Beranda / Rumah Tangga / Kontrak Pernikahan Sang CEO / 03. Kontrak Pernikahan Sang CEO

Share

03. Kontrak Pernikahan Sang CEO

Penulis: rainaxdays
last update Terakhir Diperbarui: 2024-02-24 16:35:54

Layla berdiri diam di samping orang tuanya yang melambaikan tangan dengan bahagia. Ia hanya menatap Mercedes Benz milik Arsen yang melaju keluar dari gerbang rumahnya, tanpa berniat untuk mengatakan apa pun.

Perasaan bahagia yang memenuhi hatinya sebelumnya, telah berubah menjadi ombak yang mengacaukan segalanya.

Layla tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya saat ini. Ia hanya merasa kecewa.

Tetapi, pantaskah ia merasa kecewa? Keluarganyalah yang membutuhkan bantuan. Lagi pula, seharusnya Layla tidak terkejut mengingat keduanya dijodohkan. Jika Arsen punya pilihan lain, ia tidak akan mungkin menerima perjodohan keduanya.

Layla mendesah lelah dan bergegas menuju kamarnya. Ia mematikan lampu dan melempar tubuhnya ke atas kasur. Wajahnya dibenamkan ke seprai yang lembut, lalu ia menghirup napas dalam-dalam di sana. Aroma bunga mawar yang menguar sedikit menenangkan perasaannya.

Arsen bilang, dia tidak bisa meninggalkan kekasihnya, sekalipun keduanya telah menikah.

Seperti yang tersebar di internet, Arsen memang menjalin hubungan spesial dengan sekretarisnya sendiri.

Olivia Reagan.

Apakah Layla harus tertawa dengan kenyataan itu? Atau menangis?

Padahal setelah menikah, ia berniat untuk mempercayai Arsen sepenuhnya. Ia ingin berusaha mencintai pria itu selayaknya seorang istri mencintai suaminya, tetapi niatnya itu sepertinya harus dikubur dalam-dalam.

Bagaimana bisa ia mencintai Arsen jika pria itu justru mencintai wanita lain?

Layla tidak pernah menyukai siapa pun, hanya Arsen satu-satunya pria yang berhasil menarik perhatiannya. Tetapi kenyataan tidak selalu semanis madu. Layla hanya mendapat sengatan menyakitkan pada hatinya yang terlanjur berharap.

Arsen bercerita kalau hubungannya dengan Olivia sudah terjalin selama empat tahun. Dari sahabat menjadi cinta. Kisah yang sangat indah.

Kemudian, Layla datang di tengah-tengah keduanya. Walaupun ia akan menikah dengan Arsen dan menjadi istri sah, kenapa ia malah merasa menjadi perusak hubungan? Orang ketiga yang tidak diinginkan.

Rasanya menyedihkan.

Layla menarik selimut dan mengubah posisinya menjadi telentang. Ia sudah terlalu malas untuk mengganti dress-nya.

Dipandanginya bulan sabit yang bersinar terang dibalik jendela, kemudian berpikir kalau ia mungkin bisa menjalani kehidupan pernikahannya dengan Arsen, meskipun pria itu mencintai wanita lain.

Apakah semudah itu?

Seharusnya Layla bisa menebak dari awal kalau pria seperti Arsen tidak mungkin single. Tetapi pikirannya terlalu positif, sehingga ia tidak memikirkan kemungkinan buruk apa pun.

Keduanya akan bertemu lagi besok sore.

Di sebuah restoran, hanya berdua. Sebuah alibi untuk membicarakan lebih lanjut mengenai pernikahan keduanya. Entah apa yang Arsen rencanakan, Layla harap itu tidak menyakiti orang tua mereka.

***

"Ah, hujan."

Layla menatap muram hujan deras yang mengguyur sore ini. Memasuki awal musim hujan, Layla seharusnya selalu membawa payung untuk berjaga-jaga. Ia kira, ia bisa tiba di restoran sebelum langit menumpahkan air matanya, tetapi perkiraannya salah.

Layla segera membayar biaya taksinya dan menimbang-nimbang untuk menerobos hujan atau tidak. Tetapi menunggu rasanya percuma saja, hujan tidak akan reda dalam waktu dekat.

Jadi, dengan menggunakan tas kulitnya sebagai payung, Layla berlari melintasi halaman restoran yang luas. Agak menjengkelkan melihat bagaimana restoran bintang lima menyediakan halaman super luas, tetapi taksi bahkan tidak bisa lewat.

