suasa kantor pagi yang riuh. Banyak karyawan yang baru berdatangan, masuk dan tak lupa men-tap kartu mereka agar bisa masuk ke area kantor.Lift yang setiap pagi selalu penuh dan banyak yang mengantri untuk mendapatkan giliran masuk agar mereka bisa tiba di lantai departemen masing-masing.Seorang pria dengan stelan jas hitam, kemeja biru muda, tak lupa dasi yang bertengger di kerah. Baru saja tiba di ruangannya bersama dengan asistennya, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya ini"Agenda hari ini apa saja?" Tanya pria yang menjabat sebagai CEO di perusahaan ini."Ada beberapa berkas yang harus anda cek dan segera di tanda tangani. Lalu kita akan survei ke pabrik untuk melihat sudah seberapa jauh proses pembuatan sample, masih ada meeting juga dengan beberapa vendor yang ingin bekerjasama dengan produk terbaru kita ini." Jawab sang asiten pribadi."Kita berangkat ke pabrik dan bawa beberapa berkas yang urgent. Selebihnya setelah kembali dari pabrik gue akan

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 53-Kekhawatiran Sang Ayah

    Mobil hitam itu berhenti di samping sebuah toko kue yang sepertinya sudah akan tutup."Terimakasih." Ucapnya malu-malu, karena ini kali pertama dirinya diantar pulang oleh pria yang kini menjabat sebagai kekasihnya."Bisakah aku menerima ucapan terimakasih dalam bentuk lain?" Godanya.Nampak Arabella seolah berfikir, maksud dari kata-kata Azael ini. "Bentuk lain?" Satu alisnya terangkat.Azael menahan senyumannya, lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat dengan sang kekasih. Menunjukkan pipi kirinya pada sang kekasih hati.Arabella tersenyum malu, bagaimana bisa dengan terang-terangannya pria ini menunjukkan hal seperti ini. Dia sangat paham sekali, tetapi tetap saja rasanya malu jika harus diminta seperti ini.Azael masih setia dengan posisinya menunggu Arabella melakukan apa yang seharusnya dia berikan pada dirinya.Melirik ke kana da kiri, menghlangkan rasa gugup dalam hatinya. Dengan cepat Bella pun mencium pipi sang kekasih. Dengan tak tahu malunya, Azael menunjukkan pipi seb

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 52-Giselle

    Hari ini mereka kembali bekerja seperti biasa di kantor, setelah kemarin sibuk dengan urusan resort, kali ini mereka akan kembali sibuk dengan produk terbaru yang akan diproduksi oleh Zayn Holding, yaitu food product. "Selamat pagi gais.." seru Arabella menyapa rekan satu divisinya ini. Ketiga rekan kerjanya pun menolehkan kepala mereka menatap Arabella yang masih berdiri di ambang pintu. Bella pun berjalan menuju mejanya, lalu menyimpan makanan yang dia bawa dari Bali kemarin. "Gue bawain makanan. Ceritanya sih oleh-oleh," ucapnya lagi. Altair bangkit dari kursinya menghampiri Arabella. "Kenapa repot-repot sih, kan jadi enak." Sahutnya. "Ehem..." Eliza berdehem, lalu menatap Arabella. Seketika suasana menjadi sedikit canggung, Bella pun tidak paham dengan kondisi ini. Dia menatap ketiga rekannya bergantian. "Ada apa, Bu? Ada sesuatu yang urgent?" "Arabella, jangan sembunyikan ini lagi dari kita, katakan yang sejujur jujurnya, gosip ini sudah tersebar diseluruh kanto

  • Kontrak Panas dengan CEO   Bab 51-Shreya Cegil

    Lyana mencari tahu latar belakang Azael. Dia membuka internet untuk memastikan siapa Azael sebenarnya. Kenapa bisa dia tidak mencurigai Azael dari awal. Lyana mengira jika Azael hanyalah seorang karyawan biasa di perusahaan itu, tanpa mengetahui nama belakang pria itu. Matanya terfokus pada layar laptopnya, disana terdapat biodata Azael yang merupakan seorang putra tunggal dari seorang pengusaha ternama di negeri ini. "Azael Malik Zayn," tersenyum sinis kala menyebutkan nama Azael. "Bagaimana bisa lo ketemu dengan pria seperti Azael, Arabella Zayana." Sambungnya. Nampak jelas sekali kekesalan di raut wajah Lyana, kala dia memikirkan bagaimana jalan hidup dan kisah cinta Arabella. Dia terus menggulir informasi di internet mengenai Azael, hingga saat masuk ke artikel selanjutnya, ide liciknya pun bekerja. Tersenyum dengan lebar kala dia memikirkan hal ini. ** Di dalam kamar, dua orang wanita sedang merapihkan barang-barangnya, karena esok hari mereka akan check out dan kembali te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status