Home / Romansa / Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat / Bab 4: Kontrak di Atas Meja Makan

Share

Bab 4: Kontrak di Atas Meja Makan

Author: Founna Math
last update Last Updated: 2025-12-21 12:37:54

Malam itu, rumah mewah keluarga Tanaka tidak lagi terasa hangat, melainkan menyerupai sebuah ruang sidang yang dingin dan mencekam. Hiroshi duduk di kursi kebesarannya di ruang makan, menunggu dengan napas yang memburu dan amarah yang tertahan. Ia telah mencoba menghubungi tim legal perusahaannya sepanjang sore, namun jawaban mereka seragam: posisi hukum Aiko terlalu kuat karena ia memiliki bukti aliran dana yang sangat spesifik.

Suara kunci pintu yang berputar membuat jantung Hiroshi berdegup kencang, sebuah reaksi yang sangat asing baginya yang terbiasa mengintimidasi lawan bisnis. Aiko melangkah masuk dengan tenang, tidak ada lagi jejak kesedihan di wajahnya. Ia membawa sebuah map hitam yang tampak sangat kontras dengan gaun elegannya, seolah ia sedang membawa lonceng kematian bagi martabat Hiroshi sebagai seorang penguasa.

"Kau berani kembali setelah apa yang kau lakukan pada rekeningku?" geram Hiroshi sembari berdiri, mencoba memulihkan sedikit harga dirinya dengan nada suara yang membentak. "Kau telah menghancurkan reputasiku di depan tim legal, Aiko! Kau pikir kau bisa menang melawan kekuatan finansial Tanaka Group hanya dengan bantuan pengacara wanita itu?".

Aiko tidak membalas bentakan itu dengan emosi; ia justru menarik kursi di seberang Hiroshi dan duduk dengan santai, meletakkan map hitam itu tepat di tengah meja. "Kekuatan finansialmu sedang berada di ujung tanduk, Hiroshi. Jika aku menekan tombol 'kirim' pada laporan penggelapan dana ini ke dewan komisaris besok pagi, kau bukan hanya kehilangan aku, tapi kau akan kehilangan kursi CEO-mu," jawab Aiko dengan nada yang sangat dingin.

Hiroshi terdiam, tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar saat ia menyadari bahwa Aiko tidak sedang menggertak. Ia melihat map itu seolah melihat bom waktu yang siap meledak kapan saja. "Apa yang kau inginkan, Aiko? Sebutkan harganya. Kau ingin apartemen ini? Kau ingin saham?" tanya Hiroshi, suaranya kini melunak menjadi permohonan yang menyedihkan.

"Aku tidak menginginkan uangmu lagi, karena uang itu juga milikku menurut hukum harta bersama," balas Aiko sembari membuka map tersebut dan mengeluarkan dua lembar dokumen. "Aku menginginkan penebusan. Ini adalah kontrak baru bagi kita. Bukan kontrak pernikahan yang kau anggap sebagai formalitas sosial, tapi kontrak kendali.".

Hiroshi mengernyitkan dahi, ia menarik dokumen itu dan mulai membaca isinya dengan mata yang semakin membelalak setiap kali ia melewati satu paragraf. "Kau bercanda? Kau ingin aku menyerahkan semua otoritas pengeluaran pribadiku kepadamu? Dan kau ingin aku mengumumkan pembatalan kerja sama dengan firma hukum keluarga Miyuki secara publik?".

"Itu hanya bagian awal, Hiroshi," potong Aiko tajam. "Jika kau ingin aku menarik laporan penggelapan dana itu dan memberimu kesempatan untuk tetap menjadi CEO di mata publik, kau harus mematuhi aturanku di rumah ini. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi Miyuki, dan kau akan tidur di kamar tamu sampai aku memutuskan sebaliknya.".

"Ini gila! Kau mencoba menjadikanku narapidana di rumahku sendiri!" teriak Hiroshi sembari melempar dokumen itu ke lantai. Namun, Aiko hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada amarah mana pun yang pernah Hiroshi lihat. Ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan wanita yang sudah tidak memiliki beban kehilangan apa pun.

"Pilihan ada di tanganmu, CEO Tanaka. Tanda tangani kontrak ini sekarang, atau hadapi dewan komisaris besok pagi dengan status sebagai tersangka penggelapan dana perusahaan," ujar Aiko sembari mengeluarkan sebuah pena elegan dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. Ini adalah momen 'Penguasa dan Aku' yang sebenarnya, di mana sang istri mengambil alih takhta sang suami.

Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan itu, hanya suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur kehancuran Hiroshi. Ia menatap pena itu, lalu menatap Aiko, menyadari bahwa ia baru saja kalah telak dalam permainan yang ia mulai sendiri. Dengan tangan yang sangat berat, ia mengambil pena tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen tersebut.