Layla berdiri di luar pintu restoran sejenak untuk menormalkan napasnya yang tidak teratur. Ia mengibaskan tasnya yang basah dan menepuk-nepuk pakaiannya. Matanya melirik ke dalam restoran, bertanya-tanya apa Arsen sudah tiba?

Layla mendorong pintu restoran yang ramai. Pandangannya menyapu sekitar ruangan saat seorang pelayan menghampirinya.

"Nona Layla?" Tanyanya. Layla mengangguk dengan terkejut. Pelayan itu tersenyum sopan dan mengarahkan tangannya ke arah timur restoran. "Tuan Arsen sudah menunggu Anda. Silakan."

Layla mengikuti pelayan wanita itu menuju bagian restoran yang lebih dalam. Sejujurnya, ia jarang datang ke restoran berkelas seperti ini. Ia lebih suka memasak makanannya sendiri.

Keduanya berbelok menuju sisi lain restoran dan Layla langsung melihat presensi Arsen di meja dekat jendela. Tidak ada siapa pun di ruangan itu, hanya meja Arsen yang terisi.

Layla memperhatikan kalau sebagian besar pengunjung memakai dress dan setelan jas rapi. Tidak terkecuali Arsen yang kini menggulung lengan kemejanya hingga siku. Dasinya sudah dilepas dan dua kancing teratas bajunya sengaja dibuka.

Mungkin hanya Layla yang tidak memakai pakaian formal, hanya kardigan biru langit, celana jins putih, dan sepatu kets.

Ya, sudahlah, pikirnya. Lagi pula, ini bukan pertemuan istimewa. Mereka hanya akan berdiskusi mengenai rencana Arsen.

Layla berjalan mendekat dan Arsen mendongak dari mejanya. Ekspresinya tertutup, tetapi matanya tampak kalut.

Layla memalingkan pandangan, kemudian duduk di kursi yang berada di hadapan Arsen. Pria itu menatapnya dalam diam, memperhatikan bajunya yang agak basah.

Mereka hanya saling diam hingga akhirnya Layla tidak tahan lagi. "Jadi apa yang akan kita bicarakan?" Tanyanya, menatap Arsen yang berdehem pelan.

"Sebaiknya, kita pesan makanan dulu," katanya. Ia mengangkat tangannya dan memanggil pelayan.

Layla membuka buku menu dan melihat beberapa makanan yang populer. "Apa yang paling enak di sini?"

"Udang bakarnya, Nona."

"Dia alergi udang," sahut Arsen. "Kami pesan cumi panggang saja, dua porsi. Dan strawberry curd satu untuknya."

Layla menatap terkejut. Dari mana Arsen tahu alerginya pada udang dan kesukaannya pada rasa stroberi?

"Aku mendengarnya dari ibumu," jelas Arsen ketika pelayan pergi. Senyum kecil terbit di bibirnya.

Layla mengangguk pelan. Walaupun ia masih merasa kecewa, tetap saja ia tidak bisa menyalahkan Arsen atas apa yang terjadi. Namun, ia lebih suka jika Arsen bersikap datar padanya, alih-alih begitu perhatian seperti sekarang.

Layla mengalihkan pandangannya ke luar jendela, menatap hujan deras yang mengguyur. Dari sudut matanya, ia bisa melihat tatapan Arsen yang tertuju padanya.

Apa yang sebenarnya pria itu pikirkan ketika menatapnya?

Pelayan datang tidak lama kemudian sambil membawa pesanan keduanya. Mereka makan dalam diam. Layla sebenarnya tidak terlalu berselera, tetapi ibunya mengajarnya untuk selalu menghabiskan makanan. Ketika ia hendak mencoba kuenya, ia menatap Arsen yang tidak memesan pencuci mulut apa pun.

"Kita bisa makan berdua," ucap Layla, mendorong piringnya ke tengah.

Di luar dugaan, Arsen malah tertawa. Ia mendorong kembali piring kue itu dengan lembut. "Aku memesannya untukmu. Aku tidak terlalu suka yang manis."

"Ah, aku akan bayar sendiri kalau begitu."

Arsen menggeleng. "Tidak apa-apa. Memangnya salah aku membayar milikmu?"

'Tidak salah, tetapi tolong jangan terlalu perhatian seperti ini', batin Layla.

Ia menatap Arsen yang sepertinya tidak ingin dibantah dan memilih mengalah. "Baiklah," gumamnya.

Senyum Arsen melebar. Ia membiarkan Layla makan, sementara irisnya teralih untuk memandang hujan yang semakin deras. Angin bertiup kencang dan udara dingin berembus melalui celah jendela.

Layla bergidik dan diam-diam menggosok tangannya di bawah meja. Ketika Arsen melirik, Layla berhenti dan memasang ekspresi normal meski tubuhnya menggigil. Ia melanjutkan makannya dan menatap ke arah lain ketika aroma parfum Arsen mengusik penciuman.

"Pakailah," ucap Arsen.

Layla menoleh, keningnya berkerut melihat jas Arsen di sisi meja. "Ya?"

"Pakailah," ulang pria itu seraya menunjuk jasnya. "Kau kedinginan."

Dia tahu?

Layla mengerjapkan mata dan mengambil jasnya, pipinya merona samar. Ia tidak menyangka Arsen akan sepeka itu, padahal ia sudah berusaha agar tidak ketahuan. "Te-terima kasih," ucapnya. Ia memakai jasnya dan aroma parfum Arsen yang menenangkan seketika memenuhi penciumannya.

Arsen mengangguk. "Sama-sama."

Layla menghabiskan kuenya dengan lebih tenang. Tidak ada percakapan yang berlangsung.

Barulah ketika Layla menggeser piringnya, Arsen mengeluarkan sebuah kertas dari map yang berada di sampingnya.

Atmosfer menenangkan yang sebelumnya Layla rasakan seketika berubah. Ia meremas jemarinya di atas pangkuan dan menarik napas.

"Aku sudah memikirkan hal ini matang-matang dan kupikir yang terbaik untuk kita berdua adalah sebuah kontrak."

Kontrak?

Arsen mendorong kertasnya ke hadapan Layla. "Kontrak satu tahun pernikahan. Setelah itu, kita bisa berpisah secara baik-baik agar keluarga kita tidak berselisih. Kita menikah tanpa cinta, dan aku tidak bisa meninggalkan kekasihku. Kau juga tidak akan bahagia dengan pria sepertiku, jadi inilah jalan yang kuputuskan. Aku sudah membicarakan ini dengan Olivia," jelas Arsen, nada suaranya begitu berhati-hati. "Aku akan memikirkan alasan kenapa kita harus berpisah. Kau bisa membuat aku sebagai pihak yang bersalah."

Layla tercenung, dadanya bergemuruh. Ia menatap Arsen dan berkasnya secara bergantian, kemudian memikirkan kembali perkataan pria itu.

Ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.

"Kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan, Layla. Aku tidak akan mengekangmu asal itu bukan hal yang buruk. Aku akan menghargai keinginanmu. Aku akan menjalankan tanggung jawabku sebagai suami dengan memberimu nafkah, bahkan setelah kita berpisah."

"Aku mengerti, tapi kau tidak perlu menafkahiku setelah kita resmi berpisah. Olivia pasti akan merasa sakit hati. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun," ucap Layla.

Arsen terdiam. Layla tersenyum pahit dan menarik berkasnya untuk membubuhkan tanda tangannya.

Ia tahu kalau Arsen bukan pria yang jahat, ia hanya tidak memiliki pilihan lain. Arsen tidak bisa menolak perjodohan keduanya atas keinginan ibunya yang sakit, lalu di sisi lain, dia tidak bisa meninggalkan kekasihnya.

Layla mendorong kembali kertasnya dan memalingkan pandangan. Menarik napas dalam-dalam, entah kenapa hatinya terasa sakit. Dadanya bergemuruh seperti petir yang datang menyambar.

"Aku minta maaf, Layla."

"Tidak, tidak perlu. Aku bisa mengerti. Lagi pula, keluargaku membutuhkan bantuan dan inilah caranya. Bukan salahmu," balas Layla cepat. Ia menatap hujan yang mulai mereda, lalu melirik jam di ponselnya. Pukul 07.15. Tidak terasa sudah satu setengah jam berlalu. "Kurasa aku harus pulang sekarang."

Ia berdiri dari kursinya dan Arsen ikut berdiri.

"Mari kuantar," tawarnya.

Layla buru-buru menolak. "Tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkan."

Lagi pula, situasinya mungkin akan terasa canggung.

Tetapi Arsen menggeleng dan tetap bersikeras. "Sama sekali tidak. Biarkan aku mengantarmu pulang. Kau menolak untuk dijemput, jadi biarkan aku mengantarmu. Aku hanya ingin memastikan kau kembali dengan selamat."

Layla berpikir untuk menolak, tetapi sepertinya tidak ada gunanya. "Baiklah."

Arsen tersenyum lega. "Mari."

Layla mengikuti pria itu menuju tempat parkir yang berada di belakang restoran. Arsen membukakan pintu mobilnya dengan sopan, lalu berputar menuju sisi pengemudi.