"Bagus," kata Aiko sembari mengambil kembali dokumen yang sudah ditandatangani itu. "Selamat datang di kehidupan barumu, Hiroshi. Sekarang, siapkan makan malammu sendiri. Aku ingin tidur, dan pastikan kau tidak membuat suara bising yang bisa mengganggu istirahatku.".

Hiroshi hanya bisa tertegun melihat Aiko berjalan menaiki tangga dengan kepala tegak, meninggalkannya sendirian di ruang makan yang kini terasa seperti penjara yang sangat luas. Ia merasa sangat kecil, seolah seluruh kekuasaannya sebagai CEO tidak ada gunanya saat ia berhadapan dengan kebenaran yang kini dipegang oleh istrinya.

Di dalam kamar, Aiko menutup pintu dan bersandar di baliknya, napasnya yang tadi tertahan kini keluar dengan berat. Meskipun ia merasa menang, ada rasa sakit yang dalam di hatinya karena menyadari bahwa pernikahannya telah berubah menjadi medan perang bisnis yang sangat kotor. Namun, ia tahu ia tidak boleh melemah sedikit pun.

Ia segera mengirim pesan singkat kepada Reiko: "Dia sudah menandatanganinya. Tahap pertama selesai. Besok kita mulai dengan pembatalan kontrak firma Miyuki." Ia tahu bahwa langkah ini akan memicu kemarahan besar dari pihak Miyuki, namun ia sudah siap menghadapi serangan balik apa pun.

Di sisi lain kota, Miyuki sedang menunggu kabar dari Hiroshi di apartemen mewahnya. Namun, saat ia melihat berita singkat di portal bisnis internal tentang perombakan mendadak di departemen hukum Tanaka Group, ia menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Rencananya untuk menjadi nyonya Tanaka mulai terancam runtuh.

Miyuki segera menelepon seseorang yang selama ini membantunya memata-matai keuangan Hiroshi. "Aiko bertindak lebih cepat dari yang kita duga. Kita harus segera mengeluarkan kartu as terakhir kita sebelum Hiroshi benar-benar tunduk pada kontrak istrinya," desis Miyuki dengan nada penuh kebencian.

Pagi harinya, Hiroshi bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena harus tidur di sofa ruang tamu yang sempit. Ia melihat Aiko sudah rapi dengan pakaian formal, siap untuk pergi. "Kau mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Hiroshi dengan suara serak, mencoba mencari kembali sisa-sisa wibawanya sebagai suami.

"Aku ada janji dengan dewan komisaris untuk membicarakan stabilitas perusahaan. Dan kau, Hiroshi, kau akan ikut denganku untuk mengumumkan bahwa aku kini memegang peran sebagai penasihat strategis di Tanaka Group sesuai kontrak semalam," jawab Aiko sembari memperbaiki letak bros di bajunya.

Hiroshi terperanjat, ia menyadari bahwa Aiko tidak hanya ingin mengendalikan hidup pribadinya, tapi juga ingin masuk ke dalam jantung kekuasaannya di perusahaan. Sebelum ia sempat membantah, ponselnya berdering hebat; sebuah notifikasi video skandal mulai tersebar di grup internal perusahaan. Miyuki baru saja melepaskan peluru terakhirnya..

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 54: Sintesis Kematian (Jiro-Gaia)

    Tentakel hitam yang keluar dari inti Jantung Gaia itu bukan sekadar energi murni; ia memiliki tekstur yang menyerupai serat otot yang terbuat dari merkuri cair. Saat tentakel itu membelit kaki kanan Hiroshi, baju penyelam Mk-IV miliknya mengerang keras. Sensor tekanan pada kakinya langsung melonjak ke zona merah, menandakan bahwa "tangan" Jiro yang baru ini memiliki kekuatan untuk meremukkan baja dalam sekejap. Hiroshi terpaksa melepaskan gendongannya pada Aiko, merebahkannya di atas tonjolan kristal yang relatif stabil sebelum ia sendiri ditarik menuju lubang inti yang menganga."Kau merasakannya, Hiroshi? Berat dari masa lalu yang akhirnya mengejarmu?"

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 53: Resonansi yang Retak

    Hiroshi terhempas ke dinding organik piramida yang terasa kenyal namun kokoh, seperti otot raksasa yang sedang menegang. Rasa sakit menjalar dari bahu kanannya yang menghantam tonjolan kristal, tetapi rasa perih di dadanya jauh lebih hebat saat ia menatap pemandangan di depannya. Aiko—istri yang ia cari hingga ke ujung dunia—kini berdiri melayang beberapa inci di atas lantai kristal yang berpendar. Cahaya ungu yang memancar dari mata Aiko begitu intens, mematikan pupil dan irisnya, hingga fitur wajahnya yang biasanya lembut tampak seperti topeng porselen yang dingin. Tidak ada tanda-tanda pengenalan di sana; yang ada hanyalah kekosongan dari sebuah entitas yang jiwanya telah dikesampingkan oleh program harmoni purba."Aiko, dengarkan aku! Kau harus melawan frekuensi ini!" Hiroshi berteriak, suaranya bergema di dalam ruangan kedap air yang dipenuhi aroma bunga teratai yang manis namun memuakkan. Ia bisa merasakan tekanan udara di dalam ruangan ini berubah-ubah, mengikuti irama napas pi

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 51: Di Dasar Jurang Keputusasaan

    Rasa sakit adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Hiroshi. Itu bukan rasa sakit yang tajam, melainkan denyutan tumpul yang merambat dari tulang punggung hingga ke dasar tengkoraknya. Ia mencoba membuka mata, namun kelopak matanya terasa berat, tertutup oleh lapisan debu radioaktif dan darah yang mengering. Hiroshi tidak jatuh ke tanah keras; ia mendarat di atas tumpukan kabel industri dan jaring baja yang menggantung di sela-sela dinding reaktor nomor empat yang runtuh.Ia terengah-engah, setiap tarikan napasnya terasa perih akibat filter udara helmnya yang retak. Di atasnya, siluet helikopter evakuasi menjauh, menghilang di balik awan kelabu Fukushima. Hiroshi teringat kilatan pisau perunggu itu—pengkhianatan oleh Takeshi, komandan unit bayangannya sendiri yang telah ia percayai selama sepuluh tahun. "Kehidupan abadi..." bisik Hiroshi parau, suaranya teredam oleh kesunyian reruntuhan. "Mereka bahkan bisa membeli kesetiaan dengan janji yang tak masuk akal."Dengan susah payah, Hi

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 50: Debu di Zona Merah

    Kapal tanker Tanaka-Goliath berhenti di batas zona navigasi terlarang, beberapa mil dari pesisir pantai Fukushima. Di cakrawala, silinder-silinder beton reaktor yang retak berdiri seperti nisan raksasa di bawah langit yang kelabu. Laut di sini tampak berbeda; lebih tenang, namun dengan warna hijau pekat yang tidak alami akibat endapan isotop selama bertahun-tahun. Hiroshi berdiri di dek, mengenakan setelan proteksi biokimia yang berat, sementara helm kedap udaranya memantulkan bayangan reruntuhan di kejauhan."Tuan Hiroshi, tingkat radiasi di daratan masih jauh di atas ambang batas aman untuk manusia biasa," suara Nyonya Sato terdengar melalui radio internal helm, penuh dengan kekhawatiran yang tertahan. "Mengirim Anda ke sana tanpa tim pembersih adalah tindakan yang sangat berisiko. Biarkan unit bayangan kami yang turun terlebih dahulu."

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 49: Horizon yang Hilang

    Keheningan yang menyusul hilangnya kapal selam misterius itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan satelit Icarus. Hiroshi berdiri di tepi dek kapal tanker Tanaka-Goliath, jemarinya mencengkeram pagar besi hingga buku jarinya memutih. Di kejauhan, sisa-sisa uap panas dari modul inti yang jatuh masih mengepul di atas permukaan air yang tenang, namun modul itu sendiri—bersama dengan kesadaran Aiko yang masih terperangkap di dalamnya—telah lenyap ditelan kegelapan samudra."Tuan Hiroshi, kita harus bergerak! Radar menunjukkan kapal selam itu menyelam melebihi kemampuan sensor kita!" Suara Nyonya Sato terdengar parau dari arah belakang

  • Kontrak Ranjang Sang CEO Pengkhianat   Bab 48: Singgasana di Atas Awan

    Di dalam ruang kendali Tanaka-Goliath yang remang-remang, hanya cahaya indikator dari kursi antarmuka saraf yang menerangi wajah pucat Aiko. Tubuhnya terikat pada kursi baja, namun kesadarannya telah melesat jauh ke atas, menembus lapisan atmosfer menuju orbit rendah bumi. Di sana, di tengah kehampaan ruang angkasa, Satelit Icarus menggantung seperti dewa logam yang haus darah. Namun, bagi Aiko yang kini berada dalam wujud Lumen murni, satelit itu tampak sebagai labirin data yang sangat luas, sebuah benteng yang dibangun dari triliunan baris kode enkripsi yang berdenyut dengan warna merah peringatan."Aiko! Dengarkan suaraku!" Suara Hiroshi terdengar bergema di dalam pikiran Aiko, jauh dan terdistorsi. Di dunia nyata, Hiroshi sedang berjuang menahan tubuh Aiko y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status