Sepanjang perjalanan, Layla hanya terus menatap keluar jendela. Keheningan melanda keduanya. Tidak ada yang bicara, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Layla memikirkan kembali kontrak pernikahannya dengan Arsen.

Hanya setahun. Dan kemudian, keduanya akan resmi berpisah.

Ketika mobil berhenti, Layla segera membuka sabuk pengamannya. "Terima kasih untuk tumpangannya," ucapnya sebelum membuka pintu.

Arsen mengangguk. "Tidak masalah."

Layla keluar dari mobil dan menatap Arsen untuk terakhir kali. "Selamat malam dan hati-hati."

"Selamat malam," balas Arsen seraya membunyikan klakson. Layla mengangguk dan Arsen berlalu pergi.

Layla melangkah ke dalam rumahnya dengan perasaan tumpah tindih. Sekali lagi, Arsen bukan pria yang jahat.

Tetapi, apakah ia bisa menjalani pernikahan mereka selama setahun dengan baik? Tanpa melibatkan perasaannya? Ia menatap jas Arsen yang membalut tubuhnya dan perasaan aneh itu kembali datang menghampiri.

"Jangan jatuh cinta," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan pernah jatuh cinta padanya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kontrak Pernikahan Sang CEO   96. Malam yang Panjang

    Pagi harinya, mereka telah meninggalkan resort.Pak Surya datang kembali menjemput keduanya. Duduk di jok belakang, Arsen tidak berhenti bertanya apakah Layla baik-baik saja, semata-mata karena apa yang terjadi semalam.Arsen terlihat begitu khawatir, dan Layla malah ingin tertawa.Rasanya tidak sesakit yang Layla bayangkan. Apalagi dengan sentuhan Arsen yang lembut. Alih-alih sakit, ia justru merasa malu.“Kau ingin makan apa pagi ini?” tanya Layla saat mobil mulai berbelok masuk ke kompleks perumahan mereka.Arsen awalnya ingin memesan makanan, tetapi Layla menolak. Ia ingin memasak sendiri untuk Arsen. Mulai hari ini, ia akan menganggap kalau keduanya baru memulai hubungan sebagai suami-istri yang sesungguhnya.Tanpa kontrak itu.Memikirkannya kembali sungguh terasa seperti mimpi. Ketakutan yang selama ini bersarang di hatinya akhirnya menghilang, seperti burung-burung yang terbebas dari sangkarnya.Ketika ia menatap suaminya, hanya ada perasaan tenang yang tertinggal di dadanya. L

  • Kontrak Pernikahan Sang CEO   95. Malam Pertama

    “Kalau kau merasa tidak nyaman, kita bisa pulang ke rumah.”“Tidak, tempat ini nyaman. Aku suka,” ujar Layla, menoleh dengan senyum tipis. Detik itu, sebuah kecupan mendarat di pelipisnya. Layla tidak tahu sudah berapa kali Arsen mengecupnya malam ini. Rasanya di setiap kesempatan, dia akan menunduk dan mengecupi wajahnya sampai Layla merasa geli. Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri bahwa hatinya dipenuhi bunga yang mekar.Malam ini, sesuai ucapan Arsen, mereka menginap di resort yang baru dibangun. Tempatnya akan diresmikan dalam seminggu. Untuk itu, Arsen ingin memperkenalkan fasilitas apa saja yang ditawarkan oleh resort itu.Selain desain tiap ruangannya yang elegan dan mewah, resort itu juga memiliki fasilitas lengkap seperti kolam renang besar, pusat kebugaran, pusat olahraga air, restoran, spa dan juga arena bermain untuk anak. “Aku senang jika kau menyukainya,” gumam Arsen di belakangnya. Dia berdiri sangat dekat, panas tubuhnya terasa menembus gaun tidur tipis yang Layla k

  • Kontrak Pernikahan Sang CEO   94. Ungkapan Perasaan Arsen

    Olivia mendekat ke arahnya dengan cepat. Tatapannya sinis. Dia tidak berbasa-basi dan langsung menyembur Layla dengan cemoohan dan umpatan, “Pasti sekarang kau merasa di atas angin karena Arsen berpihak padamu dan kami sudah putus hubungan, bukan? Dasar wanita jalang.”Layla menghela napas kasar. “Kau berselingkuh darinya. Dan itulah alasan kenapa Arsen putus denganmu. Kenapa kau malah bersikap seolah aku yang bersalah, padahal jelas-jelas itu salahmu sendiri?” ujar Layla acuh tak acuh. Suasana hatinya berubah drastis dalam sekejap. Ia tidak sedang berminat untuk berdebat.Olivia mendecih. “Memangnya kenapa aku bisa berselingkuh dari Arsen? Itu karena kau merebut Arsen dariku.” Suara Olivia sama sekali tidak terdengar bersalah atau menyesal.Layla menatapnya dengan tidak percaya. Dari semua orang yang ditemuinya, Olivia-lah yang memiliki muka paling tebal. Ia tidak menyangka setelah semua kebusukannya terbongkar, Olivia masih saja mencoba menyalahkannya.“Aku tahu berbohong itu sangat

  • Kontrak Pernikahan Sang CEO   93. Kehadiran Olivia

    “... untuk memperhatikan lebih jauh kinerja para karyawan dan tunjangan yang sesuai...”Di atas panggung, penyambutan Arsen telah memasuki inti pembahasan. Seluruh atensi tertuju padanya. Suaranya setenang laut di belakang mereka, tetapi semua orang diam mendengarkan.Layla duduk di kursi depan panggung seraya memperhatikan suaminya. Arsen sebagai seorang direktur dan seorang suami memiliki sisi yang sungguh berbanding terbalik. Selalu seperti ini.Direktur Arsen Sergio adalah pria yang penuh wibawa. Kharismanya tak terbantahkan. Meskipun masih muda, aura kepemimpinan terpancar kuat dari tubuhnya. Mata hitamnya menatap tegas ke arah para karyawan.Pria yang dingin, kaku, dan workaholic itu sedang mengambil alih.Tetapi ketika pandangan Arsen terarah padanya, Layla bisa melihat kehangatan dan kasih sayang itu. Senyum kecil terbit di bibir Arsen, membuat Layla otomatis ikut tersenyum.“Pandangan kak Arsen saat menatap Kakak memang beda, ya,” bisik Kiran di sampingnya. Setelah berkelilin

  • Kontrak Pernikahan Sang CEO   92. Kesungguhan Arsen

    Layla tidak bisa tidur semalaman memikirkan ucapan Arsen.Layla tahu—ia tahu ini yang ia inginkan sejak lama. Tetapi mengingat Arsen baru putus dari Olivia, ia merasa ragu itu hanya kemarahan sesaat Arsen.Meskipun, keseriusan yang terpancar di mata Arsen... afeksinya... harapan dan keinginannya... semuanya terlihat jelas dalam pandangan Layla.Tetap saja, ada sepercik keraguan yang timbul di hatinya.Jadi, Layla belum memberi jawaban. Ia meminta waktu selama beberapa hari, sampai mungkin pikiran Arsen jernih dari segala amarah. Jika dia tidak menyesali ucapannya tentang kontrak itu, maka Layla tidak akan menyimpan keraguan lagi.Lebih dari apa pun, Layla ingin Arsen terus berada di sisinya. Hanya jika Arsen benar-benar menginginkannya, tanpa ada keterpaksaan.“Kak Layla? Kakak dari tadi melamun terus?!”Suara melengking Kiran berhasil menyentak Layla dari lamunannya. Ia menoleh terkejut, dan Kiran menatapnya khawatir.“Kakak tidak apa-apa?”Layla menggeleng. “Tidak, maaf. Aku—agak me

  • Kontrak Pernikahan Sang CEO   91. Di Tengah Kontrak dan Perasaan

    Angin sepoi-sepoi berembus menerpa wajah Arsen yang termenung di dekat jendela. Pandangannya terarah ke jalanan yang padat di bawah sana, tetapi pikirannya melanglang buana.Ia merasa pusing.Ia belum berani bicara pada Layla. Mereka sarapan bersama pagi tadi, mengobrol seperti biasa, tetapi seolah ada ketegangan tak terlihat yang membentang di antara keduanya.Helaan napas panjang berembus keluar dari mulutnya. Arsen beranjak dari tempatnya ketika pintu ruangannya terbuka.Olivia melangkah masuk dengan terburu-buru. “Arsen, kau tidak mungkin serius—”“Kau seharusnya sudah berada di kantor cabang sekarang,” sela Arsen, sama sekali tidak menatap Olivia. Ia duduk di kursinya, lalu membuka laptopnya.Olivia memutari meja dan mencoba menyentuh Arsen, tetapi Arsen menepis tangannya. Olivia mundur dengan terkejut.“Arsen, tolong dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan apa yang terjadi semalam. Aku mabuk dan aku tidak sadar! Sungguh! Kali ini saja, tolong maafkan aku!” suara Olivia terdengar p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